Jana Kertih artinya membangun manusia secara individu agar menjadi SDM yang sehat secara jasmani, tenang secara rohani dan profesional. SDM yang demikian itulah yang dapat berperan membangun kehidupan bersama untuk menciptakan rasa aman, damai, dan sejahtera secara ekonomi.
Atma Kertih membangun lingkungan rohani dengan daya spiritual kuat konsisten. Samudra, Wana, dan Danu Kertih membangun lingkungan alam yang sejuk. Sedangkan Jagat Kertih membangun lingkungan sosial yang kondusif. Perpaduan lingkungan rohani, lingkungan alam yang sejuk, dan lingkungan sosial yang kondusif itulah yang akan menjadi wadah membangun manusia (Jana) yang utuh lahir batin. Manusia yang utuh lahir batin itulah sebagai SDM yang dapat berfungsi membangun hidup sejahtera aman damai lahir batin.
Lima Kertih yang membangun lingkungan spiritual, lingkungan alam, dan lingkungan sosial untuk mengkondisikan pembangunan Jana Kertih, yaitu SDM Hindu yang berkualitas sebagai puncak diri pembangunan Sad Kertih. Manusia yang bagaimana sesungguhnya dapat disebut manusia yang ideal secara individu, karena suatu masyarakat akan dapat menjadi Jagadhita apabila masyarakat itu dibangun menjadi manusia-manusia yang Jana Hita atau manusia yang sejahtera dan bahaga lahir batin.
Manusia disebut manusia karena manusia itu memiliki manu. Manu artinya kebijaksanaan. Mengapa mahluk hidup yang memiliki sabda, bayu, dan idep (kemampuan bicara, bertenaga, dan berpikir) ini disebut manusia. Kata "manusia" dalam bahasa sansekerta berasal dari kata "manu" artinya bijaksana. Kata "manu" dalam bentuk genetif menjadi "manusia" artinya memiliki kebijaksanaan. Manusia sesungguhnya memiliki suatu kekuatan yang dapat menjadikan bijaksana.
Menurut pandangan Samkhya Darsana, manusia itu terjadi dari dua unsur, yaitu unsur kejiwaan yang disebut Purusa dan unsur kebendaan yang disebut Pradana. Pertemuan dua unsur itulah yang menyebabkan manusia lahir dan berada di dunia ini. Purusa memiliki kesadaran yang disebut chitta. Setelah Purusa bertemu dengan Pradana dari Pradana muncul Klesa.
Chitta memiliki empat kekuatan, yaitu Dharma, Jnyana, Wairagia, dan Aiswara. Klesa memiliki lima kekuatan, yaitu: Awidya, Asmita, Raga, Dwesa, dan Abhinivesa. Kekuatan Chitta melahirkan kecenderungan kedewasaan (Dewi Sampad), sementara itu kekuatan Klesa melahirkan kecenderungan keraksasaan (Asuri Sampad). Aplikasi agama adalah suatu upaya untuk menggerakkan kekuatan Chitta menguasai pikiran. Kalau pikiran dikuasai oleh Chitta, maka indria pun dapat dikuasai. Indrialah yang akan mengekspresikan ketinggian moral seseorang. Jnyana adalah kekuatan Chitta untuk mendorong orang mencari pengetahuan tentang kebenaran sejati, pengetahuan tentang kebenaran sejati itu adalah Brahma Widya dan Atma Widya.
Wairagia akan mendorong orang untuk tulus dan ikhlas berkorban demi kepentingan orang lain berdasarkan kebenaran dharma. Sedangka Aiswara adalah suatu kekuatan Chitta yang mendorong orang untuk selalu berjuang untuk meningkatkan kualitas dirinya dengan menyucikan perilaku dirinya tahap demi tahap. Kalau kekuatan Klesa yang disebut Awidya akan membawa orang pada kegelapan dan kebodohan hati nurani. Kalau Awidya berkuasa, maka Surupa (ketampanan), Dhana (kekayaan), Guna (kepandaian), Kulakulina (kebangsawanan), Youwana (kemudaan), Kasuran (kesaktian), dan Sura (tuak).
Tujuh hal itu dapat membawa orang gelap hati dan mabuk. Karena itulah Nitisastra menyebutkan. Barang siapa yang tidak mabuk karena semuanya itu, maka mereka itulah dapat disebut Sang Mahardika, artinya manusia yang merdeka secara rohani. Itulah manusia yang utama sebagai tujuan dari Jana Kertih.
Asmita adalah menyebabkan orang untuk mementingkan diri sendiri, sombong, serakah, tidak mau tahu pederitaan orang lain. Raga adalah kekuatan Klesa yang dapat mendorong orang untuk mengumbar hawa nafsu. Mahatma Gandhi mengatakan mencari kesenangan tanpa ada kesadaran untuk membatasi dapat menimbulkan dosa sosial.
Dwesa adalah kekuatan Klesa yang dapat mendorong orang untuk membenci dan dendam, suka berbuat rusuh dan brutal. Sedangkan Abhinivesa adalah Klesa yang dapat membuat orang hidup penuh kekuatan. Kalau sifat takut menguasai orang, maka keadaan tubuh dan jiwanya dapat dengan mudah diserang berbagai penyakit. Demikianlah kekuatan Klesa dapat membawa orang hidup papa dan sengsara. Hal itulah yang harus diperjuangkan dalam Jana Kertih, agar manusia luput dari kekuasaan Klesa dan dapat memenangkan dominasi Citta dalam diri.
SDM yang mampu diajak bekerja membangun kehidupan yang aman dan sejahtera adalah SDM yang aktif membangun tujuh hal di atas, yaitu Surupa, Dhana, Guna, Kulakulina, Youwana, Kasuran, dan Sura asal SDM itu tidak mabuk.
Oleh: I Ketut Wiana
Source: Majalah Hindu Raditya, Edisi 238 Mei 2017