gitasraye’ham tisthami
gita me paramam grham
gita-jnanam samasritya
trilokim palayamy aham
(Sri Vaisnaviya Tantra Sara 46)
“Aku berada di dalam Bhagavadrgita dan Bhagavadgita adalah tempat tinggal Ku yang utama. Aku memelihara ketiga dunia dengan ajaran-ajaran kekal dari Bhagavadgita.”
SEORANG ibu-ibu warga negara Polandia memberikan kepada saya kitab yang sangat bagus bernama Sri Vaisnaviya, Tantra Sara, menjelaskan perihal keagungan Bhagavadgita. Berbeda dengan Gita Mahatmyam oleh Sankaracarya yang jumlahnya hanya 7 bait, Sri Vaisnaviya Tantra Sara berjumlah 85 sloka.
“Aham tisthami”, Tuhan Yang Maha Esa bertempat tinggal, dan rumah tempat tinggal-Nya yang maha utama “paramam grham me” adalah Bhagavadgita. Tuhan memelihara seluruh Tri Loka (alam Bhuh, Bhuvah, Svah) melalui ajaran-ajaran suci Bhagavadgita (gita-jnanam samasritya aham trilokam palayami). Dapat dikatakan, tanpa Bhagavadgita kebesaran Hindu tidak akan secemerlang seperti sekarang ini. Hindu mendapat tempat terpandang disebabkan ajaran-ajaran mulia Bhagavadgita.
Beberapa hari lagi umat Hindu di seluruh dunia akan merayakan Gita Jayanti, Hari Bhagavadgita. Seperti halnya peringatan Hari Lahir Pancasila, Hari Kemerdekaan (baca: Hari Lahir) Negara Kesatuan Republik Indonesia, diperingati dalam semangat bhakti yang tinggi untuk menghormati Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti itu pula Gita Jayanti diperingati oleh umat Hindu di dunia dalam semagat bhakti yang tinggi. Bannya non-Hindu memperingati Gita Jayanti di negara-negara Eropa, Russia, Amerika, Afrika dan lain-lain. Hal itu terjadi karena pesan atau ajaran Bhagavadgita yang bersifat universal menyebabkan orang-orang yang bahkan tidak beragama Hindu pun memperingatinya dengan sepenuh hati: rasa bhakti.
Umat Hindu Dharma di tanah air seharusnya sudah tidak ketinggalan dalam memperingati Gita Jayanti. Imbauan untuk merayakan kemunculan Bhagavad-gita (Gita Jayanti) sudah kami dengungkan sejak tahun 1980-an. Pada tahun 2004 kami menyebarkan informasi tentang Gita Jayanti lebih luas lagi sehingga umat mulai merayakannya di tempat masing-masu baik secara berkelompok maupun sendirian atau bersama keluarga di rumah. Hal ini merupakan suatu perkembangan positif dan sangat baik. Orang-orang mulai menempatkan Bhagavad-gita menjadi sesuatu yang terpenting dalam hidupnya. Sejak dahulu kami mengharapkan Gita Jayanti suatu waktu akan diperingati oleh umat Hindu Nusantara. Sebab, Bhagavad-gita merupakan kitab suci bukan saja bagi umat Hindu di dunia, tetapi juga bagi umat Hindu Dharma di Indonesia, sesuai keputusan Paruman Parisada Dharma Hindu Bali di Campuan Ubud pada tahun 1961.
Sampai hari ini, masih banyak umat Hindu Dharma di tanah air yang belum mengenal apa lagi merayakan atau memperingati hari suci kemunculan Bhagavad-gita. Sedangkan dalam kelompok kecil setiap tahun kami sudah menyelenggarakan peringatan hari suci turunnya Bhagavad-gita yang dinamakan Gita Jayanti, khususnya sejak berdirinya Paramadhama Ashram di padanggalak pada tahun 2006, kami memperingati Gita Jayanti lebih teratur dan bersama-sama dalam jumlah peserta lebih banyak.
Kini saatnya umat mengenal Gita Jayanti lebih mendalam lagi. Peringatan Gita Jayanti pertama kali diselenggarakan oleh umat Hindu Dharma Indonesia di wantilan Pura Besakih pada tahun 2014 yang lalu. Ada panitianya, dan diselenggarakan bersama dan/atau dihadiri oleh pejabat lembaga umat Hindu Dharma seperti Ditjen Hindu, PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia), dan lain-lain.
Tentu berbeda memperingati hari lahir Bhagavad-gita dengan memperingati hari lahir orang-orang kesayangan. Memperingati hari lahir kesayangan “membantu” keterikatan duniawi tumbuh bertumbuh, sedangkan memperingati hari muncul Bhagavad-gita akan mengkikis dosa dan karma. Sebagaimana Tuhan ber-avatara dalam bentuk aksara sebagai Om-kara, dan avatara Tuhan dalam bentuk mantram sebagai Gayatri, demikian pula selain sebagai Sabda Tuhan “Sabda Brahman”, Bhagavad-gita juga merupakan “avatara" Tuhan dalam bentuk pustaka suci.
