Agama dalam Praksis Budaya

Agama secara normatif terlalu jauh dari hasrat untuk melakukan penekanan-penekanan, baik inter maupun antarumat beragama karena selain mengutamakan religi agama juga mengajarkan etiket dan manganjurkan moralitas. Ini menunjukkan bahwa agama adalah sumber nilai dan norma moral penting dalam berbagai praktik kehidupan manusia. Oleh karena itu di Indonesia kebebasan dalam keber-agamaan sungguh-sungguh dijamin oleh undang-undang, bahkan umat beragama diberikan kebebasan dalam menjalankan berbagai praktik agama.

Akan tetapi fenomena keberagamaan belakangan ini menunjukkan adanya kecenderungan semakin menajamnya persoalan-persoalan keagamaan khususnya menyangkut tekanan-tekanan yang dialami oleh agama-agama tradisional dari kelompok agama mainstream. Padahal agama tradisional telah terbukti memainkan peranan penting bagi kehidupan manusia sejak berabad-abad lalu. Agama tradisional telah dijadikan pedoman tingkah laku dalam mewujudkan kesadaran kolektif kelompok masyarakat dan dengannya keteraturan dan keseimbangan sistem dan struktur masyarakat dapat dipertahankan.

Pertanyaannya, mengapakah terjadi hal seperti ini di negeri yang konon sangat religius? Apakah sebenarnya fungsi agama dalam praksis budaya? Permasalahan tersebut akan menjadi topik pembahasan dalam tulisan ini dengan pendekatan sosiologis. Dalam pendekatan ini diasumsikan bahwa agama selalu dikontekstualisasikan oleh penganutnya dengan kebudayaan dalang berbagai praktik sosial. Dengan demikia agama diposisikan dalam kedudukannya sebagai agama masyarakat.

Agama dan Persoalan Kemanusiaan

Agama adalah keyakinan yang bersumber pada ajaran-ajaran suci yang diwahyukan Tuhan untuk memberikan tuntunan bagi manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia sehingga mampu mencapai kebahagiaan jasmani/duniawi dan kebahagiaan rohani/surgawi. Tujuan hidup tersebut menjadi penting untuk diketahui dan dipahami secara seksama sebab ia akan menjadi landasan utama umat manusia dalam berbagai aktivitasnya. Mengapakah harus berangkat dari landasan agama? Agama dalam bentuk apapun selalu muncul sebagai kebutuhan ideal umat manusia. Oleh karena itu peranan agama sangat menentukan dalam setiap kehidupan, dan tanpa agama manusia tidak akan hidup sempurna.

Peranan agama menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia karena agama terkait dengan kebudayaan dalam masyarakat sehingga agama dan masyarakat saling mempengaruhi. Ini berarti ide tentang kesempurnaan hidup sangat tergantung kepada agama karena ajarannya yang diwahyukan oleh Tuhan haruslah dipercaya sedemikian rupa. Mengingat kebenaran agama yang adalah kebenaran wahyu sehingga di dalamnva tidak dibenarkan adanya dialog tentang keyakinan benar, tetapi kepercavaan (religious).

Agama berisi ajaran-ajaran tentang kebenaran yang tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat (setelah mati). Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan masyarakat bersangkutan, dan menjadi pendorong atau penggerak serta pengontrol dari tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya.

Dalam hal ini agama sebagai sumber moral tidaklah mungkin mengandung kesalahan-kesalahan ataupun keburukan-keburukan yang dapat menyebabkan manusia (penganutnya) bertindak ke arah yang kontra produktif terhadap kesempurnaan hidupnya. Dengannya agama menjadi pedoman bagi seluruh nilai kesempuranaan hidup yang layak diperebutkan dan perjuangkan dalam segala lini kehidupan karena hanya dengan demikian agama benar-benar menjadi milik sebuah masyarakat. Ini sebabnya agama benar-benar dapat hidup dalam "setiap hati masyarakat sebagai pembakar semangat sosial dan pewarna bagi keindahan kebudayaan suatu masyarakat" yang layak disebut sebagai masyarakat beradab.

