Paham Sivaisme yang berkembang di India yang merupakan asal mula dari agama Hindu berawal dari kelahiran dan perkembangan paham Sivaisme di daerah Jammu dan Kashmir. Wilayah tersebut terletak di ujung utara ilayah negara India, yang saat ini berbatasan dengan negara Pakistan, negara Afganistan, negara Cina, dan kerajaan Nepal di sekitar pegunungan Himalaya (Parvata Kailasa). Tepatnya di wilayah Jammu dan Kashmir tersebut terdapat sebuah lembah yang sangat indah dan subur bernama lembah sungai Sindhu. Terletak di lembah inilah merupakan cikal bakal kehadiran paham Sivaisme pertama kali di India, yang akhirnya berkembang pesat ke berbagai negara bagian India, termasuk di wilayah India utara (uttar pradesh), Himanchal Pradesh, Uttaranchal, Haryana, Gujarat, Bihar, Benggala, Bhubhanesvaram, Maharastra, Madhya Pradesh, Karnataka, Andra Pradesh, serta daerah lainnya di lahan dunia, termasuk salah satunya alah sampai di negara Indonesia pada umumnya dan di daerah Bali pada khususnya.
Paham Sivaisme yang terlahir di lembah sungai Sindhu tersebut juga merupakan asal muasal dari nama agama Hindu, yang pada mulanya dinamai Sanatana Dharma (agama yang kekal dan abadi). Dari kata Sindhu berkembang menjadi nama agama Hindu, yang mana orang Bharatiya menyebutnya dengan nama Hindi atau Hindustan. Dari kata Sindhu pula muncul nama negara India, yang dalam bahasa Sansekerta sering dinamai Jambhu Svipa. Bertempat di Jambhu Dvipa itulah akhirnya berkembang pesat paham Sivaisme yang memiliki penganut yang sangat besar di berbagai belahan dunia hingga perkembangan terakhir ini.
Disadari bahwa paham Sivaisme (atau sering diartikan sebagai agama Hindu), memang diterima secara alami oleh umat manusia, maka menjadi terta¬namlah keyakinan dan kepercayaan umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam hal ini dalam paham Sivaisme sering digelari sebagai Sang Hyang Siva sebagai nama Tuhan yang selalu dipuja, dihormati, dimuliakan, serta disembah oleh umat manusia dari berbagai pelosok di dunia ini.
Dalam perkembangan dan perjalanannya di negara India, bahwa ada beberapa daerah menjadi tempat atau basis dari perkembangan paham Sivaisme. Adapun daerah yang dimaksudkan adalah daerah Benares yang lazim juga disebut sebagai daerah Varanasi, yang di dalam istilah bahasa Sansekerta bahwa wilayah itu dinama Kashi. Bagi kebanyak umat pengikut dari paham Sivaisme sering menamakannya dengan kota Siva (Siva Nagari). Namun bagi kebanyakan dari paham Sivaisme tersebut juga menamakannya dengan nama 'kota sinar' oleh karena di tempat itu sebagai pusat sinar spiritual bagi umat Hindu untuk memuliakan dan memuja Tuhan yang digelari Sang Hyang Siva (Bhagawan Siva). Bertempat di kota siva inilah berdiri dengan megahnya tempat suci untuk memuja Hyang Siva yang bernama Golden Tem-ple, ada pula Vishvanath Mandir, serta tempat suci agung yang lainnya sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Siva sebagai nama Tuhan dalam agama Hindu.
Satu daerah lagi sebagai basis perkembangan dari paham Sivaisme di Bharatiya adalah di daerah Tamil Nadhu. Daerah ini merupakan tempat yang paling penting untuk dikenang dan dicatat oleh umat manusia di dunia tentang dinamika paham Sivaisme yang ada di negara kelahiran agama Hindu sampai pada perkembangannya di berbagai belahan daerah di dunia ini. Bertempat di daerah tamil Nadhu dengan basisnya ada di Madras Nagari itu merupakan sentral dari pengikut spiritual pada paham Sivaisme.
Namun demikian yang patut dicatat adalah bahwa paham Sivaisme yang ada berkembang di sana itu secara khusus memiliki sebutan spesifik yakni bernama Saiva Siddhanta. Kata Saiva disini bermakna paham Siva. Sedangkan kata Siddhanta bermakna 'ajaran'. Jadi paham Sivaisme yang dalam hal ini eksis di daerah Tamil Nadhu adalah paham Saiva Siddhanta atau paham yang berisikan tentang ajaran-ajaran dari Tuhan Siva. Jadi dapat dikatakan bahwa paham (paksha) yang sering juga dinamai Sampradaya itu adalah paham yang berkembang pesat di daerah India Selatan.
