Airlangga dari Bali ke Jawa

Airlangga adalah putra raja Udayana bersama permaisuri Gunapriyadharmapathi yang memerintah di Bali. Selain Airlangga Sang Raja juga berputra Marakata dan Anak Wungsu. Airlangga diketahui dari prasasti Kalkuta. Ia dilahirkan pada tahun 100 masehi, dan pada usia 16 tahun ia diminta oleh pamannya raja Dharmawangsa Teguh untuk datang ke Jawa Timur dengan tujuan untuk dikawinkan dengan putrinya. Ketika upacara perkawinan berlangsung kerajaan Dharmawangsa Teguh diserang oleh raja Wurawari sehingga kerajaan hancur, atau dikatakan pralaya. Airlangga mengungsi ke hutan, menuju sebuah asrama pertapaan. Raja Wurawari berhasil memecah belah kerajaan. Tiada begitu lama setelah itu datanglah utusan yang meminta supaya Airlangga bersedia kembali ke ibu kota dan menjadi raja. Pemerintahan raja Airlanggapun dimulai tahun 1019-1042 Masehi.

Pada tahun 1028 -1035 Masehi Airlangga mulai menyatukan kerajaan-kerajaan kecil hingga akhirnya dapat menaklukan seluruh Jawa Timur. Setelah memasuki usia tua Airlangga membagi kerajaan menjadi dua bagian untuk dua orang putranya. Dan akhirnya Airlangga mengundurkan diri untuk menjalani wanaprastha. Raja besar ini wafat pada tahun 1049 masehi dan didharmakan di lereng gunung Penanggungan yang dikenal dengan nama Candi Belahan. Airlangga diwujudkan sebagai Wisnu di atas garuda, sebuah arca yang indah sekali yang kini disimpan di musium Mojokerto. Semasa hidupnya Airlangga memang dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu dan yang menjadi lencana kerajaan ialah Garudamuka. Lencana ini berkali-kali disebutkan di dalam prasasti-prasastinya.

SUNGAI BERANTAS

Sesudah tahun 1035 Airlangga memerintah dengan damai atas negara yang diciptakannya dan berusaha sekuat tenaga guna memberi isi apa yang diperjuangkannya. Prasasti-prasasti dari masa 1035-1042 memberi kesan dari usaha-usahanya guna memajukan kemakmuran rakyat. Tindakan-tindakannya antara lain mengenai pengairan, perhubungan darat dan laut, perniagaan dan kehidupan rohani. Tentang pengairan atau pengaturan sungai pada umumnya dijelaskan pada sebuah prasasti yang berangka tahun 1037. Telah diketahui bahwa sungai Berantas banyak menimbulkan permasalahan. Pada pemerintahan Airlangga tanggul sungai itu diperbaiki sehingga air sungai tidak membanjiri tanah-tanah masyarakat. Raja Airlangga tampak sangat memperhatikan keadaan rakyatnya dan melindungi seluruh penduduknya, sehingga bencana-bencana ditanggulangi hingga tidak terjadi lagi.

Prasasti tersebut juga memberikan keterangan penting mengenai per¬kapalan dan perniagaan. Disebutkan lebih lanjut bahwa pengaturan sungai itu dijalankan juga demi kepentingan kaum pedagang supaya mereka dapat berlayar sampai pelabuhan di Ujung Galuh. Para pedagang membawa benda-benda perniagaan dari pulau-pulau yang lain. Dengan kata lain Ujung Galuh itu menjadi suatu pelabuhan pusat untuk perniagaan antar pulau. Tentang letaknya Ujung Galuh tersebut pada umumnya dikatakan bertempat di Surabaya yang sekarang. Apabila Ujung Galuh menjadi pelabuhan utama untuk perniagaan antar pulau, maka pe¬labuhan antar negara terdapat di Kambang Putih yaitu di Tuban yang sekarang. Oleh Airlangga diambil sejumlah tindakan untuk memajukan perniagaan di sana antara lain pembebasan beberapa jenis pajak. Menurut daftar yang terdapat beberapa kali dalam prasasti-prasasti Airlangga adalah termasuk pedagang dar India Utara, India Selatan, Saylan, Burma, Kamboja dan Campa.

MEWUJUDKAN CITA-CITA

Perhatian Airlangga kepada agama sebagai dasar kehidupan sangat besar sekali. Hal itu ternyata dari semua prasastinya. Airlangga setelah mangkat didewakan sebagai Dewa Wisnu, akan tetapi itu tidak berarti bahwa Airlangga menjadi penganut mazab agama Wisnu. Sebenarnya pendewaanya sebagai Wisnu disebabkan karena persamaan Dewa Wisnu dengan prabhu Airlangga dalam menyelamatkan dunia dari segala jenis penghancur. Perhatian Airlangga diberikan kepada tiga mazab besar yaitu agama Siwa, Agama Budha dan agama Resi yaitu agama kaum pertapa.

Untuk memahami cita-cita Airlangga kita harus menginsyapi bahwa ia seorang manusia yang hidup pada abad ke XI. Cita-cita airlangga dalam garis besarnya selaras dengan kewajiban raja menurut kitab-kitab tentang ilmu negara di India Kuno dan sepenuhnya dapat dimengerti hanya atas dasar itu. Di India, alam semesta dipandang sebagai suatu kosmos, suatu keseluruhan yang teratur, dalam mana setiap dewa, setiap orang, setiap binatang dan segala sesuatu yang tidak bergerak mempunyai tempatnya tempat itu ditetapkan oleh huku, karma sebagai daya yang menggerakakn segala-galanya.

