Catur Purusa Artha dalam Serat Wedhatama

Jawa sebagai sentral perkembangan Hindu di Indonesia, telah melahirkan banyak karya-karya besar dari Resi-resi agung seperti lontar-lontar tatwa, kekawin-kekawin dan banyak lagi yang lain yang punya nuansa Religius, etis, moralis dan juga filosopis. Seiring dengan perkembangan jaman, dimana Hindu mulai digeser oleh agama-agama lain, kontribusi Hindu terhadap perkembangan tradisi di Jawa tetap besar. Ajaran-ajaran Hindu masih banyak mewarnai pola pikir para sesepuh atau penglingsir Jawa. Salah satunya adalah Serat Wedhatama yang - dikarang oleh KGPAA Mangkunagoro IV sekitar Abad ke-18.

Berawal dengan keterikatan dengan segala sesuatu yang bersifat Syari'at (pelaksanaan hukum agama secara lahiriah) yang terkadang bertentangan dengan tugas beliau sebagai pemimpin (raja) di Kraton Surakarta. Beliau mulai berfikir tentang apa Hakikat hidup yang sebenarnya (opo sejatining urip), apa tujuan dibalik semua hukum-hukum agama itu. Beliau mengatakan bahwa sebagai dasar dalam hidup kita harus punga "ngelmu" pengertian ngelmu disini tidak sama dengan ilmu seperti pandangan umum, tapi ilmu itu mencakup semua pengetahuan untuk menjalani dan mencapai apa tujuan hidup manusia. "... mrih kretarto pakartine mglmu luhung, kang tumraping tanah jowo, Agama ngeming Aji" (... supaya budi pekerti yang berlandaskan ilmu yang tinggi (ngelmu luhung) yang diterapkan di tanah Jawa yakni Agama yang menjadi pegangan para Raja-raja). Dari itu kita dapat garis bawahi bahwa Ngelmu yang harus dipakai dasar bertindak adalah Agama. Dalam Sarasamuccaya di jelaskan bahwa Dharma adalah alat yang dipakai untuk mencapai tujuan seperti perahu yang digunakan pedagang untuk mengarungi samudra. Dari kalimat di atas jelaslah bahwa Ngelmu itulah Dharma (dharmaning wong kang satuhu)" ... mangkana ngelmu kang nyoto, sunyatane mung weh reseping-ati, bungah ingarana cubluk, sukeng tyas yen den ia" (pupuh 1, 5). "... demikianlah ilmu yang sesungguhnya, sesungguhnya hanya memberi kesejukan hati orang lain, dikatakan bodoh dia senang, dihinapun dengan senang hati diterima".

Sekarang kita bandingkan dengan sebuah bait kekawin Arjun wiwaha "... Sukaning rat kininkin nira" (kebahagiaan dunia yang beliau usahakan), demikianlah Ngelmu itu menggiring kita untuk melaksanakan budi pekerti yang luhur sesuai dengan tuntunan agama.

Ngelmulah yang harus dijadikan dasar untuk mendapatkan semua tujuan hidup baik itu Artha, kama (nafsu), dan Moksa (manunggaling kawulo gusti) seperti sebuah pupuhnya yang dinyanyikan dengan tembang Pucung pupuh III, 1

ngelmu iku, kelakone kanti laku
lekase lawan kas
tegese kas nyantosani
setyo budya pangekese durangkoro

Ilmu itu dapat dikatakan terlaksana bila disertai dengan penghayatan, Pengetrapanya juga harus bersungguh-sungguh berarti memberi kesentosaan, yaitu kesentosaan terhadap kesadaran sebagai dasar memunahkan nafsu angkara. Selanjutnya bila Ngelmu itu telah mampu kata p-pahami dan dilaksanakan maka mulailah kita mencari Arta, karena itu penting kiranya dalam hidup, mengapa harus tahu dan paham Ngelmu dulu sebelum mencari harta, jelas supaya jika arta sudah kita dapatkan kita tidak salah menggunakannya dan kita tidak diperbudak olehnya. Pentingnya arta dalam Wedhatama ada dalam beberapa pupuh-nya, salah satunya adalah sebagai berikut:

"Bonggan tan merlokakena
mungguh ugering ngaurip
uripe lan tri-prakara
wirya arta tri winasis
kalamun kongsi sepi
saka wilangan tetelu
telas tilasing jalma
aji godhongjati aking
temah papa papariman
ngulandara"

(artinya: salah mereka yang  tidak memerlukan sesuatu pegangan hidup hidup harus punya tiga hal/syarat kekuasaan, harta dan tiga kepandaian jika semuanya tidak ada dari tiga syarat itu habislah martabat manusia lebih berharga daun jati kering akhirnya hina, papa, menjadi pengemis tempat tinggalnya tak tentu)

Arta yang harus dimiliki manusia agar punya harkat dan martabat adalah Wirya (kekuasaan), arta (kekayaan) dan wasis (kepandaian), sungguh sebuah karya yang sangat idealis dan mengedepankan keseimbangan antar Jagadhita (jasmani) dan pada bagian selanjutnya adalah Moksa (kebahagiaan Rohani).

