3. Pohon Asam
Nama Latin: Tamarindus Indica
Nama Inggris : Tamarind Tree, Indian Date
Nama India :
- Bengali : Tentul
- Hindi : Imli
- Marathi : Amli, Chinch
- Sanskerta : Amlika
- Telugu : Chinta
- Tamil : Puli
Rumpun : Lenguminoseae
Nama Tamarind berasal dari kata dalam bahasa Persia Tamari-Hind yang artinya Kurma India. Bahasa Sanskerta Amlika, berarti rasa asam.
Cerita rakyat yang diketahui tentang pohon Asam menceritakan bahwa pohon itu adalah rumah para roh yang memangsa apa saja yang berada dibawah naungannya. Pohon Asam yang paling terkenal di India terdapat di Gwalior, yang tumbuh dibelakangbatu nisan kuburan seniman musik Tansen kesayangan Kaisar Akbar. Legenda itu menjadikan seluruh penyanyi klasik memakan beberapa daun dari pohon ini agar suara mereka semerdu suara seniman tersebut.
Mengapa Daun Pohon Asam Sangat Kecil
(Legenda Suku Sambalpur)
Berabad-abad yang lampau ketika para Dewa dan siluman berada di Bumi, Bhasmasura adalah pemimpin pasukan Asura atau pasukan siluman. Ia menantang Mahadewa atau Dewa Siwa, Sang Dewa Penghancur untuk berduel. Pemenangnya akan ditetapkan sebagai penguasa Bumi. Mahadewa menerima tantangan itu. Keduanya bertarung dan Bhasmasura terluka beberapa kali. la lari menyelamatkan diri, melesat menuju hutan untuk mencari tempat persembunyian Kemudian ia melihat sebatang pohon asam dengan dahan-dahannya yang sangat besar dan berdaun raksasa. Ia memanjat dengan tergesa-gesa dan menutupi dirinya dengan daun-daun itu. Mahadewa mengetahui bahwa siluman itu telah menghilang. Ia mencari kemana-mana dan ketika ia lewat dibawah pohon Asam tersebut, Bhasmasura gemetar ketakutan sehingga daun-daunnya menggersik. Mahadewa menengadah. Ia mengetahui bahwa musuhnya telah ditemukan tetapi ia tidak dapat melihatnya. Ia mencoba melihat dengan satu mata, kemudian dengan kedua matanya, namun daun-daun itu menyembunyikan Bhasmasu-ra dari penglihatannya. Kesabaran Mahadewa habis sudah. Dengan gemuruh kemarahannya ia membuka mata ketiga yang terdapat di tengah-tengah dahinya. Tiap-tiap daun terpecah belah menjadi potong-potongan kecil-kecil. Mahadewa melihat Bhasmasura dan Membunuhnya. Bumi diselamatkan dari para siluman akan tetapi daun-daun pohon Asam tetap berukuran kecil.
Pondok Sang Rama di Tengah Hutan (Ramayana)
Raja Dasaratha di Kerajaan Ayodhya dengan berat hari membuang putranya Sang Rama ke hutan selama empat belas tahun. Rama tersenyum dan berangkat dengan rasa patuh mersuju rumah barunya. Dalam perjalanannya, Sang Rama diiringi oleh istrinya Sita dan adiknya Lakshmana.
Rama dan Lakshmana mencari bagian hutan yang merupakan tempat yang paling nyaman bagi mereka. Mereka membangun sebuah pondok kecil dibawah pohon Asam. Pohon tersebut memiliki daun-daun yang besar dan inilah yang melindungi pondok itu dari terik Matahari dan hujan.
Namun Sang Rama tidak merasa senang. Suatu hari ia berembug dengan Lakshmana, "Ayahku telah nwngmm kita ke hutan ini untuk melihat betapa baiknya kita mengatasi kehidupan yang keras. Aku yakin beliau tidak pernah bermaksud agar kita melindungi din kita sendiri dari semua yang dikirimkan oleh Dewa-Dewa". Bahkan sebelum ia menyelesaikan perkataannya, Lakshmana yang sangat menyayangi kakaknya, mengerti akan kegundahan Sang Rama. Ia membentangkan busurnya dan membidikkan sekumpulan panah kecil ke arah cabang-cabang pohon Asam tersebut. Daun-daunnya yang besar terpecah menjadi lingkaran-lingkaran kecil yang tidak dapat melindungi Pangeran-pangeran itu dari segala unsur, maka jadilah pohon Asam berdaun sangat kecil sampai hari ini.
