Diksa dalam Saiva Siddhanta

1. Pendahuluan

Diksa (inisiasi) telah menjadi tradisi yang penting di dalam perguruan rohani sejak zaman Veda, upanisad, purana dan hingga sekarang. Diksa menandakan seseorang telah siap masuk ke tingkatan hidup sanyasa, menurut konsep catur asrama. Masing-masing agama atau perguruan rohani dalam Hinduisme mempunyai tradisi diksa, etika, atribut, dan ritual yang berbeda-beda, namun pada dasarnya dengan diksa seorang sisya (siswa kerokhanian) setelah melalui pengamatan guru dan dipandang sudah siap untuk mengambil jalan rohani ditingkatkan kualitas kesucian dan rohaninya sehingga yang bersangkutan mempunyai kemampuan atau kewenangan untuk melakukan ritual-ritual tertentu; mempunyai tingkat kualitas rohani yang memungkinkan yang bersangkutan menuju Siva. Segala belenggu (pasa), mala, karma dan hal-hal yang menghambat kemuliaan dan kecerdasan jiva sudah sirna dan sehingga orang seperti itu sering dipersonifikasikan sebagai Siva di dalam tubuhnya melalui proses penyucian dan disiplin diri. Sifat, pikiran, tutur-kata, perilaku sehari-hari merupakan wujud Siva yang nyata.

Dengan konsep ini, ajaran Siva Siddhanta menolak konsep awatara, yaitu Tuhan yang turun ke dunia dalam wujud tertentu untuk memperbaiki dunia akibat kekuatan adharma, seperti diajarkan di dalam sejumlah purana, Mahabharata dan Ramayana. Ajaran Saiva Siddhanta menempatkan guru sebagai panutan moral masyarakat dan sebagai ia yang dapat membuka jalan ke-moksa-an Guru adalah Siva, karenanya Siva juga disebut Adiguru atau guru juga disebut Siva. Hanya guru seperti itu mampu menunjukkan jalan menuju moksa. Dengan peranan yang sangat fundamental ini, wajar saja guru mendapat penghormatan yang tinggi, karena dialah wujud Siva yang nyata di masyarakat.

Peradaban Hindu menempatkan guru sebagai pusat pencerahan, moralitas dan kebudayaan. Ketika kualitas guru mengalami degradasi, ini pertanda malapetaka bagi kebudayaan. Memperhatikan betapa strategisnya peranan diksita, maka ritual diksa menjadi benar-benar harus dilaksanakan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kualitas dan kesucian baik guru yang akan memberikan diksa maupun calon yang akan di-diksa. Motivasi diksa adalah kesucian menuju Siva bukan yang lain-lain. Diksa sebagai sebuah ritual mencerminkan jnana, yaitu pengetahuan Sivatva.

Secara kualitas rohani seseorang yang telah menjalani prosesi diksa (lebih tepatnya nirava diksa) lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang belum di-diksa atau orang umum. Ini memang sangat beralasan jika dilihat dari kadar kesuciannya. Secara sosial yang bersangkutan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi, mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang kadang-kadang istimewa dibandingkan dengan orang grahastin. Masyarakat melakukannya sebagai bentuk penghormatan umat kepada guru spiritual yang mampu membukakan jalan terang menuju moksa.

Oleh karena itu tidak sembarang orang yang layak di-diksa mengingat kualitas dan integritas diri yang dituntut sangat ideal. Demikian juga halnya di dalam tradisi agama Siva yang lahir di India Selatan, yaitu Saiva Siddhanta. Tradisi diksa sepertinya menjadi suatu keharusan bagi setiap orang yang ingin mencapai tujuan hidup tertinggi, disebut moksa. Menurut ajarannya, hanya dengan diksa dan usaha-usaha yang sungguh-sungguh dan berdisiplin tinggi seseorang bisa mendapatkan moksa, tidak ada jalan lain.

