Weda abhyasa tapa jnyanam Indriyanam ca samyamah Ahimsa guru sewa ca Nisreyasaharam param
(Manawa Dharmasastra XII.83)
Maksudnya: Untuk mencapai wara nugraha tertinggi dari Tuhan atau Nisreyasa karam param lakukanlah dengan mempelajari Weda, melakukan Tapa, mencari ilmu pengetahuan suci (Jnyana), mengendalikan Indria (Indriyanam), membangun rasa damai (Samya), tidak melakukan kekerasan (Ahimsa) dan mengabdi pada guru spiritual (Guru Sevanam).
Mencapai anugerah Tuhan yang utama itu disebut Nisreyasakaram param dalam Manawa Dharmasastra XII.83 yang dikutip di atas. Nisreyasakaram param itu adalah kerja yang dilakuknan dengan ketulusikhlasan sangat dalam yang akan mampu meraih Anugrah Tuhan berupa kehidupan yang aman damai sejahtera di dunia Sekala dan mencapai Surga bahkan sampai Moksha di alam Niskala: Anugerah itu akan dicapai dengan melakukan tujuh hal yang tergolong Nisreyasakaram param seperti yang dinyatakan dalam kutipan Sloka di atas. Tujuh hal itu adalah sbb:
1. Weda abhyasa adalah mempelajari pustaka suci Weda serta melatih mengamal kannya sampai menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Sarasamuscaya 260 juga menyatakan Weda Abhyasa sebagai wujud pengamalan ajaran Swaadhyaya. Sedangkan Swadhyaya salah satu dari unsur Dasa Niyama Brata. Mempelajari Weda dalam artian menghapalkan dan mengertikan tidaklah terlalu sulit. Yang tidak gampang adalah menjadikan ajaran Weda itu sebagai kebiasaan, hidup sehari-hari. Menurut Manawadharma sastra II.6 Weda Sruti sabda Tuhan itu dijabarkan oleh para Resi menjadi Weda Smrti atau Dharmasastrajebih lanjut dijabar isi Weda itu ke dalam pustaka Sila yaitu Itihasa dan Purana. Selanjutnya Sila itu ditradisikan yang disebut Acara atau Abhyasa untuk mewujudkan Atmanastusti atau kebahagiaan rohani atau Atman. Artinya Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastusti itu adalah proses untuk membumikan Weda sabda Tuhan untuk mencapai Atmanastusti.
2. Tapa, menurut Manawa Dharmasastra 1.86 mengajarkan empat perilaku ber-Agama yaitu: Tapa, Jnyana, Yadnya dan Daana Punia, dengan prioritas yang berbeda-beda. Cuma Tapa itu diprioritaskan pada zaman Kerta Yuga. Jnyana pada Tretia Yuga, Upacara Yadnya pada Dwa-para Yuga dan Daana Punia pada Kali Yuga. Menyangkut Tapa bukanlah seperti bayangan orang pada umumnya. Hidup di tengah hutan duduk bermeditasi tidak bangun-bangun, hanya makan buah-buahan, tidak hidup bersama dalam masyarakat. Dalam Sarasamuscaya 260 dinyatakan bahwa Tapa itu sbb: Tapa ngarania kaya sang sosana. Artinya: Tapa artinya kuai mengendalikn hawa nafsu Menjauhi dunia ramai seperti berada di tengah hutan itu maksudnya latihan Tapa agai nafsu terbiasa tidak dipenuh gejolaknya. Dengan demikiar kalau sudah terbiasa barular kembali ke masyarakat untul mengamalkan Tapa dalan kehidupan sehari-hari.
