Pada teks (2), disebutkan bahwa Craddha terbentuk dari tiga laipsan. Yang terlahir dari svabhava individual atau sifat tersembunyi dari manusia; yang tidak dapat diatur atau dipengaruhi oleh hal diluarnya. Sraddha dihasilkan oleh kecenderungan (samskara) yang diakibatkan oleh tindakan seseorang di kehidupannya atau di kehidupan yang lalu. Dibawah pengaruh kecenderungan inilah individu didominasi oleh seseorang atau guna prakrti lainnya. Demikianlah menurut kualitas individu masing-masing, sraddha adalah ketiganya yaitu: sattviki, rajasi atau tamasi. Dan tindakan setiap individu mencerminkan karakteristik yang berkaitan. Misalnya, bilamana sattva guna mendominasi sifat seorang manusia, ia Memiliki sattvika sraddha; dia murni dan penuh kebaikan. Dia mengharapkan pencapaian keselamatan.
Bilamana rajas yang mendominasi, maka orang tersebut memiliki rajasi sraddha dan dia mengejar kesenangan duniawi dan bekerja keras untuk hal-hal terbatas dan tujuan pribadi semata. Apabila tamas yang mendominasi, maka dia memiliki tamasi sraddha; seorang manusia tamasa tidak memiliki gagasan mengenai tujuan spiritual yang pasti ataupun menginginkan suatu pencapaian. Tamasi sraddha sesungguhnya adalah sikap bertentangan dari sraddha. Pendek kata, tiga jenis sraddha diwarnai oleh pengaruh guna didalam setiap manusia. Demikianlah kecenderungan seseorang terhadap sebuah tujuan hidup dan sifat seseorang untuk mengikuti jalan yang tepat untuk meraih tujuan tersebut terpola oleh kualitas keadaan alamiahnya.
Text (3) menjelaskan bahwa tidak hanya sraddha yang terlahir dari sifat manusia melainkan juga bahwa manusia adalah sraddhamaya; sraddha adalah prinsip pokok dari eksistensi manusia. Sraddha adalah isian dari mahluk individual. Sraddha memperlihatkan sifat dan karakter manusia. Kebenaran yang dilihatnya, tujuan yang dicari dan jalan yang ditempuh, adalah ditentukan baginya oleh sraddha. Aktivitas yang berlangsung oleh individu adalah sesuai dengan jenis sraddha-nya.
Sifat tindakan-tindakan ini menimbulkan akibat yang mempengaruhi kualitas sraddha. Jadi misalnya, seorang sattvika menginginkan perdamaian dan kebahagiaan dan pemujaan dewa-dewi serta mahluk nirwana yang baik. Seorang rajasa mencari kenikmatan material dan kekuatan dan pemujaan dewa tertentu dan raksasa untuk menjaga akhir hayatnya. Sedangkan mereka yang disebut tamasa ditenggelamkan oleh pemujaan orang mati dan hantu-hantu, berlawanan dengan perintah kitab suci:
Asastravihitam ghoram
tapyante y e tapo janah
Dambhahamkarasamyuktah kamaragabalanvitah
Karyasayantah sarirastham bhutagramam acetasah
Main caivantahsarirastham tan viddhy asuraniscayan
Merekalah manusia yang munafik dan angkuh, yang didorong oleh kekuatan hasrat dan nafsu,
melekatkan diri kepada kekuatan jahat yang tidak didasari oleh kitab-kitab suci;
orang-orang konyol, itulah mereka, yang menyiksa organ tubuh mereka, dan Aku juga,
yang berdiam didalam tubuh itu mengetahui keiblisan macam
apa yang mereka persekutukan. (Bh. G. XVIII. 5-6)
Ramanuja menyatakan bahwa kedua syair ini (lima dan enam) membentuk jawaban pasti untuk pertanyaan pokok Arjuna. Dia menggunakan itu untuk menunjukkan bahwa mereka yang menentang ajaran kitab suci, sadar atau tidak, hanyalah berpura-pura mempunyai sraddha, sesungguhnya mereka tidak memiliki sraddha. Mereka adalah asura.
Gita menegaskan bahwa jenis atau kualitas sraddha menemukan ekspresi yang saling berhubungan dalam jenis upacara, persembahan korban, derma, dan lain-lain, aspek-aspek yang berbeda dalam kehidupan religius. Gita juga menganalisis dan menguji setiap fenomena dalam kaitannya dengan kualitas dan nilai apakah itu sattviki, rajasi atau tamasi. Gita cenderung merangkum semua dan mendiskusikan seluruh elemen yang bernilai kedalam pengungkapan ini dan mengintegrasikan mereka dalam doktrin tindakan pengosongan diri yang dipersembahkan bagi Tuhan, yang disebut sattvika, tindakan ekspresif dari sattviki sraddha.