Akan tetapi ketika agama mengaktualisasi dalam kehidupan para pemeluknya maka keberagamaan terintegrasi ke dalam sistem nilai sosial budaya, dan wujud kebudayaan fisik yang kemudian bersentuhan melalui proses sosial dengan elemen-elemen sosial budaya lainnya. Secara sosiologis agama dalam realitas kehidupan akan bersentuhan pula dengan pemenuhan kebutuhan hidup manusia, baik yang bersifat fisik-biologis, sosial, ekonomi, dan politik, maupun kebutuhan-kebutuhan integratif yang menyangkut hal-hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu keinginan untuk hidup beradab, bermoral, tenteram, dan damai.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keberagamaan itu saling terkait antara hal-hal yang bersifat normatif dengan dimensi kehidupan yang bersifat praksis aktual, baik pada level individual maupun kolektif. Agama dalam hal ini memiliki posisi sentral terutama berkaitan dengan pembentukan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang dalam praktiknya tidak jarang ditemukan saling berbenturan antara yang satu dengan yang lain. Agama diharapkan mampu menjadi pendamai dalam paradoksal kehidupan nilai dan norma dalam tataran yang paling sublim karena selain agama manusia tidak lagi memiliki keyakinan tempat menyandarkan nilai kehidupan yang terakhir.

Dengan demikian keberagamaan bukanlah keterpisahan secara total antara sistem gagasan berupa ide-ide dan praktiknya dalam dunia empiris berupa pengalaman-pengalaman. Melainkan antara keduanya merupakan kesatuan ide dan praktik dalam bentuk pengabdian diri secara terus-menerus yang mengantarkan penganutnya kepada ketenangan dan kedamaian (hati). Mengingat fenomena keagamaan bukan semata-mata tentang ide yang normatif, tetapi juga menyangkut tindakan keagamaan dalam konteks sosial budaya. Malahan agama memperoleh arti dan maknanya yang tertinggi justru dalam praktiknya dan bukan hanya dalam pikiran karena berpikir tidak pernah eksis di dalam tradisi.

Di dalamnya sistem tindakan mendapat nilai yang seluas-luasnya karena beragama berarti bertindak menurut agama dan bukan hanya berpikir dan berkata-kata menurut agama, apalagi tentang agama. Dalam hal ini tidak dapat dihindari haruslah diandaikan bahwa agama fungsional dalam sistem dan struktur berpikir dan bertindak manusia yang senantiasa menjaga integritas kepribadian penganutnya. Jadi, agama merupakan faktor yang menentukan sistem dan struktur tindakan sosial dan kebudayaan dalam berbagai lapangan kehidupan manusia sehingga agama diharapkan mampu memecahkan persoalan hidup manusia dan kemanusiaan.

Fungsi Agama

Agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Selain itu, agama juga dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri. Meskipun perhatian ditujukan kepada adanya suatu dunia yang tidak dapat dilihat (akhirat), namun agama melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari di dunia. Agama seringkah bersifat paradoks, di satu sisi agama dijalani sebagai jalan penjamin menuju keselamatan, cinta, dan perdamaian; sementara itu, di pihak lainnya agama justru menjadi sumber penyebab dan alasan bagi kehancuran dan kemalangan umat manusia. Mungkin, ungkapan yang menyatakan bahwa manusia akan hidup lebih baik dan tertib serta bahagia, jikalau hidupnya tanpa agama, seolah-olah benar adanya.

Oleh karena agama orang bisa saling mencinta, tetapi atas nama agama pula orang bisa saling membunuh dan menghancurkan. Sampai di sini agama tampaknya plin-plan terhadap eksistensi manusia, agama menyebabkan kebahagiaan dan agama juga menyebabkan kesengsaraan; atau agama yang menyebabkan dan menciptakan kedamaian dan kelestarian, tetapi agama juga yang menyebabkan peperangan dan kehancuran. Oleh karena itu seolah-olah agama memiliki kepribadian ganda (doubel personality), yang satu lembut dan melankolis, sedangkan yang lain kasar dan keras.

