Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga Presiden Republik Indonesia berkali-kali melontarkan ucapan Tat Twam Asi. Hal itu disampaikan di panggung politik dalam rangka HUT ke-30 PDIP di Lapangan Mengwi Badung pada tanggal 12 Januari 2003. Ini peristiwa yang sangat menarik, seorang Presiden Republik Indonesia dengan penuh semangat melontarkan ungkapan penuh makna dalam agama Hindu tersebut.
Sejak terjadinya ledakan bom di Legian Kuta Bali pada bulan Oktober 2002 yang lalu, ungkapan tersebut tampak sering menghiasi media massa, ungkapan yang dilontarkan oleh para politisi serta para pekerja sosial. Makna yang diberikan kepada ungkapan tersebut adalah "Aku adalah engkau, atau engkau adalah aku", lebih sebagai ungkapan dalam tataran etik atau filsafat tingkah laku.
Sesungguhnya Tat Twam Asi mengandung makna yang begitu tinggi dan dalam, diatas tataran tersebut. Ungkapan tersebut lebih mengandung makna filsafat Ketuhanan atau Tattwa, atau Brahmawidya.
Candogya Upanisad
Ungkapan yang begitu populer tersebut sesungguhnya termuat di dalam Kitab Candogya Upanisad, salah satu kitab Upanisad yang terpenting. Ungkapan tersebut termuat dalam konteks tentang "meninggal" : sa ya eso' nima aitad atmyam idam sarvam, tat satyam, sa atma: tat tvam asi, svetaketo, iti. Artinya: Yang itu, yang adalah sari yang paling halus (akar dari semuanya), seluruh alam semesta ini menjadikannya sebagai atman-nya. Itulah Kebenaran. Itulah Atman. Itulah Kamu (Tat Twam Asi), Swetaketu.
Demikianlah teks yang menjadi konteks ungkapan Tat Twam Asi tersebut. Di sini ditegaskan bahwa Jiwa Jagat Raya adalah satu yang disebut sebagai Atman, yang juga menjadi jiwa manusia. Sebelumnya Candogya Upanisad menyuratkan : tasya kva mulam syad anyatra adbhyah, adbhih, saurnya, sungena tejo mulam anviccha, tejasa, saurnya, sungena san mulam anviccha; san mulsh, saurnya, imSh sarvsh sadayatanah, sat-pratisthsh, yathanu khalu, saurnya imSs tisro devatah purusam prapya trivrt trivrdekaikab havati, tad purastad eva bhavati, asya, saurnya, purusasya, prayato van manasi sampadyate, manah prane, pranas tejasi, tejah parasyam devatSyam. Artinya (... mengertilah bahwa tubuh ini adalah cabang yang telah tumbuh, sebab hal ini tidak mungkin tanpa akar). Dan apalagi yang mungkin sebagai akarnya selain daripada air?. Dengan air sebagai cabangnya, carilah panas sebagai akarnya; dengan panas anakku sebagai cabangnya, carilah Oknum sebagai akarnya. Semua makhluk ini anakku mempunyai akar mereka pada Oknum ini. Mereka memiliki Oknum sebagai tempat persemayaman mereka, Oknum sebagai penopangnya. Tetapi bagaimanakah sesungguhnya Anakku, setiap dari ketiga dewata ini ketika mencapai manusia, menjadi yang tiga seperti yang telah diceritrakan? Anakku, ketika seseorang meninggal, wicaranya menyatu dengan pikirannya, pikirannya pada nafasnya, nafasnya pada panas, dan panas pada Dewata Yang Maha Tinggi.
Ada hal penting yang ditegaskan di sini adalah bahwa apabila kita pergi dari hidup ini dengan fikiran menyatu dengan Yang Maha Tinggi, maka kita akan mencapai Yang Maha Tinggi, kalau tidak kita akan kembali kepada dunia kelahiran. Jelaslah bahwa Tat Twam Asi berkaitan dengan perjalanan akhir kehidupan manusia: asal dan tujuan kehidupan ini.
Jambala Upanisad memiliki kalimat yang patut dicatat di sini: tvam va ahatn asmi bhagavo devate aham va tvam asi (Aku adalah dikau, O Tuhan Yang Maha Agung, dan Dikau adalah Aku). Apa yang tersirat di sini memiliki makna yang sama dengan Tat Twam Asi. Di samping itu dalam Jaiminiya Upanisad ada disuratkan bahwa ketika yang meninggal mencapai pintu Matahari, pertanyaan diajukan: Siapakah dikau? bila dijawab dengan nama pribadi atau keluarga, maka yang bersangkutan akan terkena lagi hukum karma. Bila dijawab dengan: "Diriku adalah sinar dari-Mu, Aku datang kepada-Mu sinar surga". Lalu Prajapati menjawab: "Dikau adalah sama dengan Aku, Aku adalah sama dengan Dikau. Masuklah".
