Susunan kata yang dipilih oleh Mpu Tanakung dalam kakawin Siwaratrikalpa pasti bukanlah susunan kata yang tanpa makna. Ri taru tiraning ranu berarti di pohon di tepi danau, itulah tempat si Lubdaka bermalam. Pohon itu tiada lain adalah pohon maja, sebuah pohon yang memiliki makna penting dalam ajaran Siwa, pohon yang tumbuh di tepi danau dan menjorok ke tengah danau. Maka daun-daun pohon itu yang dipipiknya, lalu dibuangnya, mengenai sebuah lingga yang ada di tengah danau itu, sebuah lingga yang tidak ada yang membuatnya (nora ginawe).
Lubdaka memang tidak mengetahui bahwa pohon itu adalah pohon maja, tidak pula mengetahui bahwa di danau itu ada lingga. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa seratus delapan helai daun yang dipipiknya semuanya mengenai lingga tersebut. Maka si Lubdaka dengan tidak mengetahui pula dirinya telah melaksanakan brata Siwaratri, brata yang maha utama menurut ajaran Siwa.
Ajaran yang begitu tinggi yang kemudian dibuatkan ceritanya ini menyebabkan ajaran itu menjadi pengetahuan umum atau luas. Namun dengan demikian ajaran yoga itu patut mendapat pemahaman yang memadai sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memahami dan menghayatinya. Mpu Tanakung memang ingin ajaran Siwaratri itu dipahami secara luas, tidak hanya terbatas kepada orang-orang tertentu, para pendeta atau para yogi. Kemampuan beliau untuk menjadikan ajaran yang tinggi itu menjadi sebuah ceritra sangatlah memikat. Terlebih lagi disajikan dalam bentuk puisi kekawin yang indah, dengan susunan kata terpilih.
Istilah tepi, puncak atau ujung memang kadang-kadang menjadi istilah yang sangat bernuansa spiritual. Tepi sebuah danau, tepi samudra luas, puncak gunung, tetapi juga puncak pikiran memang kata-kata penuh makna. Ri taru tiraning ranu, memuat kata taru dan tira, taru bisa bermakna pikiran dan tira berarti tepi atau puncak.
Dalam ajaran yoga memang dihadirkan sebuah konsep "mengadu" puncak pikiran. Kadang-kadang dipakai istilah angadu tuntungin rwi, mengadu ujung duri. Istilah ini juga disimbolkan sebagai mengadu aksara suci, mengadu Omkara yang berdiri dan terbalik (Omkara ngadeg dan sumungsang). Sebagai mana kita ketahui aksara suci itu menjadikan nada sebagai ujungnya, nada adalah simbol kesucian yang murni yang menjadi awal adanya unsur-unsur dibawahnya yang lebih bersifat nyata dan kasar.
Dengan demikian dapat kita ketahui istilah-istilah terpilih di dalam Siwaratrikalpa sesungguhnya adalah istilah-istilah penting di dalam ajaran yoga. Ketika kita melaksanakan brata Siwaratri kita memang terpaku dengan istilah-istilah tersebut, mulai dari istilah pemburu, pasupati sampai pada taru ri tiraning ranu. Dan ajaran Hindu hakikatnya adalah ajaran yoga yang sangat mengutamakan konsentrasi, pemusatan pikiran, sampai pada kemanunggalan, sebagaimana makna yang terkandung dalam istilah-istilah pratyahara, dharana, dhyana, samadhi.
Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 482 Maret 2007