Karya Pemarisudha Karipubaya telah dilaksanakan pada tanggal 15 Nopember 2002 di Legian, Kuta Bali menyusul tragedi ledakan bom dasyat menewaskan ratusan orang pada Sabtu, 12 Oktober 2002 di tempat yang sama. Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, artikel ini mencoba membahas upacara Bhutayajna, upacara yang berfungsi untuk menetralisir pengaruh-pengaruh negatif alam sehingga terjadi keseimbangan dan kaharmonisan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Upacara Pemarisudha Karipubhaya adalah salah satu bentuk upacara Bhutayajna (Redaksi).
Bhutayajna adalah korban suci atau persembahan kepada Siwa dalam aspeknya sebagai Bhutapati, pengauasa unsur-unsur pembentuk alam semesta (bhuta). Bhutayajna mempunyai dimensi filosofis, ritual, agama, sosial dan budaya dilaksanakan di dalam rangka mewujudkan balihita, jagaddhita, sarwaprani hita yaitu kesejahteraan, kerahayuan, kedamaian masyarakat dan alam lingkungan secara kolektif dan moksa, yaitu penyatuan Jivatman dengan Siwa, Realitas Tertinggi dalam perspektif tujuan individu. Pelaksanaan Baliyajna sebagai Bhutayajna bertandasan sastra atau indik-indikyajna. Mengetahui tattzva yang melandasi pelaksanaan yajna, termasuk Baliyajna akan dapat menambah kemantapan, kekhusukan, keyakinannya ber-yajna.
Oleh karena Bhutayajna adalah kurban binatang maka tindakan kekerasan, pembunuhan/penyembelihan binatang kurban sering mendapatkan perhatian baik dari kalangan umat Hindu sendiri maupun pihak di luar Hindu, seperti misalnya kelompok pecinta lingkungan/ binatang langka. Artikel ini mencoba membahas Baliyajna, ahimsa di dalam rangka menuju Balihita, kesejahteraan alam semesta beserta segala isinya dalam perspektif filsafat berdasarkan sumber-sumber sastra yang ada baik berbahasa Sansekerta maupun Kawi.
Baliyajna dan Balihita
Panca Mahayajna yang hingga saat ini masih tetap dilaksanakan dengan berkesinambungan di Indonesia (Bali) mempunyai landasan yang kuat dalam kitab-kitab Weda dan kesusastraan Weda baik yang tergolong Sruti maupun Smrti. Kitab Satapata Brahmana (II.5.6.1) menjelaskan Panca Mahayajna terdiri atas Bhutayajna, Manusyayajna, Pitrayajna, Devayajna dan Brahmayajna. "Ahar-ahar bhutebyo balim haret, tathaitam bhuta yajna samapnoti" (Persembahan kepada bhuta berupa Upakara Bali disebut Bhutayajna). Jadi, Baliyajna adalah Bhutayajna, yaitu persembahan korban suci kepada Panca Maha Bhuta, yaitu tanah (pertiwi), air (apah), panas (teja), angin (bayu), dan ether (akasa). Sementara itu kitab Manawa Dharmasastra, yaitu pada sloka III. 68,69, 70, 71 dan 72 menguraikan juga tentang Panca Yajna. Sloka 70 menyatakan, "adya-panam brahma yajna, pitrayajnah tu tarpanam, homo daivo balir bhauto, nryajno'tithi pujanam" (Mengajar dan belajar adalah yajna kepada dewa, upacara bali adalah yajna untuk manusia). Persembahan kepada bhuta disebut dengan bali (balir bhauto). Pada kitab yang sama, yaitu pada (III, 81) menyatakan, "svadhyayenar-cayetarsin, homair devam yathavidhi, pitrn chraddhena nrnanair, bhutani balikrama". (Hendaknya ia sembahyang sesuai dengan peraturan, kepada pandita dengan mempelajari Weda, kepada dewa dengan persembahan yang dibakar, kepada leluhur dengan sraddha, kepada manusia dengan pemberian makanan, dan kepada bhuta dengan upakara bali (balikrama)).