Darsana Bali
Dalam tulisan yang berjudul "Pengertian Jiwatma dan Paramatma" dalam buku Darsana Bali (1956), Prof. Dr. Ida Bagus Mantra ada menjelaskan: Jika jiwa sudah bersatu dengan Sang Hyang Widhi maka jiwa manusia mengalami perubahan dan memasuki kenyataan yang disebut di dalam Weda-Weda dengan istilah Sat Cit Ananda. Jika diterjemahkan maka berarti "Kebenaran, Kesadaran, Kebahagiaan". Kebenaran maksudnya ialah hanya satu yang benar yaitu Sang Hyang Widhi. Cit (sadar) bahwa jiwa waktu memasuki perubahan itu sadar akan sifatnya yang asal, yaitu suci nirmala. Dan Ananda (bahagia) adalah akibat dari persatuan dengan Sang Hyang Widhi yang memberi kebahagiaan tak terhingga. Jadi dengan singkat Sat Cit Ananda berarti Kesadaran dari Jiwa bahwa hanya ada satu Kebenaran dan jiwa sendiri adalah Suci, dan pertemuan ini adalah memberi kebahagiaan. Dan keadaan Kesadaran dari Jiwa akan sifatnya yang sebenarnya disebut dengan Aham Brahma Asmi, Tat Twam Asi, dan lain-lain.
Untuk menjelaskan hal ini Prof. Mantra menjadikan Kidung Suci karya Mpu Kanwa sebagai contoh. Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha termuat "Kidung Om Sembah" yang merupakan sembah Sang Arjuna kepada Siwa, sebuah Kidung yang sangat populer dalam masyarakat Hindu di Bali. Dalam Kidung ini disuratkan bahwa Hyang Widhi atau Bhatara Siwa berada di mana-mana, menjadi intisari dari kebenaran yang tertinggi, yang sungguh sukar untuk dapat dicapai. Beliau berada baik pada yang ada maupun pada yang tiada, baik besar maupun kecil, baik kotor maupun bersih. Beliau adalah pencipta, pelindung dan pengembali sekalian yang ada. Beliau menjadi sebabnya kelahiran, menjadi tujuan kehidupan. Beliau adalah jiwa dari yang ada dan tiada.
Ucapan dari Arjuna yang singkat ini menunjukkan bahwa Hyang Siwa adalah sumber, darimana datangnya dan kemana kembalinya sekalian yang ada di alam ini. Hyang Siwa berada di mana-mana adalah menjadi inti sarinya, yang sukar dapat diketahui atau dialami oleh indria kita.
Mpu Kanwa, pujangga yang hidup pada jaman Erlangga di Jawa Timur itu, sesungguhnya telah menguraikan intisari ajaran Upanisad. Dengan bahasa yang mudah dipahami beliau telah menyuratkan ajaran tersebut dalam bingkai keindahan sebuah karya sastra. Di sini kita masih ingin mengutip apa yang disuratkan di dalam Kena Upanisad yang memberi pengertian yang sama, yaitu tentang Kebenaran yang tertinggi. "Itu, yang tak dapat dikatakan dengan perkataan, tetapi yang menyebabkan adanya perkataan, mengetahui itu adalah Brahman. Itu yang tak dapat dimengerti dengan otak, tetapi dengan mana otak mengetahuinya, mengetahui itu adalah Brahman. Itu yang tak dapat dilihat dengan mata, tetapi dengan mana mata melihatnya, mengetahui Itu adalah Brahman. Itu yang tak dapat didengar dengan telinga, tetapi dengan mana telinga dapat mendengar, mengetahui Itu adalah Brahman. Itu yang tak dapat ditiup, tetapi dengan mana nafas dapat bekerja, mengetahui Itu adalah Brahman".
Jadi Tat Twam Asi yang merupakan salah satu ajaran Upanisad yang terpenting sesungguhnya mengandung makna tentang kemanunggalan Atman dan Paramaatman, sebuah kesadaran dasar yang harus dimiliki oleh umat Hindu dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Kita sangat berharap ajaran yang tertuang di dalam Upanisad tersebut pertama-tama hendaknya dipahami, sebelum memanfaatkan ungkapan tersebut dalam konteks yang lain.
Memang pemimpin bangsa ini seperti Bung Karno begitu tertarik kepada ungkapan Tat Twam Asi, dan melontarkannya dalam berbagai kesempatan berpidato dihadapan rakyatnya. Seperti halnya Bung Karno, sang putri Megawati Soekarnoputri dalam kesempatan berpidato di hadapan ribuan massa partai yang dipimpinnya pertama-tama mengingatkan supaya kita mempertahankan Pancasila yang selama ini telah menjadi perekat persatuan bangsa, selanjutnya ia mengingatkan kembali unsur persatuan yang telah ditanamkan oleh pendiri bangsa Indonesia, Bung Karno, dengan falsafah Tat Twam Asi. "Tat Twam Asi, Tat Twam Asi, Tat Twam Asi. Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku. Demikian Kebudayaan bangsa ini yaitu selalu dalam kebersamaan, selalu dalam kegotong royongan. Dan untuk itu, kami berterima kasih kepada masyarakat Bali yang telah mengalami kepriha-tinan (akibat bom di Kuta) tetapi tidak melakukan balas dendam apapun, "ujar Megawati.
Agaknya Bung Karno maupun Megawati benar-benar tertarik dengan ungkapan tersebut. Ketertarikan itu memang kita harapkan lebih lanjut dengan pendalaman dan penghayatan. Karena ajaran Tat Twam Asi (dalam bahasa asing diterjemahkan dengan istilah That Thou Art) memang bukan sebuah jargon politik ataupun sosial, tetapi adalah sebuah ajaran spiritual yang sangat penting, tentang kemanunggalan manusia dengan Sang Pencipta. Kemanunggalan tersebut adalah sebuah cita-cita yang ingin dicapai oleh umat Hindu, karena dalam kemanunggalan itu terdapat Kebenaran, Kesadaran dan Kebahagiaan Tertinggi.
Source: IBG. Agastia l Warta Hindu Dharma NO. 431 Januari 2003