Elemen-elemen yang tidak cocok dengan ajaran Gita dianggap tidak sesuai atau pastinya berbahaya bagi kehidupan religius. Mereka direndahkan ditingkat yang inferior sebagai bentuk rajasi sraddha atau ditetapkan sebagai ajaran berbahaya, bentuk tamasi sraddha. Hanya sattviki sraddha dikatakan dapat membuka jalan untuk tujuan tertinggi mahluk hidup; sattviki sraddha juga serasi dengan sastravidhi. Dua jenis yang lainnya jelas tidak cocok dengan sastravidhi.
Marilah kita mengambil contoh dari yajna (persembahan korban) untuk menjelaskan mengenai metode penyucian konsep sraddha yang diadopsi oleh Gita. Kita telah melihat bahwa yajna didalam Gita bermakna 'persembahan berupa milik dan kebaikan seseorang sebagai wujud kasih kepada Tuhan'; hal ini merujuk kepada persembahan korban secara umum atau segala jenis tindakan kebaikan. Dan lagi, yajna tidak dilakukan untuk suatu hasil yang dicapai seseorang, melainkan semata-mata karena sifat pengikut sattviki memancarkan pengetahuan tindakan illahi dan menghadirkan Tuhan untuk ikut berkarya didalam mereka.
Pendek kata, Bhagavadgita melihat yajna sebagai tindakan kebaikan yang berawal dari penyerahan diri kepada kehendak Tuhan.
(4) Teks: vidhihinam asrstannam mantrahinam adaksinam sraddhavirahitam yajnam tamasam paricaksate
Terjemahan : Pengorbanan vang tidak berdasar pada ajaran kitab suci, dan tiada makanan yang dipersembahkan, dimana tidak ada kidung mantra suci, tiada punya bagi pendeta, dan yang tanpa sraddha, itulah yang disebut (Bh. G. XVII. 13)
Adalah hal yang menarik bahwa tamasa yajna disebut sraddhavirahita; hal itu adalah peniadaan sraddha. Hal sama menariknya dengan bahwa tamasa yajna disebut vidhihina, meniadakan perintah kitab suci. Tamasa yajna pun tidak memiliki nilai kesucian karena tidak ada mantra suci yang dikidungkan ataupun persembahan kepada para pendeta. Pada syair yang ditampilkan sraddhavirahita menunjukkan tidak adanya niat untuk melaksanakan yajnakarma disamping juga kurangnya keyakinan dalam kekuatan yajna tersebut.
Teks tersebut juga menunjukkan tidak adanya keinginan untuk pencapaian tujuan spiritual dari pihak pelaksana upacara korban tersebut. Saat seseorang tidak memiliki sraddha dalam yajna untuk menyelamatkannya pada akhirnya, orang tersebut tidak sepenuh hati dalam pelaksanaan upacara tersebut. Bilamana pun dia tetap melakukannya, dia akan melakukannya dengan berbagai alasan pribadi. Satu-satunya faktor yang menuntun adalah praktis dari segala cara. Orang itu tidak peduli dengan tata cara ataupun rincian upacaranya. Dia hanya melaksanakan upacara secara mekanis dibawah tekanan sejumlah dorongan yang tidak berarti.
Tamasa yajna berbeda dari sattvika yajna yang dilaksanakan 'sesuai dengan ajaran kitab suci, dengan perasaan berkewajiban dan tanpa hasrat terhadap imbalan' dan dari rajasa yajna yang dilaksanakan dengan 'harapan atas imbalan dan demi sebuah pertunjukkan' meskipun secara formal sesuai dengan aturan sastravidhi. Pendek kata, implikasi sraddha pada teks (4) dapat dinyatakan: tamasi sraddha sangat miskin oleh pemahaman mengenai tujuan spiritual yang mutlak, hal ini mencerminkan sebuah keadaan pikiran yang kacau. Tamasi sraddha kurang keyakinan terhadap jalan yang ditempuh; tepatnya terseret. Tamasi sraddha tidak memiliki nilai religius yang pasti.
(5) Text: sraddhaya paraya taptana tapas t at trividham naraih aphalakanksibhir yuktaih sattvikam paricaksate
Terjemahan : Tiga tingkat aturan ini yang dilaksanakan dengan sraddha tertinggi oleh manusia yang mengatur dirinya, tanpa mengharapkan imbalan, disebut sattvika. (Bh. G. XVII. 17)
Syair ini menggambarkan sattvika tapas yang adalah bentuk satvikki sraddha. Tapas atau menahan diri adalah sebuah jenis usaha rejilius penting yang sering dikaitkan dengan sraddha didalam Upanishad. (Bersambung)
Oleh: Kl. Seshagiri Rao
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010