Cerita Ramayana di samping Mahabharata agaknya mengakar kuat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta, gambaran, ukiran, pahatan tokoh-tokoh adikawya itu "dijajakan", "dijual" bersa-maan dengan barang-barang seni kerajinan lainnya. Dan ketika kita menelusuri pinggiran kota budaya Yogyakarta kita dapat menyaksikan para penatah wayang Ramayana dan Mahabharata, dan turis asing pun datang kesitu membeli wayang Anuman, Subali, Sugriwa, dan tertawa bahagia mendengar kisah cinta Rama-Sita dari pedagangnya yang pasih berbahasa asing.
Di samping itu pementasan wayang kulit, wayang wong sampai sendratari Ramayana adalah tontonan yang memikat masyarakat Jawa. Dan hadirnya dalang-dalang cilik adalah kebanggaan mereka. Dalam disertasinya berjudul Wayang Wong, the state ritual dance drama in the Court of Yogyakarta (1984), Prof. Dr. Soedarsono dengan jelas menguraikan betapa Ramayana dan Mahabharata menjadi lakon Wayang Wong yang sangat memasyarakat itu.
Maka apabila setiap bulan purnama di hadapan candi Prambanan dipegelarkan sendratari kolosal Ramayana tentu mempunyai latar belakang lebih dari sekedar menarik turis. Betapa tidak, relief indah mahakawya Ramayana terpahatkan pada dinding candi itu.
Dalam prasasti yang dikeluarkan oleh raja Balitung (Jawa Tengah) berangka tahun 904 M telah tersurat kalimat"... macarita ramayana", dalam konteks ... Si Nalu macarita bhima kumara mangigal Kicaka sijaluk macarita ramayana mamirus mabanyol si mukmuk si galigi mawayang buat thyang macarita bhimma ya kumara .... Prasasti ini segera menjelaskan kepada kita betapa cerita Ramayana dan Mahabharata itu (khususnya kisah tentang Sang Bhima) begitu luas digemari, bukan hanya di kalangan literati dan intelektual, tetapi juga di kalangan masyarakat luas. Dan tari-tarian (boleh jadi mengambil lakon dari kedua mahakawya tersebut), pertunjukan wayang dan yang lain adalah pertunjukan yang memikat.
Maka kakawin Ramayana, bentuk karya sastra kakawin ciptaan manusia Indonesia yang senantiasa menduduki tempat terhormat di antara karya sastra sejenis diduga ditulis pada zaman Balitung itu. Setelah hal itu dinyatakan oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka maka ramailah para sarjana berbicara tentang tahun penulisan karya kakawin tertua, terbesar dan terindah itu, dan satu sama lainnya berbeda pendapat.
Zoetmulder lalu membuat konklusi bahwa biarpun beberapa contoh yang diajukan Poerbatjaraka sebagai barang bukti dapat kita sangsikan kekuatan buktinya, namun dalam keseluruhannya dapat dikatakan, bahwa bahan yang diajukannya dengan kuat mendukung tesisnya yang kemudian umumnya dibenarkan. Penelitian yang dilakukan kemudian pada umumnya memperkuat kesimpulan tersebut dan dengan demikian menegakkan kedudukan istimewa kakawin Ramayana dalam sastra Jawa Kuno. Semua kakawin lainnya semenjak Arjunawiwaha dan seterusnya dengan aman dapat dipastikan berasal dari Jawa Timur atau dari Bali. Maka kakawin Ramayana merupakan satu-satunya karya puisi yang berasal dari zaman Jawa Tengah (yang berakhir sekitar tahun 930). Baik secara kronologis maupun geografis karya ini terpisah dari sastra kakawin Jawa Kuna lainnya.
Kepada karya Jawa Tengah satu-satunya ini pujian tinggi diberikan. Mulai dari keindahan bahasanya sampai pada keindahan isinya. Pilihan sang pengarang (menurut tradisi Bali bernama Sang Yogiswara) terhadap Bhattikawya sebagai sumber karyanya dianggap sebagai pilihan yang sulit, dan agaknya setelah melalui proses lama. Pengetahuan sang pengarang terhadap bahasa Sanskerta begitu luas dan mendalam, sehingga ia dapat membaca dan mengerti sebuah teks yang menampilkan sekian banyak masalah. Ia pasti juga harus menguasai bahasanya sendiri dengan sempurna, agar dapat menerjemahkan prototipe Sanskerta yang sukar itu secara memuaskan.
