Siwa Puja dalam Atma Wedana

Siwa Puja adalah pemujaan kepada Siwa sebagai prinsip tertinggi alam semesta, sangkan paraning dumadi, tujuan tertinggi setiap manusia; sementara Atma Wedana adalah penyucian roh (jivatman) dari belenggu badan halus (suksma sarira). Pemujaan Siwa banyak diuraikan di dalam kitab suci Veda, purana, itihasa, kitab-kitab yang digolongkan ke dalam Agama dan tantra, tutur atau tattwa, susila, upacara dan sebagainya baik berbahasa Sansekerta maupun Jawa Kuna.

Dalam Satapatha Brahmana dalam Rg Veda ada diungkapkan pemujaan kepada seratus Rudra (satarudriya). Rudra di sini dimaknai sebagai Siwa dalam wujudnya yang mengerikan, menyeramkan. Di dalam wiracarita Ramayana baik Rama sebagai awatara Wisnu maupun Rahwana keduanya memuja Siwa. Begitu juga di dalam wiracarita Mahabharata, Pandawa memuja Siwa, dan sebagainya.

Dalam kesusastraan Hindu di Indonesia, Siwa puja lebih banyak diuraikan dalam konteks Dewa Yajna, seperti upacara Siwa Ratri, Ngenteg linggih, piodalan; Bhuta Yajna, seperti upacara tawur dan sebagainya. Siwa Ratri adalah malam suci untuk memuja Siwa yang jatuh pada purwanitilem sasih kepitu (sekitar bulan Januari-Februari). Pemujaan Siwa pada Siwa Ratri di Indonesia nampak semakin semarak dan khidmat sejak tiga dekade terakhir. Pelaksanaannya diilhami oleh sejumlah sumber sastra, seperti purana, kakawin, tutur, geguritan dan sebagainya.

Teks kakawin Siwaratrikalpa atau kakawin Lubdhaka merupakan pedoman yang dijadikan acuan pelaksanaannya. Dalam Siwa Ratri pemujaan dilakukan melalui brata siwaratri, salah satunya adalah jagra (melek) semalam suntuk dan dilanjutkan esok harinya hingga matahari terbenam, yaitu secara keseluruhan berjumlah 36 jam. Namun, pemujaan terhadap Siwa dalam upacara lainnya, misalnya Pitra Yajna masih kurang begitu mendapat perhatian sehingga upacara atau saat-saat yang penting terlewatkan begitu saja. Pada hal dasar tattwa, maupun susila yang melandasi Siwa Puja dalam upacara Pitra Yajna ini dapat dilacak kembali bahwa ada aspek Siwa Puja di dalam upacara Pitra Yajna, khususnya Atma Wedana. Bagaimana hubungan antara keduanya?

Artikel ini mencoba membahas secara umum Siwa Puja di dalam upacara Atma Wedana yang lebih dikenal dengan nama memukur atau ngerorasin berdasarkan sejumlah sumber teks bali,  teks-teks tattwa, kakawin, maupun puja stawa yang membuktikan adanya pemujaan kepada Siwa Persoalan dicoba diamati dari perspektif metafisika dengan menelusuri upacara, prosesi upacara dan upakara yang digunakan di dalamnya. Dari pembahasan yang terbatas ini diharapkan dapat menggugah kesadaran rohani terhadap keberadaan Siwa Puja dalam upacara Atma Wedana sehingga upacara yang dilaksanakan berjalan lebih mantap dan tujuannya pun juga akan semakin jelas.

Atma Wedana
Atma Wedana merupakan bagian dari upacara Pitra Yajna. Pada prinsipnya Pitra Yajna adalah upacara mengembalikan unsur panca maha bhuta ke asalnya dan penyucian roh orang yang meninggal dunia. Oleh karena badan manusia dibentuk oleh tiga badan, yaitu badan kasar (sthula sarira), badan halus (suksma sarira), dan roh/jiva (antah karam), maka penyuciannya juga harus mencakup ketiga aspek tersebut. Badan kasar, yaitu badan yang secara fisik kita miliki, yang bisa dilihat, diraba, disentuh, dihias, dicuci, diidentifikasi orang lain dan sebagainya adalah badan yang dibentuk oleh unsur-unsur/ elemen-elemen alam (bhuta) dikenal dengan sebutan bhuta.

Ada lima banyak dan sehingga disebut Panca Maha Bhuta : tanah (prthiwi), air (apah), sinar (teja), angin (vayu), dan ruang kosong/ether (akasa). Unsur-unsur ini membentuk alam semesta (bhuana alit). Dengan demikian secara esensial keduanya sama. Dari sini agama Hindu sangat memperhatikan alam lingkungan dalam kehidupannya sehari-hari. Konsep keseimbangan, keharmonisan senantiasa dijaga karena terbukti dengan konsep keseimbangan baik intra maupun antar elemen akan mampu menciptakan kebahagiaan hidup baik sekala maupun niskala. Badan kasar (sthula) inilah yang disucikan, dikembalikan unsur-unsur pembentuknya yang kasar ke asalnya dengan upacara Saiva Wedana atau juga dengan istilah lain Sawa Preteka, Pengabenan, Pelebon, Atiwa-tiwa dan sebagainya. Karya yajna ini digolongkan ke dalam karya yang nyuntakain sehingga ketah dimasyarakat sebagai karya ala. Tata caranya beraneka rupa disesuaikan dengan desa, kala, patra.

Sementara badan halus (suksma sarira) adalah badan yang halus, tak nampak oleh pada atau tidak dapat diindra oleh organ-organ indra, tetapi ada di dalam diri manusia. Badan halus ini terbuat dari elemen-elemen halus yang juga berasal dari pradhana atau prakrti. Elemen-elemen halus hingga kasar (bhuta) ini merupakan tattwa atau evolut dari pertemuan Purusa (sebagai unsur kesadaran) dan pradhana/prakrti (sebagai unsur kebendaan).

