Ketika menyaksikan suatu pergelaran seni, misalnya Wayang Kulit atau dramatari Arja, penonton sering kali terbawa hanyut oleh apa yang sedang terjadi di hadapan mereka. Penampilan pemain, kisah yang mereka bawakan, serta peran-peran yang mereka mainkan, semuanya lebur menjadi satu ke dalam sosok baru. Berkat kekuatan taksu , semua yang mereka lakukan di atas pentas bisa serasi (adung), pantas dan cocok (lengut), dan tidak dibuat - buat (pangus/pangid) sehingga bisa membangkitkan rasa lango bagi para penikmatnya. Sebaliknya, tanpa taksu, suatu karya atau pertunjukan seni akan mentah (matah) atau belum benar - benar matang (tengal) sehingga tidak mampu memikat hati penikmatnya.
Di dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa terdapat pupuh Cikarini yang dua kalimatnya berbunyi: Hana nonton ringgit, manangis asekel, muda hidepan. Huwus wruh towin, yan walulang inukir molah angucap. Arti bebasnya: Ada orang menonton wayang, menangis sedih tersendu, karena bodoh pikirannya. Sekalipun sudah tahu, dengan jelas bahwa wayang itu adalah kulit sapi diukir, yang bergerak dan bicara (karena perbuatan Ki Dalang).
Pertunjukan Wayang Kulit yang disebutkan di atas adalah yang metaksu. Hanya pertunjukan seni yang metaksu seperti ini yang mampu menghanyutkan perasaan penontonnya. Di tahun 1970-an, dipuncak kejayaan Arja Chandra Metu RRI Denpasar, setiap bulan, ratusan orang ikut menangis atau tertawa terbahak-bahak, oleh pertunjukan Arja dengan Linggar Petak atau Pakang Raras di Panggung Tri Praseya RRI Denpasar. Pementasan Arja ini menampilkan sejumlah penari seperti Jero Suli sebagai Mantri Manis (Linggar Petak, Pakang Raras). Ketut ribu sebagai Mantri Buduh (Raja Den Bukit, Prabu Daha), atau Ni Wayan Sadru sebagai Liku (Luh Gadung Sari dalam Linggar Petak).
Di atas pentas, para penari ini benar-benar mampu mentransformasikan diri untuk masuk ke dalam peran masing-masing untuk membuat kisah Linggar Petak "hidup" menjadi hidup di atas pentas. Penonton sepertinya tidak lagi merasa bahwa yang sedang mereka tonton adalah Jero Suli dari Puri Kesiman, Ketut Ribu dari Negari-Singapadu, dan Wayan Sadru dari Tampakgangsul-Denpasar. Berkat kekuatan taksu terutama dari ketiga pemain ini Arja Linggar Petak mampu membawa hanyut perasaan penonton selama berjam-jam.
Awal tahun 2000 yang lalu, bekerja sama dengan Kadek Suardana dan Nyoman Erawan, atas dukungan masyarakat Desa Sanur, penulis menyelenggarakan Gelar Seni Budaya "Nyurya Sewana Bumi 2000" dengan pusat kegiatan di Pantai Sanur, Jalan Hang Tuah. Gelar budaya yang dimulai dari tengah malam sampai pagi hari ini memadukan pertunjukan seni termasuk garapan koreografi lingkungan (site specific), ritual pemujaan, dan doa bersama.
Di antara pertunjukan kesenian tradisional yang ditampilkan ketika itu adalah Joged Bumbung, Gong Gede, Dramatari Topeng, Wayang Kulit,Barong Sae, dan Balaganjur. Menjelang pagi hari (pukul 04.00 WITA), ditampilkan pawai obor di atas jukung dan tarian topeng putih (Sidakarya) yang dipadukan dengan tarian Ngerarung Mala. Pada pukul 05.00 WITA dilakukan pemujaan bersama yang dipimpin oleh Ida Peranda dari Geria Batan Poh Sanur. Menjelang Matahari terbit dilakukan penyambutan Matahari oleh Gong Gede, Balaganjur, Barong Sae dan tari-tarian lainnya secara serentak.
