Udyogam naasti daridram, Japato naasti patakam
Mauna ca kalaho naasti , Naasti jagrato bhayam
(Canakya Nitisastra 111.11)
Maksudnya: Kecil kemunginan-nya miskin itu bagi yang berusaha dengan berjaringan. Kecil kemungkinannya berdosa bagi yang rajin berjapa. Kecil kemungkinannya bertengkar bagi yang mengendalikan ucapan. Kecil kemungkinannya tertimpa bahaya bagi yang selalu waspada.
Dengan usaha terpadu berjaringan atau udyogam berbagai gagasan mulia akan terwujud. Dengan rajin memuja Tuhan seperti melakukan japa, kecillah kemungkinan kita berbuat dosa. Dengan kita bicara sesuai dengan bidang ilmu kita, kecil kemungkinan kita bertengkar. Demikian juga berhati-hati dan senantiasa waspada dalam melakukan tugas dan kewajiban, kecil kemungkinan kita tertimpa bahaya. Demikian jugalah dalam menjaga kesucian di Bali, marilah kita kerja berjaringan sesuai dengan ilmu dan swadharma kita masing-masing.
Bhisama Kesucian Pura dan Perda Nomor 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Bali sudah cukup lama ditetapkan. Sampai saat ini sepertinya belum ada kegiatan yang dapat dipahami sebagai kegiatan untuk mengeksistensikan kawasan suci untuk meningkatkan vibrasi kesucian tersebut agar menjadi aktor berbagai kehidupan di Bali ini. Nampaknya perlu adanya usaha yang berjaringan agar tujuan suci Bhisama tersebut menjadi kenyataan untuk mengembangkan usaha kesucian di kawasan suci tersebut. Di kawasan suci itu perlu dibangun hal-hal yang dibolehkan dan yang dibenarkan oleh Bhisama dan Perda Nomor 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Bali tersebut, sebagai implementasi kesucian kawasan tersebut. Tanpa ada sarana mengembangkan kesucian itu, tentunya kawasan suci itu menjadi sangat pasif dalam memancarkan vibrasi kesucian.
Dalam dinamika zaman yang sangat dinamis dengan berbagai hiruk-pikuknya ini sangat memerlukan peningkatan implementasi nilai-nilai kesucian untuk mengimbangi dinamika zaman postmodern. Karena itu diperlukan suatu tim yang mengkaji kebijakan yang diperlukan agar kawasan suci di Bali ini dapat lebih berfungsi meningkatkan peran nilai-nilai kesucian itu sebagai aktor berbagai aspek kehidupan. Tentunya kebijakan tersebut harus dituangkan dalam bentuk program yang mensinergikan secara berjaringan (udyogam). Dengan demikian semuanya akan saling memperkuat eksistensi masing-masing sesuai dengan swadharma. Di samping itu jeroan pura benar-benar dapat juga hanya untuk melakukan kegitan beragama oleh umat Hindu pangempon dan panyungsung tanpa diganggu oleh berbagai kegiatan lainnya. Dengan demikian Bali akan benar-benar dapat terus menjadi Pulau Dewata Seribu Pura.
Tanpa ada gerakan-gerakan yang lebih menajamkan penguatan peran nilai-nilai spiritual budaya Hindu sesuai dengan kebutuhan zaman, maka julukan Bali sebagai Pulau Dewata akan menjadi semakin luntur. Kalau eksistensi nilai-nilai spiritual Hindu itu lebih diaktifkan melalui kawasan suci itu maka ke depan diharapkan wisatawan yang datang ke Bali adalah wisatawan yang membutuhkan sentuhan dan siraman spiritual dalam kemasan kebudayaan Hindu di Bali. Lebih-lebih Pura Besakih sebagai hulunya Bali Ra-jya memiliki beberapa fungsi spiritual untuk diaplikasikan menjadi rohnya berbagai kegiatan hidup di Bali. Kalau berbagai aspek kehidupan dijiwai oleh nilai-nilai spiritual dalam memadukan semua disiplin ilmu yang dalam Lontar Tattwa Jnyana 59 disebut Samyajnyanam yang artinya terpadunya berbagai disiplin ilmu, baik ilmu yang tergolong adyatmia widya maupun lokaika widya.
