Kesehatan Mental Dari Perspektif Sosial Budaya

"Atmanam Moksartham Jagaddhitayaca" adalah tujuan hidup manusia; Artinya, bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah untuk mendapat Jagaddhita dan Moksa. Jagaddhita, berarti kedamaian jagat (dunia) kedamaian umat manusia, kesejahteraan rakyat, dan sebagainya. Moksa, berarti kesempurnaan hidup, ketentraman rohani, ketenangan jiwa, kebahagiaan batin, kehidupan abadi yang suci, manunggalnya roh dengan Tuhan Sang Pencipta.

Kesejahteraan lahir dan batin merupakan dambaan setiap orang dimanapun ia berada. Tidak seorangpun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup (suka tan pawali dukha). semua orang akan berusaha mencari dengan caranya sendiri lewat: Bhakti Marga, Karma Marga Adnyana Marga, atau dengan Yoga Marga. "Brahman bersifat Sat-Chit-Nanda, yang berarti Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan. Oleh karena Brahman dan Jiwatman pada dasarnya sama, maka alam Jiwatman itupun bersifat bahagia.

Inilah sebabnya manusia selalu mencari kepuasan akan kebahagiaan sebagai sifat alamiahnya ". Untuk mencapainya tentu tidak mudah. Bagi mereka yang mengalami kesulitan atau rintangan, maka besar kemungkinan akan mengalami ketegangan, kegelisahan, kecemasan, ketakutan, dan ketidakpuasan, sebagai ciri dari ketegangan (kekalutan) mental (mental disorder).

Kehidupan modern adalah kehidupan yang berimbang dan sulit diprediksi. Kemajuan teknologi membawa dampak ganda yang antagonis, disatu sisi menjanjikan kemudahan dan kenikmatan, dan sisi lain melahirkan ancaman yang menakutkan. Perobahan ini membawa cara hidup baru, pandangan baru, tingkah laku baru yang ingin disesuaikan dengan modernisasi Barat. Setiap orang berburu keinginan dan kekuasaan, tetapi setelah yang diburu didapat, dia cepat bosan dan ingin memburu yang lain lagi. "Kehidupan manusia adalah hasrat yang tidak kunjung padam untuk meraih kekuasaan demi kekuasaan dan hanya berhenti ketika kematian tiba". Jaman kali adalah jaman orang berlari. Segala sesuatu dikerjakan dengan tergesa-gesa, akibatnya hidup inipun menjadi tegang. Ketegangan menyerap energi begitu banyak untuk sesuatu yang sia-sia.

Dalam masyarakat timbul masalah baru seperti masalah ekologi, urbanisasi, pengangguran, dan berbagai macam kejahatan yang merugikan masyarakat luas. Menurut Triguna, tingginya tingkat migrasi (kelompok kepentingan) disertai motivasi untuk maju, tanpa disadari masyarakat asli sejumlah sumber daya telah dikuasai oleh new comers. Kondisi demikian oleh Scott (dalam Ahimsa Putra) seperti dikutip Triguna, Ditengarai dapat menimbulkan pola hubungan sosial atas dasar ketidaksamaan (inequality) malahan terjadi pula interaksi atas dasar ketidakseimbangan (inbalance). Permasalahan ini tentu dapat memicu terjadinya ketegangan-ketegangan baik secara individu maupun sosial dan tidak mustahil keadaan ini menimbulkan kegoncangan mental dan emosional pada masyarakat.

Kecemasan, keragu-raguan, was-was, dikejar waktu, pertentangan-pertentangan pendapat, hilangnya pegangan hidup, kurang adanya rasa security, frustasi, dan sebagainya mewarnai kehidupan masyarakat. Adaptasi terhadap situasi baru yang serba kompleks dengan berbagai permasalahannya tentu tidak mudah. Manusia ada dalam kebingungan. "Manusia tidak bisa (tahu) lagi bagaimana seharusnya mengenali diri sendiri dan menjalani kehidupan di dunia ini secara benar dan lebih bermakna.

The Will to Meaning", kata psikolog terkemuka Viktor Frankl seperti dikutip Sukidi. Kesulitan mengadakan penyesuaian diri dan adjustment tersebut menyebabkan kebingungan, kecemasan, ketakutan, dan frustasi pada sebagian anggota masyarakat. Frustrasi dan ketakutan tersebut menimbulkan ketegangan-ketegangan batin, konflik-konflik batin, gangguan-gangguan emosional (stres), yang menjadi persemaian subur bagi tumbuhnya penyakit mental.

Dalam rangka pembentukan manusia seutuhnya, kesejahteraan bangsa menuntut adanya keseimbangan (kesejahteraan) fisik, mental, spiritual. "Kehendak hidup bermakna sekarang menjadi visi hidup alternatif di tengah meluasnya problem-problem spiritual yang menjangkiti manusia modern dewasa ini. Tanpa hidup bermakna, hidup akan mengalami kegelisahan spiritual, problem spiritual dan bahkan krisis spiritual.

KONSEP GANGGUAN MENTAL DAN PENDEKATANNYA

Gangguan mental merupakan gejala alamiah yang sulit dihindari. Baron dan Greenberg (19900; Soewondo (1993), menyatakan bahwa salah satu kondisi psikis yang dihadapi seseorang adalah sindrom gangguan mental. Sindrom itu bahkan terjadi secara alamiah karena hampir semua situasi atau kondisi dapat menyebabkan gangguan mental pada seseorang.

