Suatu bangsa mengawali pergerakan nasionalnya dalam melalui partisipasi aktif para intelektualnya. Bangsa Indonesia memiliki Ki Hajar Dewantoro, bapak intelektual sepanjang masa. Kitapun punya dr. Soetomo, yang memantik kesadaran 'nasional' dan rasa kebersamaan sebagai suatu bangsa. Kita punya Soekarno-Hatta, duet pemersatu dan pejuang kemerdekaan bangsa. Dan banyak lagi untuk disebutkan satu per satu.
Kaum intelektual adalah ke-kuatan suatu bangsa, oleh kerana itu intelektualtas adalah 'kekuatan' itu adanya. Intelektualitas sebagai suatu kekuatan ragawi. Justru ia bangkit pada diri manusia melalui penundukan atau pengendalian yang baik atas dorongan, tarikan dan segala 'kekuatan-kekuatan ragawi'
Dengan mengendalikan dan mengesampingkan dorongan-dorongan indriyawi dan ragawi lainnya hingga batas-batas tertentu, Bung Karno merelakan diri beliau bagi kemerdekaan bangsanya. Merelakan kepentingan pribadi, demi kepentingan lebih banyak orang atau suatu bangsa, adalah kekuatan lainnya dari manusia. Gandhi adalah salah satu contoh yang paling gamlang bagi pengesampingan dor onga-dorongan indriyawi dan ragawi serta merelakan diri pribadi bagi kepentingan banyak orang. Oleh karenanya, tidaklah terlalu berlebihan bila Gandhi deigelari 'Mahatma' - Ia yang berjiwa besar - oleh Rabindranath Tagore. manusia-manusia besar yang saya sebutkan diatas, sesungguhnya adalah para intelektual, kiprah mereka bernaung secara nasional bahkan internasional. Diakui oleh manusia dan dunia.
INTELEKTUAL, PENGENDALIAN DAN PENGESAMPINGAN DIRI PRIBADI
Dari manusia-manusiaa besar, di seluruh dunia, terlepas dari agama apapun yang mereka anut, dari ras atau bangsa serta warna kulit apapun akan kita temukan kwalitas-kealitas serta ketetapan hati seperti diatas,
Intelektualitas yang hanya digunakan bagi diri sendiri dan hanya dalam lingkup kecil dan terbatas, sungguh suatu kesia-siaan. Rupanya hal ini teramati dan disadari oleh sementara intelektual muda dari berbagai agama di tanah air. Merekapun bergabung, menurut agamanya, membentuk suatu lembaga para cendikawan. Terlepas dari kiprah dan keberhasilan maupun kegagalan organisatoris dari lembaga-lembaga sejenis, saya melihat adanya suatu kesadaran yang menasional akan 'kekuatan kaum intelektual' suatu bangsa didalam mencapai tujuan-tujuan kolektif bangsanya.
Intelektualitas mesti selalu dikawal oleh 'etika-moral, tak lain dari pada penghancur dunia dan peradan manuisa. nah...dari sisi inilah dapat kita lihat betapa esensialnya posisi ajaran-ajaran luhur bagi seorang intelektual. Kemurtadannya dapat berdampak amat luas dan besar. Kejahatan intelektual jauh melebihi daya rusak dari kekuatan ragawi manapun.
Dalam ethos kuno Maha Bharata, tersebutlah seorang ksinatrya besar dan digjaya, bernama Arjuna. Ia adalah putra ketiga dari Dewi Kunti, yang terlahir melalui 'aradana' (mencipta dan menghadirkan kekuatan dewata). Ia tidak terlahir secara biologis atau ragawi. Dewi Kunti, memperoleh kemampuan yang disebut 'aji pengendem dewa (kemampuan atau pengetahuan untuk menarik para dewa) dari seorang Bhagavan bernama Druvasa. Dengan melayani Sang Bhagavan secara tulus dan penuh rasa hormat dan penuh kasih, tatkala beliau berkunjung ke istana Dwaraka seusai menggelar 'tapa-bharata-yoga-samadhi', maka luhurlah hati Sang Yogi dan menganugrahkan Kunti sebuah 'aji pengendem dewa'
Arjuna adalah seorang ksinatrya perkasa, gagah berani, berbudi luhur, berwajah tampan dan berhati lembut, titisan Dewa tndra-penguasa Indra Loka. Ia terlahir dari sebuah ajian sakti ibundanya. Ia terlahir bukan dari persetubuhan ragawi, namun dari pawiwahan spiritual 'pengendem dewa' Ialah perujudan dari 'manah luhur', Intelektual Ethos (dari kata itihasa dalam bahasa sansekerta) adalah sindir spiritual-religius dari seseorang nabi atau Maharshi. Ia bukanlah 'dongeng sebelum bobok', namun sebuah gubahan luhur yang sarat dengan makna dan ajaran-ajaran spiritual-filosofis. Demikianlah, 'kekuatan intelektualitas' seseorang mutlak perlu untuk didampingi terus-menerus oleh 'Kesadaran Tuhan', bila tidak ia dapat menghancurkan dunia dan peradaban manusia.
