Kriya Yoga Mengawali Pendakian Spiritual

Memasuki Sadhana Pada berarti memasuki paparan spiritual praktis untuk mencapai Samadhi dalam berbagai kategori, seperti yang dipaparkan dalam Samadhi Pada. Dalam Samadhi Pada telah disajikan idealisasi-idealisasi terpenting Yoga untuk mencapai. Kini, Patanjali akan memaparkan bagaimana mencapai semua dalam Sadhana Pada sebagai paparan praktis praktik sprirtual -dibuka dengan Kriya Yoga melalui dua sutra berikut.

Hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (Tapa), mempelajari ajaran-ajaran suci secara mandiri (Svadhyaya) dn penyerahan diri, kerja dan hasil kerja dalam pengabdian kepadaNya (iswara-pranidhana) guna meraih penunggalan, disebut Kriya Yoga. Ini dilaksanakan guna melenyapkan (YS II.l dan II.3)

Tapa, Swaddhyaya, dan lsvara-pranidhana merupakan tiga Sadhana utama dalam Kriya Yoga. Swami Satya Pendahuluan. Kenapa disebut Pendahuluan?

Ketiga sadhana utama yang termaktub dalam Niyama hanyalah tiga dari lima disiplin mental Niyama. Seperti dimaklumi dan akan dijelaskan pada sutra-sutra berikutnya, Nyama merupakan tahapan kedua dalam delapan tahap Yoga Patanjali, dan hanya diperuntukkan sebagai pembentuk sikap batin yang merupakan landasan moral seorang raja yogi. Bila hanya tiga dari disiplin moral spriritual (Brata) saja sudah layak memperoleh sebutan Kriya Yoga, dapat dibayangkan betapa tingginya ajaran Asthanga Yoga yang dipersembahkan Patanjali kepada umat manusia ini.

Kriya Yoga dipergunakan untuk melenyapkan klesa atau kekotoran batin, yang merupakan hambatan-hambatan utama dalam praktik yoga. Batin yang telah lenyap kekotorannya menjadi suci atau murni (Sauca). Sementara itu sauca sendiri yang merupakan salah datu disiplin dalam Niyama. Ada kepaduan langkah pengembangan batin yang menyeluruh, hanya dalam praktik Niyama saja. "Pendahuluan" saja sudah dikatagorikan Yoga. Di barat, Kriya Yoga ini dipopulerkan oleh Sri Paramahamsa Yogananda.

Menurut Shrii Shrii Anandamurti, Tapa diterapkan dengan menahan kesulitan-kesulitan fisik maupun mental demi kebahagiaan orang atau mahluk lain dan melakukan pengabdian tanpa pamrih. Tapa terdiri dari empat jenis:

1. Bhuta Yajna - pengabdian untuk kepentingan alam ciptaan
2. Pitra Yajna - pengabdian kepada nenek moyang atau leluhur
3. Adhyatma Yajna - pengabdian lewat jalan spiritual
4. Nr Yajna atau Manusa Yajna -pengabdian untuk kepentingan sesama manusia

Jadi Yajna, persembahan suci yang tulus iklas ini juga dimaknai sebagai pelaksanaan Tapa oleh guru besar pendiri Ananda Marga itu. Pandangan ini ternyata sejalan dengan wejangan Sri Krishna dalam Bhagawad Gita IV. 28, Ada yang ber-Yajna dengan harta-benda miliknya (Dravya Yajna), ber-Yadjna dengan Tapa (Tapa Yajna), Ber-Yadjna dengan dengan Yoga (Yoga Yajna) dan yang lainnya ada pula yang ber-Yajna dengan Svadhyaya (Svadhaya Yajna), serta dengan jnana (Jnana Yajna); demikianlah mereka yang taat melaksanakan disiplin hidup kerohanian (vrata)." Dua sutra pembuka tadi ternyata memperoleh dukungan kuat dari Bhagavad Gita. Bentuk-bentuk persembahan dalam Isvarapranidhana pun di paparkan, sebagai praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Bhagavan Sathya Narayana, dalam Jnana Vahini membedakan Tapa Atas tiga hal, yaitu Tanpa mental, Tapa fisik, dan Tapa pembicaraan. Pembagian dan penjelasan ketiga Tapa ini mirip dengan konsep etika moral Hindu Trikaya Parisudha, yang sudah tak asing lagi di Nusantara, seperti: penyucian, pikiran (manacika), penyucian ucapan (wacika), dan penyucian perbuatan (kayika).

