Bima Tokoh Jujur

Bima adalah anak kedua dari Kunti dengan Pandu, tapi Bima lahir dari peyatuan Kunti dengan Dewa Bayu atau Dewa Angin. Nama lai dari tokoh Bima adalah Raden Werkodara, Bhimasena, Bayusuta dan dalam konteks pewayangan di Bali sering disebut Anak Agung Made. Bima yang lahir dari jelmaan Dewa Bayu (Dewa tenaga nafas) ini indentik dengan simbol dari kekuatan yang dimiliki oleh tokoh Bima. Bayu atau Angin mempunyai Kekuatan untuk menghancurkan dunia mungkin hanya beberapa detik. Kutipan berikut ini dapat memperjelas asal usul dari tokoh Bima:

Setelah kelahiran Yudistira, Pandi datang kembali kepada Kunti. "Yang kita perlukan sekarang ialah seorang anak laki-laki Satria. Kali ini mintakan kekuatan yang tiada tandingannya." Kunti mengendam Bayu dan Dewa Angin yang mengendarai seekor rusa berdiri di depan Kunti. Begitulah pada hari sama, sama dengan kelahiran Duryodana, maka lahirlah Bima yang sangat kuat, hebat dan suara dilangit memaklumkan: "Tak satu pun makhluk di dunia yang lebih kuat dari pada Bima ". Pada suatu hari tatkala Kunti tiba-tiba berdiri karena dikejutkan oleh seekor harimau, bayi yang tidur dipangkuannya terjatuh ke atas sebuah batu, batu itu hancur menjadi debu karena benturan itu (hl. 42).

Secara fisik tokoh Bima ini, memiliki kekuatan yang luar biasa seperti yang telah dijelaskan pada kutipan di atas. Ketika ia jatuh di atas batu yang hancur adalah batu itu sendiri. Menurut I Gusti Bagus Sugriwa tokoh seperti Bima mempunyai ciri-ciri: mata bulat, sebagai kiasan orang yang suka marah, kejam dan bengis, mementingkan diri sendiri tidak percaya kepada kekuatan orang lain percaya kepada kenyataan dan keduamaan saja (1976:26). Hiasan kepala atau mahkota atau disebut dengan ketu Bima disebut dengan Bhuawa Sakula (Ibid. 1976.25). Sedangkan kain, yang dipakai adalah kain poleng hitam putih yang dipakai dalam bentuk Bulet/mabulet Bhs. Bali (kain yang disimpulkan menyerupai bentuk celana dalam).

Dari segi fisik Bima memang memiliki postur tubuh yang kekar, kuat, hitam karena jarang menggunakan baju. Hal ini dapat kita lihat dari ucapan Hidimbi ketika ia melihat Bima sedang berjaga-jaga menunggui saudara saudaranya yang sedang tidur di tengah hutan terbuka. Untuk lebin jelasnya lihat kutipan berikut:

Ketika adik perempuan raksasa pemakan daging mentah itu melihat Bima, yang sedang duduk berjaga jaga, lurus seperti pohon sala, ia jatuh cinta kepadanya. "Laki-laki yang mempunyai bahu seperti singa dan berlengan emas, bermata seperti teratai dan bertengkuk seperti kerang .... dst (hl. 68).

Secara Psichologis tokoh Bima walaupun ia dari segi intelektual ia tidak terlalu menonjol. Karena ia hanya mengandalkan kekuatan fisiknya ketimbang daya pikirannya. Hinzler (1981 : 70) mengatakan tokoh Bima mempunyai karakter, suara (vorce); keras (toud], dan kasar (rough) di samping itu wataknya; keras kepala, tegar (obstmate) dan suka terus terang (straightfoward). Dalam salah satu melodi gender wayang ada istilah melodi Bima Krodha atau Bima sedang marah. Melodi ini dipakai jika seorang tokoh sedang marah (Ibid. 1981 : 295). Sedangkan Gusti Bagus Sugriwa mengatakan gending Bima Krodha termasuk gending gender Angkatan yakni digunakan pada waktu para tokoh berangkat ke medan perang atau ke tempat lainnya, setelah Paguneman. Melodi ini untuk golongan kanan yang bermata bulat dan Kurawa (1976:32).

