Sakshi yang Senantiasa Shanti dan Senthosa

Keawasan yang saya bicarakan adalah keawasan terhadap 'yang ada',
yang secara aktual, yang secara langsung ada di hadapan kalian, lantaran memahami 'yang ada' -
yang teramat sangat dekat -
inilah kalian bisa mencapai kedalaman luarbiasa, ketinggian luarbiasa

~J. Krishnamurti.~

Tak mudah menjadi Saksi?

Untuk menjadi saksi yang baik atas suatu kejadian - apakah itu di luar maupun di dalam - kita harus sepenuhnya hadir disana, di tempat kejadian bukan? Bukan sekedar hadir namun pikiran atau perhatian menerawang jauh entah kemana, melainkan sepenuhnya hadir.

Kita perlu membedakan kedua hal ini secara ketat; sebab kalau sekedar hadir, kita tak akan menyaksikan kejadiannya seutuhnya, secara lengkap; padahal untuk bisa benar-benar jadi saksi yang baik seseorang mesti benar-benar menyaksikan seutuhnya dan selengkap-lengkapnya kejadiannya bukan?

Sebetulnya, sekedar 'menjadi saksi' tidaklah sulit. Lantaran ketidakmampuan kita untuk sepenuhnya hadir, yang berarti benar-benar awas dan mengerahkan perhatian penuh terhadap apa yang disaksikan itulah yang membuatnya tak mudah buat kita. Kendati kita benar-benar memperhatikan sesuatu, tanpa sepenuhnya disadari, kita umumnya membubuhkan atau menumpangkan penilaian kita terhadapnya. Akibatnya, apa yang disaksikan itu tidak utuh lagi, tidak seperti 'apa adanya'; ia telah kita bumbui dengan penilaian-penilaian kita terhadapnya atau pembandingan-pembandingannya dengan yang lainnya, yang kita anggap sejenis.

Menjadi saksi terhadap kejadian kejadian luar - yang kita anggap tak ada kaitannya langsung maupun tak langsung dengan diri kita - mungkin relatif lebih mudah; karena di dalamnya, nyaris tak ada gerak perasaan yang dipicu oleh rasa sentimental maupun rasa suka-tak-suka kita. Namun, ketika yang kita saksikan itu berkaitan dengan saudara-saudari seetnis kita atau seagama kita misalnya, segala sesuatu-nyapun menjadi lain. Apalagi kalau yang kita saksikan itu adalah kejadian di dalam, yang notabene di dalam diri kita sendiri.

Hal lain yang mempersulit untuk sekedar menjadi saksi terhadap apa yang sedang berlangsung di dalam adalah, rasa keberpihakan dan rasa iba-diri kita terhadap diri ini. Ini akan menggiring kita untuk melakukan pembelaan-diri, berkelit, berdalih, mencari pembenaran, atau melempar kesalahan kepada pihak lain alias mencari kambing-hitam.

Itulah yang menjadikan tidak mudah menjadi saksi. Padahal, kalau saja kita benar-benar bisa menyaksikan apapun yang sedang terjadi di dalam, apapun yang sedang bersileweran, lalu-lalang di benak ini dan hanya menontonnya dengan penuh perhatian, hanya menyaksikannya dengan seksama -yang berarti sedang bermeditasi - boleh jadi kita memetik pemahaman yang jauh lebih mendalam akan diri ini dibanding sebelumnya.

Ekspresi dari Kesaksian-langsung

Kebebasan memilih sesungguhnya merupakan salah-satu ekspresi dari kehendak-bebas. Mereka yang beranggapan bahwa segala sesuatunya adalah kehendak dari sesosok makhluk prima yang menentukan segalanya, yang mereka sebut sebagai 'Tuhan' itu, tentu saja tak akan bisa menerima kalau setiap makhluk punya kehendak-bebas. Kalaupun mereka bisa menerimanya, maka semua itu harus dengan satu syarat mutlak - atas seijin dan karunianya.

Bahkan, mereka umumnya malah beranggapan kalau kehendak-bebas hanyalah milik-Nya; tidakah mungkin ada- kehendak-bebas bagi ciptaan. Kehendak-bebas hanya bagi dan milik pribadi dari-apa yang mereka sebut sebagai-Sang Mahapencipta itu. Oleh karenanyalah mereka dengan ketat tercengkeram oleh dualisme : Pencipta - Ciptaan; mereka membatasi Dia sebagai sesosok entitas tertentu : Pencipta - yang tentu saja tidak pernah mungkin bisa disamakan dengan ciptaan. Makanya, jangankan memanfaatkan kehendak-bebas yang sebetulnya melekat pada kelahirannya ini, untuk sekedar mengakui kalau mereka sendiri sebetulnya punya kehendak-bebas saja, mereka 'tidak berani'.

