Tasmat tvam indriyany adau, niyamya bharatarsabha, Papmanam prajahi hy enam, jnana-vijnana nasanam
Dari itu, pertama-tama kendalikanlah panca indriamu dan basmilah nafsu yang penuh dosa, perusak segala pengetahuan dan kebijakan, wahai Arjuna yang baik.
Jnanam te 'ham sa-vijnanam, idam vaksyamy asesatah, Yajjnatva neha bhuyo 'nyajjnatavyam avasisyate
Kepadamu akan Kuajarkan selengkapnya tentang realisasi yang digabungkan dengan ilmu pengetahuan, yang setelah semuanya diketahui, tak ada lagi sisanya yang perlu diketahui
(Pudja,2005 : 102, 184- 185)
Dalam kehidupan umat manusia mendambakan adanya suatu kenyamanan, ketentraman, kesentausaan, kesejahteraan, keharmonisan, serta kondisi hidup yang bersifat positif baik dalam situasi kesendirian maupun dalam hidup kebersamaan. Hal ini diharapkan oleh setiap insan untuk bisa hidup yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya. Tiada insan yang hidup di jagat raya ini agar hidupnya terlantar, terbengkalai, serta situasi lainnya yang tidak kondusif. Bilamana ada kenyataan kehidupan seperti itu.
Demikian pulalah halnya dengan adanya tuntutan hidup yang penuh dengan kearifan, kebijakan, kemuliaan, kecerdasan, berpengetahuan yang luas, memiliki orientasi yang lengkap tentang hidup dan kehidupan, serta kepribadian seseorang yang penuh dengan kebijaksanaan, maka prilaku dan kepribadian yang seperti itulah menjadi panutan serta keteladanan bagi kehidupan insan-insan di jagat raya ini. Bagaimana bisa mewujudkan kondisi hidup yang sedemikian, tentu diperlukan adanya upaya dan usaha yang sungguh-sungguh menuju ke arah nilai hidup dan kehidupan yang positif, bermanfaat, saling melengkapi, saling berdampingan serta situasi lainnya yang mendukung suasana hidup yang harmonis secara lahir dan batin.
Guna terwujudnya cita-cita mulia sebagaimana disebutkan di atas, maka ada beberapa kunci utama yang perlu dicamkan dan direnungkan untuk bisa diambil faedahnya, demi terarahnya serta terkonsentrasinya hidup yang dicita-citakan yakni tumbuhnya kebijaksanaan bagi setiap insan manusia ini di bumi persada ini. Adapun kunci utama yang dimaksudkan adalah pertama, kendalikan panca indriya, kedua, basmilah nafsu dan dosa, ketiga, nafsu perusak pengetahuan dan kebijaksanaan, keempat, pengetahuan sebagai sumber kebijaksanaan, dan kelima, pengalaman dan penerapan pengetahuan sebagai sumber kebijaksanaan. Selanjutnya mari pahami paparan sekilas berikut ini.
1. Kendalikan Panca Indriya
Mengapa panca indriya wajib dikendalikan oleh setiap orang? Apakah panca indriya dapat dikendalikan? Bagaimana caranya mengendalikan panca indriya? Bila hal itu ditanyakan terus, maka pertanyaan tentang itu tidak akan habis-habisnya. Oleh karena hal itu merupakan bagian dari hakikat hidup dan kehidupan umat manusia. Dalam hal ini diperlukan prilaku yang arif bijaksana bagi insan itu sendiri. Memberikan pemahaman yang gamlang mengenai permasalahan tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan. Panca indriya wajib untuk dapat dikatakan harus dikendalikan oleh setiap manusia oleh karena kelima indriya yang dimiliki oleh manusia dapat menjalankan tugasnya, fungsinva, serta maknanya secara baik dan benar.
Sebagai misal, mata dikendalikan untuk dapat melihat hal yang pantas dilihat. Telinga dapat mendengarkan suara atau bunyi yang wajar. Kulit dapat menerima rasa sentuhan yang patut disentuh. Lidah dapat mengecap rasa yang pantas dikecap. Demikian juga indera penciuman dapat mencium bau yang pantas dicium, begitulah seterusnya jika kelima indera dikendalikan dengan baik, maka kebijaksanaan pulalah yang diperoleh. Misalkan mata tidak dikendalikan, maka bisa jadi kerjanya mata hanya digunakan untuk mengintip seseorang yang lagi mandi di kamar kecil. Telinga jika tidak dikendalikan, bisa juga digunakan mendengarkan suara musik yang gaduh yang bagi orang sakit sangat tidak disukai.