Sang Raja dan Genderang
Di suatu masa hiduplah seorang Raja India Tengah. Ia berwajah tampan namun sangat angkuh, la seringkah memandangi dirinya di kaca, di air kolam, bahkan pada bola mata orang lain ketika mereka berbicara dengannya. "Aku adalah Raja tertampan di muka Bumi ini", katanya pada seluruh kawula istana, la tidak peduli terhadap keadaan kerajaannya karena selalu sibuk menata rambut atau meminyaki tubuhnya. Akibatnya keadaan rakyat semakin miskin dan merana.
Tetapi Sang Raja tidak peduli, "Apa peduliku?" ia membual suatu hari dalam sidang "Wajahku mungkin lebih tampan daripada seluruh Dewa-Dewa." Nasib malang bagi Sang Raja, seorang Dewa yang pemarah sedang terbang melintas dan hatinya terbakar oleh apa yang terdengar di telinganya.
"Sesuatu harus dilakukan untuk membuat jera Raja ini." Ia memikirkan sebuah hukuman yang setimpal bagi Raja itu. Kemudian penglihatannya tertuju pada seekor kerbau. "Tanduk"! Dewa iu menepuk kedua belah tangannya dengan senyum licik. Aku akan melihat bagaimana Yang Tertampan" menyukai dirinya sendiri dengan tanduk di kepalanya.
Ketika Raja terbangun pada pagi hari seperti biasanya. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengeluarkan cermin dari balik selimutnya dan berkaca. Tiba-tiba para pengawal yang berjaga di luar kamar Sang Raja mendengar jeritan yang keras. Mereka bergegas masuk menemui Sang Raja yang sedang duduk pada sisi kanan atas tempat tidurnya dengan sebuah bantal besar di atas, kepalanya.
"Keluar .... keluar ...... !" ia menyentikkan jarinya pada mereka. Ketika mereka sedang berjalan keluar, ia berteriak kepada para pengawal itu, "Panggil penata rambut istana segera!"' Penata rambut istana adalah seorang laki-laki bertubuh kecil, bermuka, tebal, dan sangat cerewet. Ia datang dengan tergesa-gesa. " Anda bangun lebih cepat, Yang Mulia, tapi mengapa bantal....."
Raja menyela. "Hentikan cakapmu dan mendekatlah ke tempat tidurku!" Betapapun terkejutnya, Si Tukang Cukur itu pun mendekat. Sang Raja berkata dengan nada memerintah," Hai Tukang Cukur, aku akan memperlihatkan kepadamu sesuatu. Tetapi jika kamu menceritakannya kepada sebentuk mahluk hidup pun, kau akan dicambuk dan dipenggal." Raja itu mengangkat bantal dari kepalanya pelan-pelan.
" Oh! Si Tukang Cukur menepukkan tangan pada mulutnya dengan perasaan ngeri. "Jangan hanya diam saja", kata Sang Raja tidak sabar. "Lakukan sesuatu untuk menutupinya!"
Si Tukang Cukur itupun menarik rambut Sang Raja disebelah sana dan sini serta menatanya agar menutupi tanduk itu sebagian. Kemudian Raja memakai topi tidurnya untuk menutupi sisa tanduk tersebut. "Sekarang pergilah dan katakan kepada para pejabat istana bahwa aku sedang tidak sehat. Aku tidak ingin bertemu siapapun." la duduk tegak dan membelalak kepada Si Tukang Cukur, "Dan ingat perkataanku!"
Si Tukang Cukur mengambil langkah seribu. Segera setelah menutup pintu kamar Sang Raja, tawanya meledak. Para penghuni istana menghentikannya dan menanyakan alasan kegeliannya. Namun Si Tukang Cukur hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berlari sambil tertawa melalui ruangan-ruangan itu.
"Aku akan mati bila tidak mengatakannya pada siapapun" gumamnya"Perutku kembung oleh rahasia ini."
la melihat pohon Asam yang berada di tengah-tengah halaman istana. Kemudian ia berjalan menghampiri pohon itu dan membisikkan rahasia yang baru saja diketahuinya pada batang pohon tersebut.
Malam harinya terjadi badai yang sangat menakutkan dan menyebabkan pohon asam itu tumbang. Raja diberitahu dari balik pintu kamarnya karena ia tidak mau bertemu siapapun, kemudian Raja memerintahkan agar batang pohon Asam itu diserahkan kepada seniman musik kerajaan. "Perintahkan agar ia membuat sebuah genderang dari batang pohon itu dan apabila sudah selesai, mainkan genderang itu luar kamarku".
