Nirguna Brahman disebut Para Brahman, yaitu Brahman Tertinggi adalah Brahman yang bebas dari guna, Brahman yang tak terbatas, tak terkondisikan dan tanpa sifat. Ia tidak dapat dipahami. Dalam Bhagawadgita. VIII.3 Sri Bhagavan bersabda, "Yang kekal abadi, maha Agung, adalah Brahman; persemayaman-Nya dalam badan individu dinamakan adhyatman; karma adalah nama yang diberikan kepada persembahan yang melahirkan makhluk hidup di dunia". Ia tanpa ruang, tanpa waktu, tanpa sebab, tidak berpribadi. Ia tak berawal, tiada pertengahan, tiada berakhir, berada di mana-mana. Dalam Bhagawadgita. IX.18 dijelaskan bahwa "Aku adalah tujuan, pengemban, penguasa, Aku adalah saksi, tempat kediaman, tempat perlindungan; Aku adalah kawan, asal mula, akhir kesudahan; Aku adalah dasar, tempat penyimpanan, benih abadi. Bhagawadgita. IX.19 "Aku adalah pemberani, kehangatan, menahan dan menurunkan hujan, Aku adalah keabadian dan kematian, sat dan asat, wahai Arjuna.
Saguna Brahman yang juga disebut Apara Brahman adalah Ia yang Kuasa yang terbatas, yang tersangkut dengan dunia pengalaman dan jiwa perseorangan. Ia adalah Isvara. Hal ini dijelaskan dalam Bhagawadgita, IV.6 bahwa "Walaupun Aku tak terlahirkan, kekal, Aku adalah Isvara dari semua makhluk. Aku menjadikan diriKu sendiri dan menjadi ada dengan kekuatan Maya-Ku". la yang menciptakan, memelihara, dan melebur dunia ini. Hal ini diuraikan dalam Bhagawadgita, XIV.3 dan 4, yaitu "Kandungan Ku adalah Maha Brahma (prakrti) dimana aku meletakkan benih (kehidupan) di dalamnya dan dari sanalah adanya semua kelahiran makhluk ini, wahai Arjuna". "Apapun wujud yang lahir itvfg wahai Arjuna, pada kandungan siapapun. Maha Brahma adalah kandungannya dan Aku adalah bapak pemberi benih".
Manawa Dharmasastra, 1,8, juga menjelaskan bahwa "Tuhan menciptakan dari dirinya sendiri semua makhluk hidup yang beraneka ragam". Ia yang hadir di mana-mana, maha tahu, maha kuasa, pengendali jiwa perseorangan, dan pengendali alam semesta. Hal ini dijelaskan dalam Bhagawadgia, IX.4 bahwa "Alam semesta ini diliputi oleh-Ku dengan wujudKu yang tak nyata". Ia adalah penguasa hukum karma dan moral. Hal ini dijelaskan dalam Bhagawadgita. IX,17 bahwa "Aku adalah Bapa, Ibu, Pelindung, dan Datuk alam semesta ini, Aku adalah objek ilmu pengetahuan, pensuci, Aku adalah Omkara dan juga Rg. Sama, dan Yayuh".
Tuhan Yang Maha Tinggi digambarkan pada Bhagawadgita. VII. 7 "Tak ada yang lebih tinggi dari pada-Ku, wahai Arjuna, yang ada disini semua terikat pada-Ku bagaikan rangkaian mutiara pada seutas tali". Tuhan sebagai inti dari semesta dan hakikat dari manusia diuraikan dalam Bhagawadgita. VII.8 "Aku adalah rasa dalam air, wahai Arjuna; Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari, Aku adalah pranawa dalam semua Veda, Aku adalah suara di-ether dan kemanusiaan pada manusia".
