Cegahlah Sifat-sifat Keraksasaan

Dambho darpo abhimana ca Krodhah parusyam eva ca Ajnyanam caabhijatasya Partha sampadam asurim
(Bhagawad Gita XVI.4)

Maksudnya : Sifat munafik/ takabur, sombong, membangga-banggakan keturunan, pemarah, kasar dan bodoh. Oh Partha sifat-sifat itu adalah orang yang memiliki kecenderungan keraksasaan (Asuri Sampad).

Manusia penghuni dunia ini dibagi dua kecenderunganya. Ada yang cenderung menempuh jalan Adharma mendapatkan kenikmatan indria memuaskan nafsu dalam kehidupanya ini. Ada yang cenderung kegiatan hidupnya mengarah pada Dharma untuk mendapatkan hidup tenang damai dan bahagia. Manusia yang memiliki kecenderungan keraksasaan atau Asuri Sampad akan mengarahkan hidupnya di jalan Adharma sedangkan manusia yang memiliki kecenderungan kedewaan atau Dewi Sampad akan mengarahkan aktivitas hidupnya dijalan Dharma.

Adapun ciri-ciri sifat-sifat kecenderungan keraksasaan atau Asuri Sampad yang wajib dihindari oleh manusia yang menganut ajaran Weda menurut Bhagawad Gita XVI.4 yang dikutip di atas adalah sebagai berikut:

Dhambo, artinya berpura-pura, munafik artinya penampilan dirinya tidak realistis, tidak tampil apa adanya selalu dibuat-buat untuk membangun pencitraan diri untuk meraih citra positif meskipun hal itu tidak seperti kenyataannya sehari-hari. Membuat pencitraan diri yang dengan kebohongan ini hendaknya dihindari. Misalnya berpura-pura kaya, punya ini itu yang tidak benar. Atau ngaku-ngaku punya berbagai kelebihan yang tidak benar. Kalau ada sesuatu yang positif muncul di tengah-tengah masyarakat luas selalu dikait-kaitkan dengan dirinya sebagai yang menyebabkan munculnya yang positif itu. Semua hal itu tergolong kecenderungan Dhambo. Dalam dinamika sosial politik sikap seperti itu ada saja oknum tertentu pintar memainkan demi meraih citra yang positif dari masyarakat.

Darpo yaitu sifat suka menyombongkan diri. Tampil dengan selalu melebih-lebihkan diri dan menganggap pihak lain lebih rendah. Sangat berlawanan dengan kebiasaan yang di Balli disebut "ngalap kasor". Artinya, meraih simpati pihak lain dengan rendah hati dan menghargai orang lain. Sedikit saja ada orang memujinya, dia akan besar-besarkan ke mana-mana bahwa dia orang paling hebat di manapun dia bergaul. Banyak juga orang yang karena sering tampil sombong akhirnya dia dijauhi oleh berbagai pihak. Setelah tenggelam dalam pergauan sosial ada yang frustrasi dan ada juga yang baru menyesali dirinya tidak memiliki sikap sosial yang integratif dengan lingkungan sosialnya.

Abhimanas yaitu sifat yang senantiasa membangga-banggakan diri di depan pihak lain untuk menutupi berbagai kekurangannya. Bangga dengan keberhasilan atau prestasi diri tentunya sangat manusiawi. Tetapi yang dimaksud dengan Abhimanas adalah membesar-besarkan kelebihan yang dimiliki dengan merendahkan keberhasilan orang lain. Bangga akan keberhasilan untuk dijadikan dasar menguatkan diri dan bersyukur pada Tuhan serta berterimakasih pada pihak-pihak yang membuat kita berhasil tentunya tidak tergolong Abhimanas.

Krodha yaitu pemarah, dengki dan pendendam. Sifat pemarah, benci dan dendam ini dapat membuat dinamika kelenjar adrenalin meningkat berlebihan yang mengganggu kesehatan diri. Dalam Sarasamuscaya 147 menyatakan, orang akan memperoleh "kadirghayusanpinangguh" atau mencapai panjang umur salah satu dinyatakan apabila "tan katamaning krodha". Artinya, tidak punya kebiasaan marah. Kalau orang memiliki kebiasaan marah itu salah satu penyebab orang pendek umur. Kalau ada orang yang senantiasa marah, benci dan dendam itulah salah satu ciri orang lahir dari neraka yang memiliki kecenderungan keraksasaan.

Kebiasaan marah apalagi benci dan dendam otak kanannya sulit berkembang sehingga membangun sikap hidup yang spiritualistis akan sulit. Oleh karena itu, kalau punya teman yang punya kebiasaan marah itu ajak berlatih melakukan terapi gelombang otak atau yang disebut brainwave entertaiment dengan melakukan Japa atau mengulang-ulang nama Tuhan atau Mantram Weda. Kalau hal itu sungguh-sungguh dilakukan otak kanannya akan semakin kuat dan mampu memancarkan daya spiritual mengendalikan kecerdasan intelektual dan kepekaan emosional.

Parusia artinya berhati keras dan dengan perangai kasar. Karena itu Rabin Ranat Tagore menciptakan Subha Sita Weda atau kata-kata bijak yang dikreasi dari Mantra Weda yang disebut Satyam, Siwam dan Sundaram. Artinya, kebenaran, kesucian dan keindahan. Banyak orang senantiasa berpijak pada kebenaran tetapi tidak bisa mengimplemnetasikan kebenaranya dengan cara yang halus dan indah, sering orang yang mengembangkan kebenaran itu gagal mencapai tujuannya menegakkan kebenaran. Meskipun benar dan suci, jangan kaku apa lagi kasar maka akan dijauhi orang.

Ada sementara penganut agama yang disebut garis keras. Apa yang mereka yakini adalah benar dan suci tatapi karena caranya memahami dan menyebarkan dengan keras dan kasar maka banyak menimbulkan tindak kekerasan yang jauh dengan intisari ajaran yang mereka yakini. Menegakkan kebenaran dan kesucian hendaknya seperti air sungai menuju samudra. Meskipun berbelok-belok tetapi tujuannya tetap adalah samudra.

Ajnyana, artinya kebodohan tidak menguasai ilmu, tetapi dikuasai oleh ilmu. Karena itu dalam ajaran Catur Kotamanin Nrepati dalam Negara Kertagama dinyatakan ada empat kriteria seorang pemimpin. Salah satu di antaranya disebut Jnyana Wises Sudha. Artinya, menguasai ilmu pengetahuan dengan tujuan suci Karena itu dalam Nitisastra IV. 19 ada tujuh hal dapat membuat orang mabuk atau kena tujuh kegelapan atau Sapta Timira. Sala satu darinya orang bisa gelap hati atau mabuk karena merasa berilmu atau disebut Guna. Orang yang digelapkan oleh ilmu yang dimililki inilah yang disebut Ajnyana.

Abhijanatasia, artinya menyombongkan wangsa. Sombong karena merasa dari keturunan ningrat dengan menganggap rendah orang lain adalah tergolong orang yang dapat disebut Asuri Sampad yang patut dijauhi oleh orang yang budiman.

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Pon 20 Desember 2015