Kekuatan taksu yang sudah dimiliki tempat (ujung Jalan Hang Tuah yang menembus pantai ), waktu pelaksanaan (tengah malam sampai pagi hari), upacara pemujaan yang dipimpin oleh Ida Peranda, dan berbagai jenis kesenian yang ditampilkan, selama kurang, lebih enam jam Jalan Hang Tuah dan Pantai Sanur menjadi pusat aktivitas budaya yang menggetarkan hati ribuan orang yang ikut di dalamnya. Perpaduan taksu-taksu ini membuat Gelar Seni-Budaya "Nyurya Sewana Bhumi 2000" menjadi sebuah peristiwa budaya yang lama dikenang oleh banyak orang di Kota Denpasar dan sekitarnya.
Taksu Dalam Kreativitas
Keberhasilan sebuah kreativitas seni juga tidak lepas dari kekuatan taksu. Dengan kekuatan taksu , seorang kreator seni akan memperoleh kecerdasan estetis dalam mengolah dan menemukan materi yang tepat bagi karyanya. Dengan demikian, selain bisa dengan mudah menyelesaikan karya-karyanya, seorang kreator seni akan bisa melahirkan karya-karya baru mampu menggetarkan hati setiap penikmatnya.
Karya-karya seni pertunjukan Bali kreasi baru, misalnya dari jenis Kakebyaran, yang diciptakan hampir satu abad yang lalu, namun masih disukai masyarakat hingga sekarang, diyakini sebagai hasil kreativitas yang telah memiliki taksu. Tari Taruna Jaya (1920an) karya Pan Wandres dari Jagaraga Buleleng, tari Kebyar Duduk (1925) ciptaan I Nyoman Maria dari Tabanan, tari Oleg Tambulilingan (1951) karya I Nyoman Maria dan Pan Sukra dari Tabanan, tabuh Palguna Warsa (Menanti Hujan Teduh) yang diciptakan tahun 1968, atau tabuh Kosalya Arini yang lahir pada tahun 1969, keduanya oleh I Wayan Beratha dari Denpasar, adalah sejumlah karya seni ciptaan baru yang memiliki taksu sehingga memiliki daya pesona yang begitu kuat sampai sekarang.
Jika diperhatikan, dalam tari Taruna Jaya perpaduan sedikitnya tiga unsur tari Bali, yaitu Legong, Baris, dan Jauk. Walaupun unsur Palegongan mendominasi hampir seluruh bagian dari tarian ini, pada bagian-bagian tertentu terlihat nuansa Baris atau Jauk. Namun dengan proses pengolahan yang matang, elemen-elemen ini tidak lagi dengan mudah dapat dikenali identitasnya. Walaupun nuansa geraknya masih bisa dirasakan. Hasilnya, tarian ini lagi terasa sebagai tempelan-tempelan tari Legong, Baris, dan Jauk melainkan suatu tarian baru yang bernama Taruna Jaya.
Hal yang sama juga terlihat dalam tari Oleg Tambulilingan. Di dalam tarian ini bertemu tarian Legong (Condong Legong) dan tari Kebyar Duduk. Unsur Palegongan terlihat pada bagian putrinya (Oleg) sementara unsur Kebyar Duduknya terlihat pada bagian lakinya (Muanin Oleg). Seperti yang dijelaskna oleh Jhon Coast dalam Dancer of Bali (1953), I Maria memadukan kedua unsur tarian ini berdasarkan kemampuan tari dua kedua penari, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin dan I Sampih, yang digunakan ketika pertama kali menciptakan tarian ini di Peliatan Gianyar.
Bagaimana Mendapatkan Taksu
Untuk mendapatkan taksu, masyarakat Hindu Bali pada umumnya melakukan pelatihan fisik dan mental yang sungguh-sungguh disamping melaksanakan upacara-upacara ritual keagamaan. Olah fisik dan mental dapat membangun kepekaan seseorang terhadap aspek fisikal dan mental dari kesenian yang dilakoninya, aktivitas ritual akan memberikan kekuatan serta ketajaman batin untuk mendatangkan kekuatan suci dari Sang Pencipta.
Para seniman besar dan empu-empu seni Bali adalah orang-orang yang telah mengalami proses pelatihan yang keras dalam kurun waktu yang cukup panjang. Pelatihan ini bisa memakan waktu puluhan tahun bahkan ada yang berlangsung sepanjang hidup.