3. Jnyana artinya menda lami ilmu pengetahuan suci Menurut Canakaya Nitisastrc XII. 11 yang menyatakan: Sa tya Mata Pita Jnyana. Artinya kebenaran ibuku ilmu pengetahun suci (Jnyana) adalah ayah ku. Artinya kalau menegakkai kebenaran agar sukses hendaknya diwujudkan dengan analisa ilmu pengetahuan Kalau hanya merasa benar tanpa analisa ilmu pengetahuan suci, upaya mewujudkan kebenaran itu bisa menimbulkan kekerasan. Ini artinya penggunaan Jnyana itu salah satu bentuk prilaku yang disebut Nisreyasakaram param Manawa Dharmasastra V. 109 menyatakan: Buddhir jnyanena suddyanti. Artinya: Kesadaran Budhi disucikan dengai Jnyana. Ilmu Pengetahuai suci itulah yang akan mengheningkan hati nurani untuk memberi pencerahan pada Manah atau pikiran agar pikiran menjadi Wiweka atau cerdas membedakan mana yang baik dan tidak baik, mana yang benar dan tidak benar.
4. Indriyanam, artinyj hendaknya senantiasa mengendalikan dinamika indria di bawah kendali pikiran dan hati nurani. Bhagawad Gita 111.42 menyatakan sempurnakanlah indriamu, tetapi lebih sempurna dari indriamu adalah pikiranmu. Indriyanaam dalam bahasa Sansekerta artinya menghormati indria. Indria akan terhormat apa bila senantiasa mematuhi arahan pikiran yang cerdas dan kesadaran budhi. Menurut Katha Upanisad 1.3.3-4 yang menyatakan bahwa indria itu bagaikan kuda kereta. Pikiran adalah tali lis kereta dan kusir kereta adalah kesadaran Budhi. Ini artinya indria itu harus dilatih untuk patuh pada arahan kecerdasan pikiran dan kesadaran Budhi. Orang tidak mencapai kondisi Indriayanam apa bila indria atau nafsu itulah yang menguasai pikiran dan kesadaran budhinya.
5. Samyamah artinya senantiasa damai. Salah satu syarat manusia akan merasakan kedamaian hati itu apabila memiliki wawasan bahwa dunia ini bukanlah Surga. Di dunia ini akan selalu ada saja yang kita lihat tidak sempurna. Dunia ini selalu ada lebih dan kurangnya. Karena itu manusia selalu akan dirundung oleh Suka dan Duhkha. Makanya Bhagawad Gita 11.15 menyatakan: Sama duhkha sukha dhiram. Artinya: Seimbang dan teguhlah menghadapi keadaan sukha dan duhkha. Ini artinya rasa damai akan dicapai apa bila mampu berada di atas Sukha dan Duhkha. Derita itu akan dirasakan kalau melonjak saat sukha dan terpuruk sat
duhkha.
6. Ahimsa, Ahimsa itu tidak melakukan kekerasan. Untuk bisa mewujudkan sikap Ahimsa ini apabila ada keyakinan bahwa Tuhan ada di mana-mana dan Tuhan itulah sutradara agung kehidupan manusia. Sraddha dan Bhakti pada Tuhan ini senantiasa dikuatkan agar menjadi aktor atau pengendali kehidupan sehari-hari. Tuhan ada di setiap makhluk. Dengan demikian kekeraan pada siapapun artinya kekerasan itu merupa kan sikap yang melawan takdir Tuhan.Kalau kita ditimpa oleh suatu kedukaan, pastilah Tuhan tidak melindungi kita, karena mungkin kita pernah membuat pihak lain duka. Kalau sekarang kita ditimpa kedukaan artinya suatu proses pengambilan dosa pada diri kita. Dengan demikian berarti kedukaan itu adalah sebagai pembersihan diri kita. Karena itu tidak perlu melakukan kekerasan atau Himsa pada pihak yang membuat kita duka.
7. Guru sewanam, Artinya mengabdi pada Guru tergolong juga Nisreyasakaram atau prilaku utama yang akan mendapatkan wara nugraha dari'Sang Hyang Widhi. Vana Parva 27.214 menyatakan adanya lima guru yang wajib dilayani yaitu Agni yaitu sinar suci Tuhan. Atman yaitu hati nurani. Mata dan Pita yaitu ibu dan ayah. Acarya yaitu guru yang secara resmi mengajar kita di sekolah. Lima guru itulah wajib kita layani sesuai dengan keberadaan beliau. Itulah tujuh prilaku yang disebut Nisreyasakaram.
Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Umanis, 21 Juni 2015