Baliyajna adalah upacara yang dipersembahkan kepada Siwa dalam aspeknya sebagai Bhutapati, penguasa bhuta. Bhuta-bhuta tersebut adalah pertiwi, apah, teja, bayu dan akasa yang juga membentuk Panca Tan Matra, yaitu bau (gandha), rasa (rasa), sparsa, rupa (rupa), dan suara (sabda). Alam semesta beserta segala isinya dibangun oleh kelima unsur tersebut. Makrokosmos (Bhuwana Agung) dan mikrokosmos (Bhuana Alit) dibangun oleh bhuta-bhuta tersebut. Munurut sistem filsafat Samkya, bertemunya dua prinsip tertinggi, yaitu Purusa sebagai unsur kesadaran (Cetana) dengan Pradana atau Prakrti sebagai unsur material (Acetana) menimbulkan evolusi alam semesta. Yang pertama tercipta adalah buddhi Dari sinilah lahir unsur-unsur (Tattwa) lainnya, seperti ahamkara, citta, satwam, rajas, tamas, Panca Buddhindriya, Panaca Karemendria, Panca Maha Bhuta, dan Panca Tan Matra. Panca Tan Matra ini sebagai objek indria-indria sehingga manusia lupa dengan hakikat dirinya yang sejati. Perjalanan hidup manusia adalah pendakian spiritual, mentransendentalkan unsur-unsur, material (bhuta) kepada unsur spiritual. Karena sesungguhnya yang langgeng adalah spirit; menuju penyatuan spirit dalam diri dengan sipirit Yang Maha Agunglah senantiasa diupayakan dalam setiap nafas kehidupan. Hal ini tampak jelas pada upacara Pitrayajna, yaitu Ngaben yang berfungsi mengembalikan unsur-unsur Panca Mahabhuta pada Bhuana Alit kepada asalnya unsur-unsur yang sama pada alam semesta (Bhuana Agung). Antara Bhuana Alit dan Bhuana Agung memiliki paralelisme dan identifikasi. Ibarat biji buah dengan pohonnya. Biji sesungguhnya adalah miniatur pohonnya. Demikian juga halnya Bhuana Alit pada diri manusia adalah miniatur Bhuana Agung, alam semesta beserta segala isinya. Menciptakan keharmonisan di antara unsur-unsur tersebut adalah kunci Balihita, jagaddhita, sarwa pranihita.
Karena sesuatu hal keharmonisan di antara unsur-unsur tersebut bisa saja terganggu sehingga dapat menimbulkan kekacauan, kebingunan, bahkan bencana sehingga alam disebut kedurmaggalaan/keletehan. Keletehan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti oleh (1) alam misalnya blabar agung, sander kilap, angin nglinus, dll hingga menimbulkan kerusakan pelinggih, bangunan bahkan korban jiwa; (2) binatang (buron), misalnya buron salah wetu, ubuhan suku pai (misalnya celeng, sampi, dsb.) memasuki tempat suci; (3) tumbuh-tumbuhan (entik-entikan, kayonan, misalnya taru salah wetu, taru sander kilap di pekaragan, dsb),; (4) tempat pekarangan rumah yang dikatakan buruk atau panes, misalnya. Karang teledu nginyah, yaitu karang yang menyendiri dikelilingi sungai, jalan, karang gerah (karang pane,s misalnya karang dekat setra atau pura), karang tegen rurung, yaitu dua karang dibatasi/dibelah jalan raya (rurung), dsb.) (5) karena bangunan salah ukuran, misalnya bale salah sikut atau salah genah; (6) manusia, misalnya cuntaka, mitra ngalang, dsb. (7) Banguan cacad, misalnya bahan bangunan bekas terbakar, sander kilap, bah punggel, dsb. Adegan tanpa urip, sikut tidak menggunakan tampak yang punya rumah, tempat bangunan tidak sesuai dengan konsep Tri Mandala, dsb. Penyuciannya dengan banten durmenggala dengan Tuntutannya sesuai tingkatannya.
Disharmoni pangkal ketidaktentraman, ketidakbahagian, kedamaian. Baliyajna mengajarkan agara manusia harmoni dengan alam baik secara sekala maupun niskala. Dalam kedaan disharmoni, Siwa mengambil aspek Bhutapati, yaitu aspek Siwa yang menyeramkan, menakutkan, mengerikan sebagai Dewa Rudra. Kita ketahui bahwa pada saat Karya Agunga Eka Dasa Rudra di Pura Agung Besakih sebelas Rudra dipuja. Karena itu bhuta sering digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan, menakutkan. Secara niskala harmoni tersebut dapat diwujudkan melalui upacara Baliyajna dengan segala tata aturannya. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan kedaan balihita, bhutahiia, jagaddhita, atau sarwapranihita sehingga manusia dengan sagala makhluk hidup lainnya hidup tentram, dapat melaksanakan swa-dharma-nya masing-masing mengejar cita-cita hidup tertinnginya, yaitu moksa.