Artikel ini mencoba memaparkan konsep diksa terbatas pada tradisi di dalam agama Saiva Siddhanta di India. Pembahasan menitik beratkan pada konsep diksa dari sudut metafisika dan teologi sehingga hal-hal teknis seperti ritual, prosesi diksa, kualifikasi calon diksa tidak menjadi perhatian artikel ini. Bagian pertama membahas konsep belenggu dan moksa; bagian kedua membahas diksa dan samayacara, yaitu disiplin moral. Pembahasan mengacu kepada sejumlah kitab Agama, misalnya Ajitaama, Kamikagama, Karanagama, Kiranagama, Sivarcanacandrika, Raura-gama, Saivaparibhasa, Saivasiddhanta-paribhasa, Svayam bhuvagama, Viragama, dan lain-lain yang dijadikan pegangan oleh umat Hindu Saiva Siddhanta di India, khususnya di Tamil nadu (India Selatan).

2. Tujuan Hidup Tertinggi (Moksa)

Tujuan hidup di dalam agama Hindu disebut purusa artha : dharma, artha, kama, dan moksa. Manawadharmasastra, Mahabharata, Ramayana dan lain-lain membahas keempat tujuan ini secara panjang lebar dengan berbagai contoh. Keempat artha tersebut sesung-guhnya adalah nilai-nilai (values) yang senantiasa diusahakan didapatkan oleh umat Hindu Catur Purusartha sering dikaitkan dengan Catur Asrama (Brahmacharya, Grahasta, Wanaprastha dan Sanyasa). Yang terakhir, yaitu moksa menjadi sulit jika artha dan kama dicapai tidak berdasarkan dharma; dharma dimaknai sebagai hukum, kaidah tingkah laku atau kewajiban. Kebanyakan umat Hindu termasuk ke dalam kelompok pencapaian artha dan kama; sementara dharma dan apalagi moksa menjadi sangat kecil proporsinya. Moksa menjadi tujuan ideal, tertinggi dari semua tujuan dan dari semua ajaran di dalam sistem filsafat dan agama yang lahir di India. Oleh karena itu filsafat India (darsana) disebut juga sebagai moksa sastra. Disamping bersifat intelektual, spiritual, darsana juga menekankan pada ajaran etika sebagai jalan menuju kemuliaan hidup dan dapat menuntun tercapainya tujuan hidup.

Diksa dimasukkan ke dalam wilayah etika (susila), yaitu sadhana, disiplin spiritual sebagai penjabaran nilai-nilai spiritual. Diksa dilembagakan di dalam agama ini berdasarkan kesadaran yang paling utama bahwa tujuan hidup menjelma menjadi manusia adalah moksa, bebas dari ikatan, belenggu duniawi. Ilmu pengetahuan rohani (jnana) diberikan untuk membantu manusia menyadari dirinya yang sedalam-dalamnya bahwa sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia adalah penderitaan dan ada jalan agar bisa lepas dari belenggu tersebut. Belenggu diakibatkan oleh kegalapan rohani (avidya). Diksa diyakini mampu menjaga manusia dari pikiran, perkataan dan tingkatan tercela, membelenggu; diksa adalah titik awal seseorang menapaki jalan kesucian menuju pembebasan (moksa).

Diksa adalah titik balik menuju kesadaran diri yang lebih mendalam; menanggalkan pola pikir, wicara dan kebiasaan-kebiasaan grahastin dan menapaki jalan baru, yaitu disiplin spiritual yang khusus untuk itu disebut samayacara. Samayacara adalah jalan yang mengkondisikan ia yang telah di-diksa memungkinkan menapaki jalan rohani yang pasti untuk mencapai Siva. Mereka yang tidak mengindahkan Samayacara akan tergelincir dan kesucian diksa akan runtuh. Oleh karena itu , diksa mempunyai nilai yang sangat penting dan juga rahasia di dalam perjalanan seseorang menuju tujuan tersebut. Moksa adalah summum bonum, tujuan tertinggi.

