Saya seorang pencinta perdamaian, saya percaya pada perdamaian, tetapi saya tidak menginginkan suatu perdamaian, dengan mengorbankan segala-galanya. Saya tidak menginginkan kedamaian yang ditemukan pada sebuah batu. Saya tak menginginkan kedamaian yang ditemukan pada sebuah pusara, Saya menginginkan kedamaian yang akan tuan temui di dada manusia,
yang tiada menyenangi badai-badai kehidupan, yang oleh Kekuatan Tuhan Yang Mahakuasa dilindungi terhadap segala bentuk kejahatan.
Mahatma Gandhi
Dimana Kedamaian?
Bila suatu ketika kita ditanya, apakah "kedamaian" menurut Anda? Mungkin kita sedikit kelabakan menjawabnya. Atau bila kita jawab dengan spontan, mungkin jawaban kita adalah, "tidak adanya peperangan, perselisihan, pertikaian dan semuanya berjalan aman dan tentram". Kedengarannya, masuk-akal dan cukup rasional. Bila ditanya lebih lanjut, "Apakah kondisi itu memang pernah ada, akan ada, atau mungkin ada?". Wah, kalau pertanyaan seperti ini, sulit menjawabnya. Kita mulai "berkonon" dan "berkonon".
Konon, ada jaman yang disebut "Kertha Yuga", jaman itu berusia sekian ratus juta tahun (manusia), pada jaman tersebut dst.... dst. yang semuanya konon. Untuk lebih meyakinkan lagi, kita kemudian berlindung atau bersembunyi pada berbagai kitab suci atau pustaka yang dianggap suci oleh banyak orang. Dengan bangga kita menunjukkan kalau kita pernah dan bahkan rajin membaca kitab-kitab sejenis.
Namun apapun jawaban kita, bagaimanapun kita berupaya mengalihkan perhatian putra-putri kita yang bertanya, jawaban kita tak pernah memuaskan tuntutan inteleknya, nalarnya. Meski ia tidak memprotes secara langsung, besar kemungkinan dalam hatinya berkata " Oh, hanya konon toh...". Lebih jauh lagi, mereka bisa saja berpikir begini : "Kedamaian rupanya hanya ada dalam kata-kata, yang lebih mencerminkan angan-angan manusia yang senantiasa mendambakannya, namun tak pernah eksis, tak pernah dialami umat manusia".
Bisa saja anggapan sementara putra-putri kita itu benar. Mengingat sejak mereka hadir didunia hingga seusia ini, hanya hiruk pikuk saja yang mereka temui. Pertikaian, perselisihan, intimidasi, peperangan, musibah, bencana alam, kelaparan, pembantaian para demonstran, ketidak-adilan, kesemena-menaan para penguasa, dan berbagai hiruk-pikuk dunia lainnya. Cuma itulah yang mereka saksikan. Sementara mereka pernah mendengar kata "kedamaian". Ini tentu membuat¬nya kian penasaran.
Kita sendiri, bisa saja malah jadi bingung akan jawaban kita sendiri. Kita pun ikut sangsi apakah memang ada kedamaian itu? Atau pernahkah kita benar-benar merasa "damai" seumur hidup kita" Kita pun mulai mengingat-ingat, rasanya pernah, namun hanya sebentar dan kita tidak sempat menikmatinya. Kapan itu?. Kedamaian pernah singgah di batin kita dahulu, ketika kita masih anak-kanak. Menurut ucapan para orang tua kita, anak yang belum "meketus" (mulai tanggal gigi-susunva - bhs. Bali), masih diasuh dan dilindungi oleh Sang Hyang Kumara. Mereka juga disebut dengan istilah "medewa".
Sanghyang Kumara? Siapa itu? Dewa apa itu? Orangtua yang sedikit lebih memahami, memberikan penjelasan: "Beliau adalah Dewa putra kedelapan dari Hyang Ciwa, yang mempunyai tugas mengasuh (ngempu - bhs. Bali) anak-anak yang belum meketus ". Lebih lanjut, mungkin beliau akan menceritrakan mithologi tentang Sanghyang Kumara dengan Bhatara Kala, yang sama-sama putra Ciwa.
