Budaya Kreativitas Umat Hindu

Bali yang sebagian besar penduduknya beragama Hindu, telah terkenal ke pelosok Nusantara, dan dunia. Selain karena panorama alamnya yang sangat menakjubkan, juga karena budaya kreativitas masyarakatnya yang sangat tinggi. Dari aspek produksi, sampai saat ini kehidupan masyarakat Bali diliputi oleh dua pola produksi, yakni produksi pertanian dan produksi non-pertanian.

Meskipun karakter tradisi produksi pertanian yang sebelumnya mendominasi kehiduan masyarakat Bali, kini tampak mulai dirgeser oleh karakter tradisi produksi industri dan jasa yang cenderung bersifat lebih progresif, akan tetapi budaya kreativitas masyarakat Hindu di Bali tidak pernah luntur.

Ini dikarenakan masyarakat Bali, memiliki sistem nilai budaya yang disebut etos berkerajinan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari etos kerja. Sistem nilai budaya demikian dalam istilah Balinya disebut Rasa Jengah. Rasa jengah semacam ini membuat umat Hindu di Bali akan merasa sangat malu apabila ia tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh tetangga, kerabat, atau siapa saja yang menjadi teman (andaitolan) orang bersangkutan. Orang yang memiliki sikap seperti itu, disebut orang yang memiliki rasa jengah. Semua orang yang memiliki rasa jengah apakah dia orang tua atau anak muda, laki-laki, atau perempuan, dewasa, atau anak-anak, akan terdorong atau termotivasi untuk melakukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.

Selain karena rasa jengah, nilai seni budaya dalam konteks pelaksanaan upacara keagamaan juga telah memberi ruang bagi tumbuhkembangnya budaya kreativitas umat Hindu dalam kehidupan keberagamaan. Dalam ajaran agama Hindu dikenal tiga krangka dasar agama, yakni tatwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (ritual). Dalam praktik kehidupan beragama, ketiga krangka dasar agama ini menurut Sudharta (2001:5) tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi merupakan satu kesatuan yang terintegrasi. Artinya, jika dalam kehidupan beragama umat Hindu hanya menjalankan aspek tatwa-nya saja, tanpa dilengkapi dengan pelaksanaan susila, dan upacara, itu artinya belum cukup.

Demikian pula pelaksanaan susila dan upacara tanpa didasari oleh tatwa juga tidak akan bermakna apa-apa dan begitu sete-rusnya. Jadi, intinya dapat dikatakan bahwa dalam praktik kehidupan beragama ketiga krangka dasar agama Hindu ini harus dilakukan secara holistik dan intergral. Misalnya, pelaksanaan upacara yang merupakan wujud nyata dari aktivitas keagamaan bagi umat Hindu bukanlah tindakan asal-asalan, melainkan merupakan aktivitas keagamaan yang berlandaskan tuntunan yang terbentang dalam pustaka suci agama Hindu yang disebut Veda.

Dalam kehidupan keagamaan masyarakat Hindu di Bali, khususnya dalam pelaksanaan upacara, selalu dilengkapi dengan sarana upacara yang disebut banten/upakara. Berbagai jenis upakara yang dibuat dari beraneka macam bahan, seperti buah-buahan, daun kelapa muda (janur); berbagai bentuk jajan, dan bunga, merupakan suatu bentuk persembahan yang sangat indah dan penuh kesucian. Persembahan berupa up akar a/b anten, tidak saja mengandung aspek keindahan (seni) tetapi juga mengandung arti simbolis dan filosofis sesuai fungsi dari upakara masing-masing.

Untuk memahami makna baik simbolis maupun filosofis per-sembahan yang dipakai dalam pelaksanaan upacara (ritual) Hindu, maka terlebih dahulu perlu diingat bahwa Tuhan itu bersifat tak terpikirkan (Acintya), tidak berwujud (impersonal God), sangat luhur (transcen-dental) dan meresapi serta memenuhi segala sesuatu yang ada di jagat raya ini (wyapi wya-paka nerwikara). Mengingat sifat-sifat Tuhan seperti itulah, kemudian keberadaan Tuhan sangat sulit dibayangkan oleh orang-orang kebanyakan (orang-orang awam). Oleh karena itu, dan utuk bisa berkomunikasi dengan Sang Penciptanya, maka orang-orang kebanyakan ini kemudian melakukan persembahan dengan maksud untuk melakukan komunikasi itu tadi. Penting dijelaskan di sini bahwa bentuk pemujaan dengan memakai sarana upakara sebagaimana disebutkan di atas, sesungguhnya berdasarkan wahyu Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam Bhagavadgita IX.26 sebagai berikut.

"Pattram puspam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati tad aham
bhaktiyupahrtam asnami prayatat manah"

Artinya:
Siapapun yang sujud kepada-Ku,
dengan persemabahan setangkai daun, sekuntum bunga,
sebiji buah-buahan, atau seteguk air,
Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Dari isi sloka tersebut dapat dipahami bahwa untuk melakukan persembahan sebagai rasa sujud bhakti umat kehadapan Ida Sang Hanyang Widhi Wasa, (Tuhan Yanag Maha Esa) sebenarnya cukup hanya mempersembahkan setangakai daun, sekuntum bunga, sebiji buah, dan seteguk air. Akan tetapi karena budaya kreativitas umat Hindu yang sangat tinggi, maka kemudian bentuk-bentuk persembahan ini pun berkembang menjadi bentuk persembahan yang dilengkapi dengan berbagai kreativitas seni yang tinggi pula.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aspek seni yang religius pun mulai menjamah bentuk-bentuk persembahan yang dilakukan oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Misalnya, sebagai bentuk kreativitas umat Hindu dalam membuat sarana persembahan (upakara), maka di Bali dikenal berbagai macam bentuk persembahan seperti canang sari, daksina, sesayut, dan lain-lain yang kesemaunya mengandung unsur estetis (keindahan) unsur etis (etika, tatakrama) dan juga mengandung unsur simbolis, dan filosofis.

Misalnya, daksina adalah simbol dari stana Hyang Widhi (Siwa Lingga). Artinya, dengan persembahan sesajen berupa daksina pada saat upacara, seolah-olah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, oleh umat Hindu dimohon untuk duduk (berstana) di atas daksina itu yang terbuat dari buah kelapa, daun kelapa, buah pangi, dan berisi porosan yang dirangkai sedmikian rupa, yang memenuhi aspek-aspek keindahan (seni) aspek etika (tata krama) dan juga aspek simbolis dan filosofis.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa umat Hindu, khususnya di Bali dalam praktik sosialnya, memiliki budaya kreativitas yang sangat tinggi, baik dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, maupun dalam konteks kehidupan beragama. Hal ini dikarenakan umat Hindu di Bali, selain kreatif dalam konteks seni dan budaya, juga memiliki etos kerja yang sangat tinggi yang dalam bahasa setempat disebut ''rasa jengah". Karena "rasa jengah" inilah umat Hindu di Bali akan merasa malu jika dirinya tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh tetangga, kerabat, dan siapa pun yang menjadi teman orang bersangkutan.

Oleh: I Ketut Suda
Source: Majalah Wartam, Edisi 17, Juli 2016