Beragama Cara "MLM"

Mendengar istilah "MLM" pasti terhubung dengan multi level marketing, sistem pemasaran suatu produk dengan cara membangun jejaring lewat jaring menjaring peserta dari kaki ke kaki, dari upline ke downline, dengan terget akhir berlipat-gandanya keuntungan yang diperoleh. Memang mirip iengan mekanisme kerja "MLM", hanya saja dalam konteks ini diberi arti "Memberi Lalu Menerima". Sebagai umat beragama (Hindu), kewajiban pokoknya adalah "memberi" apapun kebaikan yang bisa diberikan, berikanlah. Mulai dari kebaikan dalam berpikir, berkata dan berbuat, semuanya mengalir lalu bergulir dan secara bergilir diberikan kepada siapapun. Bukan dengan maksud pamrih, tetapi lebih kepada pengejawantahan kebaikan agar dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

Menebar dan menyebarkan kebaikan itulah kata kunci beragama cara "MLM". Bentuknya bisa beragam, tetapi tetap berintikan niat gumaueaken sukanikanang wong len — membuat senang dan bahagianya orang lain. Pertimbangannya, berdasar perkembangan fenomena perilaku sebagian umat yang lebih suka memeragakan perbuatan asosial, seperti bersikap iri, lalu menunjukkan rasa dengki atau benci, ujungnya tega menyakiti sesama. Umum menyebutnya sebagai penyakit "sms" (suka menyakiti sesama).

Boleh jadi merebaknya penyakit ini disebabkan oleh belum umunnya umat terhadap pengaruh gaya hidup kekinian yang cenderung ambisius mengejar fulus (uang). Sehingga, aktivitas beragama terutama lewat media ritual, tampak kurang meresap dan diserap makna-makna simbohknya ke dalam perbuatan nyata. Umat tetap saja asyik dengan eufo-ritualnya hingga menjelma menjadi fan-ritual yang berorientasi happy religion. Bukan dalam arti bergairah dan bergembira melakukan aktivitas keagamaan untuk menyenangkan atau membahagiakan orang lain, tetapi justru menjelma menjadi moment bersenang-senang, malah tak jarang menimbulkan kesan seperti sedang berpesta dengan semangat hura-hura.

Jangan heran untuk sebuah kesenangan tersebut, performance umat sarat dengan muatan materi perangsang, pemancing, sekaligus pemicu kesenangan, baik dalam bentuk penampilan fisikal (lewat dandanan), material (aksesoris), artifisial (penuh gaya), plus haturan banten (siap saji) yang tentunya memerlukan kemampuan finansial (uang/biaya), yang tak lepas dari pengaruh kapital (pemodal) hingga akhirnya umat bergaya individual (unjuk ego, berusaha tampil beda). Akibatnya, moment keagamaan yang dominan berbentuk upacara yadnya cenderung lebih tampak sebagai ajang pentas konsumerisme di panggung ritual.

Sementara itu, kewajiban hakiki selaku umat beragama untuk selalu memberi kebaikan, apapun bentuknya, belum menjadi kebiasaan. Padahal, perbuatan memberi, meski tidak berharap, tetap saja akan mendapatkan pahala. Kata "terima kasih" yang sering diucapkan, tanpa disadari mengajarkan bahwa apapun yang sudah diterima, wajib hukumnya untuk dikasih atau diberikan kembali, dengan segala bentuknya. Ibaratnya, siapa menanam ia akan menuai. Jika menanam jagung, butiran jagung hasilnya, bila menanam padi, bulir-bulir beraslah yang dinikmati.

Dengan beragama cara "MLM", diharapkan niat, minat dan semangat memberi atau menebar kebaikan akan menular, lanjut menyebar kepada umat kebanyakan sehingga lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang berman-faat dan dirasakan nikmat bagi sesama. Sekarang ini, kebaikan itu cenderung hanya ingin didapat dan dimiliki orang perorang atau setidaknya untuk keluarganya, tidak peduli dengan keadaan orang lain. Jika ia ingin senang, sejahtera dan bahagia, biar mereka sendiri merasakan, sedangkan orang lain tidak menjadi urusannya. Mau sedih, miskin menderita, umumnya orang pada "egp" (emang gue pikirin). Lihat saja di lingkungan keluarga Hindu (Bali), dan ini tidak bisa ditutupi, seakan sudah menjadi label bahwa di antara mereka masih cukup kuat rasa iri, dengki dan benci terhadap saudara/keluarga. Celakanya, pelampiasannya tidak saja berbentuk sikap atau sekadar perilaku tidak senang saja, tak jarang diwujudkan dalam bentuk "serangan" magic.

Survey Widana (2015) terhadap 215 responden menanyakan perihal "pernah/tidaknya terkena serangan black magic", menunjukkan data bahwa 116 responden (54 %) menyatakan "pernah". Ketika ditanya "siapa yang melakukannya", melaluiperantara bahan, menampilkan data mengejutkan bahwa 103 responden (89 %) menyatakan pelakunya adalah keluarga (nyama/semetori) sendiri.

Pertanda apakah ini, adakah korelasi aktivitas beragama (terutama lewat ritual yadnya) terhadap perbaikan sikap mental agar menjadi lebih positif dan konstruktif? Dari hasil survei tadi, jelas belum menunjukkan korelasi positif. Justru kecenderungannya adalah terjadinya fenomena berperilaku negatif, kontradiktif sekaligus destruktif. Di satu sisi aktivitas beragama umat Hindu semakin tinggi hingga ke level gengsi, namun di lain sisi harapan bagi tumbuhnya sikap mental positif dan konstruktif serta akhlak bermoral, justru cenderung mengalami distorsi dan degradasi.

Mengapakah hal itu bisa terjadi? Jawabannya sederhana, tetapi bermakna dan jauh lebih berguna, yaitu belum mengejawantahnya makna simbolik aktivitas ritual ke tataran sosial, yang sebenarnya lebih banyak menuntut perilaku memberi, baik itu berupa materi (untuk orang tidak mampu/miskin), pelayanan (bagi orang tua atau sakit), pembelajaran (demi memberantas kebodohan) dan penyadaran (guna meningkatkan kualitas rohani/spiritual). Bila perilaku beragama cara "MLM" ini benar-benar diterapkan, selain mendapatkan pahala juga sangat bermahfaat bagi upaya mensejahtera-bahagiakan semua umat, lahir batin, material spiritual.

Oleh: I Gusti Ketut Widana

Source: KOran Bali Post, Minggu Paing, 9 Oktober 2016