Tuhan sebagai nyawa semua insani dijelaskan dalam Bhagawadgita, VII.9 bahwa "Aku adalah keharuman lembutnya tanah dan benderang nyalanya api; Aku adalah nyawanya semua insani dan semangat tapa bratanya para pertapa". Tuhan sebagai benih abadi dan maha tahu diuraikan dalam Bhagawadgita, bahwa "Ketahuilah, wahai Partha, Aku ini adalah benih abdi dari semua makhluk; Aku adalah akal dari kaum intelektual. Aku adalah cemerlangnya sinar cahaya". Tuhan sebagai tujuan dan keinginan pada semua makhluk dijelaskan dalam Bhagawadgita, VII.11 bahwa "Aku adalah kekuatan dari orang yang kuat, bebas dari keinginan dan nafsu; Aku adalah keinginan pada semua makhluk yang tidak bertentangan dengan dharma, wahai Arjuna".
Sementara itu, sehubungan dengan keyakinan inklusif Brahmanisme dan Non Brahmanisme, Yayasan Sanatana Dharma Surabaya menyajikan sebagai berikut:
(1) Hanya ada satu realitas yang biasanya disebut Brahman dan dunia bukanlah nyata ataupun palsu.
(2) Doktrin emanasi merupakan pemikiran terbaik dalam Pancatantra dan Bhagavata Purana. Di sini emanasi yang lebih awal belum terkontaminasi ketimbang emanasi berikutnya. Dengan jalan yang sama, satya yuga dan treta yuga lebih baik dari yuga berikutnya.
(3) Secara umum Hinduisme mengajarkan suklus penciptaan dan peleburan tanpa akhir.
(4) Dengan doktrin emenasi selanjutnya timbul ajaran involusi (keterlibatan).
(5) Dewa atau para dewa tiada lain adalah manifestasi realitas tunggal yang disebut Brahman. Oleh karena itu, avataravada merupakan implikasi alami dari emanasi. Dikatakan demikian, karena segala sesuatunya merupakan manifestasi dari Brahman, maka jiva dapat mencari dan mencapai penyamaan dengan-Nya.
(6) Umumnya Hinduisme mengajarkan doktrin avidya sebagai penyebab utama kemunculannya di dunia, melalui siklus kelahiran dan kematian serta penderitaannya.
(7) Adanya badan disebabkan oleh karma dan itu merupakan noda. Ia merupakan produk avidya dan dapat dilenyapkan hanya melalui jnana.
(8) Bahkan seranggga dan pepohonan merupakan emanasi dari Brahman, sehingga mereka juga merupakan objek penghormatan, pemuliaan dan ahimsa.
Dalam Siwatattwa dijelaskan bahwa Tuhan sebagai Parama Siwa adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang masih murni, belum dipengaruhi oleh Acetana (Maya), belum menggunakan kesaktiannya, yaitu Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman. Tuhan sebagai Sada Siwa adalah Tuhan yang mulai kena pengaruh Acetana (Maya), sehingga memiliki guna, sakti, dan swabhawa. Dalam hal ini, Tuhan sudah menggunakan kesaktiannya atau kekuatannya, yaitu Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Sebaliknya, Tuhan sebagai Siwa (Siwatma) adalah Tuhan yang menjadi sumber hidup, yaitu sebagai atma atau jiwa jagat dan seluruh makhluk.
Masyarakat Hindu di Bali lebih mengenal Brahma Vidya atau Brahma Jnana Tattwa dengan sebutan Tattwa yang berarti hakikat tentang Tat atau "Itu", yaitu Tuhan dalam bentuk Nirguna Brahman. Hal ini diterima sebagai salah aspek dari agama Hindu di Indonesia (Bali), di samping Susila dan Acara (Upacara). Ketiganya itu, yaitu tattwa, susila dan acara dikenal sebagai kerangka dasar agama Hindu di Bali. Ajaran tattwa lebih dikenal dengan sebutan Siwatattwa yang merupakan/ kelompok lontar tattqa yang bers siwaistik. Termasuk ke dalam golongan ini, antara lain Buana Kosa, Wrshaspatitattwa, Tattwajnana, Sang Hyang Mahajanana, Ganapatitattwa, Buana Sangksepa, dan Jnanasiddhanta. Lontar yang disebutkan pertama sajalah yang akan dijadikan pusat bahasan pada kajian ini seperti dijelaskan berikut dibawah ini.