Zoetmulder menyatakan bahwa bila kita membandingkan dengan teliti kedua syair itu (maksudnya kakawin Ramayana dan Bhatikawya) khususnya dari sudut bahasa, kita mungkin akan memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai cara kerjanya serta cara bahasanya sendiri dipengaruhi contohnya. Bagaimanapun jua tak dapat disangsikan bahwa ia berhasil menulis sebuah syair yang menjelma sebagai sebuah karya sastra karangannya sendiri. Ia pasti tak bermaksud menerjemahkan teks Sanskertanya. Sejak permulaan ia merasa bebas untuk menyimpang dari contohnya, juga dalam bagian-bagian yang paling dekat mengikuti contoh Sanskerta. Ia menambahkan penjelasan-penjelasan bila ini dianggapnya perlu. Ia mempersingkat atau mengubah bagian-bagian yang bagi para pembacanya kurang penting atau sukar dimengerti.
Di lain pihak ia tidak melangkah demikian jauh, sehingga kisah ini ditempatkannya dalam suatu latar Jawa. Maka dari itu lebih mengherankan lagi, bila dalam pupuh kedelapan kita jumpai sebuah deskripsi panjang lebar mengenai sebuah candi Siwa di Lengka; dalam Bhattikawya pelukisan ini sama sekali tidak kita dapati. Poerbatjaraka pernah berusaha membuktikan bahwa yang dibayangkan pengarang Jawa ini ialah candi Prambanan, Jawa Tengah. Rupanya pendapat ini sangat masuk akal.
Untuk lebih jelasnya kita kutip beberapa bagian di antaranya : sphatika prasada kadi Mandara ya/ ikanang natar kadi tasik susu ya/ mani mutya yekana kadi pwa wereh/ wway aho matis ya amreta nya metu// (Candi yang terbuat dari batu kristal tak ubahnya gunung Mandhara/ adapun halamannya seperti lautan susu/ permata mutiara bagaikan buihnya/ airnya yang amat sejuk seperti air kehidupan yang sedang keluar). Ri ya wa nika hana ta yawarana/ tamalah prasada marenik mademik/ inukir ya kapwa ta manik mahireng/ kaharan karang kumililing ri tepi// (Di halaman candi ada aling-aling/ Banyak sekali candi-candi kecil berjajar/ yang terbuat dari permata hitam diukir/ tidak ubahnya batu karang melingkar mengelilingi//) Hana len suwuk lawang ikang pratima/ mani candrakanta pinahat mahalep/ mawelu mata nya dummelo maledo/ kadi rahwa milwa marebut amreta// (Ada juga patung penjaga pintu, terbuat dari permata candrakanta terukir indah/ matanya bulat mendelik melotot/ tak ubahnya sang Kalarahu ingin ikut memperebutkan air kehidupn//). Wisa kalakuta ya kunang malayu/ ikanang suwuk-lawang ata matukat, ri Bhatara Sangkara ri papahara/ hanaring prasada ri dalem satata//. (Racun kalakuta bagaikan lari/ penjaga pintunya juga menjadi takut/ terhadap Bhatara Siwa yang menumpas segala kejahatan/ selalu berstana di dalam candi/ /).
Petikan yang melukiskan sebuah kelompok candi Siwa tersebut bukan saja memikat tetapi terasa orisinil sehingga benar-benar terasa segar. Lukisan yang menandakan betapa perhatian sang pengarang terhadap tempat-tempat suci seperti itu yang selanjutnya dapat memberi lukisan global sekaligus detail. Perhatian pengarang terhadap candi Siwa yang besar itu agaknya benar-benar didasari oleh pemahaman dan penghayatan ajaran Siwa secara sangat mendalam. Untuk menjelaskan hal itu kita ingin memetik bait-bait nasehat Bhatara Siwa kepada Sang Rama berikut: ......tumurun saksat ta Sang Hyang Siwa / lawan dewa ganaprameya hibekan ng akasa sok lorkidul/ munggwing ratna wimana mangkin aparo ng kane ruhur ning sabha/ sakweh ning umulat saharsa muriring kascaryan kapwararem//(.....Sang Hyang Siwa lalu turun disertai para dewata tak terhitung jumlahnya sehingga angkasa menjadi penuh di utara maupun di selatan/ Beliau duduk di atas wimana berhiaskan permata selanjutnya turun di atas balai sidang/ Para hadirin yang melihat merasa gembira, kagum lalu semuanya menunduk//.
