Gatutkaca Sang Kancing Jaya

Prakata
Menerima sebuah kepercayaan mendadak, untuk menyajikan seni pertunjukan Wayang Wali/Wayang Lemah, dalam rangka : Melaspas Gedung Pers Pancasila di Jl. Gelora VII No. 32 - Palmerah Selatan - Jakarta Pusat; pada hari Rebo Kliwon Wuku Pahang - Purnamaning Sasih Kepitu, tanggal 3 Januari 2007. Dari sebuah panitia pelaksana Pemelaspas Gedung Pers Pancasila. Penulis berusaha mencari cerita lakon yang baru, yang lain dari biasanya.

Dasar pemikiran dijadikan acuan adalah: Tokoh-tokoh wayang asal Maya Pada, sempat menjelajah Suralaya, Neraka dan Sorga, balik kembali ke Maya Pada. Dapat dipilih dijadikan lakon cerita Wayang Wali/Wayang Lemah/Wayang Sakral. Buku Insklopedi Wayang diterbitkan oleh Direktorat Kesenian Ditjenbud Depdikbud, menyiratkan sebuah judul cerita lakon untuk dipilih : Gatutkaca Sang Kancing Jaya. Butir-butir isi sebuah sloka berbahasa Sansekerta, yang antara lain berbunyi:

Sringaro vira karuna
Bibhatsadbhuta bayanaka
Raudra hasya santhasca
Nava Rasa Prakistitha
.

Isi sloka ini, menggugah penulis selaku seorang dalang untuk meramu menggarap variasi jenis-jenis rasa untuk disajikan dalam karya sanggit seni pertunjukan Wayang: 1. Sringgara/rasa cinta kasih, 2. Vira/rasa perwira gagah berani, 3. Karuna / rasa belas kasihan, 4. Bibhatsa / rasa jijik, 5. Adbhuta/rasa takjub, 6. Bayanaka / rasa horror menakutkan, 7. Raudra/rasa marah murka, 8. Hasya/rasagejul, lucu, lawak, 9. Santha/rasa tenang damai, wajib dipahami, dihayati dan diamalkan dalam karya seni pertunjukan Wayang.

Paham manusia, sejalan dengan paham para dewa; tentang 'Sad Ripu' musuh dalam diri manusia, ada enam jumlahnya : 1. Kama, 2. Loba, 3. Kroda, 4. Moha, 5. Maha, dan 6. Matsarya. Sad Ripu wajib diwaspadai dan dibasmi oleh diri manusia itu sendiri.

Namun bagi kaum raksasa, 'Sad Ripu', justru dipupuk diladeni sepuas-puasnya sepenuhnya oleh para kaum raksasa. Perbedaan paham manusia dan desa dengan kaum raksasa, mencipta-kan perang antara dewa dan manusia, melawan kaum raksasa. Hal ini dijadikan rriotifasi bekerja kreatif menyusun sanggit cerita lakon.

Alur Ungkap Lakon
Dewa Indra bersama para pangikutnya, menyamar hadir di tengah-tengah para Pandawa Lima dan Pancali: menjelang akhir masa dua belas tahun pembuangan mereka dihutan Kamyaka, Karena kalah judi main dadu. Yudhistira dan para Pandawa, tidak dapat mengenali siluman Dewa Indra. Karena itu Yudhistira menyapa hormat dengan kata-kata : Siapa anda, dari mana asal anda, apa keperluan anda datang bertamu, ditempat kami.

Dewa Indra mengaku sangat memuji perbuatan Pandawa Lima selama hidup, lebih-lebih pada saat-saat menjalankan hukuman dua belas tahun mengasingkan diri dihutan yang sepi serta menyeramkan ini. Pandawa, kata Dewa Indra, dengan sangat baik dan benar melaksanakan kerangka ajaran agama dibawah bimbingan saudara tertua Yudhistira:

1. Tattwa/filsafat hidup, dijalankan dengan sangat sempurna.
2. Susila/etika, dilaksanakan dengan sangat terpuji, sempurna.
3. Acara/tradisi kebiasaan melaksanakan ritual, senantiasa dilaksanakan dengan baik dan benar serta terpuji.

Oleh karena itu, kata Dewa Indra (yang secara perlahan tapi pasti menjelma kembali seperti wujud yang asli) kami datang untuk menyampaikan apresiasi kami, dari Indra Loka kami datang dan hadir ditengah-tengah kalian semuanya dihutan yang sepi menyeramkan ini. Untuk menyampaikan penghargaan kami yang tulus.

Para Pandawa Lima dengan sigap serempak rampak mendekati sosok Dewa Indra menyunggi beliau bersama setinggi-tingginya, sambil menghaturkan sembah. Komposisi visual jenis ini, mengungkap rasa cinta kasih hormat bhakti Pandawa. Ponakawan yang menyaksikan dengan spontan mengungkap rasa takjub/adbhuta.

Disunggi oleh para Pandawa, Dewa Indra melanjutkan kata-kata beliau : Putra Bima Sena, bernama Gatutkaca, baru saja lahir dari ibunya seorang raksasi bernama Hadimbi di Kurabaya. Di tengah-tengah pamannya, para raksasa sakti mandra guna antara lain bernama : 1. Brajadanta, 2. Brajamusti, 3. Brajalamanta, 4. Brajawikalpa, 5. Prabakesa, 6. Kalabendana. Dengan rahasia, Dewa Indra menyatakan kekawatiran beliau, kalau-kalau sang bayi Gatutkaca, akan dicedera, dinodai oleh para pamannya. Oleh karena itu, bayi Gatutkaca diminta oleh Dewa Indra dari ayahnya Sang Bima Sena, dan para Pandawa. Untuk dipindahkan ke Suralaya, untuk dijampi-jampi, agar tumbuh menjadi kuat perkasa, lebih sakti mandra guna dari pada para pamannya. Para Pandawa setuju, dan memohon agar Pandawa diperkenankan berpartisipasi pada upacara bagi bayi Gatutkaca di Suralaya. Kemufakatan bulat tercapai.