Tattwa-tattwa itu mulai dari yang paling halus adalah buddhi, ahamkara, manas, panca buddhi indriya, panca karmendriya dan panca tan matra. Semua elemen ini membentuk badan manusia. Untuk mengembalikan badan ini ke asalnya dilakukan dengan melaksanakan Atma Wedana. Ada sejumlah istilah yang digunakan di sini antara lain Peroras, Memukur, Baligya, Ngluwer, dan sebagainya Dengan upacara ini unsur panca tan matra dan lain-lain kembali ke asalnya dan sehingga roh atau jiva atau atma tidak lagi terbelenggu oleh badan yang membuat roh tersebut terbelenggu, berkurang kecerdasannya dan mengalami kelahiran, kematian, suka duka dan penderitaan hidup.

Sedangkan antah karana atau roh sekarang membawa karma wesana atau bekas-bekas perbuatan (karma) semasih dia hidup di dunia dan perjalanan selanjutnya tergantung dari karma-nya. jika roh belum mampu menunggal dengan Siwa, maka pada saatnya akan lahir lagi ke dunia (reinkarnasi) untuk memperbaiki lagi kualitas kemakhlukannya agar mampu menunggal dengan Siwa. Oleh karena itu, peranan pengetahuan suci (vidya) yang akan bisa membakar semua belenggu (bandha) akan sangat penting di dalam rangka pendakian spiritual.

Atma Wedana dapat dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan pesaksi atau banten sanggar tawang. (1) Atma Wedana yang mepesaksi tutuan. Atma Wedana ini dikenal juga dengan istilah Sekah Kangsen. (2) Atma Wedana yang mepesaksi Sanggar Agung, Tapa Gana jenis ini terbagi menjadi dua jenis lagi, yaitu (a) Sekah Kurung, dan (b) Tumandang Mantri. (3) Atma Wedana mepesaksi Sanggar Tawang (Rong Tiga); terdiri atas dua jenis : (a) Baligia punggel, dan (b) Baligia Lajur. Dalam Siwa Purana Tattwa ada disebutkan Atma Wedana yang tergolong paling utama yaitu Ngluwer.

Athangi
Dalam rangkaian upacara Atma Wedana atau Penyekahan dilakukan pengutpetian, sthiti dan pemekas (pemralinaan) menurut Prembon Bebanten dan Siwa Yajna, Konsep ini adalah proses kehidupan yang berlaku universal : lahir, hidup, mati. Inilah sebuah Rta, hukum kosmis alam semesta. Siapa pun tidak lepas dari Rta ini. Hal ini nampak jelas pada puja stawa yang diuncarkan. Yang melakukan ini adalah yajamanu, yaitu pendeta pemuput yajna yang mempunyai kewenangan untuk itu dan diyakini mempunyai kompetensi untuk tugas ini. Yang menarik dicermati adalah upacara pemrelinaan oleh pendeta dilakukan dilakukan pada malam hari, yaitu tengah malam, pada hari tilem (bulan mati) menurut perhitungan subha deivasa yang disebut athangi.

Menurut ketentuan Wariga, upacara Pitra Yajna sangat bagus dilakukan pada sasih Kasa, Karo dan Katiga. Setelah upacara pemrelinaan, pada pagi hari (enjing) menjelang matahari terbit dilaksanakan upacara Nganyut ke laut (segara) atau sungai yang airnya menuju laut. Sekarang puspa lingga atau puspa sasira sebagai representasi roh yang sedang diupacarai Atma Wedana sudah hancur melalui api sekala dan niskala dalam bentuk abu (bhasma) dan disimpan di dalam bungkak nyuh gading (kelapa muda) yang di-kasturi sesuai dengan aturan upakara dan pelaksanaannya.

Tadi malamnya dalam upacara pemrelinaan yang dilakukan di hadapan peyadnyan upacara puspa lingga atau puspa sarira dibakar di atas tempat sende yang terbuat dari tanah liat dilanjutkan dengan upacara ngirag/nguyeg untuk melumerkan abu-abu puspa lingga tadi dengan menggunakan tebu dilakukan oleh anggota keluarga. Setelah benar-benar hancur abunya tadi dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading yang sudah disiapkan sebelumnya. Inilah yang akan dihanyutkan ke laut esok pagi harinya melalui pemujaan yajamana yang diselenggarakan di pantai atau tepi sungai. Di sini api yang digunakan membakar secara sekala adalah juga Siwa lingga dalam wujud kekuatan panas yang dapat menghanguskan puspa sarira.

Api sebagai lingga dapat dibaca di dalam kakawin Boma Kawya dimana Siwa dan Wisnu sama-sama mengadu kebolehan mencari ujung api dan ujung air. Siwa mencari ke atas; sementara Wisnu ke bawah. Siwa ke atas dalam wujud api. Api di sini dimaknai sebagai falus laki-laki dan perempuan namun mengalami proses evolusi ke arah yang lebih halus dan dekat dengan alam pemikiran Nusantara.

Dengan upacara ini unsur-unsur suksma sarira dari yang paling halus yaitu buddhi (intelek) hingga panca tan matra (gandha, rasa, rupa, sabda, sparsa) dikembalikan ke asalnya sehingga roh atau jiwa atma tidak lagi dibelenggu oleh badan tersebut. Belenggu artinya penderitaan (duhka), lepasnya belenggu artinya moksa (manunggal dengan Siwa). Selanjutnya roh membawa karma wasana sesuai dengan karma yang ia perbuat semasih hidup. (Bersambung)

Source: I.B Putu Suamba l Warta Hindu Dharma NO. 484 Mei 2007