Berbisnis itu sesungguhnya suatu pilihan, hidup untuk mengembangkan diri menjadi abdi masyarakat dalam membangun kesejahteraan bersama. Dan pengabdian para pembisnis kepada masyarakat itulah pembisnis diharapkan memperoleh kesejahteraan hidup yang layak. Hal ini yang disebut memutar roda yadnya atau cukin yadnya. Kalau usaha bisnis itu tidak mendapatkan citra baik dalam masyarakat maka usaha-usaha bisnis itu tidak akan laku. Menjaga citra baik bagi para pembisnis pada masyarakat umumnya lebih-lebih pada masyarakat yang dijadikan segmen pasar usaha bisnis tersebut. Ini bukan berarti bisnis itu hanya untuk memanjakan masyarakat dengan sanjungan-sanjungan kosong. Menjaga citra itu adalah dengan membuat suatu bisnis plan yang benar-benar berwawasan norma-norma bisnis yang benar dan tepat.
Menyusun business plan yang ideal tidak dapat dilakukan hanya menggunakan naluri bisnis semata. Peranan naluri bisnis itu sangat mutlak bagi para pembisnis. Namun, yang patut dikedepankan adalah pertimbangan rasio yang nalar. Rasio yang nalar itu apa bila seseorang mampu mengeksistensikan daya spiritualnya dengan kecerdasan intelektualnya secara sinergi. Kondisi ini akan dapat diwujudkan seorang pembisnis apa bila ia mampu melepaskan diri dari gejolak hawa nafsu yang sering mendorong seseorang untuk menyalahgunakan dinamika bisnis yang banyak godaan itu.
Ketajaman visi seorang pembisnis akan terganggu kalau ia terdorong hawa nafsu untuk cepat-cepat ingin kaya hidup mewah berfoya-foya. Ingin terkenal tidak senang disaingi dan sikap-sikap ekskutif lainya. Padahal persaingan itu adalah suatu hal yang mutlak untuk meningkatkatkan kualitas bisnis. Dalam hal inilah seorang pembisnis dapat mengambil makna Nyepi sebagaai media untuk jeda aktivitas sekala. Untuk memberikan peluang pada eksistensi niskala atau niskalatma dalam diri.
Dalam diri manusia ada dua dorongan yang selalu bertarung untuk saling menguasai diri manusia. Ada kecenderungan kekerasan yang disebabkan panca klesa dan ada dorongan kedewaan untuk mengutarakan citta. Panca klesa itu adalah awidya artinya kebodohan dan kekegelapan, asmita artinya mementingkan diri sendiri atau egois, raga artinya suka mengumbar hawa nafsu, dwesa mudah marah, membenci dan dendam, abhiniwesa artinya adanya rasa takut.
Awidya itu adalah kegelapan. Kegelapan dapat ditimbulkan banyak sebab. Misalnya, orang dapat digelapkan hatiya oleh karena kaya (dhana), karena pintar (guna), karena fisik sempurna (cakap, cantik dll). Atau disebut surupa, karena berkuasa (wisesa), karena merasa muda (yowana), kula kulina karena merasa bangsawan, kasuran karena merasa sakti dan orang mabuk bisa juga minuman keras (sura). Hal itulah yang harus disepikan setiap saat apalagi bagi seorang pengusaha yag banyak berkecimpung dalam kancah Panca Klesa itu.
Kalau seseorang dapat menguasai panca klesa itu maka dalam menyusun bisnis plan maupun dalam melaksanakan rencana tersebut selalu dalam keadaan rasional penuh perhitungan dan pengendalian diri. Dengan menyepikan gejolak panca klesa dan panca indriya itu akan dapat membangkitkan kesadaran rohani yang kuat. Kesadaran rohani itu akan dapat melihat berbagai kekurangan dan peluang-peluang untuk memperbaiki kekurangan dalam usaha bisnis tersebut. Sesungguhnya menyepikan gejolak hawa nafsu itu dilakukan tiap hari. Karena orang sering lupa maka maka setiap tahun.
Source: Ketut Wiana | Weda Wakya (Edisi ke-2)