Prasada: Anugrah Nyata dari Tuhan

Teringat betul ketika kecil dulu, saya begitu gembira sehabis maturan di hari piodalan. Pada saat itulah bisa menikmati makanan yang sudah dipersembahkan yang berupa kue-kue, syur-sayuran dan kacang-kacangan, dan kadang-kadang juga telur atau daging bekakak. Wah, sungguh nikmat rasanya makan berkumpul dengan keluarga. Saya hanya tahu bahwa makanan yang sudah dipersembahkan diistilahkan dengan lungsuran. Belakangan baru saya tahu bahwa ada istilah lain yang lebih keren yaitu prasada.

Prasada adalah anugrah yang memberikan kedamaian, yang merupakan makanan suci yang sucah dipersembahkan kepada Tuhan. Selama melakukan pemujaan, para pemuja biasanya mempersembahkan nasi putih, buah-buahan, gula kelapa, dan bahan-bahan semacam itu kepada Tuhan, sesuai dengan kemampuannya. Selelah aneka makanan, minuman dan buah-buahan ini dipersembahkan kepada Tuhan, kemudian dibagikan diantara anggota keluarga, atau jika di pura akan dibagikan kepada para bhakta di pura.

Apakah Tuhan mina makan? Tidak! Apalah artinya semangkuk nasi atau sebiji buah kalau alam semesta beserta isinya adalah milik Beliau? Hanya rasa baktilah yang menuntun para pemuja selalu ingin mempersembahkan sesuatu kepada yang dijunjungnya. Salah satu ciri dari seorang bhakta adalah keinginan untuk mempersembahkan sesuatu kepada yang dipujanya, yang dicintainya. Seperti seorang pemuda yang ingin memberikan sesuatu kepada kekasihnya meskipun kekasihnya itu tidak pernah memintanya. Itulah ketulusan. Jika kita tulus mempersembahkan, Tuhan pun akan memberikan anugrah-Nya.

Air, bunga, nasi dan sebagainya dipersembahkan kepada Tuhan dalam pemujaan yang menandakan bahwa Tuhan berkenan walaupun dengan persembahkan yang terkecil. Apa pun bentuk persembahan yang dihaturkan, sebenarnya yang diinginkan Tuhan adalah hati nurani dari para pemuja. Dalam Gita Tuhan bersabda, "Patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati; Tadaham bhaktyupahrta-masnami pratatmanah" Siapa pun yang mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebutir buah ataupun seteguk air, dengan rasa bhakti, Aku terima persembahan semacam itu dengan hati tulus. Seseorang tak perlu mempersembahkan emas, perak dan pakaian-pakaian mahal kepada Tuhan.

Kadang-kadang kita tidak tahu diri. Kita hanya mempersembahkan bunga dan daun pun masih dibagi lagi. Sekuntum bunga masih kita bagi menjadi dua atau tiga bagian, sehelai daun kita potong lagi menjadi beberapa bagian. Apakah Tuhan tersinggung? Tidak, Tuhan pun akan menerimanya jika kita tulus.

Si pemuja mempersembahkan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan dan kedudukannya dalam masyarakat bukan untuk pamer kekayaan atau membujuk Tuhan tetapi adalah untuk menyatakan bahwa seluruh kekayaan adalah milik Tuhan. Bagi Tuhan persembahan sebiji buah jika itu memang buah hati nurani yang tulus akan mengalahkan persembahan satu truk buah yang dipersembahkaan dengan terpaksa dan ingin dipuji karena persembahannya itu. Seiring dengan kesadaran umat, sekarang sudah jarang ada "perlombaan pajegan". Dulu, makin tinggi pajegan dan makin mahal buah dan kue yang disusun dalam bentuk pajegan itu, maka orang berdecak kagum kepada pengusungnya. Syukurlah kini tradisi bodoh dan primitif itu sudah mulai ditinggalkan. Cukup seadanya saja yang dipersembahkan yang penting tulus ikhlas, "tentu" lain lagi dengan orang yang memang benar-benar mampu (kaya). Dengan demikian maka yadnya tidak akan pernah menjadi kutukan (beban).