Orasi Tambahan Dewa Indra
1. Ketika raja raksasa bernama Detya Kala Nirwatakawaca asal negeri Emantaka, ambisius akan mempersunting bidadari Supraba. Bertepatan dengan itu, Sang Arjuna telah berhasil dengan sempurna melaksanakan tapa di gunung Indrakila. Sang Arjuna, telah berhasil menyelamatkan Suralaya dari amukan Detya Kala Nirwatakawaca asal Emantaka.

2. Dahulu, raja Pandu Dewanata leluhur para Pandawa, memerintah kerajaan Astina. Raja Pandu Dewanata sempat menyelamatkan Suralaya dan amukan raja raksasa bernama Detya Kala Ruci asal negeri Karanggubarya, yang bermaksud untuk memperistri bidadari Warsiki. Warsiki dipertahankan oleh Dewa Indra. Detya Kala Ruci menyerang Suralaya. Pandu Dewanata, berhasil menyelamatkan Suralaya dengan sangat baik.

3. Kali ini, untuk yang ketiga kalinya Suralaya akan diserang oleh raja raksasa bernama Detya Kala Pracona asal Tasikwaja. Bermaksud akan melamar bidadari Gagarmayang untuk dijadikan istri. Dewa Indra akan mempertahankan bidadari Gagarmayang. Pasti Detya Kala Pracona akan menggempur Suralaya. Gatutkaca Sang Kancing Jaya, akan diandalkan untuk menyelamatkan Suralaya.

Perang Gagal
Para putra dewasa pasukan Dewa Indra, bergegas mendahului menuju negara Kurubaya Dipersimpangan jalan setapak dihutan, mereka terbelah menjadi dua kelompok Masing-masing kelompok tiba dikota Kurubaya dari arah yang berlainan. Para penjaga kota Kurubaya, menghadang para pemuda ini; terjadi peperangan hebat di dua tempat perbatasan kota Kurubaya.

Sementara itu, Dewa Indra bersama para Pandawa berjalan santai sambil nembang mengulas keindahan hutan yang dilalui. Tiba-tiba Sang Bima Sena menangkap firasat. Sang Bima berlari cepat sekali berusaha menggagalkan tauran yang terjadi antara para pemuda pasukan Dewa Indra, melawan para pasukan penjaga keamanan batas kota negara Kurubaya.

Sang Bima Sena langsung meminta bayi Gatutkaca dari raksasi Hidimbi. Raksasi Hidimbi dengan ikhlas memberikan bayi Gatutkaca kepada ayahnya Sang Bima. Sang Bima Sena, dengan beberapa kali loncatan telah dapat bergabung kembali dengan Dewa Indra dan pasukan para putri, serta para Pandawa Lima.

Tiba di Suralaya
Sampai di Suralaya, para pandawa dijamu dengan baik dan meriah khidmat. Bayi Gatutkaca dibawa bersama-sama ke Neraka digodog didalam jambangan/'Kawah Candra Gohdimuka dicampur direbus, dengan berbagai jenis senjata ampuh. Diriingi lagu, tari, doa-doa dan tetabuhan yang sangat meriah khusuk. Beberapa saat kemudian bayi Gatutkaca didalam jambangan yang dipanasi tiba-tiba melejit tumbuh besar dewasa perkasa. Ibarat berurat kawat, berbalung besi, berkulit tembaga, sangat sakti mandra guna.

Perang Detya Kala Pracona di Suralaya
Setelah Gatutkaca dan para Pandawa sempat menjelajah Neraka dan Surga, Detya Kala Pracona asal Tasikwaja, datang menagih bidadari Gagarmayang, untuk dijadikan istri dari Dewa Indra. Karena Gagarmayang dipertahankan oleh Dewa Indra, perang dahsyatpun pecah tidak terelakkan. Masing-masing seorang dari Pandawa Lima, direbut oleh lebih dari tiga orang pasukan negara Tasikwaja. Detya Kala Pracona sendiri dihadapi oleh Gatotkaca. Sangat ramai, sangat lama, sangat dahsyat, perang Wayang itu berlangsung.

Unsur visual gerak sabet Wayang, siluman-siluman, ditanggapi unsur auditif: taluan cempala, nada dan irama gender digarap vocal dalang. Narasi, dan ungkapan suasana-suasana yang dihadirkan, menciptakan nilai makna seni pertunjukan Wayang Kulit.

Kemenangan dipihak Pandawa, serta keberhasilan Gatutkaca membunuh Detya Kala Pracona menyebabkan Dewa Indra memberi penghargaan kepada Pandawa dan Gatutkaca Sang Kancing Jaya/Gatutkaca Si Kunci Kemenangan. Para Pandawa Lima dan Pancali, memboyong Gatutkaca dari Suralaya tiba di Maya Pada. Tancep Kayon. Dalang nuwur Tirtha Wayang diiringi gender. Tirtha Wayang diserah terimakan oleh dalang kepada panitia pelaksana ritual Pemelaspas Gedung Pers Pancasila.

Source: I Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 482 Maret 2007