Tampak Ing Paksi

Kitab Sarasamuccaya menguraikan sesuatu yang patut mendapat perenungan yang mendalam. Bagian akhir dari kitab yang merupakan intisari Mahabharata tersebut menyuratkan apa yang disebut sebagai "Jnana", atau kepradnyanan. Orang yang disebut majnana atau memiliki kepradnyanan adalah orang yang tidak terikat oleh keinginan dan kesedihan hatinya (tan raket ikang harsa lawan prihati ri manahnya). Pikiran seperti itu disebut pradnya. Kekuatan dari pradnya atau jnanabala atau kekuatan pengetahuan suci dinyatakan lebih utama dari kayabala atau kekuatan badan jasmani.

Oleh karena itu Sarasamusccaya menegaskan bahwa kedukaan dalam pikiran menimbulkan sakitnya badan, sebagaimana halnya besi yang dibakar atau dipanaskan, lalu dicemplungkan ke dalam air, maka panasnya itu mendatangkan panas kepada air. Oleh karena itu kedukaan dalam pikiran adalah dimusnahkan terlebih dahulu, dimusnahkan dengan kepradnyanan, seperti halnya api yang menyala sudah pasti akan padam oleh air. Jika telah musnah kedukaan dalam pikiran, maka lenyaplah pula sakitnya badan.

Disamping itu ditegaskan pula bahwa bukan karena usia tua orang disebut arif bijaksana, melainkan hanya memiliki kepradnyananlah, yang memahami tatwa yang disebut sebagai orang yang arif bijaksana. Sang kinahananing kaprajnanan ngaranira, tan alara yan panemu duhkha, tan agirang yan panemu sukha, tatan kataman krodha, mwang takut, prihati, langgeng mahning juga tuturnira, apan majnana, muni wi ngaraning majnana. (Orang yang memiliki kepradnyanan, tidak akan bersedih hati jika mengalami kesusahan, tidak akan bergirang hati jika mendapat kesenangan, tidak pula kerasukan nafsu marah dan rasa takut serta kesedihan hati, pikirannya tenang dan teguh, karena beliau memiliki kepradnyanan, orang seperti itu disebut maha arif bijaksana).

Disimpulkan bahwa kecemaran badan akan lenyap jika dilebur dengan latihan-latihan pikiran. Jika kotoran badan itu telah lenyap, karena telah dikuasai oleh pengetahuan sejati (samyagjnana) maka ia tidak akan lahir kembali. Sampai disini Bhagawan Byasa mendapat kesempatan menegaskan bahwa pikiran seorang yang telah mencapai pengetahuan sejati itu sangat sukar dibayangkan apalagi diwujudkan. Pikirannya bebas tak dapat dihalang-halangi, bagaikan jejak burung yang melayang layang diudara (kadyangganing tapaking manuk anglayang ring akasa) atau jejak ikan di dalam air (mwang ikan tan katon tapaknya ring wwai).

Demikianlah pikiran seorang arif bijaksana diumpamakan sebagai tapak ing paksi atau jejak burung di angkasa, tapak ing ikan atau jejak ikan di air. Sebuah kidung yang populer dibali juga menyebutnya sebagai tapak ing aksi atau jejak penglihatan.

Jejak burung di angkasa, jejak ikan di air, atau jejak penglihatan di mata adalah sesuatu yang ada, tetapi sungguh tak dapat diwujudkan. Begitu halus pikiran seseorang yang memiliki kepradnyanan tetapi juga begitu melekat dan menyusup. Orang-orang yang telah terbebas dari belenggu kesedihan, terbebas pula dari derita badannya adalah orang-orang yang pradnyan, orang-orang yang sering diumpamakan sebagai burung yang melayang layang, kuntul anglayang.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 535 JUli 2016