Rangkaian tattwa-susila-acara merupakan satu kesatuan yang utuh dalam ajaran agama Hindu. Orang menyebut tiga rangkaian itu sebagai tiga kerangka dasar agama Hindu. Maksudnya ketiga kerangka dasar itu harus dikuasai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengetahuan tentang ke-Tuhan-an (brahma widya) harus dihayati dan kodifikasi makna tentang kebenaran keberadaan Tuhan itu harus dikontemplasi. Oleh karena sesungguhnya kebenaran mutlak itu tidak hanya dipercaya keberadaarmya begitu saja, namun kehadiran-Nya sebagai sesuatu yang mencerahkan kehidupan manusia harus dirasakan. Kehidupan manusia yang sebelumnya suram dengan sifat asuri menjadi bersinar dengan sifat daivi.
Dengan diperolehnya sifat itu, kemudian keutuhan tingkah laku formatif dalam sirkumstansi susila (ethic) yang diamanatkan oleh kebenaran tattwa terak-tualisasi dengan sendirinya dalam kehidupan sehari-hari (sidhi). Itu pula yang menyebabkan kehidupan berjalan normal sesuai kaidah norma yang telah ditetapkan (sidha). Pada akhirnya, keseluruhan rangkaian tattwa dan susila tersebut bermuara pada kesatuan acara yang diharapkan mengintroduksi kepada kebenaran tujuan agama Hindu (sudha), yaitu mokhsartam jagaddhitaya ya iti dharma.
Rangkaian, pun tiga kerangka dasar agama Hindu berupa tattwa-susila-acara tersebut, ialah suatu resonansi yang menggema terus-menerus membangun keadaan shanta. Damai yang hakiki dalam diri manusia, mewujudkan tata masyarakat yang ideal sekaligus menggema sepanjang masa menyeimbangkan tiga dunia (bhur, bvah, svah).
Tiga kerangka dasar agama Hindu, apabila dicermati secara mendalam bersifat universal. Agama apapun di dunia ini memulai dengan kepercayaan mutlak terhadap Tuhan, entah dengan cara mempercayai Tuhan yang jamak maupun Tuhan Yang Esa. Berdasarkan kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan beserta doktrin mutlaknya kemudian terbentuk etika yang mengajarkan perilaku beragama. Pada akhirnya siklus upacara tidak dapat dihindarkan menjadi tata cara yang sesuai dengan peradaban yang dibangun.
Dalam agama Hindu, ekspresi formulasi eksistensi Tuhan tidak hanya diekspresikan me-lalui dunia kata yang rumit. Namun disimbolisasi pula melalui ikonografi yang kaya sampai perwujudan aksara yang tidak hanya mengandung makna tattwa, tetapi juga menyuarakan hakitat Tuhan yang mitis. Atau disebut pula sebagai niyasa (perwujudan) yang memudahkan kontemplasi.
Aksara Om Kara, misalnya merupakan niyasa yang penuh makna pengetahuan suci. Wujud Om Kara yang terdiri dari nadha, windu, ardha chandra, angka tiga, dan tedong melambangkan panca mahabhuta, lima unsur yang membangun bhuana agung dan bhuana alit. Nadha merupakan simbol dari bayu, angin, dan gemintang. Windhu merupakan simbol dari teja, api, surya (matahari). Ardha Chandra merupakan simbol dari apah, air, dan bulan. Angka tiga merupakan simbol dari langit, dan ether. Sedangkan tedong merupakan simbol dari pertiwi, bumi, dan tanah.
