"Dharmaksetre kuruksetre Samaveta yuyutsavah
Mamakahpandavas cai'va
Kim akurvata samjaya" (Bh. G. 1.1)
"Dharme carte ca kame ca moksa ca bharathasaba
Yadhihasti tadanyatra yannehasti an tat kvacit" (SS. 1)
Dharma merupakan kata pembuka dari kitab suci Bhagawad Gita maupun Sarasamuscaya. Tentu hal ini nampaknya bukanlah suatu yang terjadi secara kebetulan atau tanpa maksud dari Sang Maha Kawi. Ada Ada suatu makna yang sangat mendalam dari kata Dharma yang ingin disampaikan melalui kitab suci Hindu ini. Telah begitu banyak dari orang-orang terpelajar yang memberi makna dharma, namun hal ini nampaknya belum cukup memberikan makna secara utuh dari kata dharma itu. Ada yang mengartikan sebagai penyangga, penopang, kewajiban, kebenaran, dan lain sebagainya. Yang terakhir dan nampaknya lebih dapat diterima adalah definisi yang diberikan oleh Drs. I Gede Sura yang menyatakan sebagai segala upaya atau usaha yang dilakukan oleh manusia dalam mencapai atau mendapatkan kerahayuan.
Beranjak dari pengertian diatas nampaknya adalah sangat ideal jika kata dharma itu dipasang sebagai kata pembuka dari kedua kitab suci Hindu ini. Mulai membicarakan dharma berarti mulai berusaha mendatangkan kerahayuan yang didambakan setiap insan. Mulai mengorek hati sanubari yang paling dalam untuk dapat menuangkan kebenaran yang merupakan penyangga dunia ini. Kapan usaha dharma ini dilakukan? Nampaknya adalah ketika manusia mulai dapat berfikir, mulai mampu membedakan baik dan buruk, mengalami suka dan duka, atau dengan kata lain ketika manusia mengetahui adanya adharma yang membungkus hati manusia dan membawanya pada keadaan yang tidak rahayu.
Ketidak-rahayuan umat manusia mendorong dirinya untuk melawan sebisa mungkin mendapatkan rahayu, yang orientasinya adalah pada kenikmatan dan kebahagiaan hidup jasmani dan rohani. Orang yang sakit pasti akan berusaha berobat agar lekas sembuh, orang akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan orang lain dengan kata-kata yang menyenangkan, orang yang stres atau bingung akan berusaha keras menenangkan pikir¬annya. Manusia tidak akan mau berada dalam keadan susah, sedih, sakit, dan segala yang tidak baik.
Pikiran Yang Lebih Netral Menuju Dama
Manusia biasanya menangis ketika hatinya susah dan tertawa ketika menemukan kesenangan. Namun jika terlalu sedih orang yang menangis dapat saja menjadi tertawa, demikian pula orang yang terlalu senang akan tertawa sampai menangis. Demikianlah sangat sulit menebak seseorang apakah dia bahagia atau sedang bersedih, jika tidak benar-benar dengan seksama menatap wajah dan juga mendengar suara tangis dan tawa orang tersebut. Seseorang yang baru pertama kali jatuh cinta misalnya, dia bisa saja menangis saking bahagianya, orang yang putus cinta mungkin akan tertawa keras karena sedihnya. Sangat tipis perbedaan antara susah dan senang, antara baik dan buruk itu sesungguhnya. Karena itulah agama mengajarkan agar tidak sedih tatkala mengalami kesusahan dan tidak merasa senang tatkala dilimpahkan kesenangan, sebab kesusahan dan kesenangan menunjukkan betapa masih terikatnya pikiran manusia.
Gerak akan keterikatan dari pikiran terhadap obyek-obyek duniawi sering mendatangkan bencana. Orang yang sedih sekali bisa saja bunuh diri, orang yang tidak siap menerima lotre yang bernilai rmYyaran rupiah karena saking senangnya bisa pingsan atau meninggal. Hal ini terjadi karena tidak seimbangnya pikiran, yang menyebab¬kan luapan emosi kejiwaan yang tidak terkontrol, yangberakibat padatog-nva akal sehat. Jika akal sehat sudah akan dijumpai. Seseorang tidak lagi mampu menasehati dirinya sendiri.
Nihan kotamamng dama, dama ngaraning kopasaman, wruh ta mituturi mana ta, ....., kunang sang makadrbyang dama, niyatannya tan wipatha sira apan aturur, .........(SS.68).
Keutamaan dama adalah demmikian, dama artinya ketenangan hati yang menyebabkan orang sadar, sanggup menasehati diri sendiri;..... akan tetapi orang yang memiliki dama, ketenangan hati niscaya ia tidak tersesat, karena senantiasa sadar;
Sloka di atas menegaskan pada kita bahwa pentingnya dama atau ketenangan hati yang mampu membawa kita pada kesadaran atau "tutut", sekaligus mampu menasehati diri sendiri. Keadaan "sadar" atau "tutur" inilah tujuan dari agama Hindu. Dalam menuju "sadar" kekawin Arjuna Wiwaha menyajikan:
"Sasi wimba haneng ghata mesi banu
Ndanasing suci nirmalamesi wulan
Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin
Ring angambeki yoga kiteng sakala" (Arjuna Wiwaha 11.1)
Bagaikan bulan didalam tempayan berisi air
Didalam air yang suci jernih tampaklah bulan,
Sebagai itulah engkau (Tuhan) dalam tiap makhluk,
Kepada orang yang melakukan yoga Engkau menampakkan diri.
