Murkha-sisyopadesena
Dusta-stri bharanena ca
Duhkhitaih samprayogena
Pandito'py avasidati
(Canakya Niti Sastra 1.4)
"Dengan mengajarkan murid yang bodoh, dengan memelihara istri yang jahat dan bergaul terlalu erat dengan orang yang selalu dalam kedukaan, seorang pendeta bijaksana pun akan mengalami penderitaan."
Ketiga hal tersebut di atas, yaitu: mengajarkan murid bodoh, memelihara istri jahat, dan bergaul dekat dengan orang yang selalu dalam kedukaan -- diberikan penggarisbawahan di sini karena dia dengan sangat mudah memberikan kedukaan kepada semua orang, bahkan pendeta sekali pun. Orang bijaksana selain menghabiskan waktunya dalam pelayanan demi kemuliaan yang lain, dia juga perlu memperhatikan ketenangan batinnya setiap hari.
Murid yang bodoh yang 12 tahun tetap tinggal di kelas yang sama tentu saja akan membuat gurunya bersedih hati. Guru tersebut akan merasa sangat berdosa karena tidak mampu membina anak didiknya. Hal itu akan menyakitkan hati guru tersebut. Tentu saja guru yang baik yang memang sangat memperhatikan ke-guru-annya. Sangat berbeda dengan guru yang sekadar menginginkan ke-guru-an tanpa memberikan perhatiannya pada tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Muridnya tamat sekolah atau-kah tidak, guru tersebut tidak peduli karena tujuan dia hanyalah pada gaji tiap bulan yang dia perlukan.
Dalam tradisi pengajaran zaman dahulu, seorang guru akan sangat selektif menerima murid. Bahkan banyak di antaranya tidak menerima murid baik pun, atau sama sekali tidak menerima murid. Menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang remeh. Ia sangat menentukan masa depan dunia. Paling tidak, ia sangat menentukan kelangsungan "wajah" sebuah keluarga kecil yang nantinya akan dibangun oleh muridnya. Keluarga kecil sang murid akan menjadi suri teladan bagi lingkungannya dan memberikan kecerahah "wajah" lingkungan ataukah dia sebaliknya, hanya akan membuat "suram" kecemerlangan keluarga dan lingkungannya? Nah yang menentukan hal itu adalah guru di sekolah atau para dosen di universitas yang membentuk anak-anak tersebut. Secara spiritual, guru bahkan disebutkan mengambil seluruh dosa dan karma buruk yang dilakukan oleh muridnya.
Jika murid memberikan kedukaan pada guru maka bukan hanya di sekolah atau di kampus ia mengalami kedukaan, melainkan juga akan terganggu sampai ke rumahnya, bahkan akan mempengaruhi kedamaian suasana rumah tangganya. Oleh karena itu, seorang guru sebaiknya menghindari menerima murid seperti yang bodoh dan ngawur yang hanya akan memberikan kedukaan kepada gurunya. Jika tetap menginginkan kemajuan muridnya, sebaiknya anak itu diberikan asistennya mendidik, ia yang bisa lebih sabar dalam mendidik murid, yang juga telah mengalami 9 tahun mendidik murid seperti itu di kelas yang sama.
Selain kekurangan kecerdasan, murid bodoh juga dimaksudkan adalah murid yang "terlalu rajin menasihati" gurunya. Murid bodoh juga dimaksudkan dia yang tidak pernah melaksanakan ajaran-ajaran gurunya, melainkan ia asyik dengan dalil-dalil pribadinya. Ia hanya akan menerima ajaran guru kalau sesuai dengan isi kepalanya dan/atau jika ajaran guru setuju dengan pendapatnya dan kalau berisi sarijungan terhadap dirinya. Murid yang bodoh juga dimaksudkan sebagai dia yang tidak mendisiplinkan dirinya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam spiritual.
Murid bodoh adalah murid yang menerima guru hanya kalau gurunya memuji dirinya. Ia akan pergi dari guru kalau gurunya memarahinya. Murid seperti itu menganggap seorang guru adalah guru jika nasihat-nasihat selalu cocok dengan pikiran dan kesadarannya. Begitu gurunya berbicara yang tidak cocok dengan jalan pikiran dan kesadarannya, maka murid akan memberontak, meronta, dan mulai meragukan ketulusan gurunya untuk membimbing dirinya. Murid seperti itu akan segera meniup balon mainan keakuannya untuk segera pecah meledak mengecewakan dirinya sendiri dan juga memekakkan telinga orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Berbuat kesalahan kepada guru (Guru aparadha) akan menjadi alat penghancur bagi diri murid itu sendiri dan juga orang-orang lain.