Unsur-unsur tersebut juga berwujud dalam diri manusia sehingga disebut sebagai bhuana alit. Daging dan tulang dalam diri manusia merupakan unsur pertiwi. Darah, air seni, air kelenjar (ludah dan lainnya) merupakan unsur apah. Panas tubuh dan sinar mata ialah merupakan unsur teja. Paru-paru merupakan unsur bhayu. Sedangkan urat syaraf, rambut, kuku, dan 9 buahlubang dalam tubuh manusia (2 lubang telinga, 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 1 lubang dubur, dan 1 lubang kelamin merupakan unsur akasa. Dengan demikian, bhuana agung dan bhuana alit dibangun oleh unsur yang sama, yaitu apa yang disebut panca mahabhuta. Oleh karena itu, simbol Om Kara merupakan simbol Kemahakuasaan Hyang Widhi.
Fenomena itu, menegaskan kembali bahwa resonansi tattwa menimbulkan niyasa yang di-wujudkan sebagai bentuk kontemplatif memahami hakikat-Nya. Dengan kesadaran mutlak itu, terbangunlah etika yang mewujud ke dalam susila terhadap keadaan diri dan keberadaan-Nya yang ekstensif terhubung. Dengan demikian, keagungan susila tersebut diimplementasikan ke dalam berbagai tataran acara. Tujuan dari terselenggaranya acara itu tentu saja untuk mengaplikasikan susila dan tattwa itu sendiri. Atau dengan bahasa a-wam, di dalam setiap acara yang berkembang itu terefleksi adanya susila sekaligus tattwa.
Acara itu sesungguhnya merupakan ekspresi salah satu jalan bhakti marga sebagai wujud bhakti kepada Hyang Widhi dan segala ciptaanya seperti dinyatakan dalam Rg Veda (VIII. 69.8): Areata prarcata priyam edhaso Archata, arcantu putraka uta puram na dhrsnvarcata. Pujalah, pujalah Dia sepenuh hati, Oh cendikiawan, Pujalah Dia. Semoga semua anak-anak ikut memuja-Nya, teguhlah hati seperti kukuhnya candi dari batu karang unyuk memuja keagungan-Nya.
Bagian-bagian dari resonansi tattwa-susila-acara itu sesungguhnya menyadarkan bahwa di dalamnya terdapat kehendak jalan dharma yang diorgani-sasi menurut keyakinan masing-masing pemeluk agama Hindu. Ada resonansi yang menyebabkan adanya keyakinan menjalankan bhakti marga (melaksanakan pemujaan secara ketat melalui acara yang rumit). Ada resonansi yang menyebabkan orang memilih jalan karma marga, yaitu memuja Hyang Widhi dengan melakukan kerja dan pelayanan tanpa pamrih. Lalukanlah semua pekerjaan tanpa pamrih sebagai persembahan kepada Hyang Widhi dan jangan sekali-sekali mengharapkan hasil dari pekerjaan itu. Demikian doktrin ajaran karma marga.
Selain itu, terbuka jalan dari resonansi tattwa-susila-acara itu jalan jnana marga. Di mana bhakta disarankan untuk memuja Tuhan melalui pengetahuan suci dengan mempelajari kitab suci Weda secara suntuk dan benar. Sehingga jalan ini disebut jalan yang sulit karena tidak semua orang mampu melakukannya. Sedangkan jalan yang terakhir, ialah dengan jalan raja yoga, yaitu dengan jalan melakukan tapa bratha yoga samadhi. Inipun jalan yang sulit dilakukan oleh orang yang tidak terlatih. Disarankan untuk memilih jalan ini diperlukan guru spiritual yang handal dan dapat dipercaya.
Apabila demikian adanya, maka usah berpaling jauh dari yang selama ini disarankan dalam agama Hindu Nusantara. Sistem upacara yang dibangun selama ini sesungguhnya telah merefleksikan resonansi tattwa-susila- acara. Di mana catur marga itu telah mendapat kedudukannya dengan pasti. Orang kebanyakan telah melakukan bhakti marga atau karma marga dengan kemampuannya sendiri. Para jnanin dengan kedudukannya masing-masing telah melakukan perannya sendiri. Demikian pula para yogi ter terbuka kemungkinannya berperan dalam sistem upacara itu.
Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Wartam Edisi 22, Desember 2016