Pikiran memang tak akan pernah bisa menjangkau non-dualitas; bukan saja lantaran si pikiran sendiri memang terbangun dari proponen dualistik, namun memang bukan porsi si pikiranlah untuk menjangkaunya. Oleh karenanya, adalah keliru kalau seseorang beranggapan bahwa non-dualitas sebagai produk dari olah-pikir. Ia jelas bukan produk olah-pikir. Kalaupun hendak dikatakan lewat pola serupa, non-dualitas merupakan produk olah-rokhani, ekspresi dari kesaksian-langsung akan Tuhan Itu Sendiri.

Sakshi yang senantiasa Shanti dan Sentosha

Tidak terseret dan terjebak di masa-lalu, tidak hanyut terbawa arus masa-kini, dan tidak juga terbuai halusinasi angan-angan dan impian-impian masa-depan, merupakan ciri-ciri utama dari batin tenteram para bijak. Yang demikian akan senantiasa tenang, tentram dan penuh kedamaian (shanti). Sesungguhnya, beliau hanya memfungsikan diri sebagai saksi yang baik (sakshi) dari semua fenomena fisik - yang terjadi di sekelilingnya - maupun mental - yang terjadi di dalam dirinya - kendati beliau tampak aktif terlibat dalam kehidupan sosial. Sakshi senantiasa dalam keseimbangan; sakshi senantiasa shanti.

Menjadi sakshi adalah menjadi senantiasa sadar akan apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, akan gejolak emosi, terhadap apa yang dikatakan dan apapun yang dilakukan. Untuk itu seseorang harus mampu melepaskan kebiasaan 'identifikasi-diri pada diri-semu'; apakah berupa mengidentifikasikan-diri pada jasmani ini, pada perasaan dan pikiran ini, maupun pada atribut-atribut yang selama ini disandang ataupun disadangkan orang kepadanya.

Dalam penyaksian ini, tidak ada si aku - secara khusus yang sepenuhnya terpisah dari yang disaksikan, yang bertindak sebagai suatu entitas yang mempribadi dan sebagai pelaku maupun yang terkena perlakuan. Kalaupun mau dikatakan secara teknis, apa yang dilakukan oleh sang sakshi hanyalah memperhatikan dengan cermat, tanpa penialian, tanpa praduga, tanpa prasangka dan terlepas secara mental-psikologis dari apapun yang dikerjakan oleh fisik ini, apapun yang dirasakan oleh perasaan ini dan yang dipikirkan oleh pikiran ini.

Sakshi hanya menyaksikan. Hanya itu. Ingatan boleh saja mencatat apa-apa yang tersaksikan-karena memang demikianlah tugasnya - namun saksi sekedar menyaksikan saja. Dia menyaksikan apapun yang muncul, mengada sesaat untuk kemudian berlalu dari 'telaga batin' ini.

Yang jelas, sakshi ini bukanlah pelaku, penilai ataupun pengawas. Ia tak akan memberi penilaian apapun atas semua itu, apalagi bereaksi terhadapnya. Ia tetap tenang dalam ketentraman dan kedamaiannya yang penuh kewaspadaan. Ia senantiasa sadar dan awan dalam ke-diam-annya itu. Dialah yang senantiasa eling dan waspada itu.

Sakshi bukan aku, bukan siapa-siapa. Sakshi hadir dimana Kesadaran Sejati hadir; dan berlalu bersamaan dengan absennya Kesadaran Sejati. Mereka senantiasa seiring sejalan. Mereka juga hadir disini dan saat ini. Mereka jualah yang sesungguhnya hadir di masa-lalu dan juga di masa-mendatang, sebab mereka identik dengan Kehadiran itu sendiri. Tiada sesuatupun yang mungkin hadir - di 'telaga batin' ini - tanpa kehadiran sang sakshi.

Ia selalu lengkap dan utuh dalam kehadirannya. Ia tak memerlukan apa-apa di luar Diri-Nya, Ia senantiasa puas, berkecukupan dan berbahagia; oleh karenanyalah juga senantiasa Santosha dan Ananda. Sakshi-lah yang Shanti dan Santhosha itu.

Pernahkah Anda Bersaksi?

