5. Kamboja
Nama Latin : Plumeria (ada 31 tipe yang terindentifikasi, yang paling dikenal adalah jenis acutifolia, alba dan rubra)
Nama Inggris :Pagoda Tree, Prangipani, Dead Man's Flower, Temple Tree, Graveyard Tree
Nama India :
- Bengali : Golancha, Kathchampa
- Hindi : Champa, Gulachin
- Matathi : Khairchampa
- Sanskrit : Ksirachampa
- Tamil : Perungali
- Telegu : Arhataganneru
- Urdu : Archin
Rumpun : Apocynaceae
Nama umumnya yaitu Plumeria berasal dari nama petualang dan ahli botani dari Perancis, Charles Plumier (1664 -1706). Adalah sebuah pemikiran yang keliru bahwa pohon ini mula-mula terdapat di Cina sehingga menjadi alasan mengapa dinamakan Gulechin atau Bunga Cina. Bahasa Sanskerta "Ksirachampa" susu dari Champa. Bahkan kata "Frangipani" diperoleh dari bahasa Perancis 'Frangipanier' yang berarti susu yang mengental. Nama kedua adalah penjelasan dari pohon tersebut. Acutifolia adalah jenis pohon Kamboja dengan daun-daun yang berbentuk tirus, rubra adalah Kamboja merah dan alba, yang berwarna putih.
Kemampuan pohon ini untuk berbunga bahkan ketika ia sudah tidak berakar telah menjadikannya sebagai sebuah simbol kehidupan yang kekal. Dengan alasan ini umat Buddha dan Muslim menanam pohon tersebut didekat kuburan-kuburan pada kematian mereka. Kenyataan bahwa patung Sang Buddha diukir dari kayu pohon tersebut. Umat Hindu menganggapnya sebagai salah satu pohon tersuci dan menanamnya didekat pura-pura dengan bunga-bunganya yang dipersembahkan bagi Kamadewa, Dewa Cinta, dan adalah sebuah kesialan bila memotongnya.
Bunga tersebut adalah kesayangan Mughal Emperor Jahangir. Ia menuliskan, "Itu adalah bunga yang makin bertambah keharumannya: ia memiliki rupa seperti bunga yang Warna kuning Jingga, tetapi kuningnya cenderung ke warna putih. Pohonnya sangat simetris dan besar dipenuhi cabang-cabang yang rindang. Ketika sebuah pohon Kamboja berbunga, keharumannya dapat mengharumkan taman".
Tujuh Pangeran
Di suatu masa, hidup seorang raia yang memiliki dua orang permaisuri yang pertama penuh tipu daya dan tamak. Sedangkan Permaisuri yang kedua bersifat lemah lembut, namun sayang, ia bisu.
Sang istri tua tidak dapat melahirkan anak. Ketika ia mendengar bahwa madunya akan memiliki seorang putra, ia sangat iri dan takut akan kehilangan kedudukannya, la bertekad untuk tidak membiarkan anak itu hidup. Ketika tiba waktunya Sang Putra lahir, permaisuri tua itu menjalankan rencananya. Ia menyampaikan kepada Raja. "Paduka", katanya dengan suara gelisah, "Aku telah mendengar bahwa para pengacau sedang mengusik kehidupan rakyat anda di wilayah perbatasan kerajaan. Ini adalah tugas paduka untuk menyelamatkan mereka."
Raja tidak ingin meninggalkan permaisuri kedua, namun permaisuri pertama meyakinkan beliau bahwa ia akan memberikan segala perhatian kepada madunya. Raja segera berangkat bersama pasukannya setelah Sang Permaisuri melahirkan seorang putra. Sang permaisuri tua tidak mengizinkan seorangpun berada di ruangan ketika sang bayi dilahirkan.
Ia menculik anak itu dan menempatkannya pada sebuah keranjang dengan dibungkus kain lusuh. Permaisuri tua itu membawanya keluar tembok istana, kemudian membunuh dan menguburkannya di sana, setelah itu bergegas kembali dan meletakkan seekor monyet dalam tempat tidur bayi itu.
Raja kembali tanpa menemukan seorang pengacau pun, Sang Permaisuri Pertama menemuinya di gerbang istana dan sebelum raja dapat memarahinya karena telah memberikan laporan yang salah, ia mulai menangis tersedu-sedu dan meremas-remas tangannya. "Yang Mulia Anda terhina ! Permaisuri telah melahirkan seekor monyet."
Raja tercengang. Ia berlari menuju bilik permaisuri muda dan melihat monyet itu dalam tempat tidur Kerajaan dengan gemetar, la mendekat kepada Sang Permaisuri Muda dan melihatnya gemetar berurai air mata. Raja sangat mencintai permaisurinya dan melihat keadaannya yang menyedihkan, ia menahan amarahnya.
Di tahun-tahun berikutnya, permaisuri muda telah melahirkan tujuh orang putra dan seorang putri. Setiap waktu kelahiran, permaisuri tua mencari dalih untuk menyuruh Raja keluar istana dan mengganti setiap bayi yang dilahirkan dengan seekor monyet. Sampai putri yang kedelapan telah dibunuhnya pula dan dikuburkan diluar tembok istana.
Raja merasa semakin sedih. Ia mengundang para ahli perbintangan dan penasihatnya namun mereka semua merasa bingung atas peristiwa kelahiran yang aneh di kerajaan ini. Permaisuri tua yang jahat itu tidak pernah kehilangan akal untuk meracuni pikiran Raja. "Permaisuri Kedua membawa sial bagi Paduka", bisiknya tiada henti. "Anda akan ditertawakan oleh rakyat sebagai ayah dari monyet-monyet itu. Akhirnya ia berhasil membujuk Raja untuk membuang permaisuri muda dari istana.
