Posisi Pinandita dan Pandita Dwijati dalam kehidupan umat Hindu di Nusantara ini umumnya dicitrakan sebagai pengantar upacara yadnya semata. Melihat Pinandita (Pandita) maka kesan umat pada umumnya selalu dikaitkan dengan adanya penyelenggaraan suatu ritual atau upacara yadnya atau ada suatu kegiatan upacara yadnya di suatu pura. Karena setiap tempat pemujaan atau pura, sanggah atau merajan ada Pinandita (Pemangku)-nya dan sebagai pemuput upacara yadnya adalah Pandita Dwijati.
Pemangku ini juga disebut Pinandita dan kalau sudah Madwijati atau Madiksa disebut Pandita. Aktivitas itu bukanlah sesuatu yang keliru, justru itulah yang seyogianya dilakukan oleh seorang Pinandita (Pemangku) dan Pandita Dwijati berdasarkan permohonan umat. Namun ia akan menjadi hambar kalau berhenti dalam tataran ritual semata. Upacara itu artinya mendekatkan umat pada nilai dan konsep hidup yang amat mulia harusnya diwujudkan dalam kehidupan empiris sehingga bermakna bagi diri umat, kesejahteraan alam dan sesama manusia.
Dalam ritual keagamaan juga ada Upakara. Kata Upakara dalam bahasa Sansekerta artinya melayani. Ini artinya ritual itu mendorong umat umat untuk menjadi pelayan bagi dirinya (Swa Artha) bagi sesama ciptaan Tuhan (Para Artha) dan itulah wujud sraddha dan bhakti kita pada Tuhan (Parama Artha). Nilai-nilai kehidupan inilah yang seyogianya sebagai kelanjutan suatu upacara yadnya dalam Hindu. Dengan demikian umat pun akan merdeka dari penjajahan nafsu duniawi dan dinamika duniawi ini dapat dikuasai untuk difungsikan menjadi sarana mencapai kehidupan yang aman damai dan sejahtera lahir batin.
Pada tulisan ini tidak membahas fungsi tradisional Pemangku atau Pinandita dan Pandita Dwijati tersebut. Hal yang kami bahas kedudukan dan fungsi Pinandita dan Pandita Dwijati di luar fungsi tradisionalnya sebagai pengantar upacara yadnya umat dalam kehidupan ritual umat Hindu. Yang ditekankan disini adalah bagaimana menciptakan sistim kepemangkuan (Pinandita) dan Kepanditaan atau dwijati yang lebih baik sehingga lebih mampu menjadi sosok yang lebih berfungsi dalam memajukan kehidupan umat Hindu dalam kehidupan beragama Hindu dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis dan fluktuatif dan semakin sulit diprediksi kedepannya.
Meskipun demikian tidak berarti Pinandita dan Pandita Dwijati itu diarahkan untuk meninggalkan fungsi tradisionalnya mengantarkan upacara yadnya umat dalam upacara keagamaan Hindu. Justru dengan semakin luasnya wawasan beliau yang menjadi Pinandita dan Pandita maka umat Hindu akan semakin memiliki pemimpin yang diandalkan untuk menuntun umat mewujudkan hidup yang aman damai sejahtera (Raksanam Dhanam). Pembahasan diarahkan pada siapa sesungguhnya yang pantas disebut Pinandita terus selanjutnya meningkat menjadi Pandita. Apa swadharma seorang yang sudah bergelar Pinandita (Pemangku) dan Pandita. Bagaimana sistem rekrutmennya, baik dalam wujud pendidikan formal maupun dalam pendidikan yang diproses secara non formal atau informal. Hal ini merupakan strategi pertama yang seyogianya dilakukan untuk menyaring calon Pinandita dan Pandita yang semakin andal dalam melayani umat mendapatkan tuntunan hidup kerokhanian Hindu menuju kehidupan yang Jagat Hita dan Jana Hita. Karena tujuan hidup selama di dunia ini adalah mewujudkan tujuan hidup mencapai Tri Varga yaitu, Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai tujuan hidup tertinggi yaitu langgeng di alam niskala yang disebut Moksha. Tanpa Pinandita dan Pandita yang semakin berkwalitas maka umat akan sibuk tanpa kendali hanya mengejar Artha dan Kama tanpa dasar Dharma.