Meskipun Bima mempunyai watak dan suara yang keras, namun ia sangat lugu, jujur. Sedikitpun dalam pikirannya ada niat untuk berbuat jahat, kecuali ia pernah disakiti. Kekuatan dan kenakalan Bima telah nampak ketika masih hidup bersama-sama putra-putra Drstarata di Hastina waktu masa kecilnya. Untuk lebih jelasnya lihat kutipan berikut:.

Bima janara berlari, bersantap dan menebarkan debu ke dalam mata lawan-lawannya. Ia tarik kaki mereka dan membenturkan lawan yang satu dengan lawan yang lain, sementara itu ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan hasil pekerjaannya. Kemudian Bima akan menarik lawan-lawannya dengan menggenggam rambut mereka, membantingkannya ke tanah dan membenamkan kepada mereka ke dalam air sampai mereka nyaris mati tersendat. Pada waktu mereka memanjat pohon untuk memetik buah, diguncangnya pohon itu hingga buah dan pemanjatnya jatuh ke tanah. Semua itu dilakukannya dengan rasa senang, dalam melakukan kenakalan ia tak pemah ia memikirkan niat jahat (hl. 47).

Bima sangat menghormati dan setia kepada Ibu, Istri dan saudarasaudaranya. Ia sangat penurut kepada Yudistira, la menganggap Yudistira seoagai pemegang kebenaran Apapun ia akukan demi membela kehormatan keluarganya. Ketika mereka berjalan di tengah hutan waktu mereka meninggalkan Hastinapura, di tengah perjalanan, saudara-saudaranya dan Dropadi kehilangan tenaga, maka Bima menggendong mereka dengan kekuatan fisik yang dimilikinya. Bima sangat taat pada sumpahnya. Ia membunuh Kicaka yang hendak memperkosa Dropadi ketika masih dalam penyamaran di Wirata. Demi kehormatan istrinya Dropadi, ia membunuh Kicaka Pada malam itu tanpa diketahui oleh siapa pun. Kemudian Demi sumpahnya kepada Dropadi juga, Bima merobek dada dan menciduk darah Dursasana, sebagai pembalasan terhadap penghinaan Dursasana yang menyeret Dropadi dalam keadaan haid dengan selembar kain. Waktu para Pendawa kalah main dadu. Semua sumpah Bima sudah terpenuhi termasuk meremukkan paha Duryodana pada perang Barata. Duryodana telah menghina para Pendawa terutama pada Dropadi yang disuruh melihat paha Duryodana, ketika akan meninggalkan Hastina Pura Bima bersumpah pada waktunya paha itulah yang akan diremukkan kelak pada waktu perang besar. 'Untuk lebih jelasnya lihat kutipan-kutipan berikut:

"Masih banyak gunung di depan kita, kata Yudistira kepada Bima. Bagaimana mereka dapat menempuh perjalanan ini?"
"Adinda akan menggendongmu, si Kembar dan Dropadi dipunggungku, kalau Kakanda suka, "jawab Bima (hl. 161).
"Kau benar-benar seorang pria untuk kaum wanita." bisik Bima, "tapi ini wanita macam. lain. "la melompat turun dari ranjang itu dan menyambar rambut Kicaka. Kicaka memegang lengan Bima dan mereka berpelukan. Mula-mula Bima jatuh seperti bambu terbelah, menyusul Kicaka seperti pohon ditumbangkan topan. Bima mengahantam dadanya keras-keras, duduk diatasnya menghajar tubuh Kicaka dan menjambak rambutnya, lutut dibenamkan ke perutnya. Ketika tubuh Kicaka yang remuk redam menjandi lunglai, Bima mulai mengguling-gulingkannya dilantai, ia berhenti, kemudian menghantam kembali keras-keras mayat itu, memukulkan tinjunya, tungkai, tengkuk, kepala, sampai hanya tinggal, gumpalan bubur daging. Kemudia ia memanggil Dropadi. "lihatlah babi yang penuh nafsu birahi itu" (hl.211-212).