Ada beberapa sumber yang dijadikan sumber spiritual Hindu dalam paham Saiva Siddhanta disana, antara lain: Saiva Agama, Saivita Tirumurai, Saiva Periyapuranam, Siva Jnanabodham Meykandar, Siva Jnanasiddhiar Arulnandi, dan paham Saiva dari karya-karya Umapati, Tirumular yaitu Tirumantiranm yang sekaligus sebagai dasar dari struktur filsafat Saiva Siddhanta. Begitulah perkembangan paham Sivaisme sebagai pembangkit spiritual di negara asli asal agama Hindu. Adapun inti sari dari paham Saiva Siddhanta adalah Siva sebagai realitas tertinggi. Jiva atau roh pribadi adalah intisari yang sama dengan Siva, walaupun tidak identik. Juga ada Pati (Tuhan), pasu (roh), pasa (pengikat), serta beberapa ajaran yang tersurat dalam tattva sebagai prinsip dalam kesemestaan yang realita. Paham Sivaisme dalam paksha Saiva Siddhanta sangat taat dengan inti ajaran Vedanta.
Selanjutnya bagaimana dengan paham Siva yang berkembang di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya. Sebagaimana ditulis dalam judul tulisan ini bahwa paham Sivaisme yang eksis di Bali adalah bersumber dari salah satu susastra Hindu bernama Buana Kosa. Bagaimana tentang Buana Kosa tersebut? Buana Kosa merupakan naskah tradisional Bali merupakan salah satu sumber pembangkit spiritual umat Hindu di Bali khususnya dan umat Hindu di Indonesia pada umumnya. Kenapa demikian? Oleh karena Buana Kosa tersebut merupakan intisari ajaran Veda yang disarikan dalam bentuk naskah tradisional Bali yang isinya sangat kaya dengan paham Sivaisme terutama sekali paham Saiva Siddhanta yang berkembang pesat di India Selatan.
Buana Kosa dikatakan sebagai sumber suci pembangkit spiritual umat Hindu di Bali, oleh karena segala aktivitas kegiatan spiritual yang terealisasi dalam bentuk kegiatan spirit dan ritual Hindu ada bersumber dari naskah Buana Kosa tersebut. Baik untuk umat Hindu secara umum maupun di kalangan orang suci (pandita) yang lazim dinamai sulinggih telah menjadi salah sumber suci untuk membangkitkan spiritual kehinduan bagi pengikut dan pemeluk agama Hindu di Bali, yang sekaligus cikal bakal dari sumber ajaran agama Hindu vang eksis sampai kini di Indonesia.
Naskah Buana Kosa saat ini telah dikoleksi di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali di Denpasar, yang naskah aslinya terdiri atas sebelas bab (eka dasa adhyaya). 486 sloka yang berbahasa Sansekerta yang artinya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuna dan saat ini telah pula ada terjemahannya ke dalam bahasa Indo¬nesia. Secara utuh bahwa isinya lebih menekankan pada paham ketuhanan Siva yang dalam naskah tersebut diistilahkan dengan nama Brahma Rahasyam (mengenai rahasia Tuhan iva), di antaranya : mengenai Brahma ahasya, Jnana Sang Ksepa, Bhuwana Kosan, dan Siwopadesa.
Kemudian jika dirinci lagi inti ajarannya adalah alam sepi (sunya), kelepasan (moksha), ciptaan Siva (sresti), Tuhan Siva ada dimana-mana (vyapi vyapaka), lima unsur alam (panca maha bhuta), lima unsur alam yang tak berwujud (panca tan matra), lima unsur dalam tubuh (panca pada), tujuh pulau (sapta dwipa), tujuh lautan (sapta sagara), tujuh gunung (sapta parvata), tiga kualitas dalam karakter (tri guna), lima indriya pekerja pikiran (panca buddhindriya), lima unsur pekerja badan (panca karmendriya), empat spirit umat manusia (catur atman), tujuh alam (sapta loka), tiga alam (tri loka atau tri bhuwana), tiga kenyataan Tuhan Siva (tri kona), lima aksara Tuhan Siva (Panca Aksara Brahma), tiga wujud Tuhan Siva (tri murti), aksara suci Tuhan Siva (Ongkara), penggunaan abu Suci (bhasma), sikap tetanganan saat memuja Tuhan Siva (mudra), pengetahuan niskala (jnana niskala), pelaksanaan meditasi (yoga), doa suci kepada Tuhan Siva (mantra), aksara suci Tuhan Siva (pranava), saat kematian orang suci dan yogi, tentang nyata (sakala) dan tidak nyata (niskala), tiga huruf suci Tuhan Siva (tri aksara), tentang titik (vindu), dan tentang kemuliaan ajaran Saiva Siddhanta. Demikian inti sari naskah buana kosa sebagai sumber ajaran dan pembangkit spiritual bagi umat Hindu.
Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 488 Agustus 2007