Serat Wedhatama juga menjelaskan bagaimana Koma (keinginan nafsu) itu harus dikendalikan, seperti dalam pupuh di atas sangat jelas dan gamblang dikatakan bahwa Setya budya pangekesing dur angkara artinya kesentosan terhadap kesadaran sebagai sarana memusnahkan nafsu angkara. Nafsu angkara dalam serat wedhatama dijelaskan sebagai sifat-sifat yang egois (angkara dari ahamkara), sombong (adigang adigungadiguna artinya merasa paling...) penggung-pingging-punggung (bodoh-tolol-dungu/moha), itulah nafsu-nafsu yang harus dihilangkan karena itu akan membuat pikiran kita buta seperti sebuah goa yang sirung (gelap dan dalam), dan untuk menghapuskannya Ngelmulah yang harus dipelajari dan dilaksanakan.

Selanjutanya dalam Serat Wedhatama, kebahagiaan Rohani menjadi sesuatu yang harus diusahakan karena itu adalah sejatining urip, hakikatnya hidup. Semua keindahan didunia adalah semu dan tak ada artinya ketika kita sudah menemukan apa sesungguhnya hidup ini, untuk itu sangatlah penting bagi kita sudah menemukan apa sesungguhnya hidup ini, untuk itu sangatlah penting bagi kita mengusahakannya.

"Bhatara gung, inuger graning jejantung, jenek Hyang Wisesa, Sana pasenetan suci, Nora kaya si mudha, mudhar angkara

(Artinya: Hyang Widhi semayamkan dalam jantung sehingga Beliau bertahta di sana tempat persemahyangan yang suci tidak seperti si dungu yang mengumbar angkara)

Untuk mencapai itu semua Wedhatama mengajarkan Catur sembah sebagai jalan yaitu:

1. Sembah raga yaitu sembah yang lazim dikerjakan yaitu: Trisandhya untuk Hindu, penulis), sifat dan pedomannya harus dilaksana-kan dengan rajin bersucinya dengan air,

2. Sembah Cipta adalah jalan yang lapang, bersucinya tidak dengan air lagi tetapi dengan cara mengurangi keangkaraan hati, pedomannya selalu tekun, rajin, tidak mudah tergoda, itulah teladan yang harus dilakukan untuk menuju sifat arif bijaksana. Untuk mendapatkan sifat arif itu harus dengan jalan :

a. Heneng artinya menenangkan jasmani (menghentikan pekerti jasmani)
b. Hening artinya menenangkan rohani (menghentikan pekerti Rohani)
c. Eling artinya sadar (selalu ingat pada Tuhan Yang Maha Esa)

3. Sembah Jiwa adalah inti dari segala sembah yaitu Waspada dan ingat keadaan alam baka. Pelaksanaannya dengan jalan "ngangkah" (niat) "Ngukut" (menyeimbangkan kehendak jiwa dan raga), "Ngiket" (menambatkan jiwa pada tujuan yang akan di capai), "Ngruket" (tidak meninggalkan pegangan sehingga Triloka tercakup dalam batin). Setelah itu dilaksanakan maka Jagad agung akan berada dalam genggaman Jagad alit, disitulah akan ditemukan alam yang bersinar seperti bintang yang cemerlang.

"Yeku wenganing kalbu Kabuka ta kang wengku winengku wewengkone wis karengku neng sireki Neng sira juga winengku Mring kang pindha kartika byor (pupuh IV, 22)

(artinya: Demikian terbukanya kalbu, Baik yang menguasai dan yang v dikuasai, Seluruh alam sudah tercakup dalam diri, tapi engkaupun juga di kuasai, oleh yang seperti Bintang cemerlang)

4. Sembah Rasa, ini sudah tak perlu di ajarkan lagi (dadine wus tanpa duduh) karena batin sudah sadar, maka^ keadaan yang ada adalah Wruh sajroning winarah (tahu segala yang ada).

Demikian mulianya ajaran dalam serat Wedhatama, yang telah memberikan tuntunan pada bagaimana moral yang harus kita kembangkan agar kita mendapatkan arti yang sesungguhnya dalam hidup ini, dan terbebas dari hina, papa serta kebodohan dan pada puncaknya tercapailah Moksaartham jagaditha Ya ca iti Dharma sebagai tujuan yang kita capai sebagai manusia.

Source: Nanang Sutrisno l Warta Hindu Dharma NO. 436 Juni 2003