Bentuk-bentuk dan Pemicunya
Setiap orang, betapapun hina dan nistanya ia, ia merasa punya "harga" dan ingin dihargai keberadaannya. Inilah yang kita sebut dengan harga-diri. Ia merupakan kebutuhan mental-psikologis yang sangat mendasar sifatnya. Kesombongan erat kaitannya dengan harga-diri. Tuntutan akan harga-diri yang berlebihan terekspresi berupa kesombongan. Makanya orang yang sombong atau angkuh juga disebut orang yang tinggi-hati; ia menghargai dirinya terlalu tinggi, secara berlebihan. Pada saat yang bersamaan, ia sangat haus akan penghargaan ini. Lontaran-lontaran seperti: "Dikiranya siapa aku ini?", "Memangnya dia siapa?", "Jangan samakan aku dengan orang-orang itu", atau yang sejenisnya, mencerminkan kesombongan ini.
Kesombongan bukan hanya menyerang mereka yang kaya, para pejabat tinggi, pintar, berstatus sosial tinggi, namun bisa menyerang siapa saja. Selama masih merasa lebih dari yang lainnya sehingga merasa pantas dihargai lebih, selama itu pula kesombongan bercokol secara laten di hati setiap orang. Bagi mereka yang sombong, kelebihan-kelebihan objektif bukan merupakan prasyarat mutlak untuk merasa lebih. Walaupun secara faktual mereka tak punya kelebihan apa-apa, mereka bisa saja tetap merasa lebih.
Kesombongan bisa mengambil banyak bentuk, kasar maupun halus, dari yang bersifat fisikal, mental, hingga yang bersifat spiritual. Sombong akan harta material, kecantikan tubuh, kesehatan badan, keturunan anak, sanak-keluarga, ras, kebangsaan, komunitas sosial eksklusif lainnya, hasil karya dari keterampilan atau keakhlian jasmaniah, merupakan beberapa bentuk-bentuk umum dari kesombongan yang bersifat fisikal. Sombong akan kepintaran, kecerdasan, kecendekiawanan, gelar akademis, hasil-hasil karya seni dan intelektual, kepribadian, adat-istiadat dan budaya yang dianut, kedudukan atau jabatan sosial-budaya, sosial-politik hingga sosial-religius, ketenaran dan yang sejenisnya, merupakan beberapa bentuk-bentuk umum dari kesombongan yang bersifat mental. Menyombongkan agama atau kepercayaan yang dianut," ajaran kerokhanian, pandangan hidup dan filsafat hidup yang dianut, jalan dan ilmu kerokhanian yang ditekuni, dikuasai, atau yang sejenisnya, merupakan beberapa bentuk-bentuk umum dari kesombongan yang bersifat spiritual.
Seseorang boleh jadi awalnya kelihatan rendah-hati, karena belum muncul rasa percaya-dirinya; namun selekas ia merasa berprestasi, merasa berhasil, kesombongan segera menyergapnya. Keberhasilan, kemenangan, perolehan atau pencapaian, umumnya merupakan pemicu utama munculnya kesombongan di permukaan. Tak sedikit orang yang tadinya (tampak) rendah-hati, tiba-tiba jadi sombong setelah memperolehnya.
Tiga Serangkai - Kesombongan, Kepemilikan dan Kemelekatan
Keberhasilan segemilang apapun, bila tanpa disertai rasa kepemilikan, pengakuan atasnya dan pengangkangan sebagai "keberhasilan-ku", tidak memicu kesombongan, la tetap tinggal sebagai sebentuk monumen keberhasilan seperti apa adanya. Rasa kepemilikan, terjadinya pengakuan terhadapnya sehingga muncul hasrat yang kuat untuk mengangkanginya, bukan saja memicu kesombongan, tapi juga amat rawan untuk memicu kebencian hingga permusuhan. Sebab, bila ada orang lain mengakuinya juga, apalagi hendak merebutnya untuk dikangkangi sendiri, kebencian, rasa permusuhan hingga perseteruan tidak terhindarkan lagi.
Makanya, siapapun memancarkan kesombongan, dapat dipastikan kalau ia punya rasa kepemilikan dan kemelekatan yang kuat. Atau sebaliknya, siapapun punya rasa kepemilikan dan kemelekatan yang kuat, kesombongan akan selalu menyertainya kemanapun ia pergi. Tiga serangkai ini bagaikan kembarsiam.
Setiap orang melekat pada apa yang dianggapnya sebagai miliknya. Di antara semua bentuk rasa kepemilikan, maka rasa kepemilikan atas dirilah yang terkuat. Sesudahnyalah baru menyusul rasa kepemilikan atas istri/ suami, atas putra-putri, atas keturunan, atas saudara-saudari, atas kerabat dan handai-tolan dan seterusnya.
Tiada kedamaian di hati mereka yang sombong. Yang ada malah ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, rasa waswas kalau-kalau ada yang mengunggulinya, mengalahkannya, mengusiknya dari tempat bertengger. Mereka bisa saja tampak waspada, selalu berjaga-jaga; namun semua itu hanyalah untuk menjaga kesombongannya itu. Baginya, tak ada tempat yang benar-benar tenteram nan damai di muka bumi ini.
