Tata Upacara Tingkeban

Nilai-nilai kehidupan atau norma-norma kehidupan yang tumbuh di dalam masyarakat berguna untuk mencari keseimbangan dalam tatanan kehidupan. Nilai-nilai dan norma-norma itu dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, yang pada akhirnya menjadi adat-istiadat. Adat-istiadat diwujudkan dalam bentuk tata upacara. Tiap daerah memiliki adat-istiadat sendiri-sendiri sesuai dengan letak geografis. Tatanan hidup yang berkembang dan membentuk adat-istiadat adalah sistem nilai yang telah diperhitungkan oleh para ahli, sehingga mendekati kebenaran. Jika terjadi penyimpangan-penyimpangan tidaklah besar dan ini wajar. Sistem nilai dengan segala perhitungannya didasarkan atas keadaan alam, perbintangan, saat, agama dan falsafah hidup.

Berbagai upacara adat yang terdapat di dalam masyarakat Jawa pada umumnya dan masyarakat Jawa Hindu pada khususnya adalah merupakan pencerminan, tindakan dan perubahan telah diatur oleh tata nilai luhur. Tata nilai luhur tersebut diwariskan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi berikutnya. Perubahan-perubahan tata nilai menuju arah perbaikan sesuai dengan tuntutan zaman. Yang jelas adalah bahwa tata nilai yang dipancarkan melalui tata upacara adat merupakan manifestasi tata masyarakat Jawa yang serba hati-hati, dalam melaksanakan pekerjaan mendapatkan keselamatan baik lahir maupun batin.

Berbagai macam tata upacara adat yang terdapat di dalam masyarakat Jawa seperti:

- Tata upacara adat pada waktu wanita hamil
- Upacara tedak siten
- Upacara Ruwatan
- Konsep pendidikan remaja
- Tata cara membangun rumah dan memperbaiki rumah
- Tata cara perawatan orang yang meninggal dan lain sebagainya.

Setiap tata upacara adat di atas mempunyai makna sendiri-sendiri dan sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyaraka Jawa Hindu. Dalam pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing masyarakat. Di samping adat-istiadat dan tata upacaranya, juga tersaji pendidikan budi pekerti, pengetahuan mengenal watak manusia, jenis manusia serta aturan-aturannya. Kesemuanya itu adalah merupakan warisan hasil budi luhur nenek moyang kita yang perlu kita jaga dan lestarikan.

Di dalam menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang kita adalah dengan salah satu cara yaitu dengan cara penelitian, dalam penelitian ini peneliti tidak akan mengupas satu persatu upacara yang ada diatas, melainkan akan meneliti salah satu dari tata upacara yang ada pada masyarakat Jawa umumnya dan khususnya masyarakat Jawa. Adapun tata upacara yang peneliti akan uraiakan adalah mengenai tata upacara adat pada waktu wanita hamil tujuh (7) bulan.

Pelaksanaan Tata Upacara Tingkeban

Upacara Tingkeban disebut juga Mintoni, berasal dari kata pitu yang artinya tujuh. Upacara tingkeban ini dilaksanakan apabila usia kehamilan seseorang berusia tujuh bulan pada kehamilan yang pertama kalinya. Upacara tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa. Hal ini memiliki makna bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa, akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam rahim sang Ibu. Selama hamil banyak sekali hal-hal yang bersifat baik yang harus dijalankan oleh sang ibu dan berusaha menghindari hal-hal yang buruk, dengan maksud agar anak yang dilahirkan nanti menjadi anak yang baik.

Dalam upacara tersebut sang ibu yang sedang hamil tujuh bulan di mandikan dengan air kembang setaman serta disertai doa-doa khusus untuk itu. Doa tersebut bertujuan memohon kepada Tuhan agar selalu memberikan wara nugraha-Nya sehingga bayi yang akan dilahirkan itu selamat tanpa gangguan apa pun. Adapun cara pelaksanaan upacara Siraman Tingkeban adalah sebagai berikut:

1. Siraman dilakukan oleh para Vasi atau Sesepuh (orang-orang yang dituakan) sebanyak tujuh orang, termasuk ayah dan ibu wanita hamil yang sedang di tingkebi. Sebaiknya yang memandikan adalah orang tua yang mempunyai cucu.

2. Setelah upacara siraman selesai, disusul memasukkan telur ayam kampung kedalam kain (sarung) calon sang ibu oleh sang suami melalui perut sampai pecah. Hal ini sebagai simbol dan mengharapkan semoga bayi akan lahir dengan mudah tanpa aral melintang. Biasanya bila wanita baru pertama kali melahirkan banyak mengalami kesukaran. Oleh karena itu perlu dipanjatkan doa selamat terutama waktu mengandung tujuh bulan, dengan tujuan untuk keselamatan ibu dan anak yang dikandungnya sampai bayi itu lahir.

