Mengambil dan Melepas, Irama Lahir dan Batin
Dalam bahasa Bali kata basa memiliki dua arti. Arti pertama adalah ”bahasa’. Arti kedua dalah “bumbu”. Baik yang pertama maupun yang kedua sama-sama berhubungan dengan rasa. Selanjutnya rasa itu berhubungan dengan lidah. Dengan lidah orang mengucapkan rasa bahasa. Dengan lidah orang pula mencicipi rasa bumbu. Karena di dunia ini konon tidak ada yang namanya kebetulan, maka bukanlah suatu kebetulan bila bahasa, bumbu, lidah, dan rasa berhubungan satu sama lainnya sedemikian rupa.
Rasa bahasa dibangun secara bersama-sama oleh bunyi, arti, komposisi, ritme, konteks, konotasi, dan seterusnya. Dan diri adalah tokoh klasik yang pada mulanya membidani lahirnya Teori Rasa. Pandangannya pada mulanya dipergunakan untuk memahami seni tari. Dalam perkembangannya kemudian, pandangannya tentang rasa juga dipergunakan untuk memahami seni sastra. Dari teori Rasa itu kita mengetahui bahwa bahasa-sastra dapat membangkitkan paling tidak sembilan jenis rasa di dalam diri orang yang menikmati sastra itu.
Rasa kasih yang dibangkitkan oleh perasaan cinta disebut sregara rasa. Perasaan asing yang dibangkitkan oleh hal-hal yang tidak biasa disebut hasya rasa. Kehilangan atau merasa kehilangan sesuatu dapat membangkitkan rasa sedih, itu disebut karuna rasa. Rasa marah yang dibangkitkan oleh peristiwa kejam disebut raudra rasa. Kisah atau tindakan kepahlawanan dapat membangkitkan rasa berani, disebut wira rasa. Rasa atau perasaan terancam disebut bhayanaka rasa yang dibangkitkan oleh hal-hal yang berbahaya. Rasa takut oleh hal-hal yang mengerikan disebut wibhatsa rasa. Adbhuta rasa adalah rasa kagum yang muncul dari keheranan. Sapta rasa adalah perasaan damai di dalam hati yang muncul karena lepas atau bebas dari suatu ikatan atau beban.
Rasa pada dasarnya bersifat laten di dalam diri. Rasa itu muncul bila ada rangsangan dari luar. Karya seni bisa menjadi rangsangan yang efektif untuk bangkitnya kesembilan rasa diatas. Rasa tertinggi dan abadi disebut Anandam, yang berarti kebahagiaan sejati (lihat. Leksikon Hindu, IBM Dharma Palguna, 2008, Nm. 123).
Sudah tidak disangsikan lagi bahwa pada zaman dahulu kebudayaan dan ilmu bahasa dan sastra telah mencapai tingkatan yang canggih. Dan sungguh menakjubkan dalam kebudayaan Bali proses penikmatan rasa sastra secara bersama-sama disebut mabebasan. Irama adalah salah satu unsur penting dalam proses penyampaian keindahan dan kebenaran ajaran di dalamnya.Dan unsur penting lainnya diperankan oleh Seorang juru basa yang memaknai keindahan dan kebenaran di dalamnya.
Selanjutnya, rasa bumbu dibangun secara bersama-sama melalui campuran sedemikian rupa unsur asin, masam, sepat, pahit, pedas, manis. Seorang tukang basa tahu bagaimana mengatur komposisi unsur-unsur itu. Seperti halnya sastra, bumbu inipun bisa membangkitkan berbagai jenis rasa di dalam diri orang yang menikmati bumbu itu. Khasanah pustaka Bali memiliki banyak penjelasan tentang bumbu, juga banyak berbicara tentang filsafat beserta a-b-c-d-nya bahan-bahan bumbu seperti bawang, kunyit, isen, jahe, cekuh, bawang putih, cabai dan seterusnya. Dari berbagai penjelasan itu kita bisa membayangkan bahwa ada kebudayaan makan dan ilmu makan yang telah mengalami perkembangan canggih dalam kebudayaan Bali, dan tentu saja juga dalam kebudayaan lain.
Jika rasa sastra berhubungan dengan pertumbuhan batin, maka rasa bumbu berhubungan dengan kehidupan tubuh. Sastra dan bumbu merangsang batin dan tubuh agar ingat jatidirinya. Sesuai dengan jatidiri masing-masing, jika tubuh hidup dengan mengambil sesuatu dari luar dirinya, maka batin berkembang justru dengan melepas sesuatu dari dalam dirinya.Mengambil dan melepas adalah irama lahir dan batin, seperti bumbu dan sastra.
Apakah batin dan tubuh itu dua hal yang terpisah, atau dua hal yang berhubungan? Pertanyaan itulah barangkali yang ingin dijawab oleh bahasa Bali yang memiliki satu kata, yaitu basa, untuk dua hal itu. Bahasa Bali tidak sekadar menghubungkan kedua hal itu. Bahasa Bali justru menggarisbawahi bahwa keduanya adalah satu, yaitu basa.
Rupanya ada perennngan tensendha antuk sampai pada rasa (bukan intelek) bahwa tubuh dan batin itu satu. Orang yang berhasil menemukan rasa yang satu itu barangkali tidak lagi terombang-ambing antara dua hal yang dikotomis. Perenungan seperti itu seperti perjalanan berbalik. Karena dunia diperkenalkan kepada kita sedari kecil dan bentuk perbedaan-perbedaan yang dualis.
Basa dalam arti bumbu dan arti bahasa adalah dasar yang benar untuk membangun ”rumah batin’ (bukan rumah maya) yang bernama Perenungan itu. Seperti sebuah perjalanan berbalik, tidak lagi memerlukan menusia-saksi dan dewa-saksi.
Source: IBM. Dharma Palguna l Balipost – Minggu, 25 Oktober 2009