.... Bima teringat diseretnya Dropadi pada rambutnya, dan kemarahannya menyala bagaikan api yang dituang minyak. Di depan mata Duryodana dan Karna, ia melompat dari atas keretanya, matanya menatap pada Dursasana yang telah tergolek. Ia cabut pedangnya yang tajam, menginjakkan kakinya di atas tubuh Dursasana, membelah dadanya, dan menciduk darahnya yang masih segar (hl. 329).

.... Bima melontarkan gadanya dengan seluruh kekuatannya, gada itu menghantam paha Duryodana dan meremuk-kannya. Duryodana rubuh, bumi bergoncang karena benturan itu. Bima berdiri mengangkangi Duryodana yang jatuh dan berkata, "Kau menertawakan Dropadi yang ditelanjangi, Kau tertawa dan menamakan kami lembu. Tertawakan sekarang (hl. 348-349).

Sesekali waktu watak Bima sebagai Satria yang tahu akan kewajibannya, yakni menegakkan kebenaran dan keadilan walaupun harus dengan jalan perang. Jiwa patriot sejati memang merupakan watak asli dari tokoh Bima. Hal ini terlihat ketika ia dan saudara-saudaranya menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun. Bima mendesak Yudistira untuk segara mengadakan perlawanan terhadap Kurawa yang dinilainya menyimpang dan kebenaran. Tapi Yudistira sebagal Dewa Darma, masih tetap berusaha menasehati adik-adiknya agar tetap sabar. Walaupun Bima memiliki karakter yang keras, tegar namun, namun sekali waktu ia juga menasehati Yudistira ketika Yudistira putus asa, tidak mau menjadi raja. Ketika itu bima memberi nasihat, sesungguhnya sangat masuk akal jika dilihat dari kewajiban-kewajiban seorang ksatria. Lihat kutipan-kutipan tersebut:

"Hidup ini sangat singkat, Kakanda, "kata Bima. Bagaikan busa di hutan, bagaikan buah yang jatuh, kita ini hidup dalam waktu, yang arusnya membawa kita semua, bahkan menjauhkan maut. Setiap kali mata pincil itu mencocok sebutir gabah, jumlah tuam itu mengecil. Jika kita habiskan waktu tiga belas tahun itu dengan sia-sia di dalam hutan, kita akan tiga belas tahun lebih dekat dengan kematian. Bagaimana Kakanda dapat menganjurkan kesabaran? Bertindaklah sekarang juga ! Marilah kita menjadi Satria sejati. Marilah kita bunuh mereka (hl.153).

Bima menyela, "Semua ini-sama seperti ocehan orang sinting tentang kitab-kitab suci. Apa gunanya terjun ke dalam pertempuran kalau sekarang Kakanda menolak untuk memikul beban kemenangan? Apa gunanya membunuh Kurawa? Jika kami tahu bahwa ini yang akan menjadi hasil daripada daya upaya kami, kami takkan pernah berperang. Apakah Kakanda kira seorang Satria tak mampu memaafkan, mengasihi, menaruh belas kasihan dan ahimsa ? Jika moksa terdapat di dalam mengingkari kewajiban-kewajiban manusia, maka gunung-gunung dan  pepohonan tentulah yang pertama-tama akan dapat mencapai moksa. Mereka tidak mempunyai kewajiban, mereka tidak mencederai siapa pun, mereka adalah benda-benda yang paling wadal di muka bumi ! Mengapa, bahkan ikan pun akan memperoleh moksa sebelum kita mencapai! Lihatlah! dunia berputar karena kewajiban-kewajiban dilaksanakan sepanjang waktu. Bagaimanakah dengan melarikan diri dari kewajih kewajibannya seseorang dapat memperoleh kebahagiaan ? (hl.403-404).

