Berguru Kepada Sang Gembala

Jadilah cukup terbuka. Jangan punyai batin yang penuh curiga, batin yang licik, batin yang kaku, akan tetapi berterus teranglah. Batin yang jujur bisa menyesuaikan-diri, dan karenanya, bisa menjumpai segala sesuatu dengan segar, dengan baru.
J. Krishnamurti.

Berkenalan dengan empat jurus utama
Pada dasarnya, mengendalikan-diri adalah mengendalikan-pikiran, dimana yang dimaksudkan dengan 'pikiran' disini adalah duet antara pikiran dengan perasaan, kerjasama antara motor sistem kognitif dan sistem afektif kita. Duet ini merupakan proponen mental utama kita yang paling aktif, yang menciptakan mood yang sering kita sebut juga dengan suasana-hati, yang memicu kehendak yang menimbulkan bentuk-bentuk keinginan dan perasaan lebih lanjut serta mengaktifkan kelima indria-motorik dan kelima indria sensorik, yang membangkitkan semangat dan daya juang, mengaktifkan naluri, dan berbagai aktivitas mental dan fisikal lainnya.

Pendeknya, pada kebanyakan dari kita, duet inilah yang menggerakkan diri yang dalam konteks ini merupakan suatu perpaduan fisiko-mental yang dimotori oleh sistem kognitif dan afektif tadi ini secara keseluruhan. Makanya, bila seseorang hendak mengendalikan dirinya, maka yang mesti ia kendalikan adalah duet strategis ini. Dengan terkendalikannya duet ini, maka keseluruhan diri dapat diharapkan terkendalikan dengan sendirinya.

Dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, kita tahu kalau upaya mengendalikan apapun yang 'hidup' merupakan proses berkesinambungan yang menyangkut empat jurus utama : (i) mengenalinya, (ii) mengakrabinya, (iii) menjinakkannya, dan akhirnya (iv) mengendalikannya. Demikian pula dengan mengendalikan diri, yang adalah mengendalikan pikiran ini.

Mengenali duet ini
Sebelumnya, telah kita singgung betapa strategisnya duet ini. Lebih jauh lagi, kita perlu mengenali bagaimana karakter mereka, bagaimana bekerjanya, bagaimana eratnya hubungan pasangan ini di dalam memotori segenap aktivitas fisiko-mental, dan proponen mental apa saja yang membantunya bekerja, serta bagaimana mereka melandasi dan mengomandoi kesepuluh organ-organ indria-motorik dan sensorik kita.

Oleh karena semua itu sepenuhnya ada di dalam, di dalam wilayah mental kita, maka mau-tak-mau kita diharuskan punya kemampuan dasar, 'menyelam'; bukan sekedar 'berenang akan tetapi benar-benar 'menyelam' hingga kedalaman tertentu, ke dalam diri kita sendiri. Bagi mereka yang cenderung introvertif, boleh jadi kemampuan ini telah menjadi bakat bawaannya, namun bagi yang cenderung ekstrovertif, ini bisa dirasakan bagaikan membalik gunung. Yang pasti, untuk bisa menyelam dengan baik setidak-tidaknya seseorang mesti bisa menenangkan dirinya, disamping mesti bisa keluar dari subjektivitas-diri hingga jarak tertentu yang cukup aman darimana ia bisa menatap dirinya dengan leluasa, dengan jujur. Sederhananya, ia mesti bisa memposisikan dirinya hanya sebagai pengamat independen yang jujur dengan keingintahuan yang besar.

Yang pasti, kita mesti melakukan semua ini sendiri, sepenuhnya sendiri. Bantuan pihak luar-pembimbing, sahabat seperjalanan, guru atau yang sejenisnya-hanya merupakan tambahan atau penyemangat saja. Berbicara mengenai penyelaman ke dalam' adalah berbicara mengenai upaya mandiri. Oleh karenanya, disamping kwalitas-kwalitas yang disebutkan tadi, seseorang mesti bisa sepenuhnya mandiri.