Hukum karma itu berarti a.1. bahwa segala sesuatu yang diperbuat membawa akibatnya yang tidak dapat ditiadakan dengan cara manapun juga. dewa-dewa pun patuh kepada hukum itu, karena karma itu abadi sifatnya. Kewajiban utama bagi dewa, manusia dan khewan ialah untuk hidup sesuai dengan swadharma, dharma bagi dirinya: swadharma untuk harimau ialah membunuh binatang dan manusia dan memakan dagingnya; jadi perbuatan tidak menjadi dosa.

Dunia manusiapun terbagi atas sejumlah golongan yang masing-masing mempunyai swadharmanya, yang tidak boleh diabaikannya: Seorang Brahmana wajib mempelajari kitab-kitab agama dan ilmu pengetahuan dan mengajarnya, ia dilarang untuk misalnya mengerjakan tanah atau berdagang; seorang raja wajib untuk berturut-turut hidup dalam tiga asrama. Dalam asrama yang pertama ia mempelajari kitab-kitab agama, hukum dan sebagainya; Dalam asrama yang kedua ia memerintah ia mengundurkan diri dari dunia untuk mengutamakan keselamatan dunia dengan jalan pikiran. Dalam masa kedua itu ia seakan-akan menjadi personifikasi dari dharma, ia mengatur negara sedemikian rupa sehingga setiap orang dapat hidup sesuai dengan dharmanya, supaya kaum brahmana dapat mempelajari kitab-kitab suci, supaya kaum petani selalu dapat mengerjakan tanah dan seterusnya.

KEBENARAN AKAN MENANG

Yang paling menarik perhatian dari kehidupan Airlangga ialah kepercayaan mistis bahwa ia dipilih para Dewa untuk meniadakan pralaya dan membangun negara baru yang  berazaskan peri keadilan. Kepercayaan yang teguh itu nampak dalam semua prasastinya: ia senantiasa merasa dipimpin oleh para dewa yang mencintainya dan menugaskannya untuk menghilangkan penjahat dari bumi, memulihkan kemakmuran dan kegembiraan rakyat dan menghidupkan kembali hukum suci sebagai sendi masyarakat. Kepercayaan itu tidak pernah meninggalkannya, bahkan dalam keadaan yang paling genting ia terus percaya bahwa kebenaran akan menang pada akhirnya. Kepercayaan itulah yang senantiasa membangkitkan semangatnya dan menjadi kekuatannya guna terus teguh pada cita-citanya.

Demikianlah Airlangga putra Bali yang telah berkiprah di Jawa. Sementara adik-adiknya meneruskan kiprahnya di Bali. Mengenai raja marakata dapat diketahui dari prasasti Sembiran berangka tahun 1023 Masehi, dan prasasti Tengkulak juga berangka tahun 1023 Masehi yang menyebutkan nama raja: paduka haji Sri Dharma-wangsawardana Marakatapangkajasthanotunggadewa. Setelah mangkat raja Marakata didharmakan di suatu tempat yang bernama Camara. Letak Camara sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.

Tentang raja Anak Wungsu yang memerintah di Bali dari tahun 1049-1077 Masehi diketahui dari banyak prasasti di antaranya dari prasasti Tmnyan yang menyebutkan: "paduka haji Anak Wungsu nirakalih bhatari sang lumah i burwan, mwang bhatara dewata sang lumah ring banuweka", artinya: raja Anak Wungsu adalah putra dari raja Gunapriyadharmapatni yang didharmakan di Burwan dan raja Udayana yang didharmakan di Banyuweka.

Dari prasasti ini dapat kita ketahui tempa didharmakannya ayali dan ibu Airlangga. Sang ibu didharmakan di Burwan, yang tiada lain terletak di Kutri daerah Gianyar. Pada sebuah bukit di Desa Kutri terdapat Pura Bukit Dharma dimana tersimpan arca Dhurgamahisasuramardini. Sementara sang ayah didharmakan di Banyuweka para peneliti menduga tempat itu terletak di Gunung Kawi Tampak Siring. Di tempat ini terdapat candi yang memuat pahatan berbunyi "haji lumah ing jalu", artinya: raja yang wafat dan didharmakan di sungai Pakerisan.

Demikianlah peran Airlangga, dan keluarganya yang senantiasa merahayukan masyarakat baik di Jawa maupui di Bali. Udayana sendiri didampingi oleh Mpu Kuturan sebagai penasehat kerajaan, sementara Airlangga didampingi oleh Mpu Bharada. Kedua pendeta ini dekenal sebagai pendeta yang bersaudara kandung.

Kita memang perlu membaca dengan seksama sejarah masa lalu untuk melihat masa kini dan masa datang. Kesadaran sejarah mutlak bagi setiap generasi untuk membangun integritas diri dan jati dirinya. Tanpa kesadaran sejarah masyarakat akan terombang-ambing tanpa tujuan jelas dan pasti.

Oleh: Ki Supriyoko
Source: Warta Hindu Dharma NO. 534 Juni 2016