Brahmavidya Dalam Bhuwana Kosa
Bhuwana Kosa adalah sebuah lontar yang tergolong jenis tattwa atau tutur yang bercorak Siwaistik. Lontar ini terdiri atas sebelas bab yang disebut dengan patalah dan 487 sloka. Pokok-pokok isi secara keseluruhan Bhuwana Kosa (Brahma Rahasyam) alih aksara dan alih bahasa, 1994, diterjemahkan oleh tim penerjemah yang terdiri atas Rai Mirsha, Sura, Maka, Djapa, Sujana dan Sunu diterbitkan oleh Upada Sastra di Denpasar dapat distrukturisasi sebagai berikut.
(1) Patalah I berjudul Brahma Rahasyam, Pretamah Patalah terdiri atas 33 sloka.
(2) Patalah II berjudul Brahma Rahasyam, Dzvitiyah Patalah terdiri atas 20 sloka.
(3) Patalah III berjudul Brahma Rahasyam, Tritiyah Patalah terdiri atas 80 sloka.
(4) Patalah IV berjudul Buana Kosa, Catur Patalah terdiri atas 76 sloka.
(5) Patalah V berjudul Brahma Rahasyam, Panca Patalah terdiri atas 52 sloka.
(6) Patalah W berjudul Jnana Siddhanta, Pretamah Patalah terdiri atas 4 sloka.
(7) Patalah VII berjudul Basma Mantra terdiri atas 30 sloka.
(8) Patalah VIII berjudul jnana Sang¬sksepa terdiri atas 40 sloka.
(9) Patalah IX berjudul Buana Kosa, Nazva Patalah terdiri atas 44 sloka.
(10) Patalah X berjudul Siddhanta Sastra, Dasa Patalah terdiri atas 35 sloka.
(11) Patalah XI berjudul Buana Kosa, Sizuopadesa Samaptam terdiri atas 75 sloka.
Secara garis besarnya isi Buana Kosa dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pertama Brahmarahasyam berisi percakapan antara Srimuni Bhargawa dan Bhatara Siwa tentang Siwa yang bersifat sangat rahasia. Percakapan ini diuraikan dalam patalah I sampai dengan patalah V. Selanjutnya, Jnanahasyam berisi percakapan antara Bhatara Siwa dengan Bhatari Uma dan Sang Kumara, yaitu tentang pengetahuan untuk memahami Siwa yang bersifat rahasia. Percakapan ini diuraikan dari patalah VI sampai dengan patalah XI.
Tuhan dalam Buana Kosa disebut dengan Bhatara Siwa, Yang Maha Esa, tanpa benjuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, 'tak terbatas, tak termusnahkan, dan sebagainya. Hal ini diuraikan dalam Buana Kosa, 1, 19, yaitu "Tan kateketan mala, tan palzvir, tan pagatra, zvypaka, yonggzvan Sang Hyang Astasizva, tar pacala, ivisesa ya", (Tanpa dosa, tanpa wujud, tanpa rupa, tetapi menguasai atau memenuhi alam. Itu tempat bersemayam Sang Hyang Astasiwa, sangat utama tanpa cela).
Hal mi diuraikan pula dalam Buana Kosa, IV.44 disebutkan bahwa "Gunottamah nira-lambhah, nirgotra nissaraninah, ati parama sunyantam, nirbhanan niskalam prabhuh. Uttama ta sira dening asta guna, nirrassraya tar pagotra, tan pawak, atisaya ta sira ring wisesa, sunya malilang tejanira". (Beliau sangat utama, karena memiliki delapan keakhlian, tanpa bantuan, tanpa rupa dan tanpa wujud, sangat sakti, sinar beliau sangat halus dan cemerlang). (Selanjutnya)
Oleh: I Wayan Sukarma
Source: Warta Hindu Darma NO. 513 September 2009