Mempertanyakan secara serius, secara sangat mendalam, tidak butuh jawaban atau penjelasan verbal. Mempertanyakan secara serius adalah sebentuk laku-spiritual yang bersifat mental, namun bukan demi kepuasan apalagi sekedar konsumsi intelek. Mempertanyakan secara serius sesuatu adalah mencaritahu kesejatian dari sesuatu itu, dan oleh karenanya tidak bergerak pada tataran superfisial, namun jauh menyelam ke dalam, hingga kedalaman yang dimungkinkan oleh kemampuan yang ada pada si penanya itu.

Ini juga seringkah disebut dengan merenung - dimana merenung (vichara) adalah sebentuk laku-spiritual. Ini jelas bukan berpikir, atau menimbang-nimbang sekalipun, seperti yang mungkin disangka oleh kebanyakan orang. Merenung juga merupakan 'proses bersaksi', bersaksi langsung atas Diri-jati (atma-vichara). Hanya batin yang jernihlah yang bisa merenung. Tanpa kejernihan tidak ada perenungan. Tapi, bagaimana batin yang jernih itu?

Untuk bisa merenung betapa mestinya tataran mental mesti tenteram, heneng; dengan demikian dimungkinkan hadir ening, kejernihan di dalam. Batin yang heneng inilah yang punya cukup ruang di dalam mana perenungan mungkin dilangsungkan. Gejolak pikiran dan gelora perasaan, jelas tidak akan membiarkan Anda merenung. Alih-alih merenung, mereka malah menyeret kita untuk berpikir, atau bahkan mengkhayal. Duet ini mesti ditenteramkan dulu.

Ada dua cara yang dikenal umum untuk menenteramkan tataran mental ini - yakni : secara aktif dan secara pasif. Cara aktif relatif lebih diminati , karena bukan sesuatu yang baru bagi kebanyakan orang. Duet ini memang selalu aktif. Dengan mengarahkan keaktifannya itu pada satu objek dalam jangka waktu tertentu, mereka menghentikan pengelanaannya, dan berangsur-angsur menjadi tenteram. Buruknya, setelah merasa tenteram mereka biasanya enggan melepaskan objek itu; jadi lupa akan apa yang hendak direnungkan, dan malah terjebak di dalam ketenteraman yang jarang dirasakan itu.

Cara pasif relatif kurang dikenal dan kurang diminati, karena memang bukan kebiasaan dari duet pikiran-pikiran yang selalu aktif ini. Mereka tidak terbiasa pasif. Cara pasih ini dilangsungkan dengan mengabaikan mereka; dan sebagai gantinya, hanya mempekerjakan perhatian. Dengan memperhatikan saja betapa usilnya si pikiran, bagaimana cepatnya ia melompat dari satu obyek lainnya yang nyaris tanpa waktu, tanpa melibatkan perasaan di dalamnya, tanpa ikut hanyut di dalam permainannya, mereka malah tenteram sendiri.

Seperti dikatakan tadi, buruknya adalah, karena kita umumnya tidak terbiasa dengan cara pasif ini, alih-alih hanya memperhatikan, kita malah terhanyut dalam permainan usilnya itu. Oleh karenanyalah 'cara kombinasi' jadi lebih ampuh.

Mengawalinya secara aktif, dengan mengambil satu obyek tertentu, katakanlah keluar-masuknya nafas; dan setelah tidak lagi meloncat-loncat seperti sebelumnya, bisa mulai mengarahkan perhatian pada objek perenungan itu. Hanya dengan memperhatikan dengan seksama saja, perenungan bisa melihat dengan jernih banyak hal, seperti : ketidak-ajegan, keterkondisian, tidak-memuaskannya hal-hal yang terkondisi, dan tak terhitung banyaknya hal-hal lain yang muncul dan tenggelam di telaga benak ini. Jadi tak perlu dengan sengaja mengambil satu obyek tertentu untuk direnungkan, melainkan mengembangkan apa yang tersaksikan dari keluar-masuknya nafas itu.

Mempertanyakan secara serius, secara sangat mendalam, tidak butuh jawaban atau penjelasan verbal apapun; tapi sangat membutuhkan derajat kehenengan batin luarbiasa, kejernihan dan ketajaman luarbiasa; butuh derajat meditatif tertentu. Karena ini mengantarkan pada pembuktian-langsung-baik disertai suara dan atau penampakan tertentu maupun tidak - secara eksperiensial. Tapi itulah bersaksi itu. Pernahkah Anda melakukannya? Pernahkah Anda bersaksi? Bila belum.... cobalah!

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap jejak dan langkah kita! Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu semua insan!

Oleh: Anatta Gotama

Source: Warta Hindu Dharma NO. 515 Nopember 2009