Pada upacara keagamaan, puja dilakukan dengan menggunakan daun-daunan suci misalnya daun bael (bilwa), bunga-bunga, tulasi, Wibhuti dan kesemuanya ini diberikan sebagai prasada dari Tuhan. Wibhuti adalah prasada dari Siwa, yang dikenakan dan sebagian kecil dapat ditelan, Kumkuma merupakan prasada dari Dewi Sri atau Sakti, yang dikenakan di daerah antara kedua alis mata. Tulasi adalah prasada dari Wisnu, yang dapat dimakan. Dengan penguncaran mantra selama melakukan puja atau hawan, prasada tersebut diisi dengan daya-daya misterius.

Menurut Swami Siyananda, bahwa mental dari para pemuja yang mempersembahkan bhoga kepada Tuhan, memberi pengaruh yang besar. Bila seorang pemuja Tuhan yang tulus ikhlas mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, maka prasada-Nya apabila dimakan akan memberikan perubahan yang amat besar, bahkan dalam pikiran orang-orang yang tidak mengenal Tuhan sekalipun. Karunia Tuhan turun melalui prasada.

Ada kisah yang cukup menarik, Namadewa mempersembahkan makanan kepada Panduranga Witthala, sungguh ajaib, Beliau menyantap makanan dan membaginya dengan Namadewa. Bila makanan dipersembahkan dengan penuh kerinduan, kadang-kadang Tuhan mengambil makanan tersebut dalam wujud badan fisik. Jika kita memberi makan kepada Mahatma dan orang-orang miskin, yang tersisa dapat dimakan sebagai prasada. Apabila dilaksanakan upacara kurban, para pengikut upacara membagikan prasada yang memberikan berkah para Dewa.

Dalam Ramayana diceritakan ketika Prabhu Dasaratha melaksanakan upacara putra kamesthi (upacara kurban yang dilaksanakan berkenaan dengan keinginan mendapatkan putra), ia mendapatkan sebakul penuh nasi yang ia berikan kepada Sang Ratu yang menyebabkan terjadinya kehamilan. Prasada merupakan benda sakral bagi seorang pemuja. Seseorang hendaknya menganggap dirinya beruntung memperoleh prasada dan tak ada pembatasan apapun untuk mendapatkan prasada pemurni segalanya.

Manfaat prasada tak dapat digambarkan dengan kata-kata karena ia memiliki daya untuk mengubah keseluruhan pandangan hidup manusia. Pada memiliki daya untuk menyembuhkan penyakit dan bahkan mengembalikan kehidupan orang yang meninggal. Banyak contoh pada masa lalu yang dapat dijadikan bukti tentang potensi dan kegunaan prasada. Prasada menghancurkan penderitaan dan dosa, dan merupakan obat penawar malapetaka, penderitaan dan kecemasan. "Kepercayaan" merupakan faktor yang sangat penting dalam pengujian ketepatan dan kenyataan ini.

Bagi orang yang tidak percaya ini akan membawa pengaruh yang kecil saja. Demikianlah keutamaan prasada (tangsuran) yang pada intinya bahwa prasada akan memberikan manfaat jika kita benar-benar meyakininya. Kadang-kadang karena pendidikannya sudah tinggi (tamatan Amerika), orang sudah tak peduli dengan hal-hal seperti ini, dan menganggap itu hanyalah tahyul belaka, tentu saja ia tidak akan mendapat anugrah karena kesombongan intelektualnya itu.

Semoga kita selalu mendapatkan berkah lewat makanan suci prasada yang kita makan dan selalu berada dalam kedamaian.

Source: Page Paradev l Warta Hindu Dharma NO. 435 Mei 2003