Om Swastyastu: Sumber, Arti dan Maknanya

Svasti panthamanucarema
surya-candramasaviva
Punardaddtaghnata janata sa gamemahi
(RgVeda 5.51.15)

Semoga kita berjalan di dalam jalan yang mensejahterakan sebagaimana matahari dan rembulan bergerak, dan semoga kami bergaul dengan orang-orang yang bisa diajak tukar-menukar kasih dan saling memahami satu sama lain.

"Swastyastu berasal dari gabungan Su (baik) + asti (ada) + astu (semoga). Proses "sandhi" yang terjadi dalam aturan tata bahasa Sanskerta menyebabkan penulisannya menjadi Svastyastu atau Swastyastu. Untuk penyeragaman penulisan di Indonesia, Swastyastu akan menjadi pilihan," sedangkan penulisan akademisnya Svastyastu yang menjadi pilihan."

Umat Hindu Indonesia bertemu dengan umat Hindu asal India di tanah air, atau ketika berkunjung ke India, bertemu dengan umat Hindu India, maka mereka mengucapkan sapaan ramah tamah Panganjali yang dipergunakan oleh umat Hindu Nusantara, yaitu Om Swastyastu. Sapaan tersebut dijawab dengan Namaste, namaskar, atau kalau beliau orang suci/pendeta maka akan menjawab dengan Kalyanam astu, mangalam astu. Akan tetapi, umat Hindu nusantara selalu menjadi kaget, keheranan karena ternyata Om Swastyastu tidak dikenal dan tidak dipraktikkan oleh umat Hindu di India.

Panganjali umat, Om Swastyastu di Indonesia juga baru beberapa puluh tahun lalu mulai dimasyarakatkan. Pada waktu itu, umat Hindu di Indonesia tidak begitu akrab dengan sapaan Om Swastyastu. Bahkan sekarang pun masih ada umat yang tidak menjawab ketika ada yang menyapanya dengan Om Swastyastu. Umat masih lebih banyak memakainya sebagai sapaan Panganjali formal pada ceramah-ceramah, rapat-rapat, atau pertemuan-pertemuan keagamaan. Terlebih lagi ketika ditanyakan asal muasal atau sumber dari Om Swastyastu itu, mereka menjadi terbengong-bengong. Jangankan ditanyakan mengenai sumber, ketika ditanyakan artinya pun orang banyak belum mengerti jelas, karena pada umumnya orang tidak begitu perduli dengan asal mula peradaban indah yang setiap hari mereka praktikkan.

Orang-orang India mengucapkan panganjali dengan ucapan Namaste, Namaskar, atau dalam pergaulan mereka yang mempelajari bahasa Sanskerta mereka mengucapkan Namo Namah, Namaskaromi. Di Thailand orang-orang mengucapkan salam Savaadi kaa, Savaadi kap. Savaadi berasal dari kata Sanskerta Svasti. Sekarang, lebih banyak yang menghubungkannya dengan Nama Tuhan "Ista-dewata"nya, seperti di daerah pedesaan di India Utara, bagi yang menyembah Rama, mereka saling memberikan salam dengan "Ram Ram", yang menyembah Krsna menyebut Jaya Sri Krsna, Radhe Radhe, Haribol, Narayana, dan yang menyembah Siva menyebut Jay Bhole Nath, Uar Uar Mahadeva, dan lain-lain. Umat Hindu di tanah air tidak meninggalkan bahkan tetap mengucapkan panganjali Om Swastyastu.

Penulisan Om Swastyastu di Indonesia juga belum ada keseragaman. Ada yang menuliskan Om Suasti Astu, Om Swasti Astu, Om Swastyastu, atau Om Svastyastu. Sesungguhnya, semua sebutan tersebut benar adanya. Kata Swastyastu berasal dari gabungan Su (baik) + asti (ada) + astu (semoga). Proses "sandhi" yang terjadi dalam aturan tata bahasa Sanskerta menyebabkan penulisannya menjadi Svastyastu atau Swastyastu. Untuk penyeragaman penulisan di Indonesia, Swastyastu akan menjadi pilihan, sedangkan penulisan akademisnya Svastyastu yang menjadi pilihan mengingat dalam bahasa Sanskerta tidak ada huruf W.

Svasti Vacana atau Mangalacarana yang biasanya dilakukan sebelum memulai suatu pekerjaan, diskusi, seminar, pertemuan atau upacara-upacara keagamaan, secara literatur kita dapat melihatnya dalam banyak kitab suci. Kutipan Rg Veda di atas merupakan panganjali Svasti (astu) bertujuan untuk lebih mendekatkan umat satu sama lain. untuk saling memahami, dan saling tukar menukar cinta kasih demi kebersamaan yang indah.

