Pangkaja adalah nama lain dari bunga teratai, tunjung atau padma, bunga yang menjadi simbol kesucian. Pangka artinya lumpur, Ja artinya lahir, maka Pangkaja artinya lahir dari lumpur. Namun demikian bunga Pangkaja mengatasi lumpur, ia ada di atas lumpur malah di atas air. Daunnya yang berkelopak dengan jumlah bilangan tertentu diberi makna kekuatan yang menuju ke empat penjuru, delapan penjuru, malah ke seribu penjuru. Maka muncullah istilah Caturdala, Astadala dan Sahasradala.
Para kawi sangat memperhatikan bunga yang satu ini, kapan ia mekar dan kapan ia kuncup. Demikian juga ketika bunga ini muncul di air yang jernih, bening dan hening, lalu kumbang bermekaran mengisap madunya. Kakawin Ramayana misalnya menyuratkan :
Tunjung putih pwa ya ta tunjung abang sedeng rum,
kumbangnya ghurnita masabda umung sadharpa,
len manda maruta mirirya sugandha mamba.
Artinya :
Disana tumbuh tunjung putih, serta tunjung merah yang sedang mekar mewangi, kumbang berdengungan bersuara riuh, dan angin mendesir menghamburkan bau harum.
Apa yang ditulis oleh seorang kawi seperti ini, apalagi ditulis oleh seorang Yogiswara pengarang kakawin Ramayana sesungguhnya tidak hanya berisi untaian kata tentang keindahan namun mengandung ajaran yoga. Bunga padma memang terkait dengan yoga, bahwa didalam diri manusia tumbuh dan hidup bunga padma, yang dalam ajaran yoga disebut sebagai cakra, dan di kepala manusia tumbuh bunga padma berdaun seribu atau Sahasrapadma. Di sanalah Hyang Siwa bersthana. Oleh karena itu ketika seorang kawi yang juga seorang yogi melihat bunga padma tegeraklah hatinya untuk menuliskan keindahan dan kesucian bunga itu.
Danghyang Nirartha misalnya mengarang sebuah kidung yang sangat menarik berjudul Kidung Padma Muter atau Madhya Muter. Kidung ini menjadikan bunga padma sebagai landasannya untuk menempatkan suku kata terpilih di dalam 8 atau 16 helainya. Membacanya mulai dari tengah dan kemabli ke tengah. Bila ditengah dimulai dengan suku kata ri maka ia harus kembali ke tengah dengan akhir suku kata ri pula. Namun patut diingat setiap 5 suku kata harus kembali dengan suara ri, sehingga dapat dibayangkan betapa sulitnya menyusun kidung ini. Dengan menyusun kidung ini beliau melaksanakan yoga bersatu dengan Dewi Keindahan, yang kadang-kadang disebut sebagai Raja Putri: Sang raja putriya pangkaja kamala pujan ri lambang pangjayeng pangkaja (setiap 5 suku kata adalah suku kata ja). Artinya: Dewi Keindahan yang bersthana di tengah bunga padma saya puja lewat sastra tentang kejayaan di tengah bunga padma.
Konsep Padma yang begitu terkenal sebagai basis kebudayaan Hindu sebagai ruangan nilai-nilai keindahan dan kesucian, yang kemudian dimekarkan menjadi peradaban yang luhur dan agung memang patut mendapat pemahaman kita secara mendalam. Terlebih lagi ketika kita melaksanakan berbagai upacara dan perenungan di Sasih Kapat ini, ketika bunga-bunga bermekaran, kumbang berdengungan mengisap madunya, hujan gerimis tercurahkan dari langit, dan suara guruh yang lembut terdengar di kejauhan. Sasih Kapat memang menyimpan rahasia keindahan dan kesucian, dan kegairahan pemujanya.
Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 502 Oktober 2008