3. Setelah selesai upacara siraman disusul dengan berganti pakaian sebanyak tujuh kali disertai kain putih. Kain putih tersebut sebagai dasar pakaian pertama yang melambangkan bahwa bayi yang akan dilahirkan adalah suci, dan mendapatkan berkah dari Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.

4. Setelah calon ibu selesai mengenakan kain sebanyak tujuh kali secara berganti, baru dilaksanakan pemutusan lawe yang dilingkarkan di perut calon ibu, dilakukan oleh calon ayah dengan maksud agar bayi yang dikandung akan lahir dengan mudah.

5. Setelah selesai putus lawe, maka calon nenek dari pihak calon ibu," menggendong kelapa gading dengan ditemani oleh ibu besan. Sebelumnya kelapa-kelapa gading itu "diteroboskan dari atas ke dalam kain yang dipakai calon ibu lewat perut terus kebawah, diterima (ditampani) oleh calon nenek. Makna dari upacara ini agar kelak bayi lalv dengan mudah tanpa kesulitan. Calon ayah memecah kelapa gading yang telah digambari Kamajaya dan Ratih atau Harjuna dan Wara Subadra atau Srikandi. Kedua kelapa gading tersebut dalam posisi dibalik agar sang calon ayah tidak dapat melihat gambar tersebut. Apabila kepala gading itu yang dipecahkan oleh calon sang ayah bergambar Kamajaya, maka bayi akan lahir laki-laki atau sebaliknya bila bergambar Dewi Ratih maka bayi yang akan lahir perempuan. (Hal ini hanya sebagai pengharapan saja, belum merupakan kesungguhan). Namun bila kita memohon penuh dengan keyakinan maka segala sesuatunya akan terkabul.

6. Setelah upacara selesai, disusul dengan memilih nasi kuning yang terletak di dalam takir sang suami. Setelah itu dilanjutkan upacara jual "Dawet? dan "Rujak". Penjualan dawet dan rujak ini dibayar dengan uang logam tiruan yang terbuat dari pecahan genteng (Kreweng) yang dibentuk bulat, seolah-olah seperti uang logam.  Hasil penjualan dikumpulkan dan dimasukan ke dalam kuali yang terbuat dari tanah liat. Kuali yang berisi uang logam Kreweng   tersebut   dipecahkan didepan pintu. Makna dari upacara ini adalah agar kelak anak yang dilahirkan banyak mendapat rejeki, dapat untuk menghidupi keluarganya serta agar banyak berdana punia.

7. Urituk upacara Tingkeban biasanya disediakan hidangan-hidangan tanda ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Hyang Widi Wasa. Macam-macam selamatan yang diperlukan:

a. Tumpeng Kuat
Makna dari tumpeng kuat ini adalah agar bayi yang akan dilahirkan nanti sehat dan kuat:
Bahan yang dipergunakan adalah beras seperti yang digunakan dalam membuat tumpeng biasanya. Cara membuatnya:

- beras dimasak di dalam panci dengan terlebih dahulu dikaroni
- setelah itu dimasukan kedalam kukusan yang telah siap di dandang.
- buatlah satu yang besar dan enam lainnya yang kecil-kecil
- 6 tumpeng kecil-kecil itu untuk mengelilingi satu tumpeng yang besar
- setelah siap, diletakkan diatas nyiru baru dengan disertai urab-uraban yang bahannya seperti membuat urab-uraban biasa, hanya tidak perlu memakai cabai.
- Selain urab-uraban perlu dihias dengan telur ayam rebus kira-kira 35 butir, tahu, tempe, ikan asing goreng, cabe mentah yang dibuat hiasan dan terong mentah terkupas tetapi kulitnya masih menempai.

b. Jajan Pasar
Karena syaratnya harus dibeli di pasar, maka dalam hal ini tidak ada kesulitan. Jajan pasar yang dibeli misalnya kue apem, kue cucur, kue mangkok, kue bolu, kue lapis, dan buah-buahan seperti: nangka, jeruk, bengkuang, mentimum, pisang, kacang tanah yang direbus dan lain, sebagainya. Kesemuanya ini dihidangkan dengan cara yang baik, teratur dan kelihatan rapi.

c. Keleman
Keleman yaitu semacam ubi-ubian yang perlu disediakan yaitu 7 (Tujuh) macam misalnya : ubi jalar, ketela, gembili, kentang, wortel, ganyong, dan erut. Macam-macam keleman ini dihidangkan dalam satu tempat misalnya nyiru.