Bukti dan sumber kitab suci Veda sangat patut kita ketahui demi memperkuat Sraddha Bhakti dalam melanjutkan atau semakin memantapkan diri dalam Panganjali Om Svastyastu dalam pergaulan sesama umat Hindu/ penganut ajaran Veda di tanah air, Indonesia.

Pada tahun 1984, sekitar bulan November-Desember, saya mendapat kesempatan berkeliling-keliling mengunjungi beberapa Ashram dan Gurukula di daerah India Utara sampai ke kota Ajmer di Negara Bagian Rajasthan bersama seorang Sannyasi, Swami Shaktivesh. Swami JI yang karena kaya raya akhirnya meninggal mengenaskan ditembak orang. Hartanya menjadi rebutan orang-orang. Sangat menyedihkan memang, orang yang sangat menyayangi saya harus meninggal mengenaskan seperti itu.

Saya diajak berkeliling-keliling di negara bagian Haryana (daerah tekenal karena pertaniannya) dan Rajasthan (daerah terkenal karena seni dan sejarah raja-raja). Di setiap Ashrama dan Gurukula yang kami kunjungi, mereka selalu memulai acaranya dengan mengucapkan mantra Rg Veda: "Om Svasti no indro...." (mohon dicatat kata Svasti), kadang sambil mereka menaburkan bunga-bunga serba harum yang diperciki air mawar.

Mantra ini terdapat dalam Rg Veda, Mandala 1, Sukta 89, Mantra 6, diturunkan melalui Maharesi Gautama, dan ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam wujud Vishvedeva (seluruh Dewa/i). Pada Mantra awal terdapat doa mantra yang sangat digemari serta sering dikutip oleh orang-orang untuk mengakhiri tulisan atau ceramah-ceramahnya, "Ano bhadrah kratavo yantu vis-vata?" (Mantra 1), - semoga segala pemikiran baik datang kepada kita dari seluruh arah.

Mantra lain yang juga sering dipergunakan sebagai Svasti Vacana atau Shanti Mantra (Mantra untuk kedamaian) yang juga terdapat di dalam Sukta ini adalah: "bhadram karnebhih srnuyama deva bhadram pasyemaksabhir yajatr?? (Mantra 8), - Ya Tuhan, semoga kami selalu mendengar hal-hal menyejahterakan lewat telinga kami, semoga kami selalu melihat hal-hal yang menyejahterakan lewat mata kami. Santi Mantra ini kita dapat jumpai pada beberapa kitab Upanisad. Kedua Mantra di atas sangat indah. Kalau saja kita membuka hati kita ketika mengucapkan doa-mantra tersebut, terlebih lagi jika kita dapat mengucapkan/menyanyikannya sesuai dengan aturan Chanda Sastra, maka dalam waktu singkat hati kita akan dibersihkan, sebagaimana cermin yang kotor berdebu dihapus bersih oleh sebuah kain lap pembersih.

Banyak yang mempertanyakan dari manakah barangkali para penglingsir kita waktu itu mengambil istilah itu? Sebagai bahan acuan, penulis menjumpainya di dalam beberapa sumber, antara lain kitab Bhagavata Purana 5.18.9, "Svastyastu vishvasya...", - semoga alam semesta/ dunia berada dalam kebaikan; Svastyastu manameyarahasya slokavartikam sakala-sastra-sara-sangraha-rupam (L Srini-vasachar); svastyastu-manameya-rahasya-sloka-vartikam-sakala-Sastra-sara-sangraha-rupam; dalam buku Census of the Exact Sciences in Sanskrits, Series A Volume 5, David Pingree menyebutkan kata Svastyastu (Svasty astu te vijayaraghava-bhumi-pala, Namanurupasugunam pracuratmabhavam, lilavatun ganitakarmavidam manojnam, kamartha-dana-niratam iha varanyami); dalam "The Clay Sanskrit Library" Founded by John and Jennifer Clay, disebut pula kata svastyastu: Svastyastu ramaya sa laksmanaya tatha pitur me janakasya rajhah.

Selain mendoakan orang yang diberikan salam Panganjali supaya hidupya selalu berada dalam keadaan baik, damai, sejahtera dan "slamet rahayu", Om Swastyastu dapat diucapkan dengan sikap Namaskaranjali, Krtanjali (mencakupkan kedua tangan di depan dada), Mastakanjali (bersimpuh bersujud dengan dahi menyentuh tanah/Ibu Pertiwi), dan dengan Sastanga, Dandavat (bersujud tengkurap di atas tanah). Mastakanjali, Sastanga, dan Dandavat dilakukan hanya di hadapan Tuhan dan Guru spiritual yang bersangkutan.

Oleh: Darmayasa

Source: Koran Bali Post, Minggu Pon, 3 April 2016