Murid hendaknya menempatkan dirinya di jalur murid dan bukan di jalur penasihat guru. Sebagaimana mobil menempatkan dirinya di jalur yang aman, yaitu di jalurnya sendiri, maka dengan demikian orang akan dapat menempuh perjalanannya dengan baik, selamat dan tanpa halangan apa pun yang berarti. Tetapi begitu ia mengikuti jejak pelanggar lainnya, yaitu tiba-tiba berbelok mengambil jalur lain, maka pastilah ia harus berurusan dengan Polantas sebagai penegak hukum, atau malah ia akan mencelakai dirinya sendiri sebagai akibat dari kecerobohannya.
Murid yang ajeg dan mantap menempatkan dirinya di jalur yang benar, yaitu di jalur "sisya", maka dia pasti akan berada di dalam jalan keselamatan dan jalan kebahagiaan. Karena jalur "sisya" yang ditempuh adalah jalur yang diterangi oleh sinar suci ilmu pengatahuan spiritual, yaitu jalur "sisya" (murid yang berada di jalan guru sejati, Tuhan YME). Murid yang baik akan memberikan perhatiannya pada "Guru Sejati" dan tidak pada ke-manu-sia-an guru pembimbingnya yang telah berkenan datang menurunkan ajaran-ajaran kepadanya.
Itulah hal prinsip yang diper-lukan oleh seorang murid, yaitu memantapkan dirinya untuk tetap berada di jalur "sisya" yang "susisya" karena ia adalah jalur "keselamatan pengantar ke tujuan". Barangkali akan merupakan pengetahuan baru bagi kebanyakan dari kita bahwasanya nilai seorang murid adalah pada ketulusannya mengikuti prinsip "Guru anukulata". Artinya, seorang murid hendaknya seratus persen mengikuti kehendak, perintah, serta segala ajaran mulia dari gurunya. Dengan demikian, ia tidak akan melihat hal atau ajaran apa pun yang lain selain guru anukulata, yaitu patuh sepenuhnya kepada seorang guru yang sepenuhnya diberkahi oleh Guru Sejati/ Tuhan YME. Guru anukulata seperti itu tidak akan pernah kekuranean apapun vane diperlukan leh murid-muridnya: kemajuan duniawi dan juga kemajuan spiritual - semua akan didapatkan oleh seorang murid yang anukulata dengan gurunya, yang 100% mengikuti gurunya.
Hanya murid yang seperti itulah yang diidamkan oleh seorang guru, karena guru akan mudah membimbing, mengarahkan, membina dan memajukan dia di dalam segala bentuk, yang pada akhirnya mengantarkan dia pada keberhasilan pencapaian tujuan spiritualnya. Tetapi jika ada seorang murid mulai menilai gurunya, maka ia akan kehilangan perhatian "khusus" dan "berkah khusus" dari gurunya sehingga ia akan ter"vancita" dari pelajaran-pelajaran rahasia sang Guru. Mungkin saja dia akan mendapatkan "entertainment' menyenangkan hatinya, tetapi hatinya akan menjadi kering, tanpa rasa, tanpa kebahagiaan. Hatinya yang adalah taman keindahan spiritual akan menjadi kering oleh ketidakberadaan vinoda-bhava dan prema bhakti. Barangkali ia tetap bisa meneruskan sembahyang dan meditasi sehari-harinya, tetapi "rasa spiritual" yang seharusnya menjadi miliknya dan menjadi isi dari setiap sel tubuhnya. Semua itu ia tidak akan dapatkan, hanya karena ia telah menilai gurunya secara berlebihan.
Orang bijaksana juga perlu berhati-hati dalam membimbing istrinya karena ia adalah perpanjangan tangan guru. Istri guru adalah guru itu sendiri, tentu saja jika ia berada di dalam naungan dan kepatuhan terhadap suaminya. Ia akan menjadi ibu dari seluruh murid suaminya. Seorang istri yang menerima semua murid suaminya sebagai anak-anaknya sendiri adalah istri yang memang guru itu sendiri. Ia bahkan mempunyai kemampuan untuk mengangkat dan menurunkan seorang murid. Kekuatan suami akan mengalir melalui dirinya demi kemajuan sang murid. Tentu saja, ketika istri seorang guru berubah menjadi "monster" menakutkan bagi setiap murid, maka ia bukan hanya tidak akan mampu menjadi "perpanjangan tangan" bagi suaminya (Guru) melainkan ia juga akan memberikan kesedihan bagi suaminya (Guru).
Dalam keadaan seperti itu, guru tersebut akan mengalami kesulitan untuk membimbing dan mengangkat murid-muridnya. Oleh karena itu, seorang bijaksana akan sangat berhati-hati pula memilih calon istri karena ia sangat menentukan kemajuan spiritual dirinya dan juga kemajuan murid-muridnya. Demikian pula dengan pergaulan orang yang terlalu dekat dengan orang yang selalu berada dalam kedukaan, pendeta sekali pun akan mendapat kedukaan. Orang bijaksana mengutamakan menyelamatkan diri sendiri, memantapkan diri sendiri terlebih dahulu, lalu barulah mencoba menyelamatkan orang lain. Jika tidak, ia akan menderita lebih parah dari orang yang hendak dibantunya.
Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Kliwon 6 November 2016