Nah, kini sedikit lebih lengkap pengetahuan kita. Yang tadinya hanya konon, kini sudah ditambahi mithos kuno tentang para Dewa putra-putra Ciwa. Pengetahuan telah bertambah, namun pertanyaan: Apakah Kedamaian benar-benar ada?; masih belum terjawab dan terasa masih kabur. Nalar pikir kita, masih butuh penjelasan yang memadai.
Baiklah, bila pernah ada atau mungkin ada dan dapat kita rasakan, lantas bagaimana caranya mencapai rasa damai dan berada di alam kedamaian itu kembali?. Nah, kini kita benar-benar terpojokkan. Tak ada celah yang terlihat, untuk menjawabnya, apalagi menjelaskannya. Karena secara sadar, kita sama sekali belum pernah merasakan apa yang disebut "kedamaian" di dunia ini. Kita, yang mungkin telah hidup lebih dari setengah abad ini, belum pernah merasakannya; apalagi putra-putri kita yang belum setengah abad itu. Dan ini, baru anak kita yang bertanya, bagaimana kalau cucu-cucu kita yang jauh lebih kritis itu? Tentu mereka sulit diajak menerima konon dan mitos-mithos itu. Namun, apa daya, kita memang tidak mampu memberi jawaban yang memuaskan. Kita kurang memahami soal itu.
Rasanya kita tak akan pernah bisa benar-benar berdamaian dengan siapa atau apapun kalau tidak benar-benar ada kedamaian di hati. Anda boleh jadi berjabat-tangan tanda berdamai dengan seseorang, namun bila di hati Anda tidak benar-benar hadir kedamaian itu, maka jabat-tangan itu hanya sebagai ritual tanpa makna semata.
Di dunia yang dipenuhi oleh tindakan-tindakan dan perlakuan tidak adil, tekanan dan pemaksaan dari segala penjuru, dipenuhi oleh hal-hal yang mengecewakan, yang menimbulkan rasa was-was, kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, kedamaian nyaris merupakan suatu yang muskil. Bagi kita masalahnya adalah, apakah kita sedemikian terpengaruhnya oleh semua itu atau tidak? Atau, bisakah kita hidup di dunia serupa itu, sementara tidak terpengaruh olehnya, bak anak-anak balita yang lugu itu?
Barangkali akan banyak di antara kita yang akan menjawab : "Tidak ... tidak mungkin!" Namun, apakah benar demikian? Apakah kita benar-benar memang telah mencobanya secara bersungguh-sungguh? Agaknya, untuk pertanyaan inipun jawabannya serupa.. Tidak... belum pernah".
Inilah masalahnya. Kita buru-buru berkata "Tidak mungkin!", padahal mencobanya saja belum .. dan malah mengidam-idamkan kedamaian di liang-kubur. Padahal, bila kita bisa menghadirkan kedamaian di hati kita sendiri, kita pun bisa menghadirkan kedamaian di hati siapa saja, kapan saja dan dimana saja.
Prinsip-Hidup Dalam Keharmonisan dan Kedamaian
Disadari atau tidak, setiap orang menganut suatu prinsip tertentu di dalam hidupnya, di dalam menjalani kehidupannya ini. Prinsip itulah yang menjadi landasan sekaligus pegangannya setiap kali seseorang mesti berpikir menilai, menimbang, dan sebagainya berucap, dan bertindak. Pendek kata, prinsip-hidupnya inilah yang melandasi setiap gerak dan langkahnya di dalam menjalani kehidupannya.