Demikianlah Siva dalam wujud tataraja, penari kormis dalam lima aktivitas kosmisnya disebut Pancakrtya memberikan kesempatan kepada manusia (pasu) agar dapat mengusahakan jiva-nya bebas dari cengkraman belenggu duniawi (pusa). Hidup sebagai manusia merupakan kesempatan yang sangat baik untuk bisa kembali menuju Siva. Siva (pati) memberikan jalan yang pasti bagi siapa saja yang mengikuti ajaran-ajarannya. Seperti disebutkan di dalam Mrgendragama bahwa "jiva adalah alasan bagi segalanya". Jadi, Siva melakukan lima fundamental kegiatan kosmis adalah untuk mengangkat setiap jiva agar menjadi seorang Siva, tanpa harus bersatu dengan Siva. Dikatakan bahwa ketika jiva (roh) mencapai moksa, jiva tersebut sepenuhnya menjadi sama dengan Siva. Ia mendapatkan sebuah bentuk yang identik dengan Siva, namun yang bersangkutan tidak lebur ke dalam Siva atau bersatu dengan Siva seperti misalnya di dalam konsep moksa, jiva tersebut berada dalam keadaan otonom, lepas atau karir seorang jiva adalah menjadi Siva, bukan bersatu dengan Siva.

Inilah yang dinanti-nanti dan diidam-idamkan oleh setiap orang yang meyakini ajaran Siava Siddhanta. Dengan demikian ajaran Saiva Siddhanta mengakui adanya pluralisme jiva dan tiga entitas yaitu pati, pasu dan pasa sebagai entitas ontologis yang riil. Ketiga entitas ini bersifat eternal.

3. Belenggu dan Moksa

Saiva Siddhanta membedakan dengan tegas status ontologis jiva dan konstituen-konstituen lainnya yang membentuk manusia. Sebagaimana diketahui bahwa tiga prinsip : Tuhan (Pati), Pasu (Jiva) dan Pasa (belenggu) merupakan entitas yang berbeda-beda. Mereka eternak, artinya ada begitu saja tanpa yang satu menciptakan yang lain. Yang terbelenggu di sini adalah jiva (roh) bukan manusia impiris, manusia fenomenal. Yang pertama jiva yang im-material, kesadaran; sementara yang kedua adalah material, tanpa kesadaran. Jiva adalah lokus dari seorang manusia; karena adanya jiva tubuh bisa hidup dan melakukan aktivitas. Tubuh fisik, organ-organ tubuh, indra-indra, ego, dan kognisi adalah material yang bisa beroperasi hanya ketika digerakkan oleh jiva yang berkesadaran (cit).

Jiva bersemayan di dalam tubuh material dan dengan kekuatan kesadarannya ia menggerakkan semua organ-organ tubuh dan pikiran sehingga kehidupan ia menggerakkan semua organ-organ tubuh dan pikiran sehingga kehidupan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Jiva berada di dalam belenggu, ikatan, perangkap; sementara tubuh fisik adalah bentuk belenggu yang mengalangi kecerdasan jiva. Kelahiran ke dunia mempresuposisi belenggu akibat avidya.

Menurut Saiva Siddhanta belenggu terdiri atas tiga jenis : mala, karman, dan maya. Ketiganya berbeda dan terpisah satu sama lainnya; masing-masing mempunyai pengaruh tertentu kepada jiva. Mala adalah kegelapan, kebodohan, penutup, malam. Mala adalah belenggu pertama yang mengenai jiva dan yang terakhir dapat disingkirkan. Aghorasiva mengatakan mala dapat dipindahkan atau disingkir-kan dari jiva melalui pemasakan (paka) dan inisiasi (diksa), seperti kulit butiran padi segera pecah begitu biji padi tumbuh menjadi bulir. Dengan cara ini kekuatan mala perlahan-lahan mengendor (ksina) dan akhirnya sirna. Begitu mala melemah, maka kekuatannya untuk menekan, membelenggu jiva menjadi mengecil dan melemah. Sementara karman berarti tindakan dalam hukum sebab-akibat yang tidak hanya fisik tetapi juga moral.