Sang Ramenujaran bhatara winarah ryywak niran dewata/ he Narayana he Raghuttama taman bhede kawaktat hidep/ Sang Hyang Wisnu keta kita priyatama Sita sira Srimaya/ tar sah satmaka suddha satya pihaka nyawak ta yat dampati// (Sang Rama dinasehati oleh Bhatara Siwa dan diperingatkan tentang dirinya sebagai awatara dewata/ "Hai Anakda Narayana, hai Raguttama tak beda dirimu dengan diriKu, pikirlah baik-baik. Anakda adalah Dewa" Wisnu dan permaisurimu Dewi Sita adalah awatara Dewi Sri/ Tidak dapat dipisahkan senantiasa bersatu jiwa, suci setia menjadi bagian dirimu, kembaikan bersuami istri"//).
Haywatah kita sangsaye sire muwah sampunasuddhyan sira/ dontat angdadi dadyaken tulusaken kirttinta ring rat kabeh/ swasta ning bhuwana trayekana iwon nahan phalantat jaya/ cihna nyankita Sang Janardhana dine Sang Hyangdumiksa ng sarat// (Janganlah anakda ragu lagi kepadanya karena sudah terbukti tulus suci/ Tujuan anakda menjelma selesaikanlah dan lanjutkanlah amalmu terhadap penduduk dunia. Utamakanlah keselamatan ketiga dunia sebagai pahala keunggulanmu. Itulah pertanda anakda selaku perwujudan Dewa Wisnu yang ditugaskan oleh para Dewa menyelamatkan dunia//. NatojarParameswara sira wawang sighran panambah sira/ antarlina bhatara suksma kawekas Sang Rama tusta ng manah/ Sang Sita suci satya suddha satirun santara lumrang yasah/ sangkranta prakata prasasta kinudang tan len kidung ning sarat// (Demikian sabda Hyang Siwa kepada Sang Rama dan beliau segera menyembah. Bhatara Siwa seketika menghilang tanpa bekas, tinggal Sang Rama yang diliputi perasaan gembira/ Dewi Sita yang suci setia tanpa noda patut dicontoh oleh keturunannya atas kemasyuran jasa beliau/ Beliau senantiasa dikenal, menjadi buah bibir, disanjung, juga dipakai nyanyian oleh masyarakat luas/ /).
Dengan ini menjadi jelas bagi kita bagaimana kedudukan Ramayana tersebut dalam ajaran Siwa. Dalam hal ini penegasan Prof. Zoetmulder perlu kita baca dengan seksama. Bahwa hendaklah kita hati-hati terhadap cara berpikir menurut kategori-kategori dari India atau yang terlalu ekstrim melukiskan perbedaan antara Siwa dan Wisnu. Kakawin ini (maksudnya Ramayana) pasti tidak secara ekslusif mencerminkan pemujaan Rama-Wisnu. Bila pada akhir kakawinnya sang penyair menghormat kepada Rama selaku raja tiga dunia serta menyatakan harapannya, agar perbuatan ibadat ini menyebabkan seluruh dunia mengikuti Rama, dan supaya karya ini dapat merupakan sebuah sumbangan bagi tercapainya cita-cita tersebut, maka ini sama sekali tidak mengesampingkan pemujaan terhadap Siwa.
Candi Prambanan memperlihatkan kepada kita suasana sinkretistis yang melahirkan sastra kakawin : candi Siwa - Mahadewa terdapat di tengah-tengah, didampingi oleh candi untuk menghormat Brahma dan Wisnu, sedangkan cerita tentang Rama diukir dalam relief pada dinding pertama dan kedua serta sebuah kisah Kresna pada dinding ketiga. Mempergunakan kata fanatisme dalam suasana serupa ini sungguh anakronistis.
Demikianlah candi Prambanan yang indah memuat relief perjalanan sang Rama, sedangkan candi-bahasa kakawin Ramayana yang juga sangat indah memuat lukisan tentang candi Siwa yang boleh jadi adalah candi Prambanan. Yang jelas candi Prambanan dan candi bahasa Ramayana adalah produk Jawa Tengah, yang satu adalah hasil karya seluruh masyarakat yang penuh bhakti digerakkan oleh Sang Raja, sedang yang satu lagi adalah buah karya seseorang yang sudah tentu dengan penuh bhakti menyerhakan Seantero dirinya kepada Sang Pencipta. Inilah karya-karya persembahan.
Oleh: IBG Agastia
Source: Warta Hindu Dharma NO. 275 Mei 1990