Prinsip-prinsip yang kita pegang erat-erat ini, yang kita bangun sendiri berdasarkan pengalaman hidup masing-masing, tanpa sepenuhnya kita sadari, bukan saja telah menentukan jalan hidup kita, namun juga menentukan berhasil atau tidaknya kita mencapai tujuan-hidup yang kita tetapkan berdasarkan prinsip itu. Makanya, tidaklah terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa prinsip-prinsip itulah jalan-hidup dan juga tujuan-hidup kita. Keseluruhan kehidupan kita sebetulnya telah kita ringkas sedemikian rupa di dalam prinsip-prinsip ini. Secara keseluruhan, kehidupan kita merupakan pengejawantahan dari prinsip-hidup itu.
Kalaupun ada di antara kita yang dengan sadar merasa dan mengatakan "tidak menganut suatu prinsip-hidup tertentu', maka secara tidak sadar kita sebetulnya menegaskan bahwa kita penganut suatu prinsip-hidup seperti itu, yakni yang 'tidak menganut suatu prinsip-hidup tertentu'. Namun, yang seperti ini teramat langka. Kalau seseorang benar-benar sadar meluangkan waktunya sejenak untuk mengamati dengan seksama kehidupannya, dan jujur pada dirinya sendiri, ia akan melihat bahwa ia sebetulnya memang menganut suatu prinsip-hidup tertentu, apakah itu mirip dengan kebanyakan orang, berbeda atau unik, atau malah berseberangan dengan kebanyakan orang.
Ia sangat pribadi sifatnya. Saya bisa saja sebangsa, seagama, seetnis, setradisi dan sebudaya, serta berasal dari keluarga yang berlatar-belakang, kehidupan yang relatif sama dengan istri saya misalnya, namun kami boleh jadi menganut prinsip-hidup yang sama sekali berbeda; bahkan bertentangan satu-sama lain. Atau sebaliknya; kita bisa saja dari etnis, bahkan ras yang berbeda, dengan tradisi, budaya dan agama serta dibesarkan di lingkungan keluarga yang berlatar-belakang kehidupan yang sama sekali berbeda, namun kita menganut prinsip-hidup yang sangat mirip satu-sama lain.
Yang jelas, ia amat sangat pribadi, sekaligus juga unik sifatnya. Memang boleh jadi, secara garis-besar, banyak sekali kemiripan di antara kita, namun itu tidak meniadakan keunikan masing-masing bukan? Dan dalam kehidupan suami-istri, ini merupakan sesuatu yang teramat fundamental bagi keharmonisan dan kelangsungan hidup rumah-tangga itu sendiri, tentunya disamping perkembangan kepribadian anak-anak kita.
Hanya dengan menyadari sepenuhnya fakta ini saja, kita bisa menjadi sangat pemaklum dan toleran. Kita sadar kalau tak ada gunanya ngotot, apalagi hendak serta-merta merubah prinsip-hidup yang dibangun, dipupuk dan dianut selama puluhan tahun oleh seseorang, kendati ia adalah pasangan hidup kita, suami atau istri kita sendiri. Hanya dengan menyadarinya, banyak hal yang tidak mengenakkan yang memang tak perlu terjadi, tidak terjadi, sehingga kita bisa menjalani kehidupan ini secara jauh lebih efektif dan efisien sejalan dengan prinsip-hidup masing-masing. Dengan begitu perbedaan, atau bahkan pertentangan, boleh jadi tetap ada dan menimbulkan gesekan-gesekan disana-sini namun banyak benturan yang bisa ditiadakan, sehingga keharmonisan dan kedamaian hingga batas-batas tertentu-tetap bisa dinikmati bersama.
Kedamaian Tanpa Keharmonisan?
Sebagai masyarakat umat manusia, yang kita butuhkan sebetulnya tak lebih dari sekedar harmoni. Dimana, tanpa adanya saling-pengertian, kemakluman, tenggang-rasa, seporsi kesabaran dan kesediaan untuk mengalah, harmoni menjadi tak mungkin kita wujudkan di muka bumi ini. Akibatnya, kedamaianpun menjadi kian langka. Tidak ada kedamaian tanpa keharmonisan bukan?