Tokoh Bima yang identik dengan "Kekuatan atau keras" banvak terdapat pada konteks kebudayaan tertentu. Di Bali dalam sistem pengobatan tradisional atau Usada ada istilah Bima Sengara yakni nama jenis rajah, sarananya peripih tembaga, dengan tujuan dapat bersemagat dan berapi-api dalam melakukan tugas-tugas tertentu (Sukantra, 1992 : 34). Di samping itu dalam konteks makanan khas Bali yakni Lawar atau semacam urap dengan bumbu khas Bali, ada dikenal dengan istilah Bimakrodha yang artinya masakan atau lawar itu sangat pedas. Demikian pula ada pepatah Bali "Gede pesan Bayune cara Bima artinya besar sekali tenaganya seperti Bima. Dan yang lagi populer Bima yang identik dengan kekuatan seorang laki-laki dalam hal seksual adalah Jamu Kuku Bima yang diproduksi oleh perusahaan Jamu Sido Muncul dan pada lebel kemasannya terpampang gambar tokoh Bima. Ternyata Bima dalam tokoh pewayangan sangat dikenal pada kebudayaan Nusantara sebagai simbol dari "kekuatan atau tenaga laki laki" dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Sujtipto Wiryosuparto 1957 telah membahas juga Nama Candi Bima dalam komplek Candi-candi Dieng. Candi ini terletak di sebelah selatan tanah datar tinggi Dieng dan dekat bukit Panggonan. Candi Bima termasuk seni bangunan Dieng Kuno baru yakni sekitar pertengahan abad ke-8 sampai pertengahan abad ke-9 (17,26).Di dalam Candi Bima itu ditemukan dua Arca kepala Bima, Arca kepala Bima I di simpan di Museum Jakarta, dan yang ada di Candi Bima sekarang adalah Arca kepala Bima II. Arca kepala dari Candi Bima yang terbuka matanya dan memperlihatkan sifat-sifat kedewataan ini pada hakikatnya sama bentuknya dengan mata topeng raja Lernbuamidjaya (Ibid, 1957 : 50).

Di dalam geguritan Atma Prasangsa yang di-Alih-Aks; Bahasa oleh I Gusti Ngurah Bag Wayan Tapa tahun (1981:135. ada disebut-kan tokoh Bima pada waktu mencari arwah Pandu yang tenggelam di dasar kawah Candra Gohmuka. Cerita ini hampir sama dengan cerita Bima Swarga yang telah dikupas oleh Hinzler 1981.

Pada geguritan Atma Prasangsa, di jelaskan sifat Bima dan kekuatannya yang dengan jujur ia mampu mengajak Kunti dan keempat saudara ke surga untuk melihat arwah Pandu. Ketika Kunti mendapat pawisik bahwa arwah Pandu dalam keadaan sedih di neraka. Maka Kunti bertanya kepada, Yudistira, Arjuna, Nakula dan Sahadewa siapa yang bisa menunjukkan jalan menuju surga, tapi semuanya menjawab tidak tahu. Ketika itulah Bima menjawab. "Aku bisa menunjukan jalan ke surga". Untuk lebih jelasnya dikutipkan bait berikut:

Dulu waktu aku bertapa, pada Girikusuma, saya pergi ke surga, tapi sekarang tak ingat lagi. Raden Bima berkata, saya berangkat sekarang tapi anda semua ikut, dan ibuku bersama-sama berangkat (bait. 19, Pupuh Adri). Sri Kunti berkata dan saudaranya, serentak bertaka, semua turut, Sang Bima berkata, katanya tegas, sekarang aku mencari tempatnya bapak, walaupun di Tambra Gohmuka (bait. 20. Pupuh Adri).

Ibuku marilah cepat, naiklah, pada ubun-ubunku. Dewi Kunti turun, lalu naik, Dewi kunti berkata, Ibu permisi anakku sang Bayu, semoga tak kualat (bait 21 Pupuh Adri)
Sang Darmasuta naik, pada mata tempatnya, saya permisi adikku Bima, Sang Arjuna  duduk,  pada  hati tempatnya, Nakula Sahadewa pada paha kanan dan kiri, semuanya sudah mendapat izin (bait. 22. Pupuh Adri).

Semua sudah masuk, badannya besar laksananya bagaikan perwira yang sakti, dan cepat Pergi, berjalan di atas pohon kelara yang sakti dan cepat pergi, berjalan diikuti oleh abdinya, angin ribut, bumi ini telah dilewati (bait. 23. Pupuh Adnri).