Begitu pula indera kulit jika tak dikendalikan, maka bisa jadi setiap orang yang diajak bersalaman tangan lalu dilanjutkan dengan membelainya, sehingga orang itu menjadi risih dan malu. Juga indera pengecap yakni lidah jika tidak dikendalikan maka bisa jadi racun juga diminumnya yang akhirnya menimbulkan kematian baginya. Satu lagi jika indera penciuman tidak dikendalikan, maka bau busuk juga bisa dicium atau bisa jadi juga bahwa seseorang yang bukan kekasihnya dicium juga, sehingga menimbulkan kecemburuan dan kemarahan bagi pemilik kekasih yang bersangkutan.
Dalam ajaran agama Hindu ada lima indera penilai yang dinamai panca buddhindriya serta lima indera pekerja yang dinamai panca karmendriya. Kelima indera penilai tersebut antara lain : indera penilai pada pendengar (srotendriya), indera penilai pada perasa (tuakindriya), indera penilai pada penglihatan (caksuindriya), indera penilai pada pengecap (jihwendriya), dan indera pekerja penilai pada penciuman (granendriya). Begitu pula ada yang dinamai lima indera pekerja (panca karmendriya) yakni indera pekerja pada mulut (wakindriya), indera pekerja pada tangan (panindriya), indera pekerja pada kaki (panendriya), indera pekerja pada penggerak pelepasan (payuindriya), indera pekerja pada kemaluan (upastendriya). Jadi dari kelima indera penilai dan kelima indera pekerja tersebut dinamai dasendriya atau sepuluh indera pada manusia. Kesepuluh indera tersebut wajib dikendalikan agar manusia itu menjadi selamat, nyaman, sejahtera, dan bahagia. Jika sebaliknya, maka manusia bisa saja menjadi sakit, celaka, mendapat umpatan, dimusuhi orang, mendapat¬kan hukuman, atau yang lebih fatal lagi bisa menjadi meninggal. Justru dengan demikian bahwa pengendalian itu sangat penting, termasuk juga pengendalian terhadap indera-indera.
2. Basmilah Nafsu Berdosa
Nafsu dalam agama Hindu dapat diartikan atau diistilahkan dengan kama. Kata kama berarti nafsu atau kenarsuan. Bisa juga diartikan keinginan terhadap hubungan seksual atau birahi. Pada sisi lain juga diartikan cita-cita atau ambisi. Dalam hal ini bahwa istilah nafsu tentu berhubungan dengan hal yang bersifat fisikal, hubungan badan, perilaku seksual, atau terjadinya sanggama antara satu jenis dengan lain jenis. Dalam hal ini bahwa nafsu itu tidak selamanya tabu atau jelek. Ada nafsu yang wajar, pantas, sehat, positif, dan dibenarkan.
Sebaliknya ada juga nafsu yang tidak wajar, nafsu sakit, nafsu negatif, nafsu kotor, nafsu bejat, nafsu jahat, nafsu yang salah, serta hal sejenis yang dilarang dalam ajaran agama Hindu. Misalnya wanita yang menggauli banyak laki-laki atau banyak priya yang bukan suaminya (bahupriyah atau parapnyah). Begitu pula sebaliknya bahwa seseorang lelaki yang menggauli banyak wanita atau istri yang bukan haknya (paradara atau bahuistri). Dalam perkembangan terakhir yang banyak disoroti adalah adanya poligami atau sebaliknya poliandri.
Mengapa nafsu berdoa harus dibasmi? Oleh karena yang namanya nafsu yang salah (berdosa) sedapat mungkin tidak ada melekat pada pribadi setiap insan yang sejati, insan manapun. Nafsu yang berdosa merupakan nafsu yang menyimpang dari hati nurani setiap insan. Bisa saja nafsu berdosa itu berupa penyelewengan seksual, penyelewengan keinginan, berkeinginan mencelakakan orang, ingin membunuh seseorang memfitnah seseorang, ingin memiliki barang atau artha benda orang lain dengan jalan mencuri, dan sebagainya. Jadi semua prilaku seperti itu harus dibasmi. Jika tidak, maka insan itu menjadi orang durhaka, penjahat, penghianat, pendusta, pencuri, pembunuh, pemerkosa, dan perilaku lainnya yang tergolong amoral atau asusila.