Kalau di antara kita sudah terjadi saling-pengertian, saya mengerti cara pandang dan pola-pikir Anda dan Andapun mengerti cara pandang dan pola-pikir saya, kita akan dengan mudah untuk saling memaklumi satu-sama-lain bukan? Daripadanya, tenggang-rasa di antara kitapun akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya; tanpa perlu diupayakan dengan susah-payah lagi.
Menyadari kekurangan dan kelemahan masing-masing, tidak perlu kita sikapi dengan rendah-diri; malah sebaliknya mesti kita sikapi dengan rendah-hati dan mau mengalah. Karena kita sadar, semua itu adalah demi kebaikan semua pihak, demi kebaikan bersama. Kalau masing-masing dari kita mampu bersikap demikian, mampu menjadi anggota masyarakat manusia yang punya kesabaran dan kerendahan-hati, apakah kedamaian masih menjadi sesuatu yang sedemikian langkanya seperti sekarang ini?
Yang Selalu Damai
Berdamai dengan sanak-keluarga, saudara, pasangan-hidup, sahabat, teman, kerabat dekat bukanlah sesuatu yang sulit bagi kita. Sepantasnyalah kita berdamai dengan mereka. Bila tidak, itu justru mengindikasikan adanya penyimpangan serius dalam pola hubungan antar manusia kita. Terlepas dari fakta bahwa banyak orang justru malah sulit berdamai dengan sanak-keluarga, saudara, pasangan-hidup, sahabat, teman atau kerabat dekatnya, 'usaha untuk berdamai dengan mereka dapat dianggap sebagai 'usaha semu', karena memang sepatutnya demikian.
Usaha perdamaian, hanya akan menemukan makna yang sebenarnya bila dilakukan di antara mereka yang bermusuhan. Atau dengan kata lain, kita hanya bisa disebut berusaha berdamai bila usaha perdamaian itu kita lakukan dengan musuh-musuh kita, dengan mereka yang kita anggap musuh, dengan yang memusuhi kita, dengan yang kita benci dan membenci kita. Dan ini, tentu sangat tidak mudah dilakukan bilamana kedua belah-pihak sama-sama bersikeras dan tidak mau mengalah.
Kita tahu kalau kebencian hanya mungkin didamaikan oleh kasih, rasa permusuhan hanya mungkin didamai¬kan dengan rasa persahabatan. Dan kitapun pernah mendengar kalau kebencian sesungguhnya adalah tidak hadirnya kasih. Ketika kasih benar-benar hadir di hati, kebencian kehilangan kaplingnya di hati kita bagai hilangnya kegelapan malam ketika terbitnya sang surya. Dalam hati yang dipenuhi kasih dan rasa persahabatan, tak ada kebencian dan rasa permusuhan dengan siapapun; dan hanya di dalamnyalah benar-benar dapat ditemukan kedamaian itu.
Pada hakekatnya, usaha perdamaian itu adalah perjuangan pribadi, perjuangan untuk membuka pintu bagi kehadiran kasih dan rasa persahabatan. Mereka yang penuh kasih dan rasa persahabatan, adalah mereka yang selalu damai. Mengakhiri tulisan ini saya rasa ada baiknya kita renungkan kembali apa yang Brihadaranyaka Upanishad tentang mereka yang telah mencapai kedamaian itu.
Mereka yang telah merealisasikan Diri-jauh memasuki alam kedamaian yang menghadirkan pengendalian-diri penuh dan kesabaran sempurna. Mereka melihat diri mereka di dalam setiap orang dan setiap orang di dalam dirinya. Kejahatan tak bisa menundukkan mereka karena mereka telah menundukkan kejahatan. Dosa tidak bisa melahap mereka karena mereka telah melahap semua dosa.
Source: Anatta Gotama lWarta Hindu Dharma NO. 491 November 2007