Tak lama kemudian genderang yang terbuat dari kayu pohon Asam itu telah jadi. Seluruh anggota istana berkumpul di depan pintu kamar Raja dan kemudian seniman musik itu mulai memainkan genderangnya. Namun bukan dentuman suara genderang yang terdengar melainkan genderang dan kayu pohon Asam itu bersuara, "Raja memiliki tanduk di kepalanya Raja memiliki tanduk di kepalanya. "Seluruh penghuni istana tertawa tergelak-getak dan Sang Raja menangis karena kesal.
"Aku tidak akan tinggal di istana ini lagi" serunya, "Aku akan pergi ke hutan dan hidup menyendiri". Ia melepas topi tidurnya dari kepalanya dan berlari keluar istana setelah merampas genderang tersebut pada saat keluar.
Sang Raja telah hidup selama beberapa tahun di tengah hutan. Ia telah banyak belajar tentang keindahan dunia di sekitarnya. Ia belajar menyayangi makhluk yang lebih kecil daripada dirinya sendiri. Raja tumbuh menjadi kuat, bijaksana dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Selama hidup di hutan, ia hanya ditemani oleh genderang kayu pohon Asam tersebut, yang ketika dipukul memberikan nasihat-nasihat dan pengalaman dari sebuah pohon tua. la beiajar memainkan genderang itu dengan indah sekali, bahkan jiwa dari pohon-pohon di sekitar hutan itu terpesona dan mereka pergi menemui Dewa yang telah memberikan hukuman kepada Raja itu.
" Ampunilah dia, wahai Dewa", mereka memohon. "Ia telah berubah. Lepaskanlah tanduknya dan ijinkan ia untuk kembali ke kerajaannya."
Dewa itu melambaikan tangannya dan tanduk itupun lenyap. Ketika mencakupkan kedua tangannya, ia melihat bayangan dirinya, dan seorang yang berbadan kurus, dengan wajah berwarna sawo matang karena berjemur, melihat kepadanya, tanpa tanduk! Dan ketika ia terduduk karena terkejut, beberapa penunggang kuda datang dan melihat pengawal-pengawalnya. Mereka berlutut dihadapannya. "Yang Mulia, ampunilah kami dan kembalilah. Kerajaan memerlukan Paduka".
Sang Raja kembali ke kehidupannya semula. Ia selalu menyimpan genderang kayu pohon Asam itu didekatnya dan memerintah dengan bijaksana. Dan tentu saja, Si Tukang Cukur tetap memiliki kepalanya, namun ia kehilangan pekerjaannya.
Pohon Asam adalah jenis pohon yang besar, indah, dan menghijau sepanjang tahun dengan cabang-cabang yang rindang. Batangnya tebal dan pendek serta berkulit kasar, kehitaman dan diliputi oleh retak-retak yang panjang. Setiap daunnya yang ringan dan lemah-gemulai terpisah menjadi sepuluh pasang pada bagian pinggir ranting-rantingnya. Warnanya hijau muda saat pertama kali tumbuh kemudian berangsur-angsur berubah warna menjadi hijau tua kusam.
Bunga-bunganya yang berkelopak tiga berwarna kuning pucat dengan gurat-gurat merah. Kelompok bunga tersusun dalam rangkaian-rangkaian kecil dikelilingi oleh daun-daunnya.
Buahnya bergantung seperti kacang polong yang panjang, tebal, berwarna hijau dan melengkung, dan berubah warna menjadi merah kecoklatan ketika matang. Bijinya berwarna coklat tua dan agak persegi. Daging buahnya memiliki rasa yang asam dan digunakan dalam masakan kare dan masakan berkuah. Itu juga digunakan untuk menggosok kuningan. Bijinya direbus dan dihaluskan kemudian digunakan kelompok-kelompok suku di India sebagai tepung. Kayunya dipakai untuk membuat alat-alat pertanian dan daunnya dijadikan pewarna-kuning yang indah untuk mewarnai kain sutra. Hampir seluruh bagian pohon tersebut dapat digunakan untuk obat-obatan. Dalam Perang Dunia II, pohon Asam adalah bahan bakar utama untuk satuan gasogen yang memberi tenaga pada iruk-truk India. (Selanjutnya)
Source: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 433 Maret 2003