Dalam bait kekawin di atas ditegaskan bahwa pada orang yang tekun pada yoga. Tuhan akan menam-pakkan diri-Nya. Hal ini menunjukkan betapa yoga merupakan jalan khusus menuju ketenangan hati atau dama. Bahwa hanya tempayan yang airnya jernih sajalah terdapat bayangan bulan, hanya jika kita memiliki ketenangan hati atau dama maka Tuhan akan menampakkan diri-Nya. Dalam Patanjali Yogadarsana, Maha Rsi Patanjali mengajarkan "Yogas citta wrtti niro-dhah", yoga adalah pengekangan benih-benih pikiran (citta) dari pengambilan berbagai wujud (perubahan wrtti). Keinginan manusia yang tidak terbatas sebagai akibat dari indriyannya merupakan penghalang bagi tercapainya ketenangan batin. Masing-masing indriya membutuhkan kenik-matan yang berbeda. Mata ingin melihat yang indah-indah, telinga ingin mendengar suara yang merdu, lidah ingin mengecap yang enak, hidung ingin mencium bau yang harum, dan kulit ingin meraba yang halus. Mereka semua menuntut pemuasannya masing-masing dengan tiada bosan-bosannya. Karena itu manusia tidak pernah bosan untuk makan, melihat keindahan, mendengarkan lagu-lagu yang merdu, mencium bau bunga yang harum, makanan enak, dan yang paling tidak membosankan adalah keinginan bersenggama.
Dalam Bhagawad Gita keinginan dilukiskan dengan mempersamakannya dengan jumlah rumput di bumi, bahwa keinginan lebih banyak dari rumput, sedangkan pikiran dilukiskan dengan melebihi kecepatan angin. Pikiran adalah penyebab dari keinginan yang merupakan tuntutan dari indria. Karena itulah pikiran dikatakan sebagai "rajendriya". Jika sang raja dapat dikendalikan maka indria-indria ini dapat dikendalikan. Yoga adalah anu-grah yang sangat luar biasa bagi umat manusia yang ingin mengen-dalikan indriya. Yoga menyajikan bentuk-bentuk latihan dengan sangat disiplin guna mencapai keberhasilan.
Pikiran, Kata, dan Laku yang Selaras Adalah Dharma
Kata dan gerakbadan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan isi hati. Dengan kata dan gerak manusia mampu memberikan berbagai angan pikirannya pada orang lain. Tanpa kata-kata dan gerak badan tiada kemajuan umat di bLiiini,karena kata-kata dan gerak badan adalah simbol-simbol penyampaian pikiran-pikiran. Pikiran Seseorang dapat diketahui melalui kata-kata, kesedihan dan kebahagiaan Seorang dapat diketahui setelah ada penyampaian dari yang bersangkutan.
Namun kadangkala ada mis atau ketidak-selarasan antara apa yang ada dalam pikiran seseorang dengan apa yang dikeluarkan melalui kata-kata maupun laku. Dalam keadaan seperti ini (pikiran yang tidak selaras dengan kata dan perbuatan) manusia dikatakan berbohong. Dalam sastra agama ada tiga hal yang boleh dibohongi yaitu : anak kecil, musuh dalam medan perang, dan wanita (antara lawan jenis). Anak kecil akan takut minum obat kalau dikatakan obat itu pahit, seorang prajurit yang jujur pada musuhnya akan membeber¬kan rahasia negaranya yang dapat menghancurkan masa depan bangsanya, seorang yang sedang pacaran umumnya lebih senang dibohongi daripada pacarnya berlaku jujur. Sebab kata-kata keluar hendaklah kata-kata yang manis, karena setiap telinga pasti lebih senang mendengar kata yang manis daripada kata yang kasar.
Pertentangan antara pikiran dan kata-kata sebenarnya terjadi sebelum kata itu dikeluarkan. Jadi pertentangan antara itu terjadi dalam batin seseorang, sehingga hanya orang tersebutlah yang mampu merasakannya. Ketidak-selarasan antara kata dan pikiran menyebabkan tekanan-tekanan perasaan, jika nal ini sering dilakukan menyebabkan seseorang kehilangan energi sehingga dapat menimbulkan sakit. Seseorang yang berbohong bisa saja terbongkar saat dia tidur, dimana alam bawah sadarnya yang tidak menghendaki kebohongan muncul sebagai pemenang.
Orang yang terbiasa berkata dan berbuat apa adanya atau jujur, dimana kata selaras dengan pikiran dan perbuatan, nampaknya mereka lebih kecil kehilangan energi, karena tidak ada penyumbatan-penyumbatan pikiran. Hanya dengan hati yang bersih seseorang akan terbuka mengungkapkan perasaannya. KeJuiuran akan membawa kedamaian, sedangkan kebohongan akan membawa orang pada kekalutan pikiran, yang pada akhirnya menuntut kebohongan berikutnya. Jadi yang terpenting dari semua hal adalah Penempatan yang tepat dan kejujuran dan ketidak-jujura. Penempatan yang tepat akan membawa seseorang pada "kerahayuan" penempatan yang tidak tepat membawa seseorang pada "kehancuran" Untuk dapat menempatkan secara tepat inilah sangat diperlukan adanya "wiweka jnana" yaitu kebijaksanaan berfikir yang merupakan tujuan dari yoga. Karena itu bumikanlah yoga, jadikanlah dharma tuntunan dalam diri kita menuju kesadaran atma, karena hanya dengan menjadikan diri sadar Tuhan akan menampakkan dirinya, Sang saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu.
Tekun pada dharma (yoga), akan mendatangkan dana, dengan dama kita mampu mewujudkan Wiweka Jnana yang membawa pada rahayu. Demikianlah kata dharma yang menjadi pembuka kunci pembuka dari hati manusia, menuju Jagadhita-Moksa.
Source: I Gede Adnyana l Warta Hindu Dharma NO. 438 Agustus 2003