d. Rujakan
Rujakan biasanya terdiri dari bermacam-macam buah-buahan seperti: jeruk, mentimun, belimbing, pisang biji/pisang batu, dan lain sebagainya. Kesemuanya ini dihidangkan sebaik-baiknya dengan maksud agar rujakan tersebut terasa sedap dan enak. Hal ini mempunyai maksud agar anak yang akan dilahirkan menyenangkan keluarga.

e. Dawet
Untuk mempermudah, dawet dapat dibeli di pasar dan tinggal memasak adonannya agar dawet itu menjadi enak dan menyegarkan. Hal ini juga dapat diberi es batu.

f. Sesajen Medikingan
Sesajen ini dibuat untuk kelahiran anak pertama dan seterusnya. Macam-macamnya:

- nasi kuning berbentuk kerucut
- nasi loyan yaitu nasi kuning yang direndam didalam air, kemudian dikukus kembali dan diberi kelapa yang telah diparut.
- Enten-enten yaitu kelapa yang telah diparut dicampur dengan gula kelapa dimasak sampai kering,
- Bubur procot yaitu tepung beras, santan secukupnya, guna kelapa dimasak secara utuh dimasukan di dalam priuk untuk bersama-sama dimasak.

Didalam upacara tingkeban harus ada 7 (tujuh) masam bubur procot ini.

Pelaksanaan Tata Upacara Tingkeban Secara Kronologis

Secara kronologis pelaksanaan Tata Upacara Tingkeban adalah sebagai berikut:

a. Hari Pelaksanaan
Hari pelaksanaan upacara tingkeban biasanya dicari atau dipilih hari Rabu atau Sabtu dan tanggal 14/15 menurut tanggal bulan Jawa. Hal ini menurut kepercayaan agar bayi yang akan dilahirkan memiliki cahaya yang bersinar, dan menjadi anak yang cerdas.

b. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan yang paling baik adalah antara pukul 9.00 sampai 11.00. calon ibu supaya mandi dan cuci rambut yang bersih. Hal ini pencerminan kemauan yang suci dan bersih. Kira-kira pukul 15.00 sampai 16.00 upacara tingkeban dapat dimulai. Menurut kepercayaan pada jam-jam itu para bidadari sedang mandi.

c. Pelaksanaan yang Memandikan Yang memandikan calon ibu adalah para ibu-ibu yang jumlahnya harus tujuh orang yang terdiri dari para sesepuh. Juga ayah, ibu, nenek, ayah dan ibu mertua dan keluarga terdekat. Upacara dipimpin oleh seorang ibu yang telah berpengalaman (sayang sekarang sudah langka ibu-ibu yang berpengalaman; Sebaiknya tiga hari sebelum pelaksanaan, keluarga pihak calon ibu tersebut menghubungi orang-orang tua para sesepuh yang sekiranya bersedia ikut memandikan.

d. Waktu Undangan
Undangan para tamu sebaiknya dicantumkan pukul 15.30 agar para tamu dan pihak keluarga serta tetangga lengkap hadir pukul 16.00.

e. Perlengkapan yang Diperlukan Perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah:
Meja ditutup dengan kain putih bersih. Di atasnya lagi ditutup dengan bunga talak, kain sindur, kain lurik, yuyu sekandang, meyang mekar atau lentrek, daun dadap srep, daun kluwih, daun alang-alang Bahan-bahan tersebut untuk lambaran nyirami.

f. Perlengkapan lainnya

1. Bokor, tempurung, sekar setaman, boreh dan kendi. Bokor diisi dengan air kembang setaman untuk upacara siraman. Batok (tempurung) dipergunakan untuk gayung siraman (ciduk).
Boreh, dipergunakan untuk menggosok badan sebagai ganti sabunnya. Kendi dipergunakan untuk memandikan paling akhir. Siraman pertama dilakukan oleh ayah dari calon ibu yang kemudian disusul oleh para ibu pinisepuh dan yang terakhir adalah ibu yang memimpin upacara tersebut, dengan air yang telah disiapkan di dalam kendi. Setelah itu kendi dipecah. Perlu pula disediakan handuk kecil dua lembar yang akan dipergunakan satu untuk menyeka setelah kosokan dan satunya lagi setelah mandi.

2. Dua setengah meter kain putih yang dipergunakan untuk dikenakan setelah selesai mengeringkan badan dan rambut.
Cara mengenakan seperti mengenakan kain biasa hanya agak longgar.

3. Sebutir telur ayam kampung dibung-kus plastik, cengkir kelapa gading dua buah dan baki atau nampan untuk tempatnya. Cengkir gading tersebut masing-masing digambari dengan Kamajaya, Dewi Ratih atau Arjuna dan Dewi Wara Subadra/ Srikandi. Seorang ibu yang memimpin upacara tersebut melepaskan telur ayam kampung tadi dari dalam sarung putih, kemudian menyusul kedua cengkir gading tersebut dengan cara melepas perlahan-lahan dan diterima dari bawah dan berdoa, "Lahir putra juga mau lahir putri juga mau asal ibu dan bayi selamat lepas dari mara bahaya dan yang pokok lancar.