Ini merupakan upaya penyucian integral terhadap tiga modus utama perbuatan. Dalam Trikaya Parisudha secara inklusif terangkum hampir semua landasan moral etika Yoga, Yama-Niyama. Ini juga mewakili pelaksanaan tiga dari Jalan Utama Beruas Delapan Budhisme, yakni pikiran benar (samma-sanappa), ucapan benar (samma vaca), dan perbuat benar (sammaa-kemmanta). Secara praktis, membiasakan tiga etika terjaminnya pencapaian tujuan akhir.

Kena Upanisad menyebut Tapa sebagai salah satu tiang Brahmawidya (Pengetahuan ketuhanan), di samping dama (pengekangan diri) dan kama (kegiatan dalam kebajikan). Dalam Prasna Upanisad pun Tapa mendapat tempat istimewa dengan ditekankan secara berulang-ulang. Swami Satya Prakas Saraswati menyebutkan toleransi, kesabaran, dan latihan yang terus-menerus dilakukan dengan tekun merupakan tiga aspek Tapa, yang mematangkan seorang siswa spiritual (sadhaka). Setiap usaha untuk mencapai pengalaman dunia maupun transenden merupakan Tapa. Hanya dalam artian yang terbatas sajalah. Tapa diartikan sebagai kesederhanaan.

Disebutkan pula, secara menyeluruh Tapa dilakukan bukan saja pada lima indra sensorik dan lima indra motorik, akan tetapi juga pada sikap mental dan daya vital (prana). Jadi, Tapa merupakan upaya penyucian menyeluruh, lahir maupurt batin. Manusmerti  kitab suci Smerti yang hingga kini masih paling sering diacu dalam jenisnya juga menyebutkannya demikian.

Di dalam Manusmerti atau Manava Dharmasatra, Tapa dan Brata dipaparkan dengan panjang lebar dalam sloka-slokanya. Beberapa di antaranya, yang khusus menyangkut Tapa, terdapat pada adhyaya XI, dikutip di bawah ini.

"Para rshi mengendalikan diri beliau dengan hidupnya hanya dari buah-buahan, umbi-umbian, dan udara, beliau mengarungi triloka bertemu dengan mahkluk bergerak maupun tidak bergerak, hanya melalui kesucian Tapa. Apa pun yang sukar untuk dilakukan, semuanya dapat dicapai dengan kesucian Tapa, karena Tapa mempunyai kekuatan untuk melintasinya. Mereka yang telah melakukan dosa besar dan beberapa kesalahan lainnya, dapat dibebaskan dengan melakukan Tapa. Serangga, ular, ngengat, kumbang, burng dan makhluk lainnya, berhenti bergerak dan mencapai surga hanya karena Tapa-nya. Apa pun dosa-dosa yang telah diperbuat oleh seseorang melalui pikirannya, perkataannya, ataupun perbuatan-perbuatannya, semua dapat dimusnahkan dengan segera melalui Tapa-nya yang teguh, terjaga bak hartawan menjaga kekayaan-nya. Para dewa-dewa menerima menerima setiap persembahan para brahmana, yang telah disucikan oleh Tapa-nya, akan menerima phala dan dikabulkan semua permintaannya. Yang Maha Kuasa, Hyang Prajapati, menciptakan lembaga suci itu melalui tapaNya, demikian pula halnya dengan para rshi, menerima wahyu Veda karena Tapa mereka, para dewa-dewa melalui Tapa-nya kembali ke alam kesucian, demikan-lah keutamaan dari tapa. (MDs. XI : 237, 239, 240, 241, 242, 243, 244 dan 245).

Dalam banyak pustaka suci dan akan ajaran mental-spiritual, Tapa berkaiatan erat dengan Sauca, penyucian lahir batin (yang akan dibicarakan dalam pembahasan sutra 11.40 dan 11.41) dan menduduki posisi fundamental dalam praktik kehidupan spiritual. Tapa berkaitan langsung dengan kehidupan suci itu sendiri. Bahkan, para rshi di zaman dahulu menerima wahyu melalui kehidupan suci ini.