Apa yang dijelaskan pada kutipan-kutipan di atas, hanya Bima yang mampu memasukkan semua saudaranya, dan Ibunya Kunti ke dalam badannya. Secara logika ini dapat kita pahami bahwa kekuatan fisik Bima memang luar biasa, hal semacam juga dilakukan waktu dia menggendong saudaranya dan Dropadi di tengah hutan. Dengan demikian tidak sia-sia ia putra Dewa Angin. Ternyata dalam perjalanan Bima ke surga dengan berbagai rintangan, tak gentar dan tak pernah mundur. Akhirnya Bima mampu mencapai surga dengan badan kasarnya. Bima mencari arwah Pandu yang ada di dasar kawah, tidak boleh tidak harus mencabut semua arwah yang ada di bawah itu. Para dewa sekalipun takut terhadap kekuatan Bima.

Bima sebelum mati di lereng Meru, ia sempat bertanya kepada Yudistira; "lihat aku! Aku yang begitu kakanda Cintai, telah rubuh, Mengapa? Yudistira menjawab: "Kau seorang pembual besar dan jago gembul Tak pernah terbayang olehmu untuk memikirkan kebutuhan-kebutuhan orang lain pada kau makan. Itulah sebabnya kau rubuh.

Apa yang dikatakan oleh Yudisura merupakan rahasia kematian tokoh Bima. Selama ini ia sendiri tidak pernah menyadari perbuatannya itu Rasa egoisnya memang menonjol pada tokoh, Bima. kalau kita simak ucapan yang dipiakai Bima selalu menggunakan kata "Aku" terhadap siapa pun. Secara tidak langsung kata "Aku" menyiratkan makna ke-egois-an Bima. Di samping egois Bima juga jago dalam hal makan Dia pernah menjadi juru masak di Wirata ketika tahun ke tigabelas dengan nama samparan Jagabilawa.

Kejujuran dan pengabdian Bima pada gurunya Drona dapat kita baca pda kitab Nawaruci atau Bima Soeci yang telah dibahas oleh Dr. Prijohoetomo, tahun 1934. Kisah Bima dalam Nawaruci lebih merupakan telaah filsafat, bahwa Bima menemukan dirinya sendiri. Walaupun dia telah mendengar bahwa sesungguhnya. Drona dan Duryodana menginginkan kematian Bima. Drona menyuruh Bima untuk mencari Tirtha Pawitra, di dalam sumur dengan harapan Bima akan mati ditelan oleh para naga, namun kenyataannya Bima kembali ke hadapan Drona dengan membawa dua ekor bangkai naga. Kemudian Drona menyuruh Bima kembali mengambil Tirtha Pawitra di Tegal dengan harapan Bima dapat termakan para raksasa. Demi guru dan kewajibannya sebagai murid ia lakukan dengan penuh tanggung jawab, walaupun dengan resiko kematian. Suatu ketika ia telah membunuh seorang raksasa yang ternyata seorang jelmaan dewa dari kahyangan yang dihukum menjadi raksasa. Raksasa itu menyembah kepada Bima, karena telah terbebas, namun bisa menolak sebab tidak benar Dewa menyembah manusia, Aywa kita atur sembah menawa aku tulah apan kita dewa aku manusia, artinya jangan kau menyembah aku, mungkin aku kualat sebab kau Dewa, aku manusia (Prijohoetomo, 1934 : 33).

Semua rintangan yang menghalangi langkah Bima, akhirnya membawa dia bertemu dengan Dewaruci. Di sinilah Bima mendapat pelajaran hakikat pengetahuan tertinggi. Di dalam kolofon ada disebutkan "Iti Tattwa-jnana nirmala apusira Ciwamurti" (Ibid, 1934 : 87) atau ini inti kebenaran pengetahuan yang suci sebagai pengikat Siwamurti.

Dengan demikian tokoh Bima dalam Nawaruci mempunyai pengetahuan yang sangat tinggi, yang ia peroleh dan perjuangannya yang tanpa pamerih demi gurunya. Bima bukanlah sengaja berguru pada Dewaruci akan tetapi atas usaha yang ia lakukan dalam rangka mencari Tirtha Pawitra.

 

Source: Made Purna l Warta Hindu Dharma NO. 431 Januari 2003