Namutra hi sahayartham pita. mata ca tisthatah, na putradara na jnyatir dhamas tisthati kewalah
(Manawa Dharmasastra IV.239).
Maksudnya: Teman kita di dunia niskala (Para Loka) bukanlah ayah, tidak juga ibu, tidak istri/suami, bukan pula anak-anak, bukan pula sanak keluarga. Hanya kebajikan spirituallah yang akan menemani di Niskala Loka.
Yang dimaksud mati di dunia ini sesungguhnya hanyalah pindah alamat. Kalau manusia mati di dunia sekala ini, maka ia akan hidup di dunia niskala atau berada di Para Loka. Hidup di dunia sekala ini tidak akan berlangsung dengan benar dan baik kalau tidak ada yang menemani untuk saling melayani berdasarkan ketulusikhlasan atau berdasarkan yadnya. Teman kita hidup di dunia sekala ini yang pertama-tama adalah keluarga kita. Seperti ibu, ayah, suami/istri, anak-anak, cucu dan seterusnya. Ada juga yang lain seperti keluarga dekat, apa itu kakek nenek, paman, sepupu maupun ipar. Ada juga yang kita ajak hidup rekan sejawat atau seprofesi di tempat kerja, ada juga rekan sehobi, rekan sel-ingkungan dalam pemukiman dan seterusnya.
Di dunia sekala kita akan hidup bahagia apabila kita berhasil hidup bersinergi secara benar, baik, tepat dan wajar dengan mereka semuanya itu. Di samping itu, di dunia sekala manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan alam yang lestari atau dalam Sastra Hindu disebut Bhuta Hita. Karena Panca Maha Bhuta seperti pertiwi, apah, bayu, teja dan akasa sangat menentukan kehidupan baik dan buruknya semua makhluk hidup di bumi ini. Eksistensi Panca Maha Bhuta itu sesuai dengan hukum Rta dan manusia dinamika hidupnya sesuai dengan Dharma seperti dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VII. 14 kehidupan di bumi ini akan menjadi harmonis, dinamis dan baik semua.
Tetapi kalau keberadaan unsur-unsur Panca Maha Bhuta itu tidak eksis sesuai dengan hukum Rta apalagi dinamika hidup manusia tidak sesuai dengan Dharma maka kehidupan di dunia ini akan menjadi sengsara. Karena itu untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera dan bahagia di dunia ini dinamika hidup harus sesuai dengan Rta dan Dharma norma hidup ciptaan Tuhan. Asihlah pada alam lingkungan agar alam senantiasa dinamikanya sesuai dengan Rta. Berpunialah atau mengabdilah pada sesama manusia agar senantiasa dinamika hidupnya sesuai dengan Dharma. Itulah sesungguhnya wujud bhakti manusia pada Tuhan.
Dewasa ini, keberadaan alam lingkungan sudah semakin memprihatinkan. Sungai dan sumber-sumber air sudah semakin tercemar. Keadaan manusia secara individu maupun dalam kebersamaanya semakin bermasalah. Dinamika kehidupan beragama sudah sangat marak. Demikian berbagai pihak sesuai dengan kemampuan masing-masing sudah sangat banyak melakukan berbagai kegiatan yang bertemakan cinta lingkungan dan cinta sesama. Tetapi persoalan masih menumpuk yang menyangkut pelestarian alam dan kehidupan manusia. Prof. Dr. Emil Salim menyatakan terjadinya sepuluh jenis kerusakan di kulit bumi ini karena bergesernya orientasi manusia dari need ke want artinya dari hidup berdasarkan kebutuhan bergeser menjadi hidup berdasarkan keinginan. Pergeseran itulah yang menyebabkan hidup manusia dewasa ini umumnya amat konsumtif.
Agama, ilmu dan seni belum banyak berhasil meredam kehidupan yang konsumtif dan hedonis itu. Terbukti di Indonesia penjara masih penuh bahkan kekurangan kamar penampungan. Demikian juga rumah sakit umumnya selalu penuh bahkan banyak yang kekurangan kamar. Kalau agama, ilmu dan seni dapat mengarahkan hidup, mampu memberi keringanan hidup dan menghaluskan hidup tentu moral manusia akan semakin luhur. Mental manusia akan semakin tangguh, tak mudah tergoda menghadapi tantangan hidup. Demikian juga seni mampu menghaluskan dan melembutkan sikap hidup. Kalau agama, ilmu dan seni dapat berfungsi secara proposional menata kehidupan manusia, maka orang jahat pun berhasil diredam. Manusia penghuni bumi inipun akan semakin sehat secara lahiriah dan rohaniah.
Kalau manusia mampu meredam kerusakan alam dan mampu memajukan kehidupan itulah Dharma atau kebajikan spiritual. Prilaku memelihara kelestarian alam dan kehidupan umat manusia dengan baik agar Rta dan Dharma selalu menjadi tuntunan memelihara alam lingkungan dan kesejahtraan umat manusia. Prilaku mulia itulah yang akan menemani hidup kita di Para Loka atau alam niskala. Karena itu selama di dunia ini abdikanlah diri kita pada upaya pelestarian alam dan kehidupan sesama.
Perilaku Dharma Sraddha/Bhakti pada Tuhan itullah yang akan menemani hidup kita di alam niski Prilaku berdasarkan Dharma nampaknya semakin ditingalkan oleh sementara orang. Seperti terjadinya kebakaran hutan di Indonesia setiap tahun. Kebakaran itu bukan karena bencana alam tetapi sudah banyak terbukti disengaja oleh sementara oknum yang bertujuan mendapat keuntung dengan mengorbankan nasib sesama. Ini artinya prilaku yang demikian itu menurut ajaran Hindu sangat dosa. Prilaku yang demikian itu tentu tidak akan dapat menemani yang bersangkutan sampai ke alam niskala. Bahkan akan dapat mengantarkan yang bersangkutan menuju ke neraka.
Di Bali, banyak penduduk mati digigit anjing rabies jumlah orang mati sia-sia itu tidak menjadi keprihatinan banyak pihak yang tetap membiarkan anjingnya liar tanpa diikat atau dikandangkan. Apalagi banyak anjing liar di setiap lingkungan di Bali tidak diperhatikan oleh sementara pemimpin di lingkungan tersebut. Di Bali terjadi lansia miskin telantar sampai puluhan ribu, berbagai pihak tidak peduli. Berbagai statistik buruk yang ada tidak menjadi perhatian berbagai pihak. Sesungguhnya, banyak sekali ada peluang bagi setiap orang untuk berbuat Dharma sebagai bhakti pada Tuhan dan kelak prilaku tersebut akan menjadi teman hidup kita di alam niskala menuju surga. Hal tersebut sampai terjadi besar kemungkinannya karena masih banyak pihak yang tidak paham akan ajaran Agama Hindu yang dianutnya.
Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Umanis, 8 November 2015