Di masa lampau, pelatihan seni pada umumnya berlangsung dalam bentuk pelatihan non-formal di desa-desa, dengan cara menjadi anggota sekaa-sekaa kesenian, atau dengan cara berguru kepada para empu seni di tempat kediamannya. Pelatihan ini pada umumnya dilakukan secara individual; guru dan murid berinteraksi secara langsung. Kini, banyak seniman muda yang mendapat pelatihan seni dalam wadah pendidikan formal, di kota-kota, dengan cara masuk ke sekolah-sekolah seni seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Di lembaga-lembaga formal ini mereka pada umumnya dilatih secara berkelompok dalam bentuk kelas dimana interaksi langsung antara guru dan murid tidak bisa berjalan sebagaimana yang diinginkan.
Hasil pengamatan selama ini menunjukkan bahwa mereka yang datang dari keluarga seniman (waris pragina) pada umumnya lebih cepat berhasil dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki garis keturunan pragina. Banyak yang mengaitkan keberhasilan ini dengan proses pewarisan taksu walaupun sesungguhnya keberhasilan ini banyak dipengaruhi oleh proses pelatihan panjang, yang bisa terjadi setiap saat di lingkungan keluarga. Semuanya ini membuat para calon-calon seniman bisa lebih cepat menguasai bukan saja masalah-masalah teknis berkesenian tetapi termasuk aspek-aspek non teknis dari kesenian yang dipelajarinya. Kebiasaan melihat aktivitas berkesenian setiap hari membuat calon-calon seniman ini menjadi semakin akrab dengan perilaku berkesenian yang harus dilakukannya.
Upacara ritual. Untuk mencapai kematangan spiritual, guna mempercepat proses pencapaian taksu, para seniman Bali biasanya melakukan serangkaian upacara ritual. Upacara-upacara yang dilakukan meliputi sejumlah penyucian/pembersihan diri yang menggunakan sesajen.
Di antara upacara penyucian/pembersihan yang umum dilakukan para pelaku seni di Bali adalah: mejaya-jaya, mawinten, mapasupati, dan mesakap-sakapan. Rangkaian upacara ini biasanya dilakukan sebelum pementasan perdana. Tiga upacara yang disebut pertama pada dasarnya bertujuan untuk menyucikan raga dan material seni yang dari berbagai kekotoran termasuk memberikan kekuatan hidup. Upacara yang terakhir dimaksudkan untuk mempersatukan jiwa antar pemain, atau antara pemain dengan peralatan seni yang akan digunakan.Diyakini, setelah melalui rangkaian upacara ritual di atas, sebuah pergelaran seni akan bisa kemasukan taksu.
Juga patut diketahui bahwa setiap desa di Bali memiliki tempat suci untuk memperoleh (nunas) taksu. Satu tempat suci yang umum didatangi adalah Pura Dalem. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan Pura Dalem sebagai tempat bersemayamnya Dewa Shiwa (Shiwa Nataraja) sebagai dewanya kesenian, atau dewanya taksu-banas pati raja. Di beberapa tempat, para seniman datang ke tempat-tempat suci lainnya yang diyakini sebagai "pura kesenian" untuk mendapatkan taksu. Di rumah, setiap orang memohon kekuatan taksu dari tempat suci yang disebut sanggah taksu yang dimiliki oleh setiap keluarga.
Taksu yang dibutuhkan di semua bidang profesi, adalah jiwa dan rohnya seni budaya Bali. Masyarakat Bali meyakini bahwa taksu adalah penentu bagi keberhasilan seni. Pergeseran orientasi kehidupan masyarakat Bali, yang menjadi lebih condong ke arah materialis (Materialisme), mendorong semakin redupnya taksu kesenian Bali sehingga tidak lagi mampu menjadikan sumber kelanguan masyarakat. Kreativitas seni yang tanpa disertai oleh rasa apalagi kecerdasan spiritualitas, melahirkan karya-karya seni yang secara ragawi megah dan mewah namun tanpa daya hidup yang mampu membangkitkan rasa lango bagi para penikmatnya.
Semoga ke depan para seniman Bah akan mau melakukan pendakian spiritual dalam berkarya sehingga mereka mampu menghasilkan karya-karya yang metaksu.
Oleh: I Wayan Dibia
Source: Warta Hindu Dharma NO. 538 Oktober 2011