Bimaniu Gugur Lakon Wayang Parwa

Brata Yudha hari kesepuluh Senapati Bhisma dipanah bertubi-tubi oleh Srikandi, Panah Srikandi kurang tenaga, disusul digebugi oleh anak panah Arjuna yang bertenaga lebih kuat. Sehingga anak panah Srikandi, bisa menembus jasad Senapati Bhisma. Tubuh Bhisma yang kokoh roboh, tidak menyentuh tanah, disangga banyak anak panah Srikandi, ditepi Tegal Kuru Kshetra medan perang Brata Yudha itu.

Pada hari kesebelas, Bhisma yang roboh masih hidup, kepalanya lunglai tergantung lemas tiada disangga oleh suatu apapun. Para Korawa dan para Pandawa datang bersamaan waktu, mengunjungi Bhisma yang sekarat dipinggir medan Brata Yudha pada hari kesebelas. Tak sengaja berlangsung gencatan senajata. Bhisma, menolak bantal kapuk empuk bersarungkan sutra dipersembahkan oleh Duryodana. Bhisma menerima tombak yang dipancangkan Arjuna ditanah, untuk bantal, penyangga kepala Resi Bhisma,

Bhisma meminta air minum. Duryodana mempersembahkan air ramuan yang biasa diminum dalam pesta formal. Bhisma menolak, air persembahan Duryodana. Bhisma, menerima dengan senang hati, air tanah yang muncrat keluar dipanah oleh Arjuna. Bhisma, mengetahui bahwa saat itu, surya sedang berada, dibelahan bumi selatan, 'daksina yana'. Bhisma dapat memilih sendiri saat waktu dirinya mati, yaitu pada saat surya ada dibelahan bumi utara, "utara yana".

Saat itu, untuk terakhir kalinya, Bhisma menasihati Korawa dan Pandawa, agar menjalin perdamaian, persatuan dan kesatuan antar bangsa Kuru. "Perang" kata Bhisma, akan menghancurkan bangsa Kuru, yang telah berjaya sepanjang masa.

Tanggapan dari kedua belah pihak, Korawa dan Pandawa atas nasehat Bhisma, tidak ada yang positif, selalu saja negatif. Perang Brata Yudha, berlangsung terus, sampai dengan hari ke 18. Pada hari keduabelas Guru Drona yang telah berusia lebih 80 tahun, dikukuhkan menjadi Senapati memimpin pasukan Korawa. Pandawa menunjuk Bimaniu, pahlawan usia muda, menjadi Senapati. Menandingi Guru Drona, lanjut usia dan berpengalaman. Drona, didampingi oleh para pahlawan berpengalaman seperti : Krepa, Adipati Karna, Aswatama, Dussasana, para Korawa Seratus lainnya. Sekuni, dan Jayadreta, putra raja Wredaksatra asal kerajaan Sindhu.

Upacara Pengukuhan Bimaniu Menjadi Senapati
Pengukuhan Bimaniu menjadi Senapati Pandawa berlangsung unik dan sakral, didalam paviliun Pandawa di Tegal Kuru Khsetra. Tari Rebong pengukuhan, berlangsung sangat meriah, penuh khidmat. Kedua istri Bimaniu : Diah Siti Sundari dan Diah Utari hadir. Diah Utari yang sedang hamil tua, tidak mau ketinggalan. Diah Siti Sundari dan Diah Utari, silih berganti melantai dengan Bimaniu, pada malam upacara pengukuhan, di tengah-tengah para partisipan dalam paviliun, tampak ceria dan berwibawa.

Sri Kreshna
Kreshna sempat berbicara empat mata dengan setiap tokoh yang hadir dalam paviliun. Sri Kreshna, mendapat mandat dari raja Yudhistira, untuk melaksanakan pengukuhan Bimaniu menjadi Senapati. Dengan membawa bunga tangan, Sri Kreshna memulai pindato resmi beliau. "OM swastyastu. Saudara-saudara sekalian, atas nama raja Yudhistira dan para Panca Pandawa, saya mendapat kepercayaan dan kehormatan, untuk mengukuhkan Bimaniu menjadi Senapati. Kedua istri Bimaniu: Siti Sundari dan Utari, tampak hadir ceria.

Saya Kreshna, mengukuhkan Bimaniu, menjadi Senapati Pandawa, akan tampil memimpin pasukan Pandawa esok hari, pada giliran Brata Yudha, hari ke tiga belas, di Tegal Kuru Kshetra. Arjuna, telah memilih saya mendampingi Pandawa dalam Brata Yudha. Sekalipun saya berjanji tidak akan mengangkat senjata, dalam Perang Brata Yudha ini. Dalam keadaan tangan kosong, saya dipilih oleh Arjuna menjadi kusir kereta perangnya.

Senjata, alat perang, para pasukan kerajaan Dwarawati di satu pihak, telah dipilih oleh Duryodana berada dipihak Korawa. Saya, adalah saudara sepupu Pandawa Lima. Karena Wasudewa ayah saya, bersaudara dengan Ibu Kunti, ibu para Pandawa. Bimaniu, putra Arjuna dari Dewi Subadra adik saya, adalah ponakan saya. Bimaniu, sekaligus bekas murid saya, adalah juga menantu saya, karena Bimaniu memperistri putri saya : Diah Siti Sundari. Diah Utari, madu Diah Siti Sundari sedang hamil tua. Diah Utari akan meneruskan kelangsungan bangsa Kuru untuk selanjutnya.

"Bimaniu!", seru Kreshna. Silahkan anda maju mendekat ketempat saya berdiri, kata Kreshna, memanggil Bimaniu. Bimaniu pun serta merta mendekati Sri Kreshna.

Saudara-saudara sekalian lanjut Sri Kreshna : "Ucapan saya terdahulu, hanyalah merupakan bumbu penyedap saja".

Sekarang, selaku pemegang mandat politik resmi Yudhistira, dan para Pandawa, saya Sri Kreshna berbicara kepada Bimaniu, disaksikan oleh para tamu terhormat, "Saya mengukuhkan Bimaniu menjadi Senapati, panglima perang pasukan Pandawa. Dalam Perang Brata Yudha di Tegal Kuru Kshetra, hari ke tigabelas esok". Dengan menyerahkan bunga tangan ini kepadamu Bimaniu, saya berkata bahwa : Bimaniu, dikukuhkan menjadi Senapati Pandawa. "Pahami, hayati, amalkan ilmu serta pengalaman berlaga yang telah diajarkan oleh Kreshna gurumu bagi diri pribadimu, Bimaniu!" Demikian bisikan Sri Kreshna, dikuping Bimaniu. Sri Kreshna menyerahkan bunga tangan, kepada Bimaniu, tanda pengukuhan resmi menjadi Senapati, disambut tepuk tangan meriah khidmat oleh para yang hadir didalam paviliun Pandawa malam itu.

Sri Kreshna bersuara jelas lantang sebelum turun dari mimbar resmi : "Bimaniu maju terus, pantang mundur!". Bimaniu, menyentuh ujung kaki Sri Kreshna, memohon restu. Diiringi gender gendhing Omang atau Angkat-Angkat. Pertemuan pengukuhan malam itu selesai, dan para yang hadir, diam saling bersalaman dan bubar. Bersambung

Source: Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 484 Mei 2007