Sebuah teori dalam buku The History of Religion menyatakan bahwa manusia pada awalnya begitu beradap dan manusiawi. Lalu, karena perbuatan dosa dan pembusukan dari kondisi awal, keadaan biadab muncul. Pada prinsipnya, telah terjadi degenerasi dari zaman ke zaman. Dengan kata lain, manusia zaman kali kuna begitu mulia, namun seiring perjalanan waktu, kemulyaan itu perlahan memudar.
Teori ini sangat bersesuain dengan doktrin mengenai Caturyuga. Di zaman Satyayuga, manusia dikatakan memiliki moralitas mulia, jujur, tanpa cela. Inilah zaman 'telanjang'. Agama tanpa agama. Agama adalah dharma; manusia dan mahluk lainnya paham dan melakoni dharma masing-masing. Ibarat lembu yang masih berkaki empat, ia berdiri kokoh simbang, berjalan maupun berdiri dengan sempurna.
Zaman Tretayuga setelah itu. Sang lembu mulai kehilangan satu kaki. Tentu saja, lembu itu sudah tidak mampu berlari, berjalan pun sudah pincang. Begitu pula dengan moralitas, kejujuran manusia mulai dikotori oleh kebohongan dan cela-cela mulai tampak. Alam mulai tidak seimbang sehingga membutuhkan tuntunan agar mampu berjalan. Figur-figur penuntun mulai bermunculan, atau boleh jadi hadir melalui refleksi manusia zaman itu.
Figur penuntun itu perlahan disebut Tuhan. Dari situlah muncul kepercayaan-kepercayaan atau agama. Tuhan purba umat manusia adalah ibu, dewi, Tuhan feminim. Seperti manusia yang baru lahir, bayi, pasti sosok ibu yang pertama-tama dibutuhkan dan dipercaya. Ibu menyediakan kebutuhan utama, susu yang kandungan utamanya adalah air (seperti Tuhan feminim yang semua berstana di air). Alam dan bumi dipandang sebagai ibu karena menyediakan segala kebutuhan dasar hidup segala mahluk dan manusia bayi itu, tidak hanya air, tapi kolam susu.
Perlahan namun pasti, zaman pun berganti ke Dwaparayuga. Sang lembu kembali kehilangan satu lagi kakinya sehingga hanya dua yang tersisa dan susu harus diperas dari lembu itu. Berdiri pun ia sudah tak mampu, apalagi berjalan, maka ia harus digendong atau dibopong. Yang mampu menggendong sekaligus memeras susu adalah sosok yang kuat (secara fisik), seperti Krishna. Sosok yang kuat fisik itu pasti laki-laki. Ialah Tuhan maskulin dengan segala sifat mahaNya, pengada maupun peniada segala yang ada. Ia begitu perkasa, absolut sekaligus menakutkan, maka harus dihormati dan dipuja. Segala tatanan dibuat agar Tuhan maskulin tidak murka lalu menghancurkan dunia berserta isinya. Segala tontonan harus dipersembahkan. Ritual-ritual harus digelar untuk memuaskanNya. Tuhan menikmati segala persembahan yang dihaturkan. Masyarakat yang mampu melaksanakan ritual atau tontonan akan diberi anugerah kesehatan, keselamatan, dan dihormati sesamanya.
Walaupun dharma telah ditegakkan dan ritual-ritual telah digelar pada zaman Dwaparayuga, seperti dikisahkan dalam epos Mahabharata, pun zaman tidak unrung berganti ke Kaliyuga. Zaman ini ditandai dengan meninggalnya sosok Krishna (dapat dibaca meninggalkan kebenaran, Tuhan). Kaki sang lembu hanya tinggal satu. Ia lalu memilih tidur dengan selimut agamanya. Bahkan, mungkin kehilangan satu kaki lagi pun ia sepertinya tidak keberatan sama sekali.
Doktrin Caturyuga di atas bersebrangan sekaligus bersesuaian dengan teori evolusi Darwin. Bersebrangan karena menusia dikatakan berkembang dari biadab menjadi beradab; berevolusi dari primata (dengan pikiran instingtif) menjadi manusia modern (dengan pikiran rasional). Sedangkan bersesuaian karena fisik menusia berkembang dari berdiri dengan empat kaki (semasih primata) dan telanjang sampai berdiri dengan dua kaki dengan balut 'pakaian' yang semakin tebal. Bahkan dengan suatu kakipun 'nengkleng' tidak masalah.
Kaliyuga sepertinya merupakan zaman manusia mengalami kegamangan makna justru karena rasionya. Kebenaran begitu jauh di antah berantah. Yang ada hanyalah klaim-klaim kebenaran. Klaim-klaim kebenaran itulah agama zaman Kali. Kebenaran menjadi tontonan dan kejujuran digugat karena sudah tak lazim lagi. Jika ingin melenggang, maka harus bertopeng. Inilah agama panggung. Siapa yang mampu menguasai panggung dan beratraksi paling hebat dengan 'satu kaki' atau menggelar ritual paling ekstravagansa, ialah yang dielu-elukan paling beragama.
Bukankah agama tidak hanya sebatas tontonan? Ia juga adalah tuntunan dan tatanan. Tuntunan adalah tattwa; tatanan adalah susila, dan tontonan adalah acara. Ketiganya adalah Triniti. Dalam ranah sosial ketiganya harus berjalan berbarengan secara horizontal. Namun, dalam ranah individu jika pengetahuan sudah memadai, hubungan ketinganya juga dapat dipahami berhubungan secara vertikal: tangga acara harus dilewati untuk tataran susila, begitu juga susila adalah landasan menuju tangga tattwa.
Om Santih Om....
Oleh: W.A. SindhuGitananda
Source: Majalah Wartam, Edisi 26, April 2017