Permaisuri muda yang tidak bersalah itu diasingkan ke sebuah pondok kecil di dekat tembok istana. Disana ia hidup tenang. Raja telah membuka gerbang pada sisi lainnya dan selalu berkuda melewati gerbang itu agar dirinya tidak akan pernah melihat permaisuri muda lagi.
Beberapa tahun telah berlalu. Di luar tembok istana telah tumbuh tujuh pohon yang gagah dengan bunga-bunga yang indah dan wangi seperti mahkota-mahkota emas. Didekat mereka tumbuh sebuah pohon yang lebih kecil dan lembut. Rakyat di kerajaan itu belum pernah melihat pohon-pohon yang semegah mereka. Rakyat menamakan pohon-pohon yang besar Cahmpa dan yang kecil Parul.
Berita tentang pohon-pohon terkenal itu tersebar sampai keluar wilayah kerajaan tersebut. Hal yang menjadi terkenal adalah bahwa tak seorangpun yang dapat memetik bunga-bunganya kecuali permaisuri muda. Dan oleh karena ia tidak dapat memetik semuanya, maka ketika ia keluar dari pondoknya, seluruh bunga yang muat pada cabang-cabang pohon tersebut berguguran dan berhamburan di kaki Sang Permaisuri.
Kini Raja jarang meninggalkan istana. Sang Waktu tidak bersahabat dengannya dan ia sangat merindukan permaisuri muda. la mendengar pembicaraan para kawula istana dan memerintahkan tukang kebun istana untuk memetikkan beberapa bunga Champa itu. Tetapi ketika Si Tukang Kebun menuju pohon-pohon tersebut, ia mendengar Si Pohon Kecil berseru, "Kakak-kakakku, akankah kita berikan bunga-bunga milik kita kepada tukang kebun Sang Raja?". "Tidak, biarkan Raja datang sendiri", jawab pohon-pohon yang lebih besar secara bersamaan.
Si Tukang Kebun kembali dengan tangan hampa dan mengatakan kepada Rajanya tentang apa yang telah ia dengar. Raja, memang wajar, tidak mempercainya. Ia kemudian mengirim menterinya untuk memetik bunga-bunga itu. Sang Menteri juga kembali dengan ceritera yang sama. Karena takjub, Raja memutuskan untuk pergi ke tempat itu dan melihat sendiri pohon-pohon yang luar biasa itu.
Permaisuri tua pucat pasi. Ia sendiri mengetahui kebenaran yang telah terjadi, dan ia menyadari bahaya yang aka dihadapinya. Ia mencoba untuk menghentikan Sang Raja. Namun Raja memutuskan bahwa mereka berdua harus melihat pohon-pohon itu.
Segera setelah pohon-pohon itu melihat kedatangan Sang permaisuri tua, cabang-cabang mereka tertarik kebelakang dengan tajam. "Pembunuh!" terdengar suara tangis parau. Raja mendekati mereka dan cabang-cabangnya itu menyundul telingannya ketika suara lembut mereka mendesau, "Bawa ibu kami kemari." "Siapa Ibu Kalian?" tanya Raja bingung. "Permaisuri Anda yang lebih muda", jawab Si Pohon Kecil.
Raja kemudian pergi ke pondok permaisurinya yang kedua dan mengajaknya keluar, seketika itu juga semua bunga-bunga berwarna kuning lembut itu berjatuhan pada rambut dan pangkuan Sang Permaisuri Muda sehingga ia terlihat bercahaya.
Permaisuri tua menangis dan mengakui perbuatan jahatnya. Ia segera dibuang keluar kerajaan. Sang Raja yang bahagia itu segera membawa permaisuri muda kembali ke istananya. Champa dan Parul juga dibawa kedalam taman Sang Permaisuri. Mereka berdua merawat pohon-pohon ita layaknya anak-anak mereka sampai akhir hayat.
Pohon Kamboja adalah pohon yang cepat bertumbuh, berukuran sedang dan berganti daun. Kulit kayunya berwarna abu-abu muda dan cabang-cabangnya meruncing ramping pada ujung-ujungnya. Apabila kulit kayunya ditusuk, keluar getah yang berwarna putih susu. Ketika tidak berdaun, warnanya pucat, batangnya menggelembung, kasar, serta cabang-cabangnya terlihat buruk dan membengkak. Namun ketika daun-daun bunganya terlihat, pohon ini menjadi salah satu pohon yang terindah di dalam sebuah taman.
Daun-daunnya yang kaku berukuran besar, hampir sepanjang satu kai dan meruncing pada ujungnya atau memiliki ujung yang melingkar tergantung kepada jenis varietasnya. Mereka tumbuh melingkar ke atas sampai ujung-ujung cabang-cabangnya. Rangkaian-rangkaian bunga yang kekuning-kuningan terlihat pada pertengahan kelompok dan diujung ranting-rantingnya, lima kelopak bunga, besar, dan halus. Varietas Alba berwarna putih dengan bagian tengah yang berwarna kuning terang. Rubra memiliki kelopak yang berwarna merah jambu pekat dan putih.
Kulit kayu dan getahnya digunakan untuk obat, khususnya sebagai petingan rasa sakit pada penyakit Rheumatic. Di daerah Goa, daunnya diikatkan diseputar pohon-pohon kelapa untuk melindungi pohon itu dari hama kumbang-kumbang. (Selanjutnya)
Source: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 435 Mei 2003