Dalam tubuh Siwa kedua kekauatan yang saling bertentangan, yaitu dewa dan asura, sinar dan kegelapan menyatu. Hal ini nampak jelas manakala tawur atau caru sebagai Buhtayajna setelah dipralina atau di-somya-kan oleh sulinggih distanakan sebagai Siwa dengan aspek-aspeknya yang menempati masing masing penjuru dunia baik yang dik maupun widik. Pada saat itu umat memohon karunia, anugrah dan kemurahannya agar dapat dijadikan kekuatan dalam menjalani kehidupannya yang tidak lepas dari pengarah Rwa Bhineda.
Baliyajna dilaksanakan pada tempat dan waktu yang terpilih (pangaladesa, subhadewasa) sesuai ketentuan sastra agama. Ketapatan yajna sesuai indik-indiknya akan mampu menyucikan unsur-unsur negatif alam semesta sehingga pikiran manusia juga menjadi disucikan. Baliyajna dilaksanakan di sebuah tempat yang dianggap tengah-tengahnya atau pusarnya dunia (madyanikang bhuwana), seperti di lebuh, natar, atau catus pata agung, dimana pretiwi dan akasa bertemu. Dari titik sentrum ini akan digetarkan energi atau vibrasi kesucian ke segala arah sehingga terwujud Balihita. Demikian juga waktu (kala) atau saat (dauh) dan yang muput yajna yang tepat sangat menentukan keberhasilan Bhutayajna.
Dalam tradisi di Bali digunakan tiga sistem kelender, yaitu Surya Premano, Candra Premana, dan Sistem Kalender Wuku (Tika) yang penerapannya dilakukan secara terpadu dan harmonis.
Manusia ibarat kuruksetra, yaitu medan pertempuran antara dua kekautan yang saling bertentangan, yaitu dharma dan adharma, dewa dan raksasa. Sifat-sifat kedewataan (daiwi sampad) dicerminkan oleh satwam, sementara sifat-sifat keraksasaan (asuri sampad) dicerminkan oleh rajas dan tamas. Ketiga sifat ini tidak pernah diam untuk mendominasi yang lainnya Jalan preya atau abhayudhaya mengakibatkan belenggu atma kepada obejek-obejek indria karena sifat-sifat rajas dan tamas yang selalu dipenuhi. Sementara jalan nihshreya atau prawerti marga akan melepaskan atman oleh ikatan (bandha) indria sehingga ia cepat menyadari dirinya bahwa sesungguhnya ia adalah Atman yang identik dengan Brahman. Apabila kita lengah, kita terjerumus ke jurang belenggu sehingga lingkaran kelahiran dan kematian terus kita lalui.
Jagra adalah selalau melek dengan selalu mendegarkan atau memahami tutur sehingga hidup tidak aturu (tidur). Orang yang aturu adalah orang yang papa, orang yang dibelenggu oleh indria-indrianya. Secara fisik ia bisa melihat tetapi secara rohani orang seperti itu adalah orang yang hidupnya gelap. Tutur membuat orang selalu ingat (eling), smrti kepada sumber aslinya apa pun yang terjadi baik pada saat senang maupun susah.
