Kunang sang Pandita ngarania,yadyapin kapwa kar-engwa hala hayu inucapan denira,ndan ikang ujara hayu juga inalap nira.kadi krama-naning hangsa amangan pehan minisra lawan wwai,an ikang pehan uga kapangan denia
(Sarasamuscaya.347)
Maksudnya : Adapun beliau sang pandita, semuanya diden-gar oleh beliau kata-kata yang baik maupun yang buruk ten-tang diri beliau. Namun, kata-kata yang baik saja dicamkan oleh beliau Sang Pandita. Sep¬erti burung angsa minum susu bercampur lumpur. Namun, susunya saja yang masuk ke dalam perut angsa itu sedan¬gkan lumpurnya tidak masuk dalam perut angsa.
Teks Sarasamuscaya ini sesungguhnya menuntun manusia Hindu agar dalam menghadapi serba dualismenya dunia ini berusaha membangun sikap hidup yang mampu berwiweka. Kalau pikiran mampu menguasai indria maka pikiran itu disebut Wiweka. Dari Wiweka inilah membangun sikap hidup yang seimbang. Apalagi Canakya Nitisastra VIII.17 menyatakan: Samtusto brahmana sucih. Artinya: Hidup seimbang dan bahagia itulah kesucian Brahmana. Sedangkan kesucian Raaja dinyatakan: sucih ksemakaro raaja. Artinya, kemampuan mensejatrakan rakyatlah kesucian Raaja.
Kemampuan selalu seimbang dan bahagia itulah seorang Brahmana disebut orang suci. Beliau hidup di dunia yang selalu ada baik buruknya. Sarasamuscaya 128 menyatakan di Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung dinyatakan ada dua lautan yaitu Wisaya Arnawa dan Amertha Arnawa. Yaitu lautan beracun dan lautan madu. Sedikit saja salah dalam mengarungi kehidupan ini dapat terjerumus ke dalam Wisaya Arnawa atau lautan beracun. Bagi beliau yang sudah pada tahapan Pandita tidak terpengaruh oleh dua lautan itu. Demikian juga Pandita hidup bersama manusia yang bertipologi Dewi Sampad dan Asuri Sampad seperti dinyatakan dalam Bhagawad Gita XVI.3 dan 4. Bagi beliau yang sudah mencapai tahapan Pandita sudah berada di atas dua tipologi tersebut.
Pandita pun menurut Sarasamuscaya 40 sebagai Sang Sista memiliki swadharma untuk melakukan apa yang disebut Pandahan Upadesa artinya menyiarkan pendidikan rohani. Sang Patirthan artinya kewajiban beliau memberikan penyucian pada umatnya. Beliaulah berkewajiban agar umat yang bertipologi Asuri Sampad agar jangan terus menyebarkan keburukan. Demikian juga umat yang bertipologi Dewi Sampad jangan sampai mabuk rohani karena kelebihannya itu. Bagi beliau yang sudah disebut Pandita yang telah melalui proses Aguron-guron dan telah mencapai Diksa. Diksa menurut pustaka Wisnu Yamala berasal dari kata "Di" dan "Ksaya". Di artinya sinar dan Ksaya artinya lenyap.
Orang dapat di-Diksa menjadi Pandita kalau sudah mampu menerapkan Jnyananya sampai mencapai Sinar suci Atman bertemu dengan Sinar suci Brahman. Sinar suci karena bertemunya Atman dengan Brahman itulah yang melenyapkan kegelapan hati. Beliau yang mencapai keadaan seperti itulah yang dapat disebut Pandita. Hati yang gelap itu adalah hati yang dikuasai oleh Asuri Sampad, Sad Ripu dan Sapta Timira.
Bhagavad Gita IV. 19 menyatakan bahwa orang yang dapat disebut Pandita adalah beliau yang mampu membangun sikap hidup yang "Niskama Karma", yaitu hidup yang aktif bekerja tanpa pamerih. Sikap Niskama Karma dan keyakinan hidupnya dikuatkan oleh Jnyana Agni atau sinarnya ilmu pengetahuan suci mempertemukan Atman dengan Brahman.
Sarasamuscya 500 menyatakan bahwa Pandita itu adalah beliau yang sudah sadar akan hakekat kebenaran (Tattwa) itu, orang yang demikian itu dinamai orang bijaksana (majnyana), tidak terikat pada sanjungan atau penghargaan dan kesedihan pada pikiranya. Artinya Pandita itu adalah beliau yang sudah dapat mengatasi sifat Rwa Bhinedanya dunia ini. Pustaka Nitisastra 1.6 ada menyatakan ciri-ciri orang yang dapat disebut Pandita yaitu: Ksama artinya pemaaf, Mudita berhati tenang damai, Santosa artinya sabar, Upeksa cermat dan teliti. Mardawa artinya lemah lembut dalam menyampaikan pandangan. Sastrajnya artinya berilmu pengetahuan suci, Wuwusnira Amrta artinya ucapan beliau bagikan air kehidupan.
Canakya Nitisastra X.13 menyatakan bahwa Pandita itu disebut Vipra bagaikan sebatang pohon kehidupan. Sandhya adalah akarnya, Mantram Weda yang dilantunkan oleh Pandita adalah cabang-cabang pohon itu dan Dharma sebagai dasar berbuat adalah daunnya. Demikianlah norma-norma beliau yang disebut Pandita. Karena demikian keadaan Pandita itu beliau disebut Pandita Adi Guru Loka. Artinya, Pandita sebagai Gurunya dunia ini. Sangat tepatlah apa yang dinyatakan oleh Sarasamuscaya 347 yang dikutip di atas. Pandita mentradisikan kemuliaan itu melalui belajar dan berlatih secara teratur dan terus-menerus samai menjadi kebiasaan hidup atau Sista Acara.
Kebiasaan Pandita itulah yang sepatutnya kita ikuti seperti kebiasaan burung angsa yang punya kemampuan alamiah bisa minum susu bercampur lumpur. Namun, yang masuk ke perutnya hanyalah susunya saja. Karena itu marilah ikuti kebiasaan beliau Pandita suci. Bangunlah kemampuan wiweka yaitu kekuatan pikiran dalam menguasai indria. Dengan wiweka itu kita bisa memilih-milah mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang tidak baik, mana yag patut diikuti dan mana yang patut dijauhi dan seterusnya.
Ingat Slokantara 81 menyatakan yang memuji dan yang mencaci keduanya kawan. Artinya pujian dan cacian patut dicermati untuk diambil segi positifnya. Jangan hanyut menjadi gede roso karena pujian dan jangan menjadi rendah diri berputus asa dan frustrasi karena cacian. Membangun sikap wiweka itu sungguh membutuhkan ketekunan yang prima kecuali bagi mereka yang sudah memilikinya sejak lahir sebagai buah Purwa Karma. Bagi yang pembawaan lahirnya biasa-biasa saja sungguh merupakan perjuangan yang wajib dilakukan dengan tekad yang kuat. Tetapi kalau sudah terbentuk dalam diri sungguh merupakan sikap hidup yang membawa ketenangan dan ked-amaian tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan.
Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Pon, 15 November 2015