Walaupun seluruh upaya pengenalan ini utamanya mesti dilangsungkan ke dalam, namun untuk hal-hal tertentu, di dalam setiap hubungan dan interaksi kita dengan orang-orang sekitar dan dunia luar secara keseluruhan bisa memberikan masukan yang sangat berharga. Setidaknya, kita bisa memperoleh bahan-bahan perbandingan yang amat berharga, yang memperluas wawasan kita akan variasi-variasi dinamin yang ada.

Bagaimana Mengakrabinya?
Semakin baik kita mengenalinya, akan semakin akrab pula kita dengannya. Seperti halnya manakala kita hendak mengakrabi binatang piaraan kita yang baru, kita sama sekali tidak boleh menghakiminya, apalagi menolaknya mentah-mentah. Kita mesti bisa menerimanya sepenuh hati, betatapun ia adanya? Ketulusan yang muncul dari adanya rasa kasih dan rasa persahabatan mesti mendasari setiap prilaku kita terhadapnya.

Bila tidak, jangankan untuk mengakrabinya, untuk mengenalinya dengan baik dan seutuhnya saja kita akan mengalami kesulitan besar. Sebaliknya, kalau kwalitas-kwalitas batin ini ada, kita sebetulnya punya kemampuan untuk melancarkan dua jurus sekaligus mengakrabi dan menjinakkannya. Kita akan memperoleh banyak kemudahan-kemudahan darinya. Bahkan, hanya dengan sikap penuh kasih yang bersahabat, tanpa diminta pun ia bisa-bisa malah memperkenalkan dirinya sendiri dan minta diakrabi, dijadikan sahabat. Itulah salah satu 'sakti' dari rasa kasih dan persahabatan ini.

Mendiang Jiddu Krishnamurti pernah mengingatkan kita : "Bilamana Anda melihat fakta, persepsi akan fakta itu jugalah yang merupakan pelepasan terhadap fakta itu". Ini sungguh merupakan tuntunan yang sangat berharga disini. Makanya, terima sajalah duet ini seperti apa adanya, terimalah mereka seutuhnya; jangan ditolak, jangan dihakimi, jangan disalahkan pun dibenarkan. Sampai fase ini, hasrat untuk menjinakkan apalagi menguasai, menundukkan, merubah dan mengendalikannya mesti kita singkirkan dulu. Jangan biarkan hasrat itu merecoki upaya kita untuk mengakrabinya. Apa yang sebetulnya paling strategis untuk dilakukan disini, justru mengembangkan rasa kasih dan rasa persahabatan itu sendiri. Hanya dengan itu, tanpa diminta pun ia akan merasa akrab, bahkan jinak.

Menjinakkannya dengan kasih dan persahabatan
Disini, kita mesti perlu sangat berhati-hati. Karena mereka bukanlah sesuatu yang di luar, yang bahkan adalah diri kita sendiri, kecenderungan untuk memanjakannya akan terasa amat besar. Rasa iba-diri dan keakuan akan dengan sekuat daya menggagalkan upaya kita, ia justru merupakan racun yang mematikan.

Dari mengakrabinya, kita sebetulnya sudah tahu sangat banyak tentangnya, tentang apa-apa yang disukai pun tak disukainya, tentang batas-batas kemampuannya, kekuatannya, cara kerjanya, beserta segenap kecenderungan dan kegandrungannya. Semua fakta itu sebetulnya merupakan kekuatan yang tidak tertandingi, yang dapat digunakan dengan mudah dan kapan saja untuk menjinakkannya.

Bersamaan dengan kian berkembangnya rasa kasih dan persahabatan ini di hati kita, sebetulnya kita tidak sekedar menjinakkan duet dan diri ini sendiri, namun kita telah mengembangkan kemampuan untuk menjinakkan apapun dan siapapun. Apa yang disebut dengan pengembangandiri atau pengembangan-pribadi yang belakangan penyedia jasa pelatihannya kian menjamur saja-sebetulnya mengakar pada pengembangan rasa kasih dan rasa persahabatan ini. Selebihnya, hanya sejenis keterampilan mekanis saja.