Yang merupakan Obatnya
Si kesombongan inilah yang merasa berharga; dialah yang memperkenalkan "harga-diri" dan menuntut untuk dihargai. Makanya ia akan selalu berusaha "unjuk-diri" karena butuh penghargaan, sanjungan dan pujian. Itulah makanan dan minuman yang menyehatkannya. Setiap bentuk penghargaan, sanjungan dan pujian yang diterimanya bak pupuk yang kian menyuburkan pohon kesombongan ini.
Namun jangan salah. Tak seorangpun dianjurkan untuk melakukan tindakan tak terpuji. Lakukanlah tindakan terpuji sebanyak-banyaknya; namun jangan lakukan itu demi pujian, penghargaan atau sanjungan. Lakukan itu dengan motif-motif yang luhur, yang benar-benar terpuji. Ketika seseorang melakukan suatu tindakan terpuji, ia sebetulnya sudah bisa merasakan langsung sanjungan, pujian dan penghargaan itu, karena pada saat yang bersamaan ia telah memuji Tuhan-Nya. la sebetulnya tak membutuhkan lagi bentuk-bentuk penghargaan, sanjungan dan pujian pihak luar manapun, baik kasar maupun halus, baik yang bersifat materiil maupun moril atau non-materiil lainnya. Tindakan terpuji yang mengagungkan Yang Maha Terpuji itu sudah membawa serta semua itu bersamanya.
Berdasarkan derajat kehalus-annya, kesombongan spirituallah yang paling tinggi kadar kehalusan; kesombongan mental segera menyusulnya, dan yang paling kasar adalah kesombongan fisikal. Saking halusnyalah ia paling sukar diobati. Bahkan sekedar untuk dideteksi saja, sudah sedemikian sukarnya.
Syukurnya adalah, betapa sukarpun ia diobati, kesadaran akan keberadaanya mengantarkan siapapun pada kesembuhan. Keinsyafan inilah sebetulnya awal dari kesembuhan, yang sekaligus juga merupakan obat dari berbagai jenis penyakit lainnya. Kalau kita belum sadar kalau kita sebetulnya sakit, tak akan pernah muncul hasrat untuk berobat bukan?
Kesombongan mengakar
Setiap makhluk berjasad kasar maupun halus punya ketiga sifat-dasar ini, triguna ini. Bedanya cuma, yang mana yang dominan. Mereka yang guna rajas-nya dominan, cenderung bersifat rajasik. Yang guna tamas-nya dominan, cenderung bersifat tamasik; dan yang guna sattvam-nya yang dominan, cenderung bersifat sattvik. Demikianlah; tak satu makhluk berjasad dan berakal-budi manapun yang bisa bebas dengan mudah dari cengkraman mereka.
Kesombongan (abhimana) dan kepemilikan (mamakara) merupakan ekspresi negatif dari guna rajas. Mereka mengekspresikan keakuan atau egoisme (ahamkara) dengan kuat dan dengan jelas. Disinilah mereka mengakar. Dimana ada "aku" (I-ness), disana ada "milik-ku" (mine-ness).
Guna tamas yang pesimis, lembam, malas, enggan, apatis, pasif erat kaitannya dengan tataran fisikal atau jasmani ini; rajas optimis, ambisius, aktif, dinamis, agresif erat kaitannya dengan tataran mental-psikologis ini; dan sattvam yang realistis, jernih, tenang, murni, proaktif erat kaitannya dengan tataran spiritual, rokhani. Dan sejauh ketiga tataran melekat dan menyatu dengan kebaradaan setiap orang, triguna selalu akan menyertainya kemanapun ia pergi.
Pada kebanyakan orang, apalagi yang samasekali belum tersentuh ajaran dan laku kerokhanian, rajas dan tamas merupakan guna yang paling dominan. Tertekannya tamas, secara otomatis menguatkan rajas; sebaliknya melemahnya rajas, menguatkan tamas. Mereka ibarat kedua ujung dari sebatang tongkat. Demikianlah mereka bekerja silih-berganti mendominasi khasanah batin manusia. Mungkin Anda bertanya: Lalu apa kerja dari sattvam disini?
Sebetulnya, guna sattvam-lah yang mendominasi seseorang ketika ia sadar, kesadaran mana mendorongnya hingga muncul niat untuk menekan sifat rajasik ataupun tamasik-nya. Ia bagian dikatakan mengambil fungsi pengendali dan penyeimbang. Ketika kita sadar bahwasanya kita cenderung tamasik ataupun rajasik, sattvik sudah mulai bekerja; ia bekerja bersamaan dengan terbitnya kesadaran-diri ini. Kesadarandiri itulah yang bekerja melalui guna sattvam. Dan mereka yang telah sadar, yang dalam kesehariannya berhasil menegakkan kerja dari guna sattvam, disebut juga telah punya viveka telah bisa memilah-milah mana yang sejati dan mana yang semu, mana yang asli dan mana yang palsu, mana yang sunyata dan mana yang maya.
Mengetahui akar penyebabnya, cepat atau lambat, Anda akan mengetahui juga bagaimana membinasakannya. Membinasakan kesombongan bukan kewajiban siapa-siap. Ini kewajiban kita sendiri; ini adalah kewajiban mulia setiap orang. Mempekerjakan sebesar-besarnya guna sattvam, viveka-pun akan menyertai. Dengan hadirnya viveka, kedamaian hati dan kebahagiaan bukan lagi sekedar angan-angan.
Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.
Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 485 Mei 2007