Rna
Yajna muncul dari konsep Rna, yang artinya hutang. Setiap manusia yang lahir ke dunia mempunyai hutang yang harus dibayar. Cara membayarnya adalah melalui yajna. Sering kita tidak menyadari bahwa kita mempunyai hutang begitu besar kepada Tuhan, orang tua (leluhur), guru dan orang-orang suci yang telah mengajarkan kemuliaan, kebaikan, kebijaksanaan sehingga hidup manusia terang. Hutang kepada Dewa (Dewa Rna) kita bayar dengan melaksanakan Dewayajna, kepada bhuta Bhutayajna atau Baliyajna atau Balikrama, kepada leluhur Pitrayajna, kepada manusia Manusayajna, dan kepada orang-orang suci Rsiyajna. Dalam ha! Baliyajna, begitu banyak kita mengambil dari alam: makanan, minuman, bahan-bahan bangunan, angin, air, api, tanah, dsb. Pelaksanaan yajna merupakan pengejawantahan sistem "takeandgive". Manusia kadang-kadang lupa bahwa dirinya telah meminta begitu banyak dari alam, bahkan semakin hari semakin menjadi-jadi "ngulurin indria". Mereka tidak pernah berterima kasih, menghargai, menghaturkan kepada alam. Apalagi secara sekala tidak pernah ingin tahu bagaimana berpartisipasi memelihara kelestarian alam lingkungan. Maka tak jarang alam menjadi murka, ekosistem terganggu, hujan tidak turun sehinga kekeringan muncul, atau kebanyakan hujan sehingga banjir, wabah penyakit menjalar, suhu meningkat sehingga menimbulkan kegerahan, air laut meninggi sehingga menghempaskan daerah-daerah pantai. Semuanya ini mempengaruhi kehidupan manusia baik sekala maupun niskala. Pikiran yang tidak tenang, kalut, kusut atau bingung dapat menimbulkan bencana yang besar. Memelihara pikiran agar tetap sehat dilakukan dengan pengendalian pikiran. Berfikir positif salah satu hal yang dapat dilakukan.
Ahimsa
Apakah menyembelih binatang untuk Baliyajna merupakan tindakan Ahimsa? Sumber-sumber sastra yang membolehkan membunuh untuk yajna cukup banyak sumbernya baik di dalam Rg Veda, Atharva Veda, Itihasa maupun lontar-lontar yang ada di Indonesia (Bali). Kitab Rg Veda menyebutkan adanya dua puluh satu jenis yajna, yang digolongkan menjadi (1) Somayajna, (2) Korban sapi dan binatang lainnya, (3) Aswamedhayajna, dan (4) korban manusia. Teks-teks kitab Brahmana berikutnya mengklasifikasikan yajna sebagai Somayajna termasuk Jyotistoma, Agnistoma, Wajapaye dsb. termasuk Caturmasya. Yajna-yajna tersebut dilaksanakan di tepi-tepi sungai atau temapt suci dekat air. Atharvaveda mengacu kepada Wasasawa, dimana seekor sapi disembelih lalu diperciki air, dipersembahkan kepada dewa-dewa dan akhirnya diberikan kepada brahmana. Dengan korban sapi ini tanah pertanian menjadi subur dan mendapatkan sorga. Yajurveda Putih menyebutkan 327 binatang piaraan termasuk sapi dan kuda pada upacara Aswamedhayajna yang dilaksanakan oleh seorang raja. Taittiriya Brahmana menyebutkan 180 binatang piaraan, seperti sapi betina, sapi jantan, kambing dipersembahkan. Sumber-sumber serupa dapat ditemukan dalam kesusutraan Weda lainnya. Nyantap daging sebagai prasada, lumrah dilakukan oleh orang-orang zaman Weda. Namun berkat berkembangnya tafsir baru tradisi ini semakin mengecil. Tradisi tersebut tidak lagi dilaksanakan secara meluas di India. Pengaruh pemikiran Buddha yang menekankan pada ahimsa, cinta kasih, pengendalian diri terasa berpengaruh terhadap cara pikir orang Hindu pada zamannya. Bali sebuah pulau yang jauh dari India masih tetap melestarikan ajaran yajna sebagai inti dasar peradaban Weda secara ajeg hingga saat ini. Peradaban India kuno yang hilang dapat dilestarikan di Bali.
Dalam tradisi Hindu di Bali ada yang disebut pati kawenang, artinya dibolehkan membunuh binatang hanya untuk keperluan yajna. Di luar itu himsa sangat dilarang. Apabila himsa tidak dibolehkan maka kehiduan ini menjadi mustahil. Atau dengan kata lain, ahimsa absolut tidak mungkin bisa dilakukan. Kelahiran kita ke dunia ini melalui rahim ibu kandung sudah merupakan himsa, menyakiti ibu. Namun himsa seperti ini dapat mengakibatkan kebahagiaan yang lebih tinggi. Ahimsa tidak hanya berlalu pada tataran tindakan, tetapi juga perkataan dan pikiran. Secara tindakan mungkin lebih gampang tetapi bagaimana halnya dengan pikiran, karena pikiran selalu melibatkan dualisme.