Untuk memasukan telur dan cengkir gading ada yang dilakukan oleh sang suami. Dalam hal ini terserah menurut adat setempat. Setelah itu cengkir gading itu digendong oleh salah seorang ibu yang kemudian di bawake tempat tidur untuk ditidurkan sampai upacara selesai. Cengkir tersebut boleh dipecah. Para ibu yang ingin mempunyai anak dipersilakan untuk mencicipi. Menurut kepercayaan akan mudah tercapai cita-citanya.

4. Busana aneka ragam, dua meter lawe, baju dalam dan baki/nampan untuk tempat, kebaya 7 potong, kain batik tujuh lembar dan diantaranya ada yang bercorak truntum, stagen baju dalam. Kesemuanya itu diatata dengan rapi. Setelah upacara glundhungan cengkir gading, maka kain yang bawah dapat dilepas, kain putih dibelitkan seperti memakai kain biasa yang diikat dengar benang lawe setelah siap memakai kain dan baju dengan cara hanya ditempelkan atau diletakkan sementara yang kemudian disusul dengan pertanyaan-pertanyaan para ibu serta saran-sarannya : "Belum pantas". Bila tidalc atau belum pantas maka kain dan baju tetap dilepas, begitu seterusnya sampai pada saatnya kain dan baju yang dipakai akhir yaitu kain truntum yang ditempelkan dan para ibu berseru, "Nah, yang itu cocok sekali". Setelah itu calon ibu digandeng oleh ibu pemimpin upacara ke kamar untuk dirias, baik calon ibu maupun calon ayah, dengan memakai kain truntum, besekap dan udeng/blangkon. Dilarang memakai perhiasan dan rambut terurai,

g. Selamatan atau Sesaji Tingkeban Untuk selamatan/sesaji tingkeban yang perlu disiapkan antara lain :

1. Tumpeng robyong dengan kuluban, telur ayam rebus, dan ikan asin yang digoreng.
2. Ayam bekakah 1 pasang (ayam ingkung).
3. Bubur putih satu piring
4. Bubur sengkala satu piring
5. Bubur merah satu piring
6. Penyon atau plered satu piring
7. Ketupat dan lepet hanya sebagai syarat saja
8. Bermacam buah-buahan
9. Jajan pasar dan pala pendem (ubi-ubian)
10. Arang-arang kembang satu gelas
11. Dawet ayu

Pada waktu pengantin tingkeban dirias di kamar, minuman dan kue-kue sudah dapat disajikan dan begitu pula selamatan tingkeban, dan sebelum itu dibacakan doa untuk keselamatan semua keluarga. Setelah menikmati tumpeng dapat minum dawet ayu yang telah disediakan, sebagai penutup.

Keterangan

1. Nasi Kuning ditaburi telur dadar, teri goreng rempah dan ayam goreng
2. Takir plonthong yaitu tempat yang terbuat dari daun pisang yang dihias dengan sedikit janur dan dipergunakan untuk tempat rujak manis (boleh dengan plastik)
3. Ketan Procot yaitu ketan yang dikaru santen dan setelah masak dibungkus dengan daun memanjang yang tidak boleh dipotong dan tanpa tusuk atau biting.
4. Ayam bekakah, pilih dua ekor ayam kampung untuk dibuat ayam panggang. Yang satu dipotong-potong agar mudah dibagi-bagikan pada waktu selamatan dan yang satu disediakan untuk sang calon bapak dan ibu setelah selesai upacara. Setelah para tamu pulang, maka ayam bekakah tersebut dinikmati oleh pengantin tingkep beserta keluarga terdekat dan minum dengan air dari cangkir gading dan buceng. Buceng ialah nasi tumpeng yang paling atas (pucuknya).
5. Penyon atau pleret yaitu jladren (adonan kue) seperti bila kita membuat nagasari. Caranya membuat : setengah kilogram tepung, kemudian dibagi menjadi lima bagian dan setiap bagian diberi warna; merah, kuning, hijau, putih, dan hitam. Setelah itu dibungkus dan dikukus. Setelah dingin diiris-iris setengah senti meter dihidangkan dengan parutan kelapa. 6. Arang-arang kembang yaitu karak dari beras ketan yang digoreng sangan (digongseng) kemudian diberi gula kelapa panas-panas satu gelas.

Source: Suyono Gunawan Sindu Nata l Warta Hindu Dharma NO. 467 Desember 2005