Pengendalian diri, adalah upaya proaktif dan terus-menerus dalam mengendalikan dan mengesampingkan dorongan-dorongan indriyawi dan ragawi lainnya. Dorongan untuk memuaskan indriya serta memenuhi keinginan jasmaniah secara pribadi, itulah yang dimaksudkan dengan 'pengendalian diri'.
Ia jelas bukan pasifisme, bahkan ia mesti diupayakan secara proaktif dan terus-menerus berdasarkan kaidah-kaidah ajaran yang dianut. Inilah 'tapa=brata' dalam salah satu aspek esensialnya. Ia terkait erat dengan tekad yang kuat untuk sebesar-besarnya mengesampingkan 'rasa diri'. Rasa diri, menjurus pada egosentris dan egoisme. Inilah yang saya maksudkan dengan 'pengesampingan diri pribadi'.
Pengesampingan diri pribadi, tak lain adalah pengesampingan 'rasa diri' yang ditandai dengan egosentrisitas dan pandangan egoisme. Mendahulukan kepentingan diri sendiri, hanya berbuat demi keuntungan diri sendiri, keengganan untuk berbagi, ketidak-pedulian terhadap penderitaan dan kesengsaraan orang lain, tiada mengindahkan norma-norma yang berlaku asal tujuannya tercapai, dan sikap-sikap serta prilaku sejenis lainnya adalah perujudan dari egosentrisitas dan egoisme tersebut.
Bila kita kenang kembali pengorbanan luhur para pejuang dan pahlawan bangsa ini, bangkit haru dan rasa takjub penuh hormat di hati kita, Beliau-beliau mengorbankan diri beliau bagi bangsanya. Semuanya yang beliau lakukan adalah demi tumpah darah tercinta. Pengorbanan yang tulus, demi kepentingan lebih banyak orang adalah pengorbanan luhur dari manusia berkwalitas dewata. Pengorbanan jenis inilah dalam Hindu disebut dengan 'Yadnya'. Dan khusus bagi sesama umat manusia, disebut Manusa-Yadnya.
Ketulusan untuk berkorban demi kepentingan yang lebih luas bagi sesama, tak lain adalah eksperesi kasat dari sikap moral yang mengesampingkan diri pribadi. Pribadi-pribadi seperti Jesus, Bunda Teresa, Gandhi, dan yang lainnya telah menerapkan secara aktif dan nyata ketulusan yang kita maksudkan. Beliau-beliaulah cerminan dari tercapainya suatu 'integritas diri'.
INTEGRITAS DIRI BUKANLAH SUATU ANUGRAH
Integritas Diri bukanlah, dalam tingkat kesamaran yang berbeda-beda ia ada pada setiap manusia, bersama dengan keliharannya dalam jasad manusia ini. Ia menjadi samar tertutupi oleh kabut egosentritas dan egoisme, dalam berbagai implikasinya. Demikianlah sesungguhnya keadaan kita.
Seperti telah disinggung sebelumnya, 'tapa-brata' adalah upaya sistematis guna mempertipis dan mengusir selimut kabut egosentrisitas dan egoisme itu. Bersamaan dengan semakin tipisnya kabut tersebut, maka semakin tertampaklah 'integritas Diri', ia dapat diibaratkan upaya menabung, mengumpulkan dan menimbun sesuatu. Ketika semuanya telah terkumpul menjadi satu, dari yang terjadi terpencar cerai-berai, iapun kita sebut terpadu (integritad). Keterpaduannya inilah kita sebut dengan 'Integritas Diri', disini. Upaya inilah yang sisebut 'Yoga'
Jadi, ia terlahir dari upayaaktif kedalam (proaktif) yang ner-ego. Manakah ia telah terpadu dengan sempurna, ia kita sebut dengan 'Dirid Jati'. 'Ia'-lah diri yang sesungguhnya, yang secara imanen berada pada setiap insan, yang tiada lain adalah Tuhan yang ada pada Anda dan saya. Sempurnanya pengembangan integral ini, adalah 'Samadhi'. sekali lagi, ia bukanlah anugrah yang serta merta kita terima tanpa upaya dan usaha samasekali.
Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 529 Januari 2011