Ahimsa juga tidak hanya berlaku pada manusia tetapi juga pada binatang dan tumbuh-tumbuhan. Tidak hanya pada tataran tindakan, tetapi juga perkataan dan pikiran. Menghindari tidak membunuh kuman, mikroba, dan jasad renik lainnya nampaknya tidak mungkin. Menyikat gigi, mandi, mencuci, bernafas, makan, berjalan, olah raga, dsb. dapat mengakibatkan terbunuhnya jasad-jasad renik tersebut. Orang yang percaya dengan ahimsa secara absolut tidak akan pernah mau minum obat manakala yang bersangkutan sedang sakit, karena obat dapat mengakibatkan terbunuhnya kuman-kuman atau virus yang menyebabkan penyakit tersebut. Begitu juga halnya dengan tumbuh-tumbuhan. Mengambil sayur-sayuran, buah-buhan, kacang-kacang, kayu untuk bangunan dsb. adalah tindakan membunuh karena mereka mempunyai jiwa. Para petani di sawah tidak akan pernah mencabuti rumput yang mengganggu padinya. Dalam praktek kedokteran moderen, dokter bedah tidak akan pernah membedah pasiennya. Begitu juga mantri atau perawat tidak akan pernah menyuntik pasiennya. Tentara di medan perang tidak akan pernah berani meletuskan senjatanya karena takut melukai atau membunuh lawannya. Krishna tidak akan menasehati Arjuna yang lemah di tengah-tengah kedua pasukan perang, yaitu Korawa dan Pandawa untuk mengangkat senjata, bertempur menunaikan swadharma-nya sebagai kesatria. Bertempur untuk menegakkan dharma walaupun harus berhadapan dengan orang-orang yang dicintai, seperti Bhisma, Drona, Kripa; saudaranya seperti Karna; dan saudara misannya, seperti Duryudana, Dusasana, Sakuni, dll.
Mengorbankan binatang terlebih-lebih binatang yang disayangi adalah untuk mengangkat kemahlukannya ke tingkat yang lebih tinggi (disebut nyupat) melalui kekuatan mantra sulinggih. Winangnn Urip adalah konsep penyupatan melalui sarana banten sebagai yantra yaitu simbol alam semesta dan mantra. Landasan himsa dalam yajna adalah cinta kasih bukan kebencian. Pengorbaban yang lebih rendah untuk tagaknya rta, tataran kosmis alam semesta. Pengorbanan nafsu-nafsu ego untuk menuju kemuliaan diri. Manusia sebagai makhluk tertinggi tingkatannya, karena mempunyai buddhi dibolehkan mengatur yang lainnya. Dengan cara nyupat makhluk-makhluk lainnya dapat ditingkatkan kemakhlukaannya ke tingkat yang lebih tingi. Sesungguhnya sangat beruntung binatang-binatang sempat, dalam hidupnya dijadikan sarana upakara yajna oleh manusia, jika ada yang mungkin bertanya: "Jika demikian kenapa Anda tidak membunuh anak atau orang tua Anda sehingga mendapatkan sorga7", maka pola pikir seperti itu adalah pikiran meterialistik, seperti yang dianut oleh Carwaka yang tidak percaya dengan adanya roh atau spirit. Disamping itu, manusia mempunyai buddhi, wiweka membuat dirinya makhluk yang berbudaya dengan simbul-simbul budayanya.
Mengamati Tri Guna (satwam, rajas, tamas) yang membangun Prakreti termasuk manusia maka rajas sebagai unsur kerja, dinamika, agresif, progresif bersifat laten. Artinya sewaktu-waktu ia bisa saja muncul jika kondisinya memungkinkan. Himsa dalam pikiran jauh lebih besar bahayanya dari pada dalam tindakan. Menyadari hal itu kesadaran diri senantiasa ditingkatkan agar satwam dapat mengendalikan yang lainnya.
Apa yang dipentingkan dalam pembicaraan rohani adalah kekonsistenan. Artinya bila meyakini paham Ahimsa sebagai kebenaran tertinggi (Ahimsa Parama Dharmo) hendaknya dilakukan secara konsisten dan konsekwen.