Kedudukan Pinandita apa lagi Pandita sesungguhnya merupakan golongan kelas menengah dan atas dalam sistem sosial kerokhanian Hindu. Pinandita dan Panditalah yang merupakan pimpinan umat yang pertama dan selanjutnya dalam menuntun umat mendapatkan siraman rokhani pada tahap awal selanjutnya baru pada Pandita Tuntunan yang dibutuhkan oleh umat adalah tuntunan untuk mendapatkan kemerdekaan hidup lahir batin dari penjajahan dan gejolak kehidupan duniawi. Artinya dunia ini adalah sarana kehidupan bukan tujuan hidup. Karena itu seyogianya menjadi alat kehidupan manusia, bukan manusia itu menjadi alatnya dunia. Manusia jangan diatur oleh dinamika dunia, tetapi manusialah yang mengatur hidupnya menata alam dengan pedoman rta dan menata hidup anusia dengan pedoman dharma. Rta dan dharma sebagai putranya Tuhan untuk tuntunan menata alam dan manusia itu dah ditetapkan dalam Manawa Dharma VII. 14.
Siapa yang Dapat Disebut Pinandita
Kata "Pinandita" berasal dari kata "Pandita" mendapat sipan atau infik "in" menjadi Pinandita artinya yang di-Pan-ta-kan. Maksudnya orang yang dipersiapkan untuk menjadi Pandita. Pinandita itu sudah meningkat dari umat biasa atau walaka sudah diupacarai Mawinten menjadi Pinandita. Tetapi belum Pandita yang di dwijati atau melalui proses diksa. Karena itu posisi Pinandita ada diantara umat yang walaka dan Pandita. Ini artinya Pinandita itu sebagai kelompok kelas menengah umat Hindu. Pinandita yang sudah akhli disebut Pandita. Kalau sudah digolongkan akhli dalam bidang spiritual Weda dalam Susastra Hindu disebut Brahmana Sista.
Menurut ajaran Agama Hindu tidak sembarangan orang yang dapat disebut Pinandita karena kedudukan Pinandita sangat strategis sebagai golongan menengah umat Hindu yang menjadi mediator umat walaka dengan Pandita yang tergolong Sulinggih yang sudah dwijati. Dalam Kekawin Nitisastra IV. 19 ada dinyatakan seseorang yang dapat disebut Pinandita. Dalam Nitisastra disebutkan sebagai berikut:
Lwirning mangdadi madaningjana surupa guna dhana kula kulinayowan na lawan tang sura len kasuran agawe wereh manahikang sarat kabeh, yan wwanten wang sira sang dhaneswara surupa guna dhana kula yowana yan tan mada maharddhikeka pangarannia sira putusi sang pinandita.
Maksudnya: Hal yang dapat membikin orang mabuk adalah keindahan rupa, kepandaian, kekayaan, kemudaan, kebangsaw-nan, keberanian dan air nira, Barang siapa tidak mabuk karena semuanya itu dialah yang dapat disebut orang merdeka (mahardika), bijaksana beliaulah disebut Sang Pinandita putus.
Dari kutipan Kekawin Nitisastra itu dinyatakan bahwa ada tujuh hal yang dapat menyebabkan orang bisa mabuk atau gelap hati. Di kalangan umat Hindu disebut Sapta Timira atau tujuh kegelapan. Tujuh hal yang dapat menyebabkan orang bisa mabuk atau gelap hati adalah Surupa, Guna, Dhana, Yowana, Kula Kulina, Sura dan Kasuran. Selanjutnya teks Nitisastra itu menyebutkan bahwa barang siapa yang tidak mabuk oleh tujuh hal itu dialah yang dapat disebut Sang Mahardika artinya orang yang merdeka dan sepatutnya disebut Sang Pinandita.
Source: I Ketut Wiana l Majalah Hindu Raditya