Berkaitan dengan kepribadian yang kedua, agama sebagai yang bersifat kasar dan keras, beberapa catatan sejarah menunjukkan bahwa agama telah menjadi pemicu permusuhan di beberapa tempat, tetapi harus pula diakui bahwa agama telah berhasil memberikan nilai dan arti bagi kehidupan umat manusia. Apabila demikian keadaannya dapatkah agama diharapkan membantu manusia dalam mengatasi berbagai problem kehidupannya? Untuk menjawab pertanyaan ini jawaban sesungguhnya kembali kepada keinginan manusia itu sendiri, apakah manusia akan membiarkan terjadinya pembusukan terhadap agama ataukah mereka akan mengembalikan agama pada fungsinya.

Dalam hal ini agama adalah "instrumens" bagi manusia untuk mewujudkan keinginannya, tetapi keinginan manusia selalu berubah-berubah sehingga agama juga mengalami pembahan sesuai dengan keinginan manusia. Jadi, agama sesungguhnya tidak pernah mencapai perkembangannya yang final sehingga agama seolah-olah tidak memiliki tujuan yang pasti. Dalam hal ini manusia bersikap munafik terhadap agama (nya) sehingga terjadi pembusukan dan pertukaran peran secara silih berganti sepanjang waktu, yakni pada saat tertentu manusia membutuhkan agama, sedangkan pada saat lain agama memerlukan manusia.

Hal ini menurut Kimball ada lima hal atau tanda yang bisa membuat agama busuk dan korup-menyimpang dari fungsinya?. Pertama, apabila suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya. Kedua, adalah ketaatan buta kepada pemimpin keagamaan mereka. Ketiga, apabila agama mulai ganderung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikannya pada zaman sekarang. keempat, apabila agama tersebut membenarkan dan membiarkan terjadinya "tujuan yang membenarkan cara". Kelima, apabila agama tidak segan-segan memekikkan perang suci. Walaupun demikian, cukup satu saja di antara kelima penyebab pembusukan agama itu ada di dalam masyarakat penganut suatu agama sudah cukup untuk menghancurkan sesama dan anatarumat beragama. Apalagi kelima-limanya maka kiamatnya segalanya kehidupan sosial suatu masyarakat sebab kelima klaim pembusukan agama itu merupakan simbol kehancuran tatanan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Misalnya, dengan mengatakan bahwa agama saya adalah agama yang mutlak benar dan satu-satunya, dengan kata lain saya hendak mengatakan bahwa agama orang lain sama sekali tidak memiliki kebenaran, atau agama orang lain adalah agama yang salah. Dapat dibayangkan betapa saya telah menutup kemungkinan-kemungkinan lain yang akan memberi saya kebenaran tentang kebenaran-kebenaran yang telah dengan sengaja saya tolak sebelum kebenaran itu datang. Menutup diri dari kemungkinan memperoleh kebenaran yang lain merupakan sikap pembodohan (pembusukan) dari dalam.

Sebaliknya, dapat dibayangkan berbagai kemungkinan yang buruk (busuknya) reaksi dari lingkungan eksternal, yaitu dari para penganut agama yang lain, dari berbagai perspektif agama yang lain. Ini merupakan model kehancuran kebe-naran (agama) yang paling dasyat yang paling mungkin dibayangkan.

Paparan itu kiranya bisa menyadarkan umat beragama, baik secara institusional maupun individu untuk bercermin ke arah mana peng-hayatan keagamaannya sedang bergerak. Apabila indikasi-indikasi tersebut telah semakin menonjol dalam kalangan umat beragama, bisa diasumsikan bahwa institusi keagamaan telah gagal dalam perannya sebagai mediator dalam menyampaikan ajaran-ajaran kesucian agama kepada para pemeluknya.

Indikasi-indikasi di atas secara jelas telah menunjukkan bahwa hal itu sangat bertentangan dengan fungsi agama yang sesungguhnya dalam masyarakat. Dikatakan demikian karena manusia dan masyarakat pada hakikatnya mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu demi kelangsungan hidup dan pemeliharaannya sampai batas minimal. Sementara itu, agama berfungsi memenuhi sebagian di antara kebutuhan-kebutuhan itu, meskipun kadang-kadang terdapat ketidakcocokan dalam cara memenuhi kebutuhan tersebut. Agama diyakini mampu mengakomodasi kepentingan-kepentingan manusia tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut. (Bersambung)

Oleh: I Wayan Budi Utama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 524 Agustus 2010