Sekala-Niskala
Upakara Baliyajna diyakini mampu menyucikan alam semesta beserta isinya sesuai dengan tingkatan tawur. Tawur artinya "bayar" 4 Hal ini telah dilakukan secara turun-temurun dalam tradisi yang dilandasi oleh nilai-nilai Weda. Jika konsep Baliyajna itu salah, maka ia tidak akan bisa bertahan hingga saat ini. Suatu konsep yang telah dibuktikan benar secara turun-temurun tidak akan begitu saja dapat disingkirkan oleh suatu konsep baru yang belum teruji oleh zaman. Umat Hindu telah merasakan betapa Baliyajna tersebut mempunyai kekuatan vibrasi kesucian untuk mewujudkan Balihita.
Hal ini memang sesuai dengan ajaran Hindu bahwa ajaran Hindu bukanlah ajaran yang dogmatis. Kebenarana harus dapat dibuktikan benar dalam pengalaman masing-masing. Ia bersifat terbuka. Jadi kebenaran spiritual harus dibuktikan benar dalam pengalaman. Dengan kata lain kebenaran kitab suci harus bisa dialami langsung (anubhava). Inilah disebut realisasi diri, transformasi diri, yaitu mengubah sifat-sifat yang negatif ke yang lebih positif berdasarkan kayakinan, kesadaran dan komitmen diri.
Secara niskala yajna mampu membersihakan alam semesta beserta isinya. Namun secara sekala, dunia fenomenal, perlu dijabarkan ke dalam tindakan nyata baik perorangan maupun melembaga bagaimana dapat ikut serta berpartisipasi bersama anggota masyarakat lainnya memelihara kelestarian alam, membantu sesama yang memang membutuhkan, karena sesungguhnya umat manusia adalah sebuah keluarga besar (waisudaiwa kutumbhakam). Pemaknaan yang sifatnya sosial-budaya atas aspek yajna ini akan dapat membangun kesan bahwa agama Hindu bukanlah agama yang diperuntukkan untuk individu yang suntuk dalam samadhi-nya, tetapi juga untuk orang banyak, alam lingkungan sehingga nilia-nilai universalnya dirasakan oleh siapa saja. Dengan demikian kita melaksanakan Baliyajna untuk Balihita.
Balidwipa adalah pulau dimana setiap jengkal tanahnya disucikan oleh yajna, dimana setiap penghuninya beryajna. Suryasewana para sulinggih setiap pagi, betapa menyucikan alam Balidwipa ini. Upacara yajna dengan berbagai jenis dan tingkatannya baik secara rutin maupun insidental telah menyucikan Balidwipa. Dari pulau kecil ini pancaran yajna, kedamaian (shanti), kebenaran (satyam), kesucian (siwam) dan keindahan (sundararn) menyebar ke seluruh dunia. Tatanan kehidupan masyarakat Balidwipa termasuk pariwisatanya dilandasi oleh nilai-nilai tersebut. Yang diperlukan di Balidwipa adalah orang-orang yang suka ber-yajna sehingga Balihita bisa terwujud. Upacara Baliyajna untuk Balihita Balidwipa.
Penutup
Demikian sekilas ulasan Baliyajna yang bersumber dalam kitab-kitab suci Weda. Baliyajna pada dasarnya adalah Bhutayajna, yaitu suatu upacara korban suci untuk menetralisir kekauatan negatif alam semesta agar menjadi harmonis sehingga terwujud balihita, jagaddhita, sarwapranihita. Ahimsa secara absolut tidak mungkin dilakukan. Pati kawenang artinya membunuh dibolehkan hanya dalam rangka keperluan yajna. Membunuh binatang pada dasarnya tindakan nyupat, yaitu mengangkat roh binatang korban agar meningkat statusnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui kekuatan mantra sulinggih. Penjabaran nilai-nilai Baliyajna dalam kehidupan sosial kemasyaratakan perlu dilakukan agar yajna mempunyai dimensi tidak hanya niskala tetapi sekala, tidak hanya individual tetapi sosial, tidak hanya lokal tetapi global.
Source: IB. Putu Suamba l Warta Hindu Dharma NO. 430 Desember 2002