Dalam praktek, rasa kasih dan rasa persahabatan ini sendiri bukanlah sesuatu yang benar-benar terpisah dan independen satu dengan yang lainnya. Dimana ada rasa kasih, persahabatan pasti dimungkinan; dan dimana ada suatu persahabatan, disana pasti ada saling mengasihi. Seperti halnya duet pikiran-perasaan, mereka inipun membentuk duet yang tak kalah solidnya. Sebelum kita bergerak lebih jauh lagi, ada baiknya kita mencermati betapa kuatnya kecenderungan memanjakan-diri sendiri pada diri kita ini.

Hati-hati dengan rasa iba-diri
Rasa iba-diri berperan aktif dalam proses pemanjaan -diri ini. Kita emoh "tuyuh" membanting tulang dan memeras keringat, mempekerjakan diri ini secara fisikal. Kita emoh menerima celaan, cercaan, kritikan, apalagi makian. Kitapun sulit menerima bila kita dipersalahkan, kendati kita memang salah misalnya. Kita merasa iba bila melihat diri ini menderita secara fisik maupun mental bukan? Nah ... inilah beberapa ekspresi dari rasa iba-diri yang menyeret siapapun pada pemanjaan-diri.

Didorong oleh rasa iba-diri, kita juga berusaha agar tidak terlalu "tuyuh", dan hanya dengan ongkang-ongkang saja bisa menikmati hasil yang diinginan. Apa akibatnya? Kita menggunakan upaya mental untuk menyiasatinya; dan ini bisa berupa mencuri, merampok, menipu, ataupun meminta-minta, pada sisi negatifnya. Pada sisi positifnya, kita bisa juga belajar meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keakhlian dan keterampilan.

Guna memanjakan fisik, kita diharuskan mempekerjakan mental. Itu konsekwensinya. Yang jelas, selalu ada 'nilai' yang harus dibayarkan. Sayangnya, kendati kita tahu semua itu, tarikan naluri rendah untuk memilih penyikapan pada sisi negatif yang memberi kemudahan dan jalan pintas dengan tanpa bersusah-payah-sangat besar bagi sementara orang. Bila dihadapkan pada pilihan, untuk mengatakan 'ya' dengan imbalan sejumlah materi, maka meredakan mengatakan demikian, kendati sebetulnya 'tidak'. Mereka tidak akan segan-segan menipu atau berbohong hanya demi sejumlah materi atau kenikmatan indriawi.

Darimana sebetulnya rasa iba-diri ini bermula? Ia bermula dari pandangan-salah terhadap diri. Kita terlanjur dibiasakan oleh lingkungan sosial dar alam masing-masing untuk mengiden-tifikasikan-diri sebagai onggokan fisikal indria-indria dan fenomena serta proponen mental saja. Bila bukan tubuh ini, maka kita akan memandang bahwa perasaan inilah sebagai si diri, untuk kemudian diklaim sebagai 'aku'. Ungkapan seperti: "Hatiku disakitinya; aku sakit-hati karena kata-katanya itu", "Aku senang atas keberhasilannya", hanyalah beberapa dari tak terhitung banyaknya contoh dari identifikasi-diri pada perasaan. Sebagai akibatnya, kitapun akan dengan mudah dipermainkan oleh perasaan kita sendiri.

Rasa iba-diri sebetulnya muncul dari rasa kepemilikan, dan rasa kepemilikan merupakan turunan langsung dari identifikasi-diri keliru pada diri-semu ini, yang juga memunculkan ke-aku-an. Beraneka macam rasa-rasa ini bermula dari pandangan-salah yang disebabkan oleh pengeliruan indriawi. Ia pulalah yang bertanggung-jawab atas semakin berjayanya si diri-semu di mata semua orang serta membuatnya semakin mejauh dari Sang Diri-Jati.

Mengendalikan tanpa daya-upaya
Mengendalikan disini sebetulnya bukanlah suatu upaya mandiri untuk mencapai tujuan pengendalian-seperti yang mungkin disangka oleh banyak orang. Terlebih lagi di dalam konteks ini. Disini, ia lebih merupakan hasil, bukan upaya. Ia lebih merupakan hasil dari upaya pengenalan, pengakraban dan penjinakkan. Menyangkanya sebagai suatu upaya, bisa menggiring kita pada sebentuk pandangan-keliru, yang ujung-ujungnya bisa menyeret kita pada kekeliruan lebih jauh lagi.

Pernah saya tonton seorang pembicara di televisi kurang-lebih menganjurkan "Pikiran hendaknya jangan dikendalikan, tapi dicintai". Saya mengerti apa yang dimaksud, dan percaya akan keefektifannya. Namun disini tampak tersisa sebentuk kecerobohan yang dipaksakan. Kenapa? Seperti yang telah kita singgung sebelumnya, ada kecenderungan kuat untuk memanjakan diri tentunya termasuk pikiran dan perasaan pada setiap orang, yang mengakar pada keakuan dan rasa iba-diri. Mencintai pikiran akan dengan mudah menjebak kita di dalam bentuk pemanjaan-pikiran.

Disamping itu, bukankah sesuatu yang begitu asing lagi di mata kalau kita cenderung malah ditundukkan, dikendalikan, untuk kemudian diperbudak oleh yang kita cintai? Di dalam cinta itu sendiri terkandung kemelekatan dan belenggu. Kita mesti sangat waspada dan sangat berhati-hati disini. Makanya, alih-alih bisa mengendalikannya agar bisa diarahkan dan dipekerjakan semestinya seperti yang kita maksudkan semula, kita malah masuk perangkap dan dikendalikannya. Berhati-hatilah sahabatku ...

Suatu kali mendiang Anthony deMello pernah berujar : "Apa yang Anda sadari ada dalam kendali Anda; apa yang tak Anda sadari adalah yang mengendalikan Anda". Kesadaran dan kewaspadaan, eling lan waspada, selalu memegang peran penting di dalam segala bentuk pengendalian. Mengendalikan pikiran melalui proses yang didasari oleh rasa kasih dan persahabatan ini, secara praktis, sebetulnya tanpa daya-upaya sama sekali. Bahkan ia bak 'menyelam sambil minum air'. Di satu sisi kita berhasil mengendalikannya, di sisi lain kita mengembangkan kwalitas kedewataan kita.

Dalam hikayat-hikayat dan kisah-kisah mithologis, para Guru Besar dan para Nabi umat manusia, umumnya diilustrasikan sebagai seorang gembala. Lao Tze dan guru-guru Chan atau Zen digambarkan sebagai gembala kerbau, Jesus dan Muhammad digambarkan sebagai sang gembala domba, Dalai Lama dan para Lama Tibet digambarkan sebagai gembala lama atau keledai, Sri Krishna digambarkan sebagai seorang gembala sapi, Sang Buddha terkadang digambarkan sebagai gembala domba, gajah, dan yang lainnya. Yang pasti adalah, beliau-beliau ini adalah Guru umat manusia. Jangankan berguru kepada beliau-beliau ini, berguru pada seorang gembala kerbau, domba, sapi, keledai, gajah, ular berbisa, atau macan sekalipun, akan memberi kita kemampuan untuk mengendalikan-diri.

Betapapun juga, kita sangatlah pantas merasa bersyukur dipertemukan dengan ajaran-ajaran luhurnya pada kelahiran ini, dan oleh karenanya pula rasa sujud-hormat kita kepada beliau-beliau berupa pembicaraan kita kali ini-sebetulnya tiada artinya dibandingkan dengan jasa-jasa beliau-beliau kepada segenap umat manusia.

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga Kedamaian dan Keba-hagiaan menghuni kalbu semua insan.

Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 482 Maret 2007