Ada empat tanda keberhasilan sinergi tersebut yaitu:
1. Bumi Brata yaitu adanya tertib hidup di bumi ini, baik tertib alam dan tertib hidup individu dan sosial. Eksistensi alam sesuai dengan hukum Rta dan eksistensi manusia baik sebagai manusia individu maupun sosial sesuai dengan ajaran Dharma. Rta dan Dharma ini dinyatakan dalam Manawa Dharmasasstra.VII.14.
2. Tapa artinya manusia di bumi ini hidup sehari-harinya tidak mengumbar nafsu. Sarsasamuscaya 260 menyatakan: Tapa ngarania kaya sang sosana. Artinya: Tapa adalah orang yang kuat mengendalikan nafsunya. Artinya, nafsu itu adalah alat pikiran dan budhi nurani. Tapa bukan berarti pergi ke hutan melepaskan kehidupan di dunia ini. Tapi nafsu itu berada di bawah kendah kecerdasan pikiran, kejernihan hati nurani sebagai media mengimplementasikan ke-sucain Atman.
3. Yoga artinya hubungan yang harmonis dan bersinergi. Artinya, di dunia ini adalah hubungan yang saling terpadu saling melengkapi baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungannya untuk mencapai kehidupan bersama yang adil makmur dan bahagia bersama. Hal itu diawali dengan Jana Brata.
4. Samaadi yaitu kebersamaan yang amat tinggi. Wujudnya kuat dan konsistennya jiwa untuk selalu sraddha dan bhakti pada Tuhan pengendah segala aktivitas kehidupan baik dalam mengekspresikan pikiran, perkataan dan perbuatan. Artinya, Rta dan Dharma itu tegak. Kesucian pura dengan radius kesuciannya terutama Pura Besakih harus diaplikasikan ke tengah-tengah msyarakat luas termasuk fungsi pura itu sebagai penuntun berbagai aspek kehidupan termasuk menjadi sumber daya tarik pariwisata budaya spiritual.
Kalau kesucian, kebenaran dan ilmu pengetahuan itu sudah menyatu menjadi dasar kehidupan manusia maka berbagai statistik buruk akan menurun. Jangan sampai tempat pemujaan seperti pura dan tempat-tempat ibadah lainnya selalu ramai, hari raya keagamaan sangat meriah dan semarak, demikian juga jumlah ilmuwan jebolan perguruan tinggi sangat banyak dengan gelar yang mentereng, pengusaha kaya bermunculan, tetapi penjara dan rumah sakit selalu kekurangan ruangan menampung narapidana yang dihukum karena jahat dan orang sakit karena banyak stres. Tentunya ada sesuatu yang masih perlu diusahakan agar agama dan ilmu pengetahuan suci benar-benar teraplikasi dalam mewujudkan kehidupan yang sehat lahir batin atau Jana Hita. Dengan demikian penjara dan rumah sakit akan semakin sepi penghuni. Artinya, orang semakin taat hukum dan semakin sehat lahir batin.
Kalau empat ciri yang dinyatakan dalam Tattwa Jnyana 59 itu dapat diwujudkan maka hal itulah yang dapat mencegah adanya enam bahaya domestik yaitu: ketidakadilan, kesewenang-wenangan, arogansi kekuasaan, arogansi kekayaan arogansi intelektual dan keberingasan sosial. Hal ini terjadi karena dominasi egoisme dan emosi di kalangan sementara masyarakat masih kuat.
Kalau empat hal itu sudah terwujud di bumi ini maka itulah keberhasilan Weda dengan ilmu-ilmu yang lahir dari Weda dengan diterapkan dalam kehidupan ini. Dengan empat hal itulah yang akan dapat meredam enam bahaya domestik dalam kehidupan bersama dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.
Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Umanis, 30 Agustus 2015