Sadhyaya adalah upaya mempelajari kitab suci atau kitab-kitab filosofis spiritual secara mandiri untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang hakikat yang terkandung di dalamnya. Memprtanyakan (vicara), melakukan analisis penalaran penalaran (vitarka), maupun perenungan mendalam serta perbandingan dengan kejadian sehari-hari terhadapnya, merupakan beberapa langkah dalam pembelajaran secara mandiri yang sangat bermanfaat dalam memberi pengertian serta menumbuhkan pemahaman yang baik dan mendalam.

Sebaiknya, Svadhyaya tidak diartikan sebagai membaca saja, atau belajar dari buku-buku saja, atau mengingat setiap bait sloka atau sutra, bahkan setiap kata dari kitab-kitab suci atau kitab-kitab filosofis spiritual seperti Yoga Sutra ini misalnya mempunyai makna yang padat dan dalam. Kata-kata itu tidak akan dapat dipahami dengan baik bila mengartikannya secara harfiah, sepertihalnya membaca koran atau buku pelajaran.

Mereka yang hanya berpegang dan terpatok pada arti harfiah dan memperlakukan kitab-kitab ajaran seperti buku-buku pelajaran sekolah, dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang sangat dangkal, sebatas kata-kata saja. Cara pembelajaran seperti inilah yang nemiliki andil besar dalam melahirkan ikap dogmatis, yang menjurus pada anatisme. Dalam Masyarakat aeterogen, global dan terbuka seperti sekarang ini, sikap dogmatis dan fanatis akan sangat membahayakan masyarakat luas dan juga penganutnya. Bukti-bukti tentang fenomena ini dapat kita lihat dengan mudah di sekeliling kita.

Dalam proses Pembelajaran secara mandiri ini, "mengetahui" adalah yang pertama-tama diperoleh. Apa yang kita ketahui harus dimatangkan lagi sehingga kita menjadi benar-benar "mengerti". Dari sinilah kita tumbuh pengertian tentang yang diketahui tersebut. Bersama dengan berjalannya waktu, mendengar, membandingkan, bertukar pikiran, atau berdiskusi dengan mereka yang telah lebih dulu mengetahui atau "mengerti", apalagi berpengalaman, secara akumulatif akan membentuk "pengertian" yang semakin baik, lengkap dan mendalam tentang apa yang kita pelajari. Melalui perenungan-perenungan serta pembuktian-pembuktian seperlunya, pengetian kita lambat laun akan meningkat menjadi "pemahaman".

Dengan semakin halus dan mendalamnnya pemahaman kita, pengetahuanpun akan semakin berkembang dengan sendirinya. Dalam Yoga Sutra ini, Patanjali menegaskan bahwa pengamatan langsung (pratiyaksa), penyimpulan (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab ajaran (agama) membentuk suatu rangkaian metode penalaran yang baik.

Isivarapranidana adalah penyerahan diri kepada Iswara (Tuhan), dengan menerima sepenuhnya serta menjadikanNya sebagai satu-satunya perlindungan. Bahkan disebutkan dalam Sutra 11.45 bahwa pencapaian samadi merupakan sidhi dari praktik Iswarapranidana. Menurut Swami Satya Prakas Saraswati, itu merupakan istilah spiritual tekhnis khusus ciptaan Patanjali, yang tidak disebut-sebut oleh Maha Rsi Kapila dalam Samkya Darsananya.

Bilamana ketiganya diterapkan dengan baik dan benar walauppun disebut sebagai yoga pendahuluan, tetapi tetap memberikan nilai manfaat spiritual yang tinggi kepada penekunnya. Ia menumbuhkan sikap batin yang kokoh dan mantap untuk berlanjut ke jenjang berikutnya dengan pemahaman yang baik, tanpa disertai sikap dogmartis dan panatis. Ia pun mengarahkan penekun menjauh dari sikap ekstrim atau mempertontonkan keekstriman pada kalayak.

Dalam Jnana Wahini, Bhagawan Satya Narayana menyatakan bahwa melalui Tapa (dalam arti luas) saja seseorang dapat mencapi tingkat tertinggi. Sangat luar biasa memang kekuatan yang dihasilkan Yoga untuk mencapai realisasi Diri Jati dan kebebasan.

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 535 JUli 2011