Setiap tindakan atau kerja menimbulkan akibat, efek atau hasil. Karman hanya bisa ditransformasikan ketika buah-buah/hasil-hasil perbuatannya pada masa lalu dialami, dilakoni, atau dikonsumsi (bhoga). Dengan cara ini residunya dapat dieliminir. Tanpa pengalaman ini, residu yang inert tetap melekati jiva secara pasti. Karma yang tidak habis dikonsumsi mengalami perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lainnya bersama-sama dengan jiva dalam lingkaran kelahiran dan kematian (reinkarnasi). Selama lingkaran ini, jiva mengalami penderitaan akibat kemelekatan duniawi. Sementara maya didefinisikan sebagai biji (bija) bagi seluruh kosmos. Bahan dasar alam semesta beserta isinya adalah maya yang tak berkesadaran Narayanakantha mendifisikan maya, "Oleh karena keseluruhan dunia terkandung (mati) di sana selama reabsorpsi melalui kekuatan-kekuatannya, dan ia berproses (yati) ke alam manifestasi dari sana selama emisi, maka ia disebut maya (Mgrgendragama, vidya 2.7).

Maya menurut Saiva Siddhanta adalah riil dan substantif (vastuta), bukan ilusi atau sementara seperti dianut oleh sistem filsafat India lainnya. Advaita Vedanta mendifinisikan maya sebagai yang bukan pula gabungan riil dan non riil. Singkatnya, menurut Advaita Vedanda, maya adalah tak terungkapkan/Sesungguhnya yang membelenggu jiva adalah tiga puluh satu tattva yang muncul atau lahir dari maya yang benar-benar membelenggu jiva. Maya ini membentuk tubuh dan dunia menyediakan struktur di mana pasu mengalami belenggu dan penderitaan. Di dalam filsafat Sankhya, posisi maya ditempati dengan prakrti atau pradhana (konsep non kesadaran sebagai lawan purusa, konsep kecerdasan); namun tidak sama, ada sejumlah perbedaan. Maya agar tidak membelenggu jiva hanya bisa disingkirkan dengan sivajnana, pengetahuan Siva tercantum di dalam kitab-kitab Agama.

Oleh karena kondisi belenggu bukanlah intrinsik bagi jiva, tetapi dikenakan oleh belenggu-belenggu yang bersifat eksternal, maka sangat mungkin kita bisa menyingkirkan belenggu tersebut (karena hakikatnya bukan terbelenggu). Belenggu itu sendiri mempresuposisi kebebasan (moksa). Artinya, jika ada sesuatu terbelenggu, maka ada kemungkinan untuk bebas. ]iva tidak dapat diubah-ubah atau dimodifikasi sesuai keinginan kita karena ia memang tanpa bagian, tak pernah dapat dirubah.

Dengan demikian, pembebasan jiva adalah sebuah aktivitas mentransformasikan kondisi atau situasinya bukan esensinya. Agar dapat melakukannya, seseorang harus membuka ke-siva-annya yang immanen di dalamnya dengan cara menyingkirkan semua belenggu yang menutupinya. Begitu belenggu dapat disingkirkan, maka sivatva dari jiva akan muncul dengan sendirinya. Dua kejadian; menyingkirkan belenggu dan mendapatkan sivatva; seperti hilangnya penyakit memungkinkan tubuh bisa kembali berfungsi sebagai mana biasa. Namun proses ini tidak bisa dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap. Pengubahan kondisi ini berarti jiva menjadi Siva dalam pengertiannya yang luas. (Bersambung)

Source: I.B. Putu Suamba l Warta Hindu Dharma NO. 479 Desember 2006