Tahun 2018 ini, Gita Jayanti jatuh pada tanggal 18 Desember. Ada pula yang memperingatinya pada tanggal 19 Desember 2018. Gita Jayanti memperingati turunnya Bhagavad-gita yang disampaikan oleh Sri Krsna kepada Arjuna di tengah-tengah medan perang Kuruksetra sekitar 5120 tahun yang lalu. Peringatannya tidak berdasarkan pada kalender Gregorian melainkan berdasarkan perhitungan kalender India, kalender Vaidika yang mempergunakan perhitungan posisi bumi terhadap bulan dan matahari.
Gita Jayanti jatuhnya pada hari Ekadasi Sukla Paksa di bulan Margasirsa. Dari sekian banyak Ekadasi (hari kesebelas), dengan nama dan kemuliaan berbeda, Ekadasi pada hari Bhagavad-gita diwejangkan bernama Moksada Ekadasi, atau juga dinamakan Vaikuntha Ekadasi, yaitu pelaksanaan Ekadasi yang akan memberikan pembebasan dari kesengsaraan berupa lingkaran punarbhava, lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada putusnya.
Ekadasi ini juga dinamakan Mauni Ekadasi, yaitu Ekadasi yang dilaksanakan sambil melakukan sumpah suci Mauna Brata, tidak berkata-kata selama 24 jam. Pengertiannya, Mauna dalam hal ini adalah sumpah suci untuk “libur” dari pembicaraan hal-hal duniawi tetapi sibuk berkata-kata ke dalam diri, sibuk bercakap-cakap dengan sang diri di dalam. Hanya cara itu yang akan memberikan hasil berupa moksa/pembebasan dari kedukaan, sehingga Ekadasi hari ini dinamakan Moksada Ekadasi. Jika Ekadasi ini dilaksanakan dengan baik dan patuh, secara spiritual pahalanya sangat kuat karena mampu membebaskan orang dari kesengsaraan duniawi.
Biasanya, pada hari Gita Jayanti umat menyelenggarakan diskusi-diskusi Bhagavad-gita dan pertunjukan seni budaya yang bersifat agama spiritual. Terutama sekali pada hari munculnya Bhagavad-gita agar diusahakan yang menyampaikan adalah orang suci yang sudah lelap hidupnya di dalam Bhagavad-gita. Mendengarkan ajaran dan nyanyian suci Bhagavad-gita dari orang suci seperti itu akan mampu menyentuh lalu menggetarkan hati dan jiwa orang sehingga terjadi proses pengkikisan karma-karma di dalam diri yang bersangkutan.
Getaran sloka-sloka suci Bhagavad-gita mampu menyentuh dan merasuk ke dalam diri orang sampai menembus bawah sadar sehingga menjadi jaminan karma-karma tersentuh dan terkikis. Asubha-karma (karma tidak baik) akan tereliminasi atau terdelete dari dalam diri sehingga orang bisa melewati hidupnya di dalam pencarian spiritual dengan cara lebih mudah dan lebih mulus. Sedangkan subha-karma (karma baik) akan dibersihkan, disucikan, dan dimurnikan menjadi karma yang akarma, yang terbebas dari sentuhan aksi-reaksi material yang merupakan penyebab dari timbul dan berkelanjutan proses punarbhava, putaran kelahiran dan kematian berulangkali. Dengan demikian, peringatan dan perayaan Gita Jayanti bukanlah aktivitas dunia material melainkan aktivitas spiritual.
Oleh karena muatan Gita Jayanti adalah spiritual, maka segala yang dilakukan dan dipertunjukkan pada hari itu haruslah menjadi sebuah persembahkan kepada sang “Pawejang” Bhagavad-gita, yaitu Bhagavan Sri Krsna. Peringatan Gita Jayanti juga hendaknya dipergunakan sebagai kesempatan mulia untuk mengangkat hidup spiritual masing-masing. Sebab, kesempatan berkumpul dengan orang-orang yang mendalami kesucian Bhagavad-gita dan spiritual merupakan kesempatan sangat jarang sekaligus sangat mulia. Kesempatan tersebut patut dipergunakan dengan jeli hanya demi memuliakan hidup spiritual. Sebab, dimana Bhagavad-gita dibaca, dipelajari, diajarkan, dan didiskusikan maka Tuhan Yang Maha Kuasa Sri Krsna akan hadir dengan penuh suka cita bersama dengan kekuatan sakti-Nya (yatra gita-vicaras ca pathanam-pathanam tatha modate tatra sri krsno bhagavan radhaya saha).
Oleh: Darmaysa
Source: Balipost, Minggu Kliwon, 16 Desember 2018