Orang sering berucap tentang gangguan mental, namun arti dan penyebabnya belum banyak diketahui. Istilah gangguan mental memang mempunyai arti sangat luas, karena ragam penyebabnya begitu kompleks. Namun istilah ini sering digunakan untuk menunjuk keadaan terganggunya fungsi-fungsi psikis seseorang. Terganggunya fungsi psikis yang dialami individu disebabkan oleh kondisi internal di lingkungannya. Dengan kata lain gangguan mental dirumuskan sebagai kondisi kejiwaan yang dialami oleh individu sebagai reaksi terhadap kondisi lingkungan yang mengancam kesejahteraannya yang dirasakan tidak dapat di atas secara memuaskan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan orang yang mangalami gangguan mental maupun emosional yang bersumber dari lingkungan. Dalam dekade terakhir ini masyarakat banyak mengalami kejutan mental dari kejadian-kejadian yang dilakukan para teroris. Pasca bom baik yang terjadi di Bali maupun di kota-kota besar lainnya seperti Jakarta membuat masyarakatnya selalu dihantui perasaan was-was, kecemasan, dan ketegangan.

Pemberitaan berbagai media massa di tanah air dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ganguan kejiwaan yang dialami masyarakat indonesia sudah sampai pada tingkat yang menghawatirkan. Sebagai ilustrasi, untuk Bali data IMC menunjukkan sejak tahun 2000 terjadi peningkatan jumlah pasien yang berkonsultasi tentang kejiwaan mereka hampir mencapai 0,3%. Peningkatan drastis terjadi sejak bom Kuta, Ini adalah data riil yang baru berobat. Dikhawatirkan banyak anggota masyarakat yang mengalami trauma sebagai dampak kejadian 12 Oktober 2002 yang masih 'menyembunyikan' diri dari kekalutan mental. Apabila tidak segera mendapatkan penanganan keadaan ini sudah tentu membawa dampak negatif bagi kesehatan individu dan lingkungan.

Secara garis besar ada tiga pendekatan yang digunakan untuk mempelajari gangguan mental dan emosional, yakni: (1) pendekatan kerekayasaan, (2) pendekatan medik-fisiologik, dan (3) pendekatan psikologik. Pendekatan Kerekayasaan memusatkan perhatian pada stimulus, yang menggambarkan gangguan mental maupun emosional sebagai ciri-ciri stimulus lingkungan yang dapat mengganggu dan menyebabkan ketegangan. Sebagai stimulus, gangguan mental dan emosional merupakan tuntutan terhadap suatu organisme untuk beradaptasi mengatasi atau menyesuaikan diri. Karena itu titik berat pandangan ini terletak pada kondisi eksternal, bukan pada apa yang terjadi pada diri seseorang.

Pendekatan Medik-fisiologik memandang gangguan mental maupun emosional sebagai suatu respon umum tubuh terhadap suatu tuntutan fisik atau emosional, baik dari lingkungan eksternal maupun dari dalam. Pendekatan ini cenderung memperhatikan peru-bahan -perubahan yang terjadi dalam tubuh seperti meningkatnya hormon cortical, ketegangan yang meninggi, emosi yang bertambah, dan sebagainya.

Pendekatan psikologik merupakan reaksi atas kelemahan kedua pendekatan di atas yang dianggap kurang dapat menerangkan perbedaan-perbedaan individual dalam proses terjadinya gangguan. Prinsip dasar pendekatan ini adalah suatu kondisi yang terjadi dapat menimbulkan reaksi gangguan mental dan emosional yang berbeda dari setiap individu. Perbedaan ini terjadi karena kondisi atau peristiwa tersebut dipersepsikan secara berbeda oleh setiap individu (penghayatan subyektif). Baron dan Greenberg (1990) mengistilahkan dengan penilaian kognitif. Karena itu dalam peningkatan ini persepsi seseorang memegang peranan penting dalam menentukan gangguan mental maupun emosional.

Proses penghayatan subyektif atau penilaian kognitif meru-pakan bentuk representasi interaksi individu dengan situasi atau lingkungan yang dihadapinya. Gangguan mental yang dialami seseorang mengakibatkan munculnya reaksi gangguan, baik dalam bentuk psikologis, fisiologis, maupun tingkah laku. Reaksi gangguan mental yang terjadi terus menerus akan mengakibatkan energi terbakar habis yang pada akhirnya akan menimbulkan berbagai penyakit. "Pengendalian pikiran, kata dan badan (perbuatan) adalah membuat keseimbangan, kete-nangan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia"

SUMBER-SUMBER GANGGUAN MENTAL

Mengapa manusia mengalami krisis mental begitu hebat? Jawabnya adalah karena manusia kurang mengisi ruang mental itu dengan "hal-hal yang baik" (dharma). Justru sebaliknya manusia lebih terbiasa mengisinya dengan "hal-hal buruk" (adharma), yang menjadikan ekspresi kehidupan tampak ekstrim dan beringas yang dikuasai sifat tamas. Hal ini dengan sendirinya menjadikan hidup terpental jauh kepinggiran eksistensi diri, yaitu "terpentalnya diri dari Tuhan sebagai asal dan orientasi akhir kehidupan". Dengan kata lain manusia tidak mampu mencapai kebahagiaan tertinggi sebagai tujuan akhir hidup yaitu Moksa (akhir dari punarbhawa), yaitu manunggalnya Atman dengan Brahman. (Selanjutnya)

Oleh: Ni Putu Suwardani
Source: Warta Hindu Dharma NO. 537 Nopember 2011