3. Nafsu Berdosa Perusak Kebijaksanaan
Bilamana nafsu bersalah atau berdosa itu telah berkecamuk dalam diri setiap insan, maka hal itu dapat mengganggu roda kehidupan. Nafsu berdosa juga menggoyang bahtera kehidupan seseorang menuju ketidak-seimbangan pola hidup. Terlebih lagi bagi para penegak kebijaksanaan, maka hal itu merupakan perusak atau penghancur perilaku arif menuju ketidakbijaksanaan. Hal yang benar berbalik menjadi salah. Ha! yang sesuai dengan aturan atau petunjuk yang salah menjadi diselewengkan dan bahkan bisa jadi dikoruksikan. Begitu seterusnya lagi terhadap perilaku yang tergolong berdosa itu dapat menyesatkan kehidupan seseorang.
Banyak terjadi kasus bahwa seorang pelajar lupa melakukan kewajibannya untuk belajar dengan baik, oleh karena terlalu asik untuk bermesraan, berkencan, bercintaan dengan kekasihnya, sehingga waktu terlalu banyak dibuang-buang untuk memadu kasih. Sedangkan waktu belajarnya menjadi sia-sia belaka, pada akhirnya menjadi terbengkalai studinya. Saatnya yang terakhir menjadi gagal menimba ilmu pengetahuan yang dicita-citakan. Pada sisi lain pengetahuan yang harus menjadi bekal hidupnya tidak didapatkan, sedangkan pihak orang tua telah banyak habis dana pembiayaan untuk menanggung studinya.
Contoh yang lainnya masih banyak lagi. Bila dalam suatu lembaga atauperusahaan, misalnya terjadi aku penyimpangan kewenangan, kekuasaan, jabatan, profesi, atau yang sejenisnya yang bermula dari nafsu kotor dan berdosa tersebut, maka bisa jadi yang bersangkutan menjadi cacat dalam profesinya. Tidak sedikit didengar dan diberitakan di media massa bahwa ada banyak pejabat, gara-gara mesum dengan bawahannya atau lawan jenis yang bukan istrinya, sampai-sampai yang bersangkutan dinonaktifkan dari jabatannya. Itu masih syukur, tetapi ada yang lebih fatal lagi sampai-sampai ada yang bersangkutan dipindah tugaskan pada instansi yang sangat jauh atau ada pula sampai dinonjobkan atau dipecat.
Begitulah resikonya bahwa nafsu yang berdosa itu sangat sadis, sangat kasar, kejam, mengerikan, menyakitkan, membuat kesengsaraan, ain sebagainya. Ada saja masalah yang muncul bilamana yang namanya nafsu berdosa itu ada dalam diri setiap manusia, yang ada akhirnva kebijaksanaan dapat menjadi lenyap atau sirna dengan sendirinya, Perilaku bijaksana berubah menjadi perilaku tidak bijaksana atau durjana.
4. Pengetahuan sebagai Sumber Kebijaksanaan
Mengapa pengetahuan dikatakan sebagai sumber kebijaksanaan? Menurut sumber suci Bhagavadgita sebagaimana dikutip di atas ada dijelaskan bahwa salah satu sumber kebijaksanaan adalah pengetahuan itu sendiri. Idealnya bahwa bagi Orang yang berilmu adalah orang yang bijaksana. Sungguh aneh bila ada orang yang berilmu itu menjadi tidak bijaksana. Jika demikian yang terjadi, maka patut dipertanyakan tingkat keilmuan orang yang bersangkutan. Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang bilamana tidak sesuai dengan kepribadian mampu perilakunya, maka sudah tentu orang itu pantas untuk diragukan segalanya. Oleh karena dalam realitas masyarakat ada dikenal pribahasa yang sangat lazim 'bagaikan filsafat padi semakin berisi semakin merunduk'. Itu artinya bahwa semakin ilmu yang dimiliki maka semakin bijaksanalah orang tersebut.
Pengetahuan dalam istilah agama Hindu sesuai ajaran dalam pustaka suci Bhagavadgita disebut dengan Jnanam. Dalam istilah lain juga dinamai Sastra. Sedangkan bagi orang yang berilmu atau orang bijaksana dinamai Bahu Jnanam atau Bahu Sastram. Dalam itihasa diistilahkan bagi orang yang bijaksana disebut dengan Sajjana atau Sujana. Juga dalam sumber lain, terutama dalam slokantara maka orang yang bijaksana dinamai Vidyantara. Bilamana dibaca sabda kosa (kamus) yang berbahasa Sansekerta, maka orang yang bijaksana disebut dengan buddhiman atau bhuddnvati dan juga disebut Subuddhi. Sebaliknya bagi orang yang tidak bijaksana dinamai Durbuddhi, Durjana, Murkha Na Jnanam. Semua istilah itu adalah bagi mereka yang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Juga bagi orang yang sedikit ilmunya serta tidak memiliki perilaku yang bijaksana.
Source: Dr. I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 485 2007