Madana Dahana artinya terbakarnya Dewa Kama, atau Madana, atau Smara. Kisahnya terdapat di dalam Kuman Sambhawa karva Kalidasa dalam bahasa Sanskerta, dan kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja dalam bahsa Kawi atau Jawa Kuna. Cerita penuh makna, terutama terkait dengan pelaksanaan yoga ini menjadi penting direnungkan dalam rangka menyambut aktivitas nyastra pada bulan Kartika atau Kapat ini.
Para kawi atau pengarang memang sangat menantikan kedatangan bulan Kartika, bulan yang paling indah diantara dua belas bulan dalam setahun. Bulan penuh bunga (panedenging sari), riuh suara kumbang (kumbang humung masabda), dan disiram hujan gerimis (siniram riris). Bulan mi adalah saat para kawi melaksanakan yoga sastra, lalu membangun candi masa atau candi sastra sebagai yantra untuk mensthanakan dewa keindahan yang sering dipanggil sebagai Hyang hyang ning Kartika. Persatuan dengan Dewa keindahan adalah dambaan sang kawi, dengan demikian sesungguhnya sang kawi dapat "menguasai" Smara, ingatan atau kenangan dengan vang lain. Persatuan atau kemanunggalan itu dalam samadhi adalah kebahagiaan yang sejati (adwaita anandam).
Smara dalam bahasa Sanskerta berarti kenangan. Kenangan bertambah dengan ingatan berbagai kesenangan yang dimiliki dunia kebendaan yang dikenal dengan Kamawacharaloka, yaitu wilayah dimana Dewa Kama atau Dewa Cinta meletakkan kekuatannya. Di saat kenangan-kenangan duniawi benar-benar hancur atau terbakar, dan pembersihan di tingkat kesucian tertinggi tercapai, kemudian dengan sendirinya Sang Yogi memasuki wilayah Nincikalpa samadhi.
Dewa Kama dengan panah bunganya sesungguhnya menyiksa semua mahluk. Sedikit orang di dunia ini yang dapat menjaga kesetaraan dan keseimbangan pikiran melawan panah Dewa Kama. Di dalam Rg. Weda disebutkan bahwa Kama adalah yang pertama diciptakan dan asalnya dari benih pikiran Sang Pencipta yang darinya timbul segenap ciptaan kosmis. Kama atau cinta adalah denyutan penting di dalam hati semua mahluk, oleh karena itu pengawasan dan kemurniannya adalah anda yang tertinggi bagi keutuhan keperibadian seseorang. Maka Siwa sebagai Mahayogi haruslah disadari berada di dalam hati bagi setiap individu yang menginginkan untuk menaklukan kematian, kegelapan kebendaan, kemelekatan atas kenangan, serta bagi yang menginginkan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi di dalam Terang dan Keabadian.
Setelah menaklukkan Kama, dengan membakarnya, Siwa mencapai kesempurnaan Yoga dan Samadhi dan menjadi satu dengan kekuatan Saktinya dalam wujud Ardhanariswari. Inilah yang ingin ditiru oleh para Yogi atau para kawi dalam proses yoganya. Maka para kawi pun melaksanakan yoga sastra dengan penuh gairah pada sasih Kapat, terlebih lagi ketika bulan sempurna di langit.
Madana-dahana atau Smaradahana memang berhubungan dengan praktik yoga. Dalam menikmati keindahan sasih Kapat para kawi melaksanakan yogasastra berdasarkan ajaran tersebut. Para kawi memang mendabakan dapat menikmati Rasa rahasya, sesuatu yang hanya didapat dalam proses yoga sastra.
Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010