Jagaraga nama sebuah desa di Buleleng tempat terjadinya perang Buleleng menghadapi Belanda menarik perhatian kita. Nama itu telah ada sebelum perang terjadi, namun makna yang dikandungnya agaknya relevan dengan makna perang itu sendiri. Jagaraga dapat dimaknai "menjaga diri, mengendalikan diri", namun kata raga sendiri memiliki makna yang lebih khusus. Raga di dalam Kakawin Ramayana berarti nafsu: Ragadi musuh maparo, ri hati ya tonggwannya tan madoh ring awak. Artinya : Nafsu dan sejenisnya adalah musuh yang dekat, di hati tempatnya tiada jauh dari badan. Jadi jagaraga dapat berarti mengendalikan nafsu yang ada di dalam diri. Dan nafsu itu adalah musuh yang terdekat yang berada di dalam diri sendiri.
Dalam sejumlah teks yang lain kita menemui istilah Sadripu atau Sadwarga, enam musuh yang terdapat di dalam diri. Cerita tentang pertempuan di sejumlah hanya sastra seperti Bharatayudha, Kunjarakarna dan yang lain diartikan sebagai pertempuran melawan musuh-musuh tersebut. Musuh-musuh di dalam diri seperti kenafsuan (kama), kemarahan (krodha), kelobaan (lobha), kesombongan (moha), kemabukan (mada) dan iri hati (matsarya), adalah musuh-musuh mahasakti yang sungguh sukar dikalahkan. Perang Bharatayudha senantiasa terjadi dalam diri kita, yang tiada lain adalah medan Kurukshetra.
Jagaraga sesungguhnya berhubungan dengan pelaksanaan yoga. Itulah sebabnya menjelang pertempuran dahsyat di medan Kurukshetra, Arjuna mendapat ajaran yoga dari seorang yogeswara, Sri Krishna. Ajaran seperti karma yoga, bhakti yoga, jnana yoga diberikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna, untuk membangkitkan jiwanya dari kelesuan dan pesimisme. Memang ajaran yoga tersebut dapat memberi kesadaran kepada Arjuna, sehingga pembawa busur ini bangkit dan bertempur.
Ajaran yoga memang menjadikan pengendalian diri yang disebut sebagai yama dan niyama sebagai landasannya. Ajaran yoga memang tidak semata-mata latihan untuk memusatkan pikiran dan berhubungan dengan Sang Pencipta, namun harus dilandasi dengan nilai-nilai kesusilaan. Itulah sebabnya kitab Siwa Sasana dan Brati Sasana yang menjadi landasan kesusilaan para pendeta atau sadhaka atau yogi menjadikan Yama Niyama sebagai ajaran pokoknya. Seorang pendeta atau sadhaka adalah beliau yang melaksanakan sadhana yoga, beliau yang menjadikan sasana sebagai landasan tingkah lakunya.
Dengan demikian jagaraga mengadung makna yang dalam dalam kaitannya dengan ajaran yoga. Memang sangat menarik juga di Buleleng juga terdapat Desa yang bernama Sidatapa. Sidatapa dapat bermakna Seorang pertapa yang telah mencapai tujuan tapanya. Kita ketahui bahwa di dalam Mahabharata Sang Arjuna juga dinyatakan sebagai contoh orang telah mencapai tujuan tapanya. Setelah bertapa di gunung Indrakila, setelah melewati berbagai godaan, sang Arjuna mendapat anugrah Siwa, berupa Cadhu Sakti. Cadhu Sakti tiada lain adalah empat kekuatan yang dimiliki oleh seorang yogi yaitu : krya sakti, prabhu sakti, wibhu sakti dan jnana sakti.
Jagaraga Sidatapa memiliki makna yang patut mendapat perenungan kita dewasa ini, ketika kita semakin perlu memiliki pegangan rohani dalam pusaran perubahan yang tak terkendali.
Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 533 Mei 2011