Ketika mendengar berita di stasiun TV bahwa bom meledak di Kuta dan Jimbaran tanggal 1 Oktober 2005, terbayang dalam benak saya bahwa kedamaian di pulau Dewata terkoyak lagi. Setelah bom Kuta 12 Oktober 2002 yang meminta korban ratusan jiwa, kembali luka-luka lama yang hampir Sebuh tersayat lagi, betul-betul perih dan perih ditambah lagi kenaikan harga BBM yang melambung tinggi dengan kenaikan hampir 100% membuat ekonomi rakyat kecil semakin sulit. Dana subsidi BBM dari pemerintah pun tidak banyak membantu untuk memenuhi kebutuhan pokok yang harganya juga melambung seiring dengan kenaikan harga BBM.
Kebahagiaan sebagai warga negara sudah mulai dirasakan oleh warga negara Indonesia di wilayah propinsi Nanroe Aceh Darusallam, ketika pihak GAM dan RI menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Dari peristiwa ini dapat kita petik pelajaran bahwa masih ada jalan yang lebih mulia untuk menyelesaikan suatu permasalahan, yaitu jalan damai, tanpa kekerasan. Terlepas dari untung rugi dari kesepakatan antara RI dan GAM telah menyisakan sejarah penting dalam penyelesaian konflik berkepanjangan dengan bersatu dalam damai.
Teringat kembali sebuah konser musik dari dua musisi terkenal tanah air yaitu Group Slank dan Iwan Fals yang dilakukan pertengahan tahun 2005. Konser keliling kota-kota besar di Indonesia yang disponsori perusahaan rokok tersebut mengusung tema "Bersatu dalam damai" ke seluruh wilayah Indoensia. Sebagaimana telah diketahui oleh masyarakat luas bahwa SLANK dan Iwan Fals mempunyai pendukung (fans) fanatik yang cukup banyak dan pencitraan yang kurang bagus bahwa setiap konser Iwan Fals dan Group SLANK biasanya berakhir dengan kerusuhan. Tetapi melalui konser ini kedua musisi papan atas Indonesia ini telah membuktikan diri bahwa kolaborasi mereka tampil dalam satu panggung berakhir dalam damai tanpa kekerasan, tanpa kerusuhan. Sebagai musisi yang sangat dikenal masyarakat luas, tema yang diusung kedua musisi tersebut telah mengingatkan kembali masyarakat dan seluruh umat manusia akan pentingnya persatuan dalam kedamaian.
Sejarah telah mencatat bahwa bangsa Indonesia berdiri atas perbedaan-perbedaan suku, adat istiadat, budaya dan agama. Hal ini sangat disadari oleh pendiri bangsa yang mencetuskan dasar negara Pancasila yang salah satu isinya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dapat menghormati dan memberikan tempat yang sama kepada masing-masing agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan. Semua perbedaan yang ada merupakan kekhasan yang tidak harus dipertentangkan ataupun diseragamkan apalagi dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan terhadap yang lain. Perbedaan-perbedaan ibarat taman bunga warna-warni di taman yang tertata indah. Sebuah negara besar adalah negara yang bisa melindungi dan menghormati perbedaan-perbedaan itu.
Perpecahan dan kekerasan sering terjadi bila orang atau kelompok orang tidak siap hidup dalam perbedaan. Beda suku saling bermusuhan, beda pemikiran bisa saling berantam, beda agama saling mencemooh, beda kepentingan telah menjadikan perbedaan sebagai alat untuk membenarkan kekerasan, perpecahan, karena perbedaan telah terjadi dimana-mana baik di organisasi politik, organisasi pemuda maupun organisasi sosial keagamaan. Perpecahan terjadi karena masing-masing orang, masing-masing kelompok merasa paling benar, paling berhak dan serba paling. Para tokoh, pimpinan yang demikian itu telah melupakan sebuah ungkapan sederhana yang telah akrab di telinga "damai itu indah", mereka telah lupa ketokohan Mahatma Gandhi yang sukses membebaskan negaranya dengan berlandaskan tanpa kekerasan (ahimsa), mereka tidak menginginkan keindahan, kedamaian dalam keteraturan sosial dalam berbangsa dan bernegara dalam bingkai kemajemukan.
Dalam agama Hindu kedamaian selalu dimohonkan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam setiap doa dengan asesanti Om santi, santih, santih Om, semoga damai dihati, damai di dunia dan damai selalu, sebuah permohonan agar kedamaian selalu ada di muka bumi dan kebahagiaan bisa diraih oleh semua makhluk yang ditegaskan dalam trisandhya "sarvapranihitankarah, semoga semua makhluk memperoleh kebahagiaan, ataupun loka samastha sukhimo bhavanthu, semoga seluruh dunia memperoleh kesukaan/kebahagiaan. Semua doa-doa tersebut dimohonkan untuk seluruh
alam semesta dan bukan untuk umat Hindu saja.
Untuk memperoleh kebahagiaan harus ada kedamaian, tanpa kedamaian tidak akan ada kebahagiaan. Dalam Taitriya Upanisad VIII.l terdapat ajakan untuk menjaga kedamaian sebagai berikut "Om saha nava vatu sahanau bhunak tu saha viryam karava vahai tejasrinavathitam astu navid vahai" marilah kita tumbuh bersama, hidup bersama dan menumbuhkan kasih sayang bersama agar dunia ini tetap tentram dan damai. Gde Pudja dalam sambutannya di buku Satyam Siwam Sundaram menyatakan bahwa salah satu usaha untuk mewujudkan perdamaian dan ketentraman di dunia adalah dengan cara mengingatkan kembali upaya peningkatan dan penghayatan terhadap ajaran agama maupun mendalami ajaran mental spiritual.
Agama Hindu dari sejak jaman Veda, Itihasa dan sampai sekarang selalu mengajarkan penyelesaian masalah dengan kedamaian, tanpa kekerasan (ahimsa). Dalam epos besar Mahabharata sebelum perang Bharatayuda pecah telah ada niat dari pihak Pandawa untuk menawarkan perdamaian kepada pihak Kaurawa, dalam Ramayana pun demikian sebelum Rama dengan pasukannya menyerang Alengka, Rama telah menawarkan jalan damai kepada Rahwana dengan mengembalikan Dewi Sita kepada Rama, dan sekarang ketika Bali di Bom masyarakat Bali menyerahkan penyelesaiannya kepada pihak kepolisian dan dengan tiada hentinya melakukan doa memohonkan kedamaian dan kesejahteraan untuk seluruh umat di dunia. Maka dari itu untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman seluruh alam semesta dan isinya perlu adanya kebersamaan dalam segala perbedaannya.
Organisasi social keagamaan seperti Forum Kerukunan Antar Umat Beragama menjadi bagian penting untuk mewujudkan ketentraman dan kedamaian utamanya dalam kehidupan beragama, kemudian adanya pemahaman, penghayatan dan mental spiritual yang mantap serta kesadaran bahwa alam semesta ini diciptakan dengan segala perbedaannya, sehingga sebuah harapan yang harus dikumandangkan oleh umat manusia bahwa ketentraman dan keda maian harus selalu ada dimuka bumi ini. Dan Iwan Fals dan Slank melalui tema konsernya telah mengingatkan kembali nilai-nilai dalam setiap agama yaitu kedamaian dan mengajak kita semua untuk bersatu dalam damai